NovelToon NovelToon
Batas Sunyi Kinaya

Batas Sunyi Kinaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:320
Nilai: 5
Nama Author: AKSARA NISKALA

​"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"

​Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.

​Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.

​"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: ANTARA GRAVITASI DAN MAUT

Bilah belati hitam Haidar membelah uap panas yang keluar dari sela-sela baju besi sang Overseer dengan presisi seorang algojo. Dalam pandangan Mata Niskala Birunya, segalanya bergerak melambat—bahkan percikan api dari palu raksasa musuhnya nampak seperti bintik cahaya statis yang membeku di udara. Haidar melihat satu titik merah kecil yang berdenyut di balik tumpukan pelat baja leher sang raksasa—inti sirkuit pusat yang mengatur seluruh fungsi motorik mesin tersebut.

​Tanpa suara, Haidar menghujamkan senjatanya. Begitu ujung bilah menyentuh baja, energi es dari Cryo-Core meledak keluar seperti predator yang kelaparan. Suara es yang merambat terdengar seperti ribuan kristal yang pecah bersamaan.

​KRAKKKK—BOOM!

​Bukan cuma membeku, tapi seluruh tubuh raksasa Overseer itu retak seketika karena penyusutan suhu yang ekstrem dari dalam ke luar. Haidar mendarat dengan tenang di belakang musuhnya, menyarungkan belati tanpa menoleh sedikit pun. Detik berikutnya, sang raksasa besi itu hancur menjadi ribuan kepingan es dan rongsokan yang berhamburan di lantai, menyisakan uap dingin yang menyelimuti seluruh Sektor Perakitan.

​"Selesai," ucap Haidar datar. Uap putih pekat keluar dari mulutnya, suaranya kini terdengar lebih mirip mesin daripada manusia.

​Sersan mendekat, menatap sisa-sisa logam yang kini tidak lebih dari sampah besi yang tak berharga. "Lantai ini sudah bersih. Tapi ingat, The Welder tidak akan membiarkan pembunuh jenderalnya pergi begitu saja. Mari kita naik."

​Mereka berlari melintasi lorong yang dipenuhi puing-puing menuju ujung sektor, di mana sebuah lift barang tua yang berkarat sudah menanti dengan pintu terbuka lebar. Haidar melangkah masuk ke dalam kotak besi yang sempit dan pengap itu, disusul oleh Sersan yang membuat lantai lift sedikit amblas. Namun, baru saja mereka menapakkan kaki sepenuhnya, sebuah suara mengerikan—suara logam yang meregang—terdengar dari poros gelap di atas kepala mereka.

​KREEEEKKK... PING!

​Beban fisik Haidar dan Sersan, ditambah guncangan hebat dari pertarungan barusan, menjadi titik jenuh terakhir bagi kabel baja yang sudah dimakan karat selama puluhan tahun. Satu per satu kawat penyusun tali utama terputus, mencambuk dinding poros lift dengan suara dentuman keras yang memekakkan telinga.

​"Keluar sekarang! Melompat!" Sersan berteriak.

​Sersan, dengan refleks yang melampaui batas manusia, menendang pintu lift dan meluncur keluar, mendarat dengan posisi berguling di bibir lantai beton yang kokoh. Namun, saat Haidar hendak melontarkan tubuhnya, kabel terakhir menyerah.

​BRAKK!

​Lantai lift anjlok seketika. Gravitasi menarik kotak besi itu turun ke dalam kegelapan poros yang tak berujung. Haidar tidak sempat melompat dengan sempurna; ia hanya berhasil melemparkan tubuh bagian atasnya ke depan. Jari-jarinya mencengkeram pinggiran lantai beton dengan sangat keras hingga kuku-kukunya memutih. Sisa tubuhnya menggantung di udara kosong, berayun di atas maut.

​Di bawah kakinya, kotak lift itu meluncur jatuh dengan kecepatan penuh dan menghantam dasar menara beberapa detik kemudian dengan suara ledakan logam yang menggetarkan seluruh fondasi Menara Welder. Debu dan bau oli terbakar naik dari lubang poros yang gelap.

​Haidar bergelantungan hanya dengan ujung jarinya. Ia bisa merasakan pelat besi yang tajam mulai mengiris telapak tangannya, namun Mata Birunya justru menangkap detail yang lebih buruk: cairan oli yang licin mulai merembes dari sisa mesin lift di langit-langit, mengalir turun menuju tangannya, membuat pegangannya semakin tidak stabil.

​"Pegang tanganku, Haidar! Jangan lepaskan!" Sersan membungkuk secepat kilat, mencengkeram pergelangan tangan Haidar dengan kuat dan menariknya naik dengan satu sentakan tenaga yang luar biasa.

​Haidar terkapar di lantai beton, napasnya memburu dan panas, kontras dengan dadanya yang sedingin es. Ia menatap telapak tangannya yang robek. Darah yang keluar nampak lebih gelap, hampir berwarna ungu tua karena pengaruh energi Cryo yang mulai mengontaminasi sistem peredaran darahnya.

​"Liftnya sudah hancur. Tidak ada jalan balik," ucap Sersan sambil menatap tangga darurat di kegelapan lorong. "Kita ambil tangga. Dan kali ini, buka matamu lebar-lebar."

​Mereka mulai mendaki anak tangga besi yang melingkar ke atas. Suasana di tangga ini jauh lebih mencekam; tidak ada lampu, hanya pendar biru dari tubuh Haidar yang menerangi jalan. Namun, baru mencapai pertengahan lantai, Haidar tiba-tiba berhenti. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar Sersan tidak melangkah satu senti pun.

​"Ada yang salah... tangga ini dijaga," bisik Haidar.

​Ia memaksa Mata Niskala Birunya bekerja pada frekuensi maksimal. Seketika, lorong tangga yang tadinya nampak kosong itu kini dipenuhi dengan jaringan garis-garis cahaya merah yang sangat tipis—setipis helai rambut—dan sangat rapat. Garis-garis itu bergetar halus, Memotong jalur tangga dalam pola geometri yang mematikan.

​"Laser termal berfrekuensi tinggi," ucap Haidar. "Jika kita menyentuhnya, suhu laser ini akan langsung menghanguskan saraf frekuensi kita. Kita tidak akan merasakannya, tapi kita akan mati seketika."

​Haidar mulai membimbing Sersan melewati labirin cahaya merah itu. "Tunduk sekarang... geser ke kiri tiga inci... angkat kaki kananmu perlahan, ada garis melintang tepat di bawah lututmu."

​Setiap gerakan terasa sangat lambat dan melelahkan secara mental. Keringat dingin mengucur di dahi Haidar. Di tengah tekanan itu, suara derit tali lift yang putus tadi kembali bergema di kepalanya, bertransformasi menjadi suara rem motor bebeknya yang aus di dunia nyata. Ia teringat betapa sering ia mengabaikan bunyi cit-cit dari rem motornya demi menyisihkan uang untuk biaya sekolah Kinaya.

​“Ayah, kenapa motornya bunyi cit-cit? Nanti kalau jatuh gimana?” suara polos Kinaya terngiang, membuat fokus Haidar hampir goyah dan nyaris menyentuh garis laser di depannya.

​"Haidar! Fokus! Jangan biarkan memori itu membakarmu!" Sersan mengingatkan dengan suara rendah namun tajam.

​Haidar menarik napas panjang, menekan emosinya jauh ke dalam lapisan es di hatinya. Dengan satu gerakan akrobatik terakhir yang sangat presisi, ia melompati jaring laser terakhir yang berbentuk sarang laba-laba di depan pintu keluar. Mereka akhirnya mendarat di Lantai 3.

​Namun, pemandangan di depan mereka jauh dari apa yang mereka bayangkan. Bukan lagi mesin atau pabrik, melainkan sebuah ruangan luas yang sangat sunyi, dipenuhi oleh ribuan layar monitor tua yang berkedip-kedip dengan cahaya statis. Bau ozon berganti dengan bau kertas lama dan debu.

​Haidar melangkah mendekat ke salah satu layar monitor raksasa di tengah ruangan. Di sana, di atas kaca layar yang retak, terpampang sebuah rekaman perempatan jalan yang gelap dan basah oleh hujan. Haidar terkesiap. Ia melihat sebuah motor bebek tua yang hancur berkeping-keping, lampu depannya berkedip redup sebelum akhirnya mati total. Dan di samping rongsokan itu, sebuah boneka beruang mata besar tergeletak tak berdaya di atas aspal yang bersimbah cairan merah.

​"Sersan... layar ini... ini bukan memori," bisik Haidar, suaranya pecah. "Ini adalah kenyataan yang aku lupakan, kan?"

​Sersan berdiri di belakangnya, bayangannya nampak panjang dan kelam di bawah cahaya monitor. "Jangan mencari jawaban di tempat yang penuh dengan distorsi, Haidar. The Welder sudah menunggumu. Ayo, satu lantai lagi sebelum semua ini berakhir."

​Haidar menatap layar itu untuk terakhir kalinya sebelum berbalik, namun di dalam hatinya, sebuah retakan mulai muncul—retakan yang lebih dingin daripada es mana pun di dunia Niskala.

1
Suparni
rekomend👍👍👍
T28J
saya mampir kesini juga kak 👍
Manusia Ikan 🫪
hmmmm
AKSARA NISKALA
nantikan terus kelanjutannya ya kak😍
Wigati Maharani
ceritanya keren si tapi masih agak bingung ini alur nya gimana, apa beda dimensi atau gimana bikin penasaran banget😭 cepet update torrr
Wigati Maharani
ceritanya kayak ada horor" nyaa 😭 agak takut sii bacanya tp penasaran😞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!