menceritakan seorang raja kehidupan yang tertarik dengan sang ratu kematian yang dia baca di sebuah buku legenda sang ratu kematian yang sangat cantik dan dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leona athena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24 : di bawah pohon perak yang berkilau
Jamuan makan malam telah berakhir dengan penuh kehangatan dan kegembiraan. Para tamu dan orang-orang kepercayaan keduanya masih duduk berbicara dan tertawa bersama, menikmati suasana yang damai dan menyenangkan. Namun Elara dan Xavier memutuskan untuk meluangkan waktu berdua saja, berjalan-jalan di sekitar istana yang kini terlihat begitu indah dan penuh cahaya.
Elara berjalan di samping Xavier dengan langkah yang ringan dan santai. Senyumnya tidak pernah hilang dari wajahnya, dan sesekali ia menoleh ke arah pria di sampingnya, matanya yang berkilau bagaikan kristal hitam itu memancarkan perasaan yang hangat dan tulus. Selama ribuan tahun, ia tidak pernah membayangkan bisa merasakan hal seperti ini—berjalan bersama seseorang yang dicintainya, merasa aman, dihargai, dan bahagia.
Mereka berjalan melewati lorong-lorong yang dihiasi kristal-kristal berwarna-warni, melewati halaman yang dipenuhi bunga-bunga bercahaya, hingga akhirnya tiba di taman di bagian dalam istana. Tempat ini dulunya adalah tempat yang sepi dan suram, namun kini telah berubah menjadi tempat yang sangat indah dan menenangkan.
Dan di tengah taman itu, berdiri sebuah pohon yang sangat besar dan megah. Batangnya kokoh dan berwarna cokelat keemasan, namun yang paling menakjubkan adalah daun-daunnya—bukan berwarna hijau seperti pohon pada umumnya, melainkan berwarna perak yang bersinar terang, seolah setiap helai daun itu terbuat dari logam mulia yang dipoles dengan sempurna. Saat angin berhembus lembut, daun-daun itu bergerak dan bergesekan satu sama lain, menimbulkan suara yang merdu dan menenangkan, serta memancarkan cahaya yang berkelap-kelip bagaikan ribuan bintang yang jatuh ke bumi.
"Ini adalah pohon yang tumbuh bersamaku sejak aku masih kecil," ucap Elara pelan, sambil menatap pohon itu dengan pandangan yang penuh kenangan. "Ia tumbuh dari benih yang aku tanam sendiri, saat aku masih sangat kecil dan belum mengerti apa-apa. Dulu daunnya berwarna gelap dan hampir tidak bersinar sama sekali, seolah ia juga ikut merasakan kesedihan dan kesepian yang aku rasakan. Tapi sekarang... lihatlah ia, seolah ia juga ikut bahagia."
Xavier menatap pohon itu dengan kagum, lalu menatap kembali ke arah Elara. "Ia memang indah, sama seperti pemiliknya. Dan ia bersinar terang sekarang, karena hatimu juga sudah bersinar terang."
Mendengar ucapan itu, wajah Elara kembali memerah. Ia lalu menunjuk ke arah tempat di bawah pohon itu, di mana ada dua bangku batu yang sudah tersusun rapi dan dilapisi dengan kain lembut.
"Yuk, kita duduk di sana," ajaknya dengan nada yang lembut.
Keduanya pun duduk berdampingan di bawah pohon yang megah itu. Cahaya dari daun-daun perak itu jatuh menimpa tubuh mereka, menciptakan suasana yang begitu romantis dan menenangkan. Tidak ada lagi jarak yang terjaga seperti dulu, tidak ada lagi kecurigaan atau rasa takut. Mereka duduk dengan dekat, merasa nyaman dan damai bersama satu sama lain.
Suasana yang tenang itu membuat mereka berdua menjadi lebih santai dan terbuka. Percakapan yang mereka lakukan pun mengalir dengan alami dan ringan. Mereka bercerita tentang hal-hal yang lucu, hal-hal yang menyenangkan, dan juga hal-hal yang pernah mereka alami di masa lalu. Elara yang dulunya pendiam dan jarang berbicara, kini terlihat sangat aktif bercerita, bahkan sesekali tertawa terbahak-bahak saat mereka bercanda bersama—suara tawanya yang merdu dan indah itu terdengar bergaung di seluruh taman, membuat suasana menjadi semakin hidup dan bahagia.
"Kau tahu tidak, saat pertama kali kita bertemu, aku mengira kau ini orang yang sangat membosankan dan terlalu sopan sampai terasa dibuat-buat," ucap Elara sambil menahan tawa.
Xavier tertawa mendengarnya. "Benarkah? Padahal aku sudah berusaha bersikap sebaik mungkin, takut membuatmu marah atau tersinggung. Kalau aku tahu aku dianggap membosankan, mungkin aku akan bersikap lebih ceria sejak awal."
"Kalau begitu mungkin aku akan mengusirmu sejak hari itu juga," jawab Elara cepat, lalu tertawa lagi melihat ekspresi wajah Xavier yang sedikit terkejut. "Tapi sekarang aku senang kau bersikap seperti itu. Kesabaran dan ketulusanmulah yang membuatku bisa membuka hatiku."
Mereka terus berbicara dan bercanda, seolah waktu berjalan terlalu cepat dan mereka tidak ingin momen ini berakhir. Hingga akhirnya, Xavier yang sejak tadi ingin menanyakan hal penting itu, memberanikan diri untuk berbicara.
"Elara..." panggilnya dengan nada yang lebih lembut dan serius, namun tetap hangat.
Elara menoleh menatapnya, matanya berbinar menunggu apa yang akan ia katakan. "Ya? Ada apa?"
Xavier menarik napas sejenak, lalu melanjutkan. "Kita sudah sepakat untuk menikah, dan aku sudah menerima syarat yang kau berikan. Tapi ada hal yang ingin aku tanyakan padamu, karena aku ingin semuanya berjalan sesuai dengan keinginan dan kebahagiaanmu."
Ia berhenti sejenak, lalu bertanya dengan hati-hati.
"Di mana kau ingin pernikahan kita dilaksanakan? Apakah di sini, di kerajaamu, atau di kerajaanku? Atau mungkin di tempat lain yang istimewa bagimu? Dan juga... apa jenis pakaian pengantin yang ingin kau kenakan? Aku ingin semuanya menjadi yang terbaik dan sesuai dengan apa yang kau harapkan, karena pernikahan ini adalah hal terpenting dalam hidupku."
Elara mendengar pertanyaan itu, dan hatinya terasa hangat melihat betapa perhatian dan penuh pertimbangannya Xavier. Ia menunduk sejenak, memikirkan jawabannya, lalu kembali menatap Xavier dengan pandangan yang lembut dan penuh kepastian.
"Aku sudah memikirkannya sejak lama, sebenarnya..." ucapnya perlahan. "Dan aku ingin pernikahan kita dilaksanakan di kedua tempat. Pertama, kita akan melaksanakannya di sini, di Kekaisaran Obsidian, karena ini adalah tempat asal dan tempat tinggalku, tempat di mana aku tumbuh dan hidup selama ribuan tahun. Semua orang dan makhluk di sini adalah keluargaku, dan aku ingin mereka semua bisa melihat dan merayakan momen bahagia ini bersamaku. Dan setelah itu, kita akan melaksanakannya juga di kerajaamu, agar rakyatmu dan orang-orang di sana juga bisa merayakan persatuan kita."
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan senyum yang makin melebar.
"Dan untuk pakaian pengantinnya..." Elara terdiam sejenak, seolah membayangkan sesuatu yang indah, "aku ingin tetap mengenakan warna yang menjadi ciri diriku—warna hitam. Tapi aku ingin ia dihiasi dengan hal-hal yang juga melambangkan dirimu, agar pakaian itu menjadi bukti bahwa kita telah bersatu menjadi satu. Aku ingin gaun itu berwarna hitam pekat, namun dihiasi dengan benang emas dan perak, serta hiasan yang berbentuk seperti bintang dan bulan, sama seperti gaun yang aku kenakan malam ini. Aku ingin ia terlihat anggun, namun juga terlihat hidup dan bercahaya, sama seperti hidupku yang kini telah berubah karena kehadiranmu."
Elara menatap Xavier dalam-dalam, dan suaranya menjadi lebih lembut dan penuh perasaan.
"Karena bagiku, warna hitam bukan lagi warna kesunyian atau kesedihan seperti dulu. Sekarang ia adalah warna yang indah, yang bisa bersinar dan memancarkan kebahagiaan, sama seperti hatiku yang kini bersinar karena ada kau di dalamnya."
Xavier mendengar semua itu dengan hati yang penuh haru dan kebahagiaan. Ia mengangguk perlahan, dan menjawab dengan suara yang tulus dan tegas.
"Baiklah, aku akan melaksanakan semua keinginanmu. Aku akan memastikan semuanya terwujud dengan sempurna. Dan apapun yang kau kenakan, bagimu akan tetap menjadi orang yang paling cantik dan terindah di seluruh dunia, karena kecantikanmu bukan hanya terlihat dari luar, tapi juga dari dalam hatimu yang baik dan lembut."
Xavier lalu meraih tangan Elara dengan lembut, dan menggenggamnya erat. Sentuhan itu terasa hangat dan menenangkan, seolah menjadi ikatan yang menyatukan hati mereka berdua.
"Aku tidak sabar menunggu hari itu tiba," ucapnya dengan suara yang rendah namun jelas. "Hari di mana kau akan menjadi milikku sepenuhnya, dan aku akan menjadi milikmu selamanya."
"Aku juga..." bisik Elara, dan kali ini ia tidak menunduk atau menyembunyikan perasaannya. Ia menatap lurus ke mata Xavier, dan matanya memancarkan cinta yang tulus dan tak terhingga. "Aku juga tidak sabar."
Di bawah pohon perak yang berkilau itu, di tengah suasana yang penuh cahaya dan kedamaian, keduanya duduk berdampingan, saling menggenggam tangan dan saling menatap. Momen itu terasa begitu sempurna, begitu indah, dan akan selalu tersimpan dalam ingatan mereka berdua sebagai salah satu momen terindah dalam hidup mereka. Dan mereka tahu, apa pun yang akan terjadi di masa depan, mereka akan menghadapinya bersama-sama, dengan cinta dan pengertian yang selalu ada di antara mereka.
Bersambung...