NovelToon NovelToon
Datang Tanpa Dicari

Datang Tanpa Dicari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / GXG
Popularitas:571
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Keesokan harinya di sekolah, murid-murid yang kemarin bolos disidang oleh wali kelas masing-masing.

Semua anak menjawab kompak bahwa Cakra lah yang mengajak mereka bolos. Saat ditanya alasannya, jawaban mereka juga sama kompaknya.

"Gak tau, pak."

Sebenarnya bukan cuma kepala sekolah yang tidak percaya. Guru guru lain pun sama, Cakra terlalu rapi untuk jadi otak kekacauan sebesar ini. Anak basket iya. Populer iya. Tapi tukang ngajak satu sekolah bolos? Rasanya aneh.

Namun seperti kebanyakan rahasia sekolah lainnya, tetap saja ada mulut yang bocor. Awalnya cuma satu anak yang menyebut nama Narisa. Katanya dia memang tidak diajak langsung, tapi dia dengar dari temannya kalau Narisa yang mulai semua ini.

Dari situ cerita melebar. Nama Harum ikut kebawa karena dari lima belas anak yang bolos, ada yang mengaku diajak olehnya.

Alhasil, tiga orang langsung dipanggil ke ruang kepala sekolah.

Narisa duduk paling depan dengan wajah datar. Kara setengah ngantuk. Harum malah sibuk melihat isi lemari piala sekolah.

Sementara itu, kepala sekolah terlihat seperti orang yang kehilangan umur lima tahun hanya dalam semalam.

"Saya tidak akan berputar-putar," katanya akhirnya. "Apa benar kalian yang mengajak murid-murid lain bolos kemarin?"

Narisa menatap wajah lelah itu beberapa detik. Entah kenapa dia jadi ingat Taslim setiap pulang lembur.

Tapi ya beda lah. Ini bukan bapaknya.

"Kenapa bapak langsung nuduh gitu?" katanya datar. "Bapak lagi cari kambing hitam buat nutupin kesalahan Cakra?"

Cakra yang duduk di samping langsung menoleh kaget.

"Aku gak pernah ngajak orang bolos, Sang. Aku sendiri aja kemarin ditarik buat bolos-"

"Eh!" Narisa langsung menunjuk. "Lo gak usah sok akrab pake 'Sang-sang' segala."

Cakra langsung diam lagi. Kepala sekolah mengusap pelan dahinya.

"Saya tidak menuduh, Risa. Saya juga tidak ingin percaya kalau ini ulah kamu. Tapi ada beberapa yang menyebut nama kamu."

"Cuma gara-gara itu?" Narisa menganga tidak terima.

"Pak, bentar deh," Harum angkat tangan. " Saya kenapa ikut dibawa-bawa?"

"Karena ada yang menyebut nama kamu juga."

"Lah terus Kara kenapa?" Harum menunjuk santai.

Kepala sekolah menoleh ke Kara.

"Kamu selalu bersama Kara."

"Buset. Logika apaan itu?" Kara akhirnya ikut bicara. "Kalau Harum nyolong motor berarti saya ikut nyolong juga?"

"WOY!" Harum refleks nengok.

"Tolong jangan bercanda," tegur kepala sekolah mulai lelah,

"Tapi saya emang gak ngajak siapa-siapa, pak," lanjut Kara santai. "Saya cuma bolos."

"Nah tuh," Narisa langsung menunjuk. "Bolos doang gak salah dong."

"Itu tetap salah, Risa."

"Iya sih."

Jawaban cepat itu malah bikin kepala sekolah terdiam sebentar. Cakra menghela napas panjang sebelum akhirnya bicara lagi.

"Pak, saya serius gak ngerti kenapa semua orang nyebut nama saya.

"Dih, sok suci banget," Narisa mendesis pelan.

"Sang...." Cakra menoleh frustrasi.

"Aku tau kamu masih marah, tapi jangan segininya juga."

"Marah pala lo."

"Kamu masih sakit hati gara gara Sonya kan?"

"Najis. Jangan sebut nama selingkuhan lo depan gw."

Ruangan langsung hening sepersekian detik. Kepala sekolah perlahan menoleh ke anaknya sendiri.

"Kamu selingkuh?"

Cakra langsung pucat.

"Pa, aku bisa jelasin-"

"Nih," Narisa langsung menunjuk tanpa dosa. "Sama Sonya IPA 2, Saya yakin sih bapak gak nurunin ke dia. Soalnya bapak kelihatannya setia."

Harum dan Kara hampir tertawa. Untungnya masih bisa ditahan. Untungnya.

Kepala sekolah kembali mengusap wajah, kali ini lebih lama. Potongan-potongan kejadian mulai nyambung di kepalanya.

"Baik," katanya pelan. "Jadi ini balas dendam karena sakit hati?"

Narisa melirik Kara dan Harum sebentar. Tatapan itu cuma berlangsung satu detik, tapi cukup buat dua orang itu langsung paham.

"Oke," kata Narisa akhirnya. "Saya males muter-muter."

Dia menunjuk dirinya sendiri, lalu menunjuk Cakra. "Yang salah saya sama dia."

Cakra langsung menoleh cepat.

"Hah? Kenapa aku juga?"

Narisa mendelik. "Oh, jadi lo maunya gw sendirian yang kena? Gw begini gara-gara lo, goblok. Ya lo ikut tanggung jawab."

"Tapi aku gak ngajak siapa-siapa!"

"Dan gw gak nyuruh lo selingkuh. Tetep aja kejadian kan "

Kepala sekolah menghela napas panjang sekali lagi. Mungkin paru-parunya mulai capek dipakai sabar terus. Dia bahkan tidak bisa menegur kosa kata Narisa. Itu anak lagi emosi parah.

"Baik, Untuk sekarang kalian kembali ke kelas masing-masing dulu."

Narisa langsung bangkit dan keluar lebih dulu tanpa pamit. Harum dan Kara berjalan di belakang dengan langkah santai.

Baru beberapa meter dari ruang kepala sekolah, suara langkah cepat terdengar dari belakang.

"Sang!"

Narisa langsung mendecih pelan,. "Apaan sih..."

Cakra buru-buru menyusul lalu menahan pergelangan tangan Narisa. sebelum cewek itu sempat lanjut jalan.

"Sang, jadi beneran kamu?"

Narisa berhenti mendadak. Tatapannya langsung turun ke tangan yang mencengkeram pergelangannya.

"Kaget?" tanyanya dingin.

Cakra terlihat frustrasi sendiri.

"Aku lebih ke gak nyangka kamu bisa sejauh ini."

Narisa tertawa pendek, tapi tidak ada lucunya sama sekali.

"Sama kayak gw pas tau lo selingkuh."

"Sang, aku udah minta maaf."

"Terserah,"

Narisa mencoba menarik tangannya, tapi Cakra malah refleks menahan lebih erat.

"Sakit, peak. Lepasin."

"Aku cuma pengen kita ngobrol baik-baik."

"Ngobrol pala lo."

Bekas jari samar mulai muncul di kulit Narisa yang putih. Kara yang tadinya cuma diam akhirnya mengernyit kecil. Detik berikutnya dia langsung maju.

Tap.

Tangannya menahan pergelangan Cakra dengan satu gerakan cepat.

"Gw udah pernah bilang jangan maksa cewek."

Nada suaranya datar seperti biasa, tapi kali ini agak lebih berat. Cakra langsung menoleh.

"Kara, ini bukan urusan lo."

"Terus urusan siapa? Tukang parkir?"

Harum yang berdiri di belakang langsung tertawa tanpa beban.

Kara melepas tangan Cakra dari Narisa pelan tapi tegas. "Lo jadi cowok batu banget ya."

Harum ikut menepuk pundak Cakra sok akrab.

"Gw tadinya kagum sama lo. Sekarang lo sama limbah pabrik beda tipis."

"Mulut lo dijaga ya." geram Cakra.

"Lah, nyolot lagi."

Melihat dua manusia itu berdiri di depan Narisa seperti satpam gagal, Cakra akhirnya mundur sendiri. Bukan karena takut. Dia cuma sadar situasinya bakal makin jelek kalau ribut di depan ruang guru.

Begitu tangannya lepas, Narisa langsung pergi tanpa menoleh lagi. Kara dan Harum otomatis ikut lagi di belakang. Saat sampai tangga menuju lantai tiga, Narisa tiba-tiba berhenti.

Dia menoleh ke belakang dengan wajah ditekuk menyedihkan.

"Tangan gw kayak mau patah."

Kara refleks mendelik.

"Separah itu?"

Dia naik satu anak tangga lalu menarik pelan pergelangan Narisa buat diperiksa. Bekas merahnya memang cukup jelas sekarang.

"Sakit?" tanyanya sambil memijat pelan.

"Ya sakit lah, peak. Mau lo patahin beneran?"

"Gw cuma ngecek kali aja tulangnya geser."

Narisa langsung manyun lebay.

"Nanti di rumah lo kompres tangan gw ya."

"Hah?"

"Beliin es krim sama coklat juga."

"Lah?"

"Gw trauma."

Kara hanya menatap datar, tapi tetap menilai dimana letak traumanya.

"Gw juga mau nugget. Yang di rumah abis."

"Iya-iya," Kara akhirnya mendengus pelan sambil melepas tangan Narisa. "Tipis dah duit gue."

Dibelakang, Harum sudah senyum-senyum sendiri.

"Bau-bau bakal ada ah ah nanti malam,"

"Bacot lo, goblok." sembur Kara spontan.

Narisa malah ikut nimbrung tanpa dosa. "Ah ah."

Kara langsung menatap ngeri.

"Ya gak usah dipraktekin juga kali, njir. Bikin ngilu. "

Harum ngakak keras sampai hampir turun tangga lagi. Sementara Narisa sudah jalan duluan sambil cekikikan sendiri.

Begitu masuk kelas IPS 4, suasana langsung ribut. Lesti yang pertama berdiri.

"Gimana? Ketauan gak?"

"Gw ngaku," jawab Narisa santai sambil menjatuhkan diri ke kursi. "Tapi tenang aja. Gw pastiin kalian gak kena."

Satu kelas langsung heboh.

"Lah kok sendiri?"

"Masa lo doang yang dihukum?"

"Kita bolos atas keinginan sendiri kali."

"Iya anjir. Ini gak adil."

"Selamatkan Narisa!"

"Kita demo aja."

"Hancurin ruang kepala sekolah!"

"BAKAR SEKOLAH!"

"WOY YANG TERAKHIR JANGAN KEBABLASAN!" teriak Lesti.

Narisa cuma bengong melihat satu kelas ribut sendiri. Tadinya dia kira bakal dimarahin karena malah mengaku di saat semua orang berusaha menutupi. Tapi yang ada malah begini.

Solidaritas kelas IPS 4 ternyata bentuknya memang cacat dari lahir. Narisa sampai harus menahan senyum.

Goblok semua. Tapi.. lumayan bikin lega.

~

~

Pulang sekolah, Narisa ke rumah orang tuanya seperti biasa sambil menunggu Kara selesai latihan basket. Rutinitas seperti ini lama-lama jadi kebiasaan.

Tapi ada yang berbeda hari ini. Begitu masuk ke rumah, Nuri yang biasanya nonton tv di jam segini tidak kelihatan batang hidungnya.

"Ma!" panggilnya sambil celingukan.

"Mama di kamar, nak."

Dia langsung menuju kamar orang tuanya. Di sana, Nuri berdiri di depan kaca sambil menempelkan baju ke tubuhnya. Di ranjang, beberapa pakaian berserakan begitu saja. Bahkan satu tas sudah keluar dari lemari.

"Mama lagi ngapain? Mau kondangan?" tanya Narisa Sambil duduk di kasur.

"Lagi nyari baju yang cocok sama tas itu."

"Emang mau ke mana?"

Nuri menoleh datar. "Ke sekolah kamu. Kamu bikin masalah apa lagi, Risa?"

"Oh, aku bolos," jawab Narisa santai. "Tapi sekalian ngajak satu sekolah,"

Nuri langsung berbalik penuh.

"Kok bisa gitu?"

"Abis aku kesel."

"Sama siapa?"

"Cakra. Dia selingkuh sama Sonya."

Nuri langsung berhenti bergerak.

"Hah?"

Narisa manyun sambil melipat tangan.

"Makanya aku kesel."

"Berani banget dia nyelingkuhin anak mama," sembur Nuri refleks. "Padahal tiap ketemu keliatan sopan banget."

"Itu dia. Ketipu kan, ma?"

Nuri langsung duduk di samping Narisa sambil mendecih kesal.

"Ya ampun. Mama kira tuh anak beneran baik."

Narisa diam, tapi bibirnya sedikit turun. Kesalnya muncul lagi waktu diingat.

"Udahlah," kata Nuri sambil mengusap kepala anaknya pelan, "Baru cinta-cintaan SMA juga. Jangan dipikirin terus."

"Tapi aku tetep kesel,"

"Kesel boleh. Ngajak satu sekolah bolos ya jangan."

Narisa langsung mingkem.

Nuri menatap anaknya beberapa detik sebelum lanjut bicara lebih tenang.

"Denger ya. Mama gak pernah larang kamu seneng-seneng waktu SMA. Tapi jangan sampai nyusahin orang lain. Itu aja."

"Tapi anak-anak emang pada mau bolos sendiri, ma. Aku cuma curhat soal Cakra."

Nuri menghela napas, lalu berdiri lagi sambil kembali memilih baju.

"Yaudah lah. Udah terjadi. Asal kamu jangan ngulang lagi. Papa bisa ngomel kalau tau."

Narisa mendengus pelan. Untung orang tuanya bukan tipe yang langsung ngamuk. Biasanya paling ponsel disita seminggu. Meski tetap saja ngeselin.

~

Sementara di rumah lain, Eka yang juga mendapat panggilan dari sekolah baru saja meletakkan ponselnya di meja.

"Capek bener gw kudu ke sekolah lagi," gumamnya sambil menyandarkan badan ke sofa. "Apa ini yang namanya hukum karma?"

Dia memang hampir tidak pernah memarahi Kara kalau dipanggil ke sekolah. Biasanya Irwan yang memberi ceramah panjang. Semua karena Eka sadar diri.

Dibanding Kara, masa mudanya jauh lebih rusak.

Bolos, tawuran, kabur pas dihukum, merokok di toilet sekolah, malak anak kantin, sampai pernah melempar kursi ke kaca kelas karena disuruh maju ke depan.

Eka mengambil rokok dari meja dan menyalakan satu batang.

"Asli dah," gumamnya sambil mengembuskan asap. "Anak gw kenapa lembek banget."

Dia terdiam sebentar, lalu mendecih sendiri.

"Tapi kalau jadi preman beneran, gw juga yang repot."

Selain kedua ibu-ibu tadi, ada satu orang lagi yang mendapat panggilan dari sekolah. Santoso.

Saat itu dia sedang berdiri di tengah proyek sambil memperhatikan tukang-tukangnya memasang bata.

Wajahnya sudah sangar dari lahir, ditambah kumis tebal dan suara berat yang bisa bikin kuli baru salah aduk semen karena gugup.

Setelah mengangkat telepon dari sekolah, Santoso langsung memejamkan mata sebentar.

"Anak itu kayaknya udah bosan hidup damai." gumamnya pelan.

Di depannya, beberapa pekerja langsung saling lirik.

Bahaya. Mandor mereka mulai ngomel dalam hati.

Satu orang yang tadinya mau menyodorkan kopi bahkan langsung belok arah. Yang lain otomatis bekerja lebih cepat meski tidak tahu salahnya di mana.

Semua cuma karena satu orang. Harum.

.

1
Suka GL
Seru deh
Zye Rava
Aduh knp bos bramantyo kepo nikah segender ya mana anak orang lgi yang dinikahkan. agak lain ini orang 🤣
Inayah🥰
Ceritax ga kalah seru sm yg satux thor 😍 yg ini dua2x bar2
Felafel
Ceritamu seru semua thor next ya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!