THE LAST SUNRISE
Echoes of Light: Before the Sky Turns Red
Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.
Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.
Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: MALAM GAME RETRO & BINTANG
Malam itu, ruang rekreasi Markas Delta-7 terasa berbeda. Biasanya, ruangan ini sunyi, hanya diisi oleh suara dengungan mesin pendingin dan lampu neon yang berkedip lelah. Tapi malam ini, ruangan itu dipenuhi cahaya hangat dari layar televisi tabung tua yang sudah jarang ditemukan di era hologram, serta aroma popcorn mentega yang menggoda.
Bimo telah mengubah ruangan itu menjadi "zona bebas stres". Dia menutupi lantai logam yang dingin dengan selimut tebal dan bantal-bantal empuk yang dia kumpulkan dari asrama anak-anak panti (dengan izin, tentu saja). Di tengah-tengah tumpukan bantal itu, sebuah konsol game retro generasi ke-8 terhubung ke TV tua. Kabel-kabelnya kusut, stik kontrolernya sudah aus warnanya, tapi bagi Kai, benda-benda itu adalah harta karun.
"Siap-siap!" seru Bimo sambil melempar sebungkus keripik kentang ke arah Raka. "Malam ini nggak ada misi. Nggak ada laporan. Nggak ada latihan. Aturan satu-satunya: kalau kalah, harus makan popcorn yang gosong!"
Kai duduk bersila di antara tumpukan bantal, mengenakan kaos oblong longgar dan celana pendek—pakaian paling santai yang pernah dia kenakan di markas. Wajahnya masih sedikit pucat pasca-insiden, tapi matanya berbinar dengan antusiasme yang jarang terlihat. Di tangannya, dia memegang stik controller dengan erat, seolah itu adalah senjata paling canggih di alam semesta.
"Aku nggak akan kalah," kata Kai, suaranya ringan, tanpa nada sinis atau defensif seperti biasanya. "Aku sudah menghafal pola serangan bos level 1 sampai 50."
Elara, yang duduk di samping Kai sambil menyelimuti kakinya dengan selimut wol, tertawa kecil. "Lo curang. Lo kan hacker. Pasti ada cara buat ngintip kode gamenya."
"Nggak fair!" protes Bimo sambil mengunyah popcorn. "Raka, awasin dia! Jangan sampe dia nge-hack TV!"
Raka, yang berbaring telentang di atas bantal paling empuk dengan tangan di belakang kepala, tersenyum lebar. Dia menatap langit-langit ruangan, lalu melirik teman-temannya. Cahaya dari layar TV memantul di wajah-wajah mereka, menciptakan bayangan-bayangan lembut yang menari-nari. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Raka tidak merasakan beban di pundaknya. Tidak ada firasat buruk. Tidak ada rasa sakit di dada. Hanya ada ketenangan.
"Ayo mulai," kata Raka. "Kai, jangan kasih ampun."
Layar TV menyala. Musik 8-bit yang ceria dan nostalgia bergema di ruangan. Karakter pixel-art berwarna-warni muncul, siap bertarung.
Pertandingan dimulai. Jari-jari Kai menari cepat di atas tombol, matanya fokus tajam. Dia memainkan karakter penyihir kecil dengan presisi bedah. Setiap gerakan sempurna, setiap serangan tepat waktu.
"Wuih, gila!" teriak Bimo saat karakter Kai mengalahkan musuh besar dengan combo yang mustahil. "Itu cheat pasti!"
"Bukan cheat," kata Kai sambil tersenyum miring, matanya tetap pada layar. "Hanya efisiensi."
Raka bermain sebagai ksatria bodoh yang sering salah pencet tombol, membuatnya terus-mati konyol. Setiap kali karakter Raka jatuh ke jurang atau tertabrak monster, seluruh ruangan pecah dalam tawa. Bimo tertawa sampai terguling-guling, Elara menutup mulutnya mencoba menahan geli, dan Kai... Kai tertawa lepas. Tawa yang renyah, jujur, dan penuh kebahagiaan.
Di tengah kekacauan permainan itu, Raka memperhatikan Kai. Dia melihat bagaimana bahu Kai yang biasanya tegang kini rileks. Dia melihat bagaimana senyum Kai mencapai matanya, menghilangkan bayangan kelam yang selama ini menghantui pemuda jenius itu. Kai bukan lagi "Subjek 7". Dia bukan lagi alat. Dia adalah Kai, sahabat yang sedang bersenang-senang, yang kalah main game karena terlalu sibuk melempar popcorn ke arah Bimo.
"Dia bahagia," batin Raka, merasakan kehangatan menjalar di dadanya. "Dia aman."
Namun, di balik kebahagiaannya, Raka merasakan denyut partikel emas di tubuhnya semakin lambat. Bukan karena lemah, tapi karena... habis. Seperti lilin yang menyala terang sebelum padam, energinya telah digunakan sepenuhnya untuk menyelamatkan Kai di dunia mental. Sekarang, yang tersisa hanyalah sisa-sisa cahaya yang redup.
Raka tidak memberitahu siapa pun. Dia hanya tersenyum lebih lebar, ikut melempar popcorn ke udara dan berusaha menangkapnya dengan mulut, gagal total, dan membuat Elara tertawa sampai air matanya keluar.
Permainan berlanjut selama berjam-jam. Mereka berganti game, dari petualangan pixel hingga balapan mobil kotak-kotak. Mereka berdebat soal strategi, saling ejek, dan berbagi cerita masa kecil yang lucu. Bimo bercerita tentang bagaimana dia dulu mencuri roti dan ketahuan pemilik toko yang malah memberinya susu. Elara bercerita tentang kegagalan pertamanya dalam medis saat dia salah memberikan permen sebagai obat. Kai, dengan ragu-ragu, akhirnya menceritakan hal kecil: betapa dia dulu takut pada gelap, dan bagaimana dia menemukan kenyamanan dalam kode karena kode selalu punya logika, selalu punya jawaban.
Mendengar cerita itu, Raka meraih tangan Kai di bawah selimut, menggenggamnya sebentar sebagai tanda dukungan. Kai menoleh, tersenyum tipis, dan menggenggam balik.
Akhirnya, kelelahan mengambil alih. Game dimatikan. Layar TV menjadi hitam, memantulkan wajah-wajah mereka yang lelah namun puas. Popcorn habis. Keripik tinggal remahan.
Mereka tidak bergerak untuk pergi ke kamar masing-masing. Mereka tetap di sana, terbaring di lantai, menatap langit-langit yang gelap.
"Indah ya," gumam Bimo pelan, matanya setengah tertutup. "Tenang banget."
"Iya," sahut Elara, suaranya mengantuk. "Seperti dunia ini baik-baik saja."
Kai duduk perlahan, memeluk lututnya. Dia menatap Raka yang sedang memejamkan mata, napasnya teratur dan dalam. Dalam keheningan malam itu, Kai merasa sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya: rasa ingin melindungi.
Selama ini, Raka selalu menjadi pelindung. Raka yang masuk ke neraka digital demi dia. Raka yang menahan tembakan demi tim. Raka yang selalu tersenyum meski dia tahu beban dunia ada di pundaknya.
Kai menatap profil wajah Raka yang diterangi cahaya bulan buatan yang menyusup lewat ventilasi. Dia melihat kedamaian di wajah sahabatnya itu, dan tiba-tiba, hatinya sesak oleh presentimen yang aneh. Seolah dia bisa merasakan bahwa kedamaian ini rapuh. Seolah dia tahu bahwa cahaya yang memancar dari Raka sedang meredup.
Aku akan melindungi orang ini, batin Kai, janji itu terbentuk kuat di dalam hatinya, lebih kuat dari kode firewall mana pun yang pernah dia buat. Apa pun yang terjadi, aku akan pastikan dia tetap tersenyum. Aku akan jadi mata dan telinganya di dunia digital. Aku akan jadi perisainya di dunia nyata. Aku nggak akan biarkan dia sendirian.
Ironisnya, Kai tidak tahu bahwa perlindungan yang dia janjikan itu akan datang terlambat. Dia tidak tahu bahwa nanti, di puncak pertempuran terakhir, justru Raka-lah yang akan menjadi perisai terakhir bagi mereka semua. Raka-lah yang akan mengorbankan napasnya agar Kai bisa terus bernapas. Janji Kai untuk melindungi Raka akan menjadi kenangan pahit yang akan menghantuinya seumur hidup, karena orang yang ingin dia lindungi justru memilih untuk pergi demi menyelamatkan mereka.
Tapi untuk malam ini, janji itu masih murni. Masih penuh harapan.
Raka membuka satu matanya, menangkap tatapan Kai.
"Kenapa lo natapin gue, Kai? Mau tantang tanding lagi?" goda Raka lemah.
Kai menggeleng, tersenyum sedih namun hangat. "Nggak. Cuma... makasih, Rak. Buat hari ini. Buat semuanya."
Raka tersenyum, lalu menutup matanya kembali. "Sama-sama, Kai. Tidur sekarang. Besok... kita hadapi apa pun bersama."
"Malam, Rak."
"Malam, Bim."
"Malam, El."
Suara napas mereka perlahan menjadi sinkron, tenggelam dalam heningnya malam. Di luar jendela, bintang-bintang buatan berkelap-kelip, menyaksikan empat sahabat yang tertidur pulas di lantai markas, dikelilingi oleh sisa-sisa popcorn dan kenangan manis.
Malam itu, tidak ada mimpi buruk. Tidak ada hantu digital. Tidak ada badai merah.
Hanya ada damai.
Dan untuk sesaat, itu cukup.
Bersambung...