NovelToon NovelToon
Mon Mari Est Un Mafia (Suamiku Seorang Mafia)

Mon Mari Est Un Mafia (Suamiku Seorang Mafia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Harem
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Alya adalah definisi dari "Cantik tapi Kelakuan Minus". Gadis asal Jakarta yang sedang mencoba peruntungan beasiswa di Paris ini memiliki bakat luar biasa dalam mencari masalah. Suatu sore, karena lapar yang amat sangat dan penglihatan yang kabur akibat lapar, Alya salah memasuki sebuah gedung tua yang ia pikir adalah restoran "All You Can Eat". Ternyata, itu adalah lokasi eksekusi musuh oleh The Four Kings of Paris—si kembar empat pewaris takhta mafia terkutuk: Lucien (Si Dingin yang Otoriter), Marc (Si Jenius yang Licik), Julien (Si Sniper yang Pendiam), dan Etienne (Si Bungsu yang Psikopat tapi Manis).
​Alih-alih gemetar ketakutan, Alya malah protes karena "menu steak" di sana terlalu banyak darahnya (padahal itu darah beneran). Terpikat oleh keberanian yang mendekati kegilaan dan wajah cantiknya, sang pemimpin, Lucien, memutuskan bahwa Alya adalah "tumbal" yang tepat untuk mematahkan kutukan keluarga mereka yang harus menikah dengan wanita dari Timur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KENCAN BUTA YANG BERUJUNG BAKU HANTAM

Jika ada satu hal yang paling disesali Etienne De Calvi dalam hidupnya, itu adalah kelengahannya saat membiarkan Alya Putri mengoperasikan ponsel pintarnya tanpa pengawasan selama lima menit.

​Semua ini bermula dari taruhan konyol di ruang santai penthouse Paris tiga hari yang lalu. Alya, yang merasa bosan dengan rutinitas dunia bawah tanah yang terlalu serius, menantang Etienne untuk mengunduh aplikasi pencarian jodoh lokal Prancis yang sedang populer. Sebagai pria yang mengagungkan pesona ketampanannya sendiri, Etienne dengan sombongnya membuat akun klon anonim dengan nama "Stefan". Sialnya, Alya justru bertindak lebih jauh dengan menggunakan akun tersebut untuk mendaftarkan nama Etienne ke sebuah acara speed dating—kencan buta kilat—di sebuah restoran mewah bernuansa romantis klasik di kawasan Le Marais, Paris.

​Bagi Lucien, Marc, dan Julien, kebodohan Etienne adalah hiburan tingkat tinggi yang tidak boleh dilewatkan. Alih-alih melarang, ketiga kembarannya justru mendukung penuh skenario konyol ini dengan satu syarat mutlak: Alya harus ikut memantau jalannya kencan sebagai sutradara di balik layar.

​Malam itu, restoran Le Jardin de Rose dipenuhi oleh lilin-lilin temaram, alunan musik selo yang mendayu-dayu, dan aroma kelopak mawar yang merekah. Etienne duduk di meja nomor dua belas, mengenakan setelan jas kasual tanpa dasi yang sengaja dibuka tiga kancing atasnya—menampilkan kesan pria metroseksual yang berbahaya namun memikat.

​Di telinga kanan Etienne, terpasang sebuah alat komunikasi mikro tak terlihat ( earpiece ) yang terhubung langsung ke sebuah mobil van hitam yang terparkir di seberang jalan raya. Di dalam van tersebut, Alya duduk di antara Lucien, Marc, dan Julien, memegang mikrofon kecil sambil mengunyah keripik singkong.

​"Bang Etienne, tegapin dikit badannya! Jangan kayak orang encok begitu!" titah Alya melalui mikrofon, suaranya menggema di telinga Etienne. "Inget ya, malam ini Abang adalah 'Stefan', pegawai kantoran biasa di bagian divisi pemasaran semen cetakan. Jangan sampai kelepasan ngomong soal jalur selundupan senjata!"

​Etienne menghela napas panjang, tersenyum tipis ke arah kamera tersembunyi di bros jasnya. "Alya, manisku... pesonaku ini terlalu megah untuk industri semen. Tapi demi dirimu, aku akan berpura-pura menjadi pria kantoran yang membosankan selama tiga puluh menit."

​"Analisis target," suara Marc memotong jalur komunikasi dengan nada datar khasnya. "Wanita yang berjalan menuju mejamu adalah Chloe Dubois, usia dua puluh enam tahun. Berdasarkan pemindaian algoritma wajah, dia adalah putri kedua dari kepala serikat buruh pelabuhan Seine yang terkenal korup. Tingkat kecocokan genetik dengan Etienne: nol persen. Tingkat potensi drama: sembilan puluh delapan persen."

​Seorang wanita berambut pirang dengan gaun merah ketat dan riasan tebal melangkah anggun, lalu duduk di kursi kosong di depan Etienne. Dia menatap Etienne dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang sangat tajam.

​" Bonjour, Stefan," sapa Chloe dengan nada suara yang sengaja dibuat mendesah manja. "Kau... tidak terlihat seperti pria yang bekerja di industri semen. Tanganmu terlalu bersih."

​"Ah, bonjour, Chloe," balas Etienne dengan senyuman topengnya yang paling menawan, membuat pelayan restoran yang sedang menuangkan air putih di samping mereka sampai salah fokus. "Aku berada di divisi manajemen strategis. Tanganku hanya menyentuh kertas kontrak dan... hal-hal halus lainnya."

​Di dalam mobil van, Alya langsung menepuk jidatnya dengan gemas. "Heleh! Mulai deh kardusnya keluar! Bang Etienne, fokus! Tanyain dia hobinya apa, sukanya makan apa, jangan malah ngegombalin anak orang!"

​Julien yang duduk di samping Alya hanya menatap layar monitor dengan pandangan dingin. Tangannya bergerak ritmis membersihkan laras pistol kaliber 9mm miliknya. "Jika wanita itu mulai menyentuh tangan Etienne dengan sengaja, aku akan menembak lampu utama restoran dari sini untuk memutus kontak fisik."

​"Jangan, Julien," potong Lucien dengan wibawa tenangnya, meskipun matanya berkilat penuh hiburan. "Biarkan Etienne menikmati penderitaannya sendiri malam ini."

​Kembali ke dalam restoran, kencan buta itu mulai berjalan ke arah yang sangat aneh. Chloe ternyata bukan wanita biasa yang mencari cinta sejati; dia adalah tipe wanita sosialita Paris yang sangat materialistis dan sombong.

​"Jadi, Stefan," ucap Chloe sambil memutar-mutar gelas anggurnya dengan jemari yang dipenuhi kuteks merah darah. "Berapa digit angka di rekening bankmu setiap bulannya? Di mana kau menyewa apartemenmu? Apakah di kawasan pinggiran atau di pusat kota? Aku tidak bisa berkencan dengan pria yang tidak memiliki minimal satu unit mobil sport buatan Jerman di bagasinya."

​Etienne menahan kedutan di sudut bibirnya. Di dalam hatinya, dia ingin sekali tertawa terbahak-bahak. Jangankan satu unit mobil Jerman, dia bisa membeli pabrik mobilnya sekaligus beserta seluruh pelabuhan tempat ayah wanita ini bekerja jika dia mau.

​"Katakan padanya kalau Abang cuma naik ojek online sama tidurnya di kasur busa yang udah gembos, Bang!" bisik Alya jahil melalui mikrofon, wajahnya dipenuhi tawa geli yang sangat puas melihat Etienne terpojok.

​Etienne berdeham pelan, mengikuti skenario istrinya. "Ah... tabunganku tidak seberapa, Chloe. Aku masih mencicil apartemen studio kecil di lantai paling atas sebuah gedung tua tanpa lift. Dan untuk mobilitas sehari-hari, aku lebih suka menggunakan transportasi umum atau berjalan kaki demi kelestarian lingkungan."

​Seketika itu juga, ekspresi wajah Chloe berubah drastis menjadi sangat masam dan penuh penghinaan. Dia meletakkan gelas anggurnya dengan hentakan kasar. "Miskin sekali! Kenapa panitia speed dating ini mengizinkan pria kelas bawah sepertimu masuk ke restoran mewah ini? Kau hanya membuang-buang waktu berhargaku, Stefan!"

​Belum sempat Etienne membalas ucapan kasar tersebut, tiba-tiba suasana romantis di dalam restoran Le Jardin de Rose pecah berantakan.

​Pintu depan restoran didobrak kasar oleh lima orang pria bertubuh tegap yang mengenakan jaket kulit hitam tebal dan penutup wajah parsial. Mereka tidak membawa mawar, melainkan senapan serbu laras pendek buatan Rusia yang langsung diarahkan ke langit-langit ruangan.

​DOR! DOR!

​Dua tembakan peringatan menggema, menghancurkan lampu kristal besar di tengah langit-langit restoran hingga serpihannya berjatuhan di atas lantai. Para pengunjung wanita langsung menjerit histeris, beberapa di antaranya langsung merangkak bersembunyi di bawah meja.

​"Semuanya tiarap! Angkat tangan kalian di atas kepala! Jangan ada yang berani bergerak atau ruangan ini akan menjadi kuburan massal!" teriak sang pemimpin penyusup, seorang pria berkepala botak dengan tato kalajengking di lehernya.

​Di dalam mobil van taktis, atmosfer instan berubah total dalam waktu satu milidetik. Hiburan konyol tentang kencan buta menguap tanpa sisa, digantikan oleh mode tempur klan De Calvi yang paling mematikan.

​"Serangan perimeter dalam. Kelompok bersenjata tidak dikenal teridentifikasi sebagai faksi pecahan tentara bayaran Les Loups yang masuk daftar hitam interpol," lapor Marc, jarinya bergerak secepat kilat meretas kamera pengawas internal restoran untuk melacak posisi setiap penyerang.

​Lucien langsung berdiri, mengambil senapan serbu dari kompartemen rahasia di bawah jok van. "Julien, Etienne, amankan perimeter dalam. Jangan biarkan satu pun dari mereka mendekati meja nomor dua belas."

​"Alya, tetap di dalam van bersamaku," perintah Marc, mengunci pintu van secara otomatis dengan sistem enkripsi berlapis baja.

​Alya yang memegang mikrofon mendadak panik, namun bukan karena takut akan keselamatannya sendiri, melainkan karena dia melihat dari layar monitor bahwa salah satu penyerang berjalan mendekati meja Etienne dan Chloe dengan kasar.

​"Bang Etienne! Di belakang Abang ada yang bawa pistol! Hajar aja, Bang! Rusak-rusak deh itu restorannya!" teriah Alya memberi komando komisi perang.

​Di dalam restoran, Chloe Dubois sudah menangis tersedu-sedu sambil berlutut di bawah meja, tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan. Sementara itu, Etienne masih duduk dengan tenang di kursinya, dengan santai mengambil sepotong stroberi dari piring pencuci mulutnya dan memasukannya ke dalam mulut.

​"Hei, kau! Pria miskin pekerja semen! Berdiri dan serahkan dompet serta ponselmu!" bentak penyerang bertato kalajengking sambil menodongkan laras senjatanya tepat ke arah wajah Etienne.

​Etienne menghela napas, menatap penyerang itu dengan pandangan malas. "Kalian benar-benar merusak malam mingguku yang berharga. Padahal aku baru saja ingin melihat seberapa jauh wanita materialistis ini akan menghinaku."

​"Apa kau bilang—"

​Sebelum penyerang itu sempat menarik pelatuknya, Etienne melakukan gerakan refleks taktis tingkat tinggi. Dia menyiramkan sisa air putih di gelasnya tepat ke arah mata sang penyerang, membuat pandangannya kabur selama setengah detik.

​Dalam sekejap mata, Etienne mencengkeram pergelangan tangan penyerang tersebut, memutarnya dengan kekuatan penuh hingga terdengar bunyi KRAK yang mengerikan dari patahan tulang sendi. Senjata serbu itu berpindah tangan ke genggaman Etienne dalam waktu kurang dari satu detik. Etienne menggunakan popor senjata tersebut untuk menghantam rahang sang penyerang hingga pria kekar itu terlempar ke belakang, menabrak meja kayu hingga hancur berantakan dan pingsan seketika.

​DOR! DOR! DOR!

​Melihat bos mereka dilumpuhkan dengan sangat mudah, empat penyerang lainnya langsung mengarahkan tembakan ke arah Etienne. Namun, dari arah pintu belakang restoran, Julien telah melompat masuk melalui jendela kaca yang pecah.

​Julien bergerak seperti bayangan kematian yang dingin. Dengan dua tembakan presisi dari pistol berperedam suaranya, dua penyerang di sudut kiri langsung tumbang dengan lubang peluru tepat di lutut mereka, membuat mereka mengerang kesakitan di atas lantai marmer.

​Baku hantam jarak dekat ( close quarters combat ) pun pecah di tengah restoran mewah yang tadinya romantis. Etienne yang merasa setelan jas kasmir mahalnya terkena cipratan noda saus steak dari meja yang hancur, mendadak mengamuk dengan sangat elegan. Dia melompati meja bar, menangkap seorang penyerang yang mencoba melempar granat asap, lalu membanting tubuh pria itu menggunakan teknik judo bantingan bahu tepat di atas tumpukan piring keramik.

​PRANG! BRAK! BOOM!

​Suara pecahan piring, hantaman kayu, dan erangan kesakitan para penyerang mendominasi ruangan selama dua menit penuh. Etienne dan Julien bergerak dengan sinkronisasi taktis yang sempurna—sebuah tarian pertempuran yang lahir dari latihan militer bawah tanah bertahun-tahun.

​Dua menit kemudian, suasana restoran kembali sunyi. Lima penyerang bersenjata lengkap itu kini telah tergeletak tak berdaya di atas lantai dengan kondisi patah tulang dan luka tembak yang bervariasi.

​Etienne berdiri di tengah ruangan, membetulkan letak kerah jasnya yang sedikit kusut, lalu menyisir rambut hitamnya ke belakang menggunakan jari-jarinya dengan gaya yang sangat santai, seolah-olah dia baru saja menyelesaikan sesi olahraga ringan di pusat kebugaran.

​Lucien melangkah masuk melalui pintu depan dengan santai, menginjak salah satu senjata penyerang yang tergeletak di lantai. Dia melirik ke arah Chloe Dubois yang masih gemetar di bawah meja dengan wajah yang dipenuhi air mata dan maskara yang luntur.

​"Kencan butamu selesai, Etienne," ucap Lucien datar. "Istrimu menunggumu di luar dengan membawa sekotak tisu basah untuk membersihkan jas kotor-mu."

​Etienne tersenyum lebar, menundukkan kepalanya sedikit ke arah Chloe yang menatapnya dengan pandangan tidak percaya sekaligus ngeri yang luar biasa. "Ah, Chloe... maafkan aku. Sepertinya aku berbohong padamu tadi. Aku memang tidak memiliki mobil sport Jerman di bagasiku... karena aku biasanya lebih suka menggunakan helikopter pribadi buatan Prancis untuk menghindari kemacetan Paris."

​Etienne mengedipkan sebelah matanya, lalu berjalan melangkah lebar menyusul Lucien dan Julien keluar dari restoran yang hancur berantakan tersebut.

​Di luar restoran, pintu van taktis terbuka. Alya langsung melompat turun dan berlari kecil mendekati Etienne sambil membawa tisu basah dan sebotol air mineral. "Bang Etienne! Abang nggak apa-apa kan?! Ada yang lecet nggak wajah gantengnya? Tadi itu bantingannya keren banget, kayak di film-film aksi!"

​Etienne langsung berlutut sedikit agar tingginya sejajar dengan Alya, membiarkan istrinya itu mengusap noda debu semen sisa pertempuran di pipinya dengan sangat telaten. "Aku tidak apa-apa, permaisuriku. Tapi daster batikmu yang baru kubelikan kemarin tidak terkena noda asap kan?"

​"Aman, Bang! Tadi saya nunggu di dalem van sambil didampingi pawang siber kita, si Bang Marc," jawab Alya ceria sambil memamerkan daster barunya.

​Marc melangkah keluar dari van sambil memegang tablet digitalnya, menghela napas pendek melihat kerusakan arsitektur restoran di belakang mereka. "Aku sudah mengirimkan dana kompensasi anonim sebesar tiga ratus ribu Euro ke rekening pemilik restoran untuk biaya renovasi total dan penghapusan seluruh rekaman CCTV publik dalam radius dua kilometer. Operasi kencan buta konyol ini resmi ditutup dengan kerugian finansial kecil namun efisiensi taktis seratus persen."

​Saat mereka berlima berjalan bersama menuju mobil limosin utama yang diparkir di ujung jalan, Etienne tiba-kira merangkul pundak Alya dengan manja. "Alya, manisku... lain kali jika kau ingin mencarikanku jodoh lagi, bisakah kau mendaftarkanku di acara yang pesertanya adalah para wanita lemah lembut penyuka kuliner Indonesia? Aku sungguh lelah harus berhadapan dengan wanita sosialita Paris yang hobi menghina industri semen cetakan."

​Alya tertawa renyah, tawanya menggema membelah keheningan malam Le Marais yang basah oleh sisa hujan. "Nggak usah aneh-aneh deh, Bang! Lagian abang-abang berempat ini mana ada yang becus kalau kencan normal. Mending di rumah aja, bantuin saya bikin adonan donat kampung, taruhannya siapa yang lubang donatnya paling rapi dapet jatah pijat refleksi dari saya besok malam!"

​"Aku bertaruh pada diriku sendiri. Akurasi lubang donatku akan berada pada tingkat presisi militer," sahut Julien tiba-masing dari belakang dengan nada yang sangat serius, memicu tawa riuh dari Lucien, Marc, dan Etienne.

​Dan malam kencan buta yang berujung baku hantam itu ditutup bukan dengan romansa klise menara Eiffel, melainkan dengan kehangatan sebuah keluarga mafia paling berbahaya di Eropa yang melaju membelah malam, siap untuk kembali ke rutinitas domestik mereka yang penuh tawa, bumbu rempah, dan kesetiaan mutlak yang tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh peluru mana pun di dunia.

1
Aiyliqa Ciie ImuEyt
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Aiyliqa Ciie ImuEyt
🤣🤣🤣🤣ngakak parah...
falea sezi
lnjut🤣
falea sezi
🤣🤣 poliandri gpp lahh cogan semua yee kan
Dania
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!