NovelToon NovelToon
MASUK KE DUNIA NOVEL

MASUK KE DUNIA NOVEL

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Fantasi Wanita / Masuk ke dalam novel
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Karin seorang wanita karir, dia mendoktrin dirinya sendiri agar harus berkerja keras, tidak perlu memikirkan yang namanya pernikahan.

Dan ya, di umurnya yang sudah 30 tahun, dia masih jomblo alias belum menikah. Sedangkan teman-temannya yang seumuran sudah memiliki anak dua.

Karin merasa, menikah dan punya anak akan mengganggu pekerjaannya. Sehingga dihari cutinya, dia hanya tinggal di dalam kamar membaca novel.

"Ck. Makanya jangan menikah jika belum siap mengurus anak!" tegur Karin sambil melempar Tabnya ke atas kasur.

Dia sedang membaca novel online, yang berjudul ( Pembalasan Tiga Penjahat )

Karin tertidur setelah mambaca novel itu sampai tamat. Tapi saat membuka mata, dia sudah berada di tempat yang berbeda.

"Sial!"

Penasaran kan? Ayo ikuti perjalanan Karin yang menjelajahi dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Mencari Sekolah

Nan Wei menuju sekolah yang pertama, Tapi melihat sekolahnya tidak terawat membuatnya jadi berpikir, jika orang atau pengurus sekolahnya tidak menyukai kebersihan, padahal sekolah itu lumayan besar.

Dia lanjut ke beberapa sekolah, tapi pasti sesuatu ada yang membuatnya mundur. Entah itu masalah murid yang sering melakukan perundungan, dan tidak ada penjelasan dari pihak sekolah.

Atau gurunya yang terlalu kejam, sehingga para murid malas untuk pergi sekolah. Dan yang ada satu sekolah yang membuatnya sedikit tertarik, yaitu di mana Zhao Cheng sekolah.

Setelah seharian ke lingling kota, Nan Wei mampir di Restoran Bai Ming untuk makan siang.

Dan di sana dia kembali bertemu dengan Tuan Bai, yang mengatakan jika keripik ubinya sudah habis terjual dengan harga 1 tael 500 koin tembaga per kg nya.

Jadi Tuan Bai dapat untung sekitar 25 tael perak, dia mengikuti harga jual Tuan Ma. Mereka sebenarnya tidak menyangka, karena 25 tael baru bisa terkumpul sekitar 10 hari sebagai pendapatan Restoran.

Saat itu juga, dia langsung memesan untuk penjualan besok, dia langsung memesan 100 kg.

...----------------...

Saat balik pulang, Nan Wei melihat gerobak sapi yang berbeda. Tapi pemiliknya masih satu Desa dengannya.

"Ah Nan Wei kamu sudah mau pulang?" tanyanya. Dia diminta oleh Paman Tao untuk menunggunya.

"Ya Paman Ji. Apa masih ada penumpang?" tanya Nan Wei setelah duduk di atas gerobak.

"Ada. Kita tunggu sebentar saja, Tabib Rong sedang membeli bahan obat!" balasnya.

Nan Wei mengangguk, Tabib Rong adalah salah satu Tabib Desa yang cukup terkenal. Tapi dia juga terlihat sedikit misterius, karena dia terkadang pergi berbulan-bulan lamanya. Saat ditanya, dia hanya mengatakan sedang mencari tanaman obat di gunung.

Nan Wei mencoba mengingat alur cerita novel, tapi tidak ada sama sekali yang spesial. Tabib Rong hanya sering disebut jika ada yang sakit di Desa.

Selang beberapa menit, Tabib Rong datang dengan keranjang kecil di tangannya. Nan Wei tersenyum lalu mengangguk sebagai tanda jika dia sudah melihatnya.

"Kita pulang sekarang!" Kata Paman Ji setelah melihat Tabib Rong duduk dengan baik.

"Ya. Apa kalian menunggu lama?" tanyanya.

"Aku tidak! Tapi Paman Ji yang sudah menungguku berjam-jam.! Paman, kenapa kamu tidak mengantar penumpang ke Desa lain?"

"Tidak masalah! Oh itu, cuman ada beberapa orang saja. Desa mereka juga ada gerobak sapi!" jelas Paman Ji.

Nan Wei tidak bertanya lagi, tapi Tabib Rong tiba-tiba bertanya apa yang dia lakukan di kota beberapa hari ini? Karena setiap ke Kota Tabib Rong melihat mereka lewat di depan rumahnya.

Jika itu dulu, mungkin Tabib Rong tidak akan bertanya. Tapi kali Nan Wei sering ke kota bersama anak atau keponakannya.

"Jangan salah paham! Saya hanya ingin mengingatkanmu untuk berhati-hati. Karena beberapa minggu terakhir pemerintah sedang kewalahan dengan laporan tentang penculikan anak!"

Nan Wei tertegun, masalah itu memang ada dalam cerita, dan itu bukan hal sepele karena anak-anak yang hilang diculik oleh Bandit gunung yang menyamar jadi warga lokal.

Dan pada akhirnya, ada seseorang yang berhasil menemukan markas mereka, sehingga Biro Keamanan berhasil menangkap mereka semua.

"Terima kasih informasinya, lain kali saya akan lebih berhati-hati. Akhir-akhir ini saya sedang berbisnis, saya juga sedang mencarikan sekolah untuk anak-anak!" Nan Wei memilih jujur, karena hal itu pasti akan tersebar juga.

"Wah bagus, bagus.. Kalau ada uang, jangan pernah ragu untuk menyekolahkan mereka. Anak-anakmu juga sangat pintar, termasuk si gadis kecil itu, ingatannya sangat tajam!" pujinya.

Dia juga sebenarnya sangat marah saat Nan Wei sering menghukum anak-anaknya. Tentu dia tidak tega, apalagi dia yang sering mengobati ketiga anak itu jika sedang terluka.

Dan saat kesabarannya habis, dia ingin pergi menegur Nan Wei sebagai salah satu tetua di Desa. Tapi siapa sangka, dia malah mendengar kabar, jika Nan Wei sudah berubah.

Nan Wei terdiam, dari ucapan Tabib Rong dia terdengar sangat dekat dengan anak-anaknya.

"Ya. Tapi hanya ada sekolah yang lumayan. Tapi anak-anak harus tinggal di asrama!" keluh Nan Wei.

"Kenapa tidak mencari Guru? Tinggal bayar upahnya per bulan saja!" kata Tabib Rong.

"Hmm bisa seperti itu? Lalu bagaimana jika anak-anak ingin ikut ujian?" tanya Nan Wei dengan penuh minat. Itu sama halnya dengan Guru privat.

"Kalau ingin anak-anak ikut ujian, harus cari Guru yang punya sertifikat kelulusan, minimal seorang juren!" jelas Tabib Rong.

"Jadi, kalau anak-anak lulus di ujian provinsi dan ingin lanjut ujian Ibu Kota, harus cari guru yang setingkat lagi?"

"Ya.!" balasnya dengan singkat.

"Bagaimana dengan para Guru yang ada di sekolah? Apa mereka sudah lulus Ujian Istana?"

"Setiap sekolah harus ada Guru ditingkat Jinsi ( Ujian Istana ) Mereka ditunjuk jadi pengurus ata Pemimpin di sekolah!"

Nan Wei mengangguk mengerti, dia akan membicarakan dengan keluarganya terlebih dahulu.

"Hmm saya sudah mengerti!" Nan Wei tidak bertanya darimana Tabib Rong bisa tahu semua itu.

"Jika kamu ingin cari Guru, kamu datang saja ke rumahku. Saya akan perkenalkan seseorang denganmu!"

"Oh baik. Saya akan mengingatnya!" kata Nan Wei sambil mengangguk. Dia merasa Tabib Rong ini bukan orang biasa.

Sedangkan Paman Ji hanya fokus dengan gerobaknya. Dia tidak terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan. Yang dia tangkap, Nan Wei sedang mencari sekolah untuk anak-anaknya.

***

Tiba di Desa, Paman Ji langsung mengantar mereka sampai ke depan rumah masing-masing. Jika penumpang penuh, mereka hanya akan turun di depan gerbang Desa.

Setelah membayar upah Nan Wei segera masuk halaman tanpa menoleh. Karena dia tidak ingin Paman Ji memanggilnya untuk membalikkan uang sewanya yang sengaja dia lebihkan.

"Ibuuuuu....!" Zhao Yu berlari menghampirinya.

Nan Wei segera menyambut gadis kecil itu lalu menggendongnya. Dia merasakan berat badannya sedikit naik.

"Ibuu aku merindukanmu! Kenapa Ibu lama sekali?" tanyanya dengan sedih.

"Aduuhh Ibu juga merindukan Yuyu.!" balas Nan Wei sambil mencium wajah anaknya yang merah karena berlari. "Ibu sedang cari sekolah untuk Kakak-kakakmu!"

"Emm..!" sahutnya sambil mengangguk.

"Di mana Nenekmu?" tanya Nan Wei.

"Di halaman samping.. Sedang memotong kentang!" balas Zhao Yu yang sudah turun dari gendongan ibunya.

Nan Wei segera menuju halaman samping, di sana ada Ibu dan kedua Kakak laki-lakinya serta Xia Lingzi sedang mengupas kentang.

Sedangkan yang memotong kentang ada Xia YunHao, Xia Bao dan Zhao Xu. Dan yang menggoreng adalah kedua Kakak ipar.

Nan Wei menghela nafas, padahal dia sudah meminta untuk mencari bantuan orang luar agar anak-anak hanya fokus belajar saja.

"Nak. Bukan ibu tidak ingin mencari orang lain. Tapi Ibu hanya takut salah ucap, dan membuat kekacauan!" jelasnya.

Dia tidak tahu harus berkata apa, jika orang-orang bertanya. Bisnis apa yang sedang mereka jalankan? Bagaimana jika mereka minta untuk diajarkan karena ingin berbisnis juga?

"Ibu! Kita tidak mungkin selamanya menutupi apa yang kita lakukan. Apalagi mereka sudah curiga dengan aku yang ke kota setiap hari, belum lagi anak-anak yang akan bersekolah!"

"Jadi apa yang kita katakan?" tanya Ibu Xia.

"Ibu tenang saja! Ini akan jadi urusanku!" sahut Nan Wei.

"Oh baiklah! Kami sudah mengupas sekitar 300 kg kentang. Kakak Iparmu masih sementara menggoreng!"

"Sekarang Ubi dengan jumlah yang sama!"

"APA?" Ibu Xia sangat terkejut mendengarnya. Mereka awalnya tidak percaya saat Xia Lingzi mengatakan itu perintah Nan Wei. Tapi mereka tetap mengerjakannya.

"Ibu, ini masih sedikit. Karena pesanan minggu depan 1000 kg keripik ubi. Coba bayangkan, berapa kg ubi mentah yang harus kalian kupas?"

Bukan cuman Ibu Xia yang terkejut, mereka semua mendengarnya langsung meminta Nan Wei mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.

"Ternyata benar apa yang dikatan Ling'er! Adik mendepat kerja sama lagi di Restoran yang lain!" ucap Rungyu.

"Astagaa 1000 kg, banyak sekali!"

"Benar-benar sampai ke Ibu Kota!"

.

.

.

1
Sribundanya Gifran
lanjut thor💪💪💪💪
Mamta Okta Okta
lanjut thor semangat berkarya ya 💪💪💪
Mamta Okta Okta
lanjut thor semangat 💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor yg bnyak😍😍😍💪💪💪💪
Fii
Kalau ada typo komen yaa..🙏
Chen Nadari
Buat )
Chen Nadari
semangat up thora
Chen Nadari
mampir thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!