Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.
Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.
Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?
Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?
Happy reading 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 Pengusiran Razna
Razna terhenyak mendengar ucapan Ragil yang memberinya talak 3 di depan ibu mertuanya. Seolah dunia ini berhenti berputar. Rasanya baru kemarin janji suci itu diikrarkan di depan penghulu tanpa restu dari orang tua. Kini janji itu kandas bak ditelan bumi. Dia menyadari rumah tangga tanpa restu orang tua tidak menjamin kehidupan rumah tangga menjadi langgeng.
Dia mengangkat wajahnya perlahan, menatap nanar suaminya yang tega mengucapkan talak 3 dikepulangannya dari rumah sakit. Matanya sembab, napasnya tersengal. Bukan karena terkejut semata, tapi karena ada sesuatu yang benar-benar runtuh di dalam dirinya. Suami yang ia bela di keluarganya lebih memilih wanita lain hanya karena salah paham dan ketidakpercayaan.
“Jadi ini yang kamu pilih, Mas?” suaranya lirih, nyaris tak terdengar.
Ibu terperanjat mendengar keputusan anaknya yang gegabah.
“Ragil! Astaghfirullah! Kamu jangan memutuskan perceraian disaat sedang emosi seperti ini!” Ia berusaha meraih lengan anaknya, tapi Ragil menarik diri.
“Semua sudah jelas, Bu. Saya tidak butuh penjelasan lagi dari dia, wanita yang tega menjual jasad anaknya tanpa kompromi dengan keluarganya," jawab Ragil dingin, tanpa sedikit pun menoleh ke arah Razna.
Razna tersenyum tipis. Senyum yang ikhlas menerima kenyataan pahit. Sudah banyak luka yang Ragil torehkan dalam hatinya. Sangat menyakitkan. Buat apa dipertahankan? Hanya akan menambah luka dalam diri Razna.
“Baik,” ucapnya pelan, tapi cukup jelas terdengar oleh semua orang di ruangan itu.
"Kalau memang itu keputusanmu, Mas. Aku terima dengan ikhlas. Ini memang sudah jalan-Nya. Kalau pun rumah tangga ini dipaksakan untuk bersatu, selamanya tidak akan pernah bahagia," lanjutnya cukup menohok.
Ibu langsung menoleh pada Razna. “Nak, jangan bicara seperti itu. Ini masih bisa dibicarakan lagi. Ragil sedang emosi. Tolong kamu jangan menerima keputusan ini."
“Maaf Bu. Tidak bisa.” Razna menggeleng perlahan. Lukanya begitu dalam, sulit rasanya jika harus dipertahankan.
“Kalau seorang suami sudah tidak percaya lagi pada ucapan istrinya, maka penjelasan sebanyak apa pun tidak akan ada artinya. Lagi pula kata talak itu sudah diucapkan dengan lantang di hadapan Ibu, jadi kalau menurut agama itu sudah sah," lanjutnya pasrah.
"Tapi....Nak...." lirih Ibu seolah tidak menerima keputusan ini.
Ragil tertawa remeh ketika Razna tidak memohon untuk tidak diceraikan.
"Sudahlah Bu. Razna itu bukan wanita baik-baik. Demi uang dia tega menjual anaknya sendiri pada orang lain. Sungguh miris..."
"Cukup Ragil!" bentak Ibu tidak terima.
"Katakan, Nak. Kalau kamu tidak menjual jasad anakmu sendiri pada orang asing itu!" lanjut Ibu menuntut jawaban dari Razna.
Razna terdiam, seolah sudah lelah menjawab.
"Geledah aja tasnya, Bu! Siapa tahu barang bukti itu masih ada di dalam tasnya."
Razna terhenyak pasrah. Tatapannya tertuju pada tasnya yang telah diambil Ragil dari atas meja tamu. Dia tidak memberontak, tidak pula melawan. Dia terlalu lelah sehingga membiarkan mantan suaminya menggeledah tas itu tanpa sepatah kata pun.
"Nah, ini apa?" Ragil mengangkat sebuah amplop coklat yang berisi uang, lalu menghitung lembar demi lembar dengan tatapan curiga. .
"Ya ampun Razna, kamu menjual jasad bayi hanya segini?" tanya Ragil menyorot tajam mantan istrinya.
Razna tidak mampu lagi berkata apa-apa. Suaranya seolah hilang.
Ibu mertuanya yang semula diliputi rasa iba dan masih berusaha membelanya, perlahan berubah. Kebingungan muncul dengan sendirinya disusul kekecewaan yang mendalam, yang pada akhirnya menjelma menjadi kemarahan.
“Jadi benar?” suaranya bergetar. “Kamu telah menjual jasad bayi itu, Razna?”
Razna menatapnya. Bibirnya terbuka, ingin menjelaskan kebenarannya tapi tidak ada tenaga yang tersisa.
Sehingga diamnya Razna disalah artikan oleh ibu mertuanya.
“Ya Allah, Razna ternyata kamu..." ucap ibu dengan suara bergetar. Giginya bergemeletuk.
Air mata ibu kembali jatuh, tapi kali ini bercampur marah.
“Ibu kira kamu perempuan kuat, perempuan yang sabar, tapi ternyata kamu bisa setega ini? Kamu sadar ga? Yang kamu jual itu bayi kamu, anakmu, Raz! Kenapa kamu setega itu menyerahkan bayimu pada orang asing?" suaranya meninggi penuh luka yang mendalam.
Razna menggelengkan kepalanya pelan, lalu menyusut air mata yang tersisa dengan punggung tangannya.
"Aku...tidak ...." katanya lirih tapi semuanya terlambat.
"Cukup!" bentak Ragil.
"Sekarang kamu keluar dari rumah ini dan jangan pernah kembali lagi!" usir Ragil murka.
Tanpa belas kasihan, Ragil menarik tubuh Razna yang lemah menuju pintu. Dia mendorong Razna keluar begitu saja, seolah Razna tidak pernah menjadi bagian dari rumah tersebut. Dia tidak peduli kehidupan Razna selanjutnya.
Tidak ada yang mampu mencegah pengusiran Razna termasuk Ibu mertuanya. Dia hanya terdiam melihat sikap Ragil memperlakukan Razna. Dia merasa hancur oleh keyakinannya sendiri.
Razna terhuyung setelah Ragil berhasil mendorongnya. Amplop yang seharusnya jadi miliknya pun tidak diberikan Ragil padanya. Hari itu Razna benar-benar tidak membawa apapun.
"Ya Allah...Aku harus kemana?" batin Razna berusaha bangkit, entah akan kemana kakinya melangkah pergi.
raz.. kan dia kerja.. tp kmcemburu .. dan km yg berharap sama Rendra
padahal Rendra ngk suka ma km.. dia ngangap km adik .. pahamm!
udah jadi adek ipar masih aja ngelunjak pgen jdi istri... ngk tau diri
Degar sendiri kan dra klakuan adek ipar mu...