Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Pintu kamar hotel itu tertutup keras.
BRAK!
Suara benturan menggema di ruangan luas yang dipenuhi dekorasi mewah—bunga segar, hadiah mahal, dan gaun-gaun elegan yang tergantung rapi. Semua terlihat sempurna… sampai Vanessa merusaknya.
“Brengsek!”
Ia melempar clutch kecilnya ke arah cermin.
Benda itu menghantam permukaan kaca dengan keras sebelum jatuh ke lantai. Pantulan wajahnya di cermin tampak retak—bukan karena kaca yang pecah, tapi karena ekspresinya sendiri.
Wajah yang biasanya tenang.
Sekarang… penuh amarah.
Ia berjalan mondar-mandir dengan langkah cepat, napasnya tidak teratur.
“Berani-beraninya…” gumamnya pelan, hampir seperti berbisik, tapi penuh tekanan.
Tangannya mengepal.
Adegan tadi terus terulang di kepalanya.
Adrian.
Jawabannya.
Tatapannya.
Dan yang paling membuatnya… tidak terima—
Saat Adrian menarik Alina.
Di depan semua orang.
Duduk di pangkuannya.
“Ini pilihanku sekarang.”
Vanessa tertawa kecil.
Tajam.
Tidak ada sedikit pun rasa lucu di dalamnya.
“Pilihan?” ulangnya sinis. “Kamu menyebut itu pilihan?”
Ia berhenti di depan meja rias.
Menatap dirinya sendiri.
Rambutnya masih sempurna.
Make-upnya masih rapi.
Gaunnya masih elegan.
Tidak ada yang salah dari penampilannya.
Tapi tetap saja—
Ia kalah.
Dan itu… tidak bisa ia terima.
Tangannya menyapu beberapa botol parfum di meja.
BRUKK!
Semua jatuh ke lantai.
Beberapa pecah.
Aroma kuat langsung memenuhi ruangan.
“Dia itu milikku…” katanya pelan.
Nada suaranya berubah.
Lebih dingin.
Lebih dalam.
“Aku yang meninggalkannya, bukan sebaliknya.”
Ia menggertakkan gigi.
“Jadi kenapa… dia berani memilih orang lain?”
Sunyi.
Beberapa detik.
Lalu—
Ia tertawa lagi.
Kali ini lebih pelan.
Lebih terkendali.
“Oh…” gumamnya. “Aku tahu.”
Matanya menyipit.
“Bukan karena dia hebat.”
Ia mengambil ponselnya dari meja.
Menatap layar beberapa detik.
“Pasti karena perempuan itu.”
Nada suaranya berubah menjadi dingin.
Berbahaya.
“Alina…”
Ia mengucapkan nama itu pelan.
Seolah mencoba merasakannya.
Menilai.
Mengingat.
“Perempuan biasa… tiba-tiba datang… dan langsung mengambil tempatku?”
Senyumnya muncul perlahan.
Tapi kali ini—
Bukan senyum cantik.
Senyum yang… licik.
Ia menekan layar ponselnya.
Memanggil seseorang.
Beberapa detik.
Sambungan terhubung.
“Ya, Nona?” suara pria terdengar dari seberang.
Vanessa tidak langsung menjawab.
Ia berjalan pelan ke arah jendela.
Menatap pemandangan malam kota di bawah sana.
Lampu-lampu berkelip.
Indah.
Tapi tidak cukup untuk menenangkan pikirannya.
“Aku butuh informasi,” katanya akhirnya.
Nada suaranya kembali tenang.
Tapi justru itu yang berbahaya.
“Siapa, Nona?”
Vanessa tersenyum tipis.
“Alina.”
Ia menyebut nama itu dengan jelas.
“Cari semua tentang dia.”
Pria itu terdiam sejenak. “Semua, Nona?”
“Semua,” ulang Vanessa. “Dari mana dia berasal. Keluarganya. Masa lalunya. Apa pun.”
Ia berhenti sejenak.
Lalu menambahkan—
“Termasuk… hal-hal yang mungkin dia sembunyikan.”
Sunyi di seberang.
Lalu pria itu menjawab,
“Baik, Nona. Akan saya urus.”
Vanessa belum menutup telepon.
Ia masih menatap ke luar jendela.
Matanya dingin.
“Dan satu lagi,” katanya pelan.
“Iya, Nona?”
“Kalau ada sesuatu yang bisa digunakan untuk menjatuhkannya…”
Ia tersenyum.
“…aku ingin tahu lebih dulu.”
“Dimengerti.”
Sambungan terputus.
Vanessa menurunkan ponselnya perlahan.
Ruangan kembali sunyi.
Namun kali ini—
Bukan sunyi yang kosong.
Tapi sunyi yang penuh rencana.
Ia kembali ke meja rias.
Menatap dirinya di cermin.
Perlahan… ia merapikan rambutnya.
Mengusap sedikit lipstiknya yang hampir pudar.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Seolah ia kembali menjadi wanita sempurna itu.
Namun matanya—
Tidak berubah.
“Permainan belum selesai,” bisiknya pelan.
Senyumnya muncul lagi.
Lebih tajam.
Lebih berbahaya.
“Kita lihat… seberapa kuat kamu, Alina.”
Ia memiringkan kepala sedikit.
“Karena biasanya…”
Ia menatap bayangannya sendiri.
“…orang seperti kamu tidak bertahan lama di dunia ini.”
Lampu kamar tetap menyala terang.
Tapi di dalamnya—
Ada sesuatu yang jauh lebih gelap…
Yang baru saja mulai bergerak.
...
Pintu kamar tertutup pelan di belakangku.
Klik.
Suara itu terdengar kecil… tapi cukup untuk membuat jantungku kembali berdebar tidak karuan.
Aku bersandar di pintu, menutup mata rapat.
Tanganku tanpa sadar naik ke dada, mencoba menenangkan detak jantung yang terasa terlalu cepat.
“Astaga…” bisikku pelan.
Wajahku terasa panas.
Panas sekali.
Aku bahkan tidak berani membuka mata selama beberapa detik.
Bayangan itu langsung muncul lagi di kepalaku—
Adrian.
Tangannya.
Tatapannya.
Dan—
Aku langsung menutup wajahku dengan kedua tangan.
“Kenapa dia harus… narik aku ke pangkuannya sih…?” gumamku lirih.
Suaraku sendiri terdengar seperti orang yang kebingungan.
Aku menarik napas dalam, lalu mendorong tubuhku menjauh dari pintu dan berjalan perlahan ke arah tempat tidur.
Duduk.
Diam.
Lalu—
Aku langsung menjatuhkan diri ke kasur.
“Aaaaa…” keluhku pelan sambil menutup wajah dengan bantal.
Ini memalukan.
Sangat memalukan.
Aku bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa tadi.
Saat dia menarikku—
Aku tidak sempat berpikir.
Tidak sempat menolak.
Tidak sempat melakukan apa pun.
Tubuhku hanya… diam.
Dan yang lebih memalukan—
Aku tidak merasa ingin menjauh.
Aku langsung bangkit duduk.
Wajahku makin panas.
“Alina, kamu kenapa sih…” bisikku pada diri sendiri.
Aku memeluk lututku, menatap kosong ke depan.
Pikiranku berantakan.
Sangat berantakan.
Selama ini, Adrian selalu menjaga jarak.
Selalu dingin.
Selalu jelas dengan batasannya.
Tidak menyentuh.
Tidak mendekat.
Tidak memberi ruang untuk salah paham.
Tapi tadi—
Itu berbeda.
Sangat berbeda.
Aku menggigit bibir bawahku pelan.
“Dia… marah ya?” gumamku.
Aku mengingat ekspresinya tadi.
Tatapannya tajam.
Dingin.
Tapi bukan dingin yang biasa.
Lebih seperti… emosi yang ditahan.
Aku menarik napas panjang.
“Karena Vanessa…” lanjutku pelan.
Ya.
Pasti karena itu.
Vanessa datang.
Mengganggu.
Menyentuh batas yang tidak seharusnya.
Dan aku—
Aku ada di sana.
Sebagai istrinya.
Aku menunduk, menatap tanganku sendiri.
“Tapi kenapa aku yang ditarik…” bisikku.
Jantungku kembali berdebar.
Aku menutup wajahku lagi.
“Dan kenapa aku malah… diem aja sih…”
Kalimat itu keluar dengan nada frustasi.
Aku bukan tipe orang yang dekat dengan orang lain.
Apalagi… sedekat itu.
Duduk di pangkuan seseorang.
Itu bukan hal yang biasa.
Bahkan… tidak pernah terjadi dalam hidupku sebelumnya.
Aku menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri.
Namun—
Bayangan itu lagi.
Tangannya yang melingkari pinggangku.
Tarikannya yang tiba-tiba.
Jarak yang terlalu dekat.
Dan suara rendahnya saat berkata—
"Dia istriku."
Aku membeku.
Detak jantungku langsung melonjak lagi.
“Astaga…” aku langsung berdiri.
Tidak kuat duduk diam.
Aku mulai berjalan mondar-mandir di kamar.
Langkahku cepat.
Gelisah.
“Aku cuma… pura-pura aja kan?” gumamku.
“Iya… ini cuma pernikahan… bukan apa-apa…”
Aku mencoba meyakinkan diri sendiri.
Karena memang itu kenyataannya.
Pernikahan ini bukan karena cinta.
Bukan karena pilihan.
Bukan karena keinginan.
Jadi…
Seharusnya aku tidak merasakan apa-apa.
Kan?
Aku berhenti berjalan.
Diam.
Lalu pelan-pelan berkata—
“…kan?”
Sunyi.
Tidak ada jawaban.
Aku menatap jendela.
Langit di luar mulai gelap.
Lampu-lampu taman menyala pelan, menerangi halaman luas yang tadi siang terasa biasa saja.
Sekarang… terasa sepi.
Sama seperti biasanya.
Tapi entah kenapa—
Aku tidak merasa sepi seperti dulu.
Aku menghela napas pelan, lalu berjalan ke arah meja samping tempat tidur.
Tanganku meraih bingkai foto kecil itu.
Foto ibu.
Aku menatapnya lama.
“Ibu…” bisikku pelan.
“Aku… kenapa ya?”
Aku duduk di tepi tempat tidur, memeluk foto itu seperti sebelumnya.
“Tadi… dia narik aku ke pangkuannya…”
Aku tertawa kecil.
Gugup.
“Aku nggak tahu harus ngapain… aku cuma diem…”
Aku menunduk.
Wajahku kembali memanas.
“Aku aneh nggak sih, Bu?”
Sunyi.
Seperti biasa, tidak ada jawaban.
Tapi kali ini… aku tidak merasa sendirian sepenuhnya.
Aku mengusap pelan permukaan kaca foto itu.
“Aku harusnya nggak mikirin ini kan…” lanjutku.
“Ini cuma… situasi…”
Aku mencoba merasionalisasi.
Mencari alasan.
Menenangkan diri.
Tapi tetap saja—
Ada sesuatu yang berbeda.
Perasaan yang tidak bisa aku jelaskan.
Aku menarik napas panjang, lalu meletakkan kembali foto itu di meja.
Aku berdiri dan berjalan ke cermin.
Menatap diriku sendiri.
Wajahku masih sedikit merah.
Mataku… tidak setenang biasanya.
Aku menyentuh pipiku pelan.
“…ini nggak boleh,” bisikku.
Aku menatap diriku sendiri lebih dalam.
“Kamu nggak boleh berharap.”
Kalimat itu keluar tegas.
Seolah aku sedang mengingatkan diriku sendiri.
Aku sudah belajar dari masa lalu.
Harapan hanya membawa luka.
Dan aku tidak ingin kembali ke sana.
Tidak lagi.
Aku memejamkan mata sebentar.
Menarik napas.
Lalu membukanya kembali.
Tatapanku berubah.
Lebih tenang.
Lebih… terkontrol.
“Iya…” kataku pelan.
“Ini cuma… pernikahan tanpa perasaan.”
Aku mengangguk kecil.
Seolah menyetujui kata-kataku sendiri.
Namun di dalam hati—
Sebuah suara kecil berbisik pelan.
Kalau memang tanpa perasaan…
kenapa kamu masih kepikiran?
Aku langsung membuang pikiran itu.
Menggeleng cepat.
“Cuma kaget aja,” gumamku.
“Iya… cuma kaget…”
Aku berbalik dari cermin, berjalan kembali ke tempat tidur dan duduk.
Tanganku meremas ujung selimut pelan.
Aku mencoba mengalihkan pikiranku.
Mencoba fokus pada hal lain.
Besok.
Ada kegiatan.
Ada rutinitas.
Ada hal-hal yang bisa membuatku tidak memikirkan ini.
Tapi sebelum aku benar-benar bisa menenangkan diri—
Tok.
Tok.
Aku langsung tersentak.
Mataku langsung ke arah pintu.
Jantungku kembali berdegup.
“Siapa…?” tanyaku pelan.
“Ini bibi.”
Aku menghela napas kecil.
Sedikit lega.
Aku berdiri dan membuka pintu.
Bibi Ratna berdiri di depan dengan senyum lembut.
“Nyonya, Tuan meminta Anda makan malam.”
Aku sedikit terdiam.
“Makan malam… sekarang?”
“Iya.”
Aku mengangguk pelan.
“Iya… aku akan turun.”
Bibi Ratna mengangguk lalu pergi.
Aku menutup pintu kembali.
Bersandar sebentar.
Jantungku kembali berdebar—
Tapi kali ini berbeda.
Bukan karena malu.
Tapi karena…
Aku harus bertemu dia lagi.
Setelah kejadian tadi.
Aku menatap cermin sekali lagi.
Wajahku sudah lebih tenang.
Tapi mataku…
Masih menyimpan sesuatu.
Aku menarik napas dalam.
“Biasa aja,” bisikku pada diri sendiri.
“Seperti biasa.”
Aku melangkah keluar kamar.
Namun tanpa kusadari—
Langkahku tidak lagi sama seperti sebelumnya.
Ada sesuatu yang berubah.
Kecil.
Hampir tidak terlihat.
Tapi nyata.
Dan mungkin—
Itulah awal dari sesuatu yang lebih besar.