NovelToon NovelToon
Aku Kembali Bukan Untuk Mencintaimu Tapi Menghancurkanmu

Aku Kembali Bukan Untuk Mencintaimu Tapi Menghancurkanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 — LOCKER 217

“Siapa dia?”

Suara Arkan terdengar tajam.

Napasnya masih belum stabil setelah masuk ke ruangan gelap itu.

Tatapannya menyapu seluruh sudut ruangan.

Kosong.

Tidak ada siapa-siapa selain aku.

“Aku tidak tahu.”

Jawabanku pelan.

“Kamu bohong.”

Aku langsung menatapnya.

“Aku serius.”

Sunyi.

Tegang.

Arkan berjalan mendekat.

Terlalu dekat.

Matanya meneliti wajahku seolah mencari jawaban yang kusembunyikan.

“Apa yang dia lakukan padamu?”

“Aku baik-baik saja.”

“Apa dia nyakitin kamu?”

Aku menggeleng cepat.

Dan anehnya…

cara dia bertanya itu membuat dadaku terasa sedikit sesak.

Karena dia terdengar benar-benar khawatir.

Bukan pura-pura.

“Apa yang dia bilang?”

Pertanyaan itu keluar lebih pelan sekarang.

Tapi justru lebih berbahaya.

Aku terdiam.

Tanganku otomatis menggenggam kunci kecil di saku jas.

Rahasia terbesar ada di orang yang berdiri paling dekat denganmu.

Sial.

Kalimat itu terus terngiang.

“Alena.”

Aku mengangkat kepala.

“Aku cuma bilang… dia bicara omong kosong.”

Tatapan Arkan masih penuh curiga.

Tapi sebelum dia sempat bertanya lagi—

Leon masuk tergesa.

“Kita harus pergi sekarang.”

“Ada apa?” tanya Arkan.

“Orang-orang ibumu ada di bawah.”

Sunyi.

Aku langsung bergerak.

“Keluar lewat belakang.”

Kami turun lewat tangga darurat.

Langkah cepat menggema di lorong sempit.

Tapi pikiranku tidak ada di sana.

Pikiranku ada pada kunci kecil di sakuku.

Locker 217.

Dan semakin aku mencoba mengabaikannya—

semakin besar rasa ingin tahuku.

Mobil melaju cepat meninggalkan hotel.

Suasana di dalam sunyi.

Leon fokus menyetir.

Arkan duduk di sampingku.

Diam.

Tapi aku bisa merasakan tatapannya beberapa kali.

Dia tahu ada yang aneh.

Dan itu masalah.

“Kita kehilangan target.”

Leon memecah sunyi.

“Tidak sepenuhnya.”

Jawabanku cepat.

Mereka langsung menoleh.

Aku sadar terlalu cepat bicara.

“Maksudku… kita masih punya video dan data.”

Aku mencoba santai.

Arkan masih menatapku beberapa detik lebih lama.

Terlalu lama.

Sial.

Kami sampai di apartemen menjelang malam.

Aku langsung masuk kamar.

Mengunci pintu.

Lalu mengeluarkan kunci kecil itu dari saku.

Bentuknya sederhana.

Perak.

Dengan angka kecil terukir di belakang:

217

Aku menatapnya lama.

Instingku bilang jangan.

Tapi rasa penasaranku…

lebih besar.

Aku mengambil ponsel.

Mencari alamat tempat locker itu berada.

Dan saat hasilnya muncul—

jantungku langsung berdetak lebih cepat.

Stasiun penyimpanan pribadi.

Di pusat kota.

Aku menggigit bibir pelan.

Berpikir cepat.

Kalau aku bilang ke Arkan—

dia pasti ikut.

Dan entah kenapa…

aku merasa aku harus melihat ini sendiri dulu.

Malam semakin larut.

Suasana apartemen mulai sepi.

Leon tertidur di sofa ruang kerja.

Arkan masih di balkon sambil menerima telepon.

Ini kesempatanku.

Aku memakai jaket hitam.

Mengambil kunci mobil.

Dan keluar diam-diam.

Udara malam terasa dingin saat aku sampai di gedung penyimpanan itu.

Tempatnya sepi.

Hanya ada satu petugas di meja depan.

Aku memakai topi dan masker.

Berjalan cepat.

“Locker?”

tanya pria itu malas.

“217.”

Dia melihat kunci di tanganku.

Lalu mengangguk.

“Lantai bawah.”

Aku masuk lift.

Jantungku berdetak semakin keras.

Dan untuk pertama kalinya

setelah sekian lama—

aku benar-benar takut pada jawaban yang akan kutemukan.

Lift terbuka.

Lorong panjang membentang.

Sunyi.

Dingin.

Lampu putih redup menyala di langit-langit.

Locker 217 ada di ujung.

Langkahku melambat.

Entah kenapa—

bagian dari diriku berharap locker itu kosong.

Tapi tentu saja hidupku tidak pernah semudah itu.

Aku memasukkan kunci.

Memutarnya perlahan.

Klik.

Pintu terbuka.

Dan dadaku langsung terasa jatuh.

Karena di dalamnya—

hanya ada satu benda.

Sebuah map hitam.

Tanganku sedikit gemetar saat mengambilnya.

Di bagian depan—

tertulis satu nama.

ARKAN WIJAYA

Napas langsung tercekat.

Aku membuka map itu perlahan.

Dan di detik berikutnya—

duniaku seperti berhenti berputar.

Foto-foto.

Dokumen.

Rekaman transaksi.

Dan semuanya—

tentang Arkan.

Aku membaca cepat.

Semakin cepat.

Semakin panik.

Karena isi map itu…

menghancurkan semuanya.

“Tidak…”

Bisikku pelan.

Tanganku mulai dingin.

Salah satu dokumen jatuh ke lantai.

Aku mengambilnya cepat.

Dan saat membaca nama di bagian bawah—

jantungku seperti diremas.

Tanda tangan Arkan.

Di bawah dokumen persetujuan lama.

Dokumen yang berkaitan dengan—

penghapusan identitasku.

Sunyi.

Aku mundur satu langkah.

Ini tidak mungkin.

Tidak mungkin.

Karena saat itu—

Arkan masih terlalu muda.

Kan?

Pikiranku mulai kacau.

Lalu aku melihat tanggal.

Dan tubuhku langsung membeku.

Karena tanggal itu…

bukan lima belas tahun lalu.

Tapi tiga tahun lalu.

Tiga tahun.

Artinya—

saat aku hidup menderita…

saat aku mencoba bertahan…

saat aku percaya semua itu masa lalu…

Arkan masih terlibat.

Tanganku langsung mengepal kuat.

“Kenapa…”

Suaraku bergetar.

“Kenapa kamu ada di semua ini…”

Air mataku hampir jatuh.

Hampir.

Tapi aku menahannya.

Karena rasa sakit yang muncul sekarang—

perlahan berubah jadi sesuatu yang lebih dingin.

Lebih tajam.

Marah.

Ponselku tiba-tiba bergetar.

Nama Arkan muncul di layar.

Aku hanya menatapnya.

Tidak bergerak.

Panggilan kedua masuk.

Lalu ketiga.

Aku akhirnya mengangkat.

“Di mana kamu?”

Suaranya langsung terdengar.

Tegang.

Aku diam.

“Alena?”

Aku masih diam.

Karena kalau aku bicara sekarang—

aku tidak yakin bisa mengendalikan suaraku.

“Jawab aku.”

Aku tertawa kecil.

Pelan.

Pahit.

Dan itu langsung membuatnya

diam.

“Kamu tahu…”

Aku akhirnya bicara.

Suaraku rendah.

“…aku mulai berpikir mungkin semua orang benar.”

Sunyi di seberang sana.

“Alena, dengarkan aku—”

“Tidak.”

Aku memotong cepat.

Tatapanku jatuh lagi ke map hitam itu.

Ke tanda tangannya.

Ke semua bukti yang sekarang terasa seperti pisau.

“Aku capek mendengarkan.”

“Bukan seperti yang kamu pikir.”

Aku tersenyum tipis.

Tapi air mataku akhirnya jatuh juga.

“Lucu.”

Aku menutup mata sebentar.

“Karena semua orang selalu bilang begitu sebelum menghancurkanku.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!