Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Suasana kamar yang harusnya menjadi ketenangan bagi Melina karena menjauhi Ihsan, kini terasa seperti tempat penyiksaan penjara bawah tanah.
Tangannya yang sedang mengerjakan tugas kuliah, tiba-tiba terhenti.
Kepalanya menoleh ke samping di sana tepat ada suaminya.
Melihat sosok di sampingnya, entah mengapa jantungnya berdegup kencang menghantam dadanya.
Dadanya terasa sesak dan sakit, begitu di sampingnya mendapati sosok suaminya.
"Mas...," suara Melina bergetar ketakutan.
Matanya melebar seolah memancarkan rasa trauma dan ketakutan yang mendalam.
Ishan menatapnya dengan tatapan lembut saat istrinya tengah fokus mengerjakan tugas kuliahnya, namun saat Melina menoleh dirinya langsung menatap dengan tatapan kembali seperti semula.
Ishan kembali menatap istrinya dengan tatapan datar.
"Kenapa? Ini rumah saya dan saya berhak dimana saja," ucap pria itu dengan nada angkuh.
Pernyataan itu sudah mampu membuat bulu kuduk Melina meremang, peluh kembali bercucuran.
Ingatan tentang kemarin, berputar kembali seperti ingatan yang buruk.
Teriakan kasar Ishan di sertai main tangan, rasa sakit pukulan di wajahnya masih terasa----puncaknya saat dirinya di usir dengan kasar dari kamar Ishan.
Bekas pemukulan di pipinya masih tertinggal dengan rasa perih, meski dari luar Melina terlihat tegar dan biasa saja.
Kehadiran Ishan di kamarnya bukanlah sebuah kecocokan baginya meski pria ini adalah suaminya.
Melainkan kehadiran Ishan adalah ancaman baru.
"Mas to-tolong ke-keluar...," ucap Melina lirih dengan posisi duduk menjauh dari Ishan.
Gadis yang mengenakan gaun warna jingga sampai lutut itu, menjauh pelan-pelan.
Tiba-tiba tangan Ishan menjambak rambutnya dengan kasar.
"Kenapa menjauh, dengan pria lain kamu akrab! Dan saya suami kamu!" ucapnya tegas dengan mata melotot.
"Argh Mas...Sakit! Lepasin!" ucap Melina memegang tangan Ishan yang menjambak rambutnya, seolah berusaha mengendurkan tarikan rambutnya.
Melina tak bisa menciptakan jarak jauh karena rambutnya di jambak oleh Ishan.
"Mas...sa-sakit..," kata Melina meringis.
Melina sekuat tenaga berusaha melepaskan diri, dengan memukul bagian paha Ishan.
"Oh Shittt! juniorku!" umpat Ishan.
Seketika hal ini di manfaatkan oleh Melina untuk berlari keluar kamar, gadis ini ingin lari sejauh mungkin.
Dirinya ingin lari keluar kamar agar Ishan tak memaksanya untuk berhubungan badan, karena jika dirinya berhubungan badan dalam keadaan rumah tangga seperti ini.
Melina yang merasa di rugikan, karena setelah Ihsan merenggut mahkotanya----Ihsan dengan bebas mau menceraikannya.
"Tolongggg!" jerit Melina berlari.
Namun, Ishan dengan kecepatannya, segera meraih tangan Melina.
Sret!
Tangan besar Ishan menyambar pergelangan tangan Melina dengan kasar.
Melina tersentak saat dirinya terduduk di pangkuan suaminya.
Deg.
Rasa trauma kembali teringat, kenangan dirinya di pukul bahkan di tampar oleh suaminya.
"Massss!!" teriak Melina berusaha melepaskan diri.
Tubuh ishan mengenakan kaus biru dan celana kargo warna hitam.
Tangan Ishan dengan nakal meraba bagian depan tubuh istrinya, seketika selain KDRT----tambah lagi satu trauma.
Yakni pelecehan, Ishan melakukan itu tanpa persetujuan Melina.
Gadis malang itu berusaha melepaskan diri dari cengkraman Ishan, namun Ishan semakin mencengkram kuat pergelangan tangannya.
"Mas, jangan begini! Lepasin tangan aku!" teriak Melina dengan ketakutan.
Melina berusaha melepaskan cengkraman yang terasa seperti borgol besi itu.
"Mau lari kemana lagi, Melina?" suara Ishan merendah namun terdengar seperti pengancaman.
Gadis itu masih duduk di pangkuan Ishan, tangan suaminya terus meraba bagian depan dan mencium leher Melina.
Melina merasa jika lehernya seperti rasa tajam dan geli, karena bulu halus yang terasa di lehernya.
"Lepas! Aku takut, Mas! kamu kejam!" teriak Melina sambil menangis.
Matanya mengarah ke jendela, mencari secerca harapan.
Mulutnya terus berteriak, namun tak ada seorang pun mendengar teriakannya.
Mata Melina sudah mengeluarkan air mata, karena Ishan mau melakukan ibadah ranjang dengan paksaan.
"Tolongggg!" teriak Melina sekali lagi, namun tak ada yang mendengar.
Bibir Ishan sudah ada di lehernya, mencecap setiap inci tubuh istrinya dan meninggalkan tanda hitam----sebagai tanda cinta bagi Melina.
"Tol----ehmmm...Ehmmm."
Mulut Melina di bekap oleh Ishan, agar tak berteriak.
Tubuhnya berusaha berontak agar dirinya tak melakukan hubungan badan.
Melina berusaha mencari secercah harapan untuk melarikan diri, sementara tangannya terus di tarik oleh Ishan yang tak sedikit pun berusaha melepaskannya.
Di atas sofa hijau di samping keduanya, buku-buku yang terbuka menjadi saksi bagaimana kelakuan bejad Ishan memperlakukan istrinya.
Ishan membekap mulut Melina menggunakan tangan kanannya, lalu meraba tubuh Melina menggunakan tangan kirinya.
Air mata Melina sudah mengalir deras, lantaran terus di paksa oleh Ishan.
Saat tangan kanannya terlepas dari mulutnya, Melina langsung berucap.
"Mas, tolong... jangan paksa aku. Kamu sudah lukai aku kemarin, apa itu belum cukup?" bisik Melina dengan sisa tenaganya, menatap lurus ke mata pria yang kini menjadi monster dalam hidupnya.
"Tolong Mas...kamu sudah pukul aku...," lanjut Melina dengan air mata yang terurai.
Ishan tanpa rasa kasihan terus meraba tubuh gadis yang sudah menjadi istrinya.
"Jangan Mas...jika kamu mau ceraikan aku, silahkan tapi jangan sentuh aku," ucap Melina seolah memohon pada suaminya.
Seakan Tuli Ishan terus melakukan aksi bejadnya, tubuh Melina sudah di pangkuannya---Ishan lalu berbisik di telinga gadis itu.
"Kamu milikku," ucap Ishan dengan sensual.
"Nggakkk, kita akan bercerai kita tak saling cinta!" bentak Melina dengan berontak.
Melina memukul bagian milik Ishan membuat pria itu menjerit, seketika cengkraman tangannya terlepas.
Hal ini di manfaatkan Melina untuk melarikan diri, langkahnya berlari menuju pintu dan berusaha membuka gagang pintu.
Tapi sialnya, Ishan berhasil menarik tubuh Melina dan membawanya ke atas kasur.
"Mas...Jangan...Tolong jangan," ucap Melina menatap mata Ishan yang berwarna hijau.
Seolah mata itu siap membunuhnya, dan Melina dengan air mata yang sudah mengalir deras.
Tubuh gadis malang itu sudah di baringkan Ishan dengan kasar di atas kasur.
Mata Melina sudah berkaca-kaca, dan bibirnya terus mengucap permohonan kepada Ishan agar tak melakukan hal yang memaksa.
"Kamu istri saya! saya minta hak saya sebagai suami!" bentaknya pada Melina.
"Mas...sesuai perjanjian, kita---" ucapan Melina terhenti saat bibir Melina di tutup dengan ciuman.
Siang ini Melina tak bisa melakukan apapun, karena tubuhnya sudah di kunci oleh Ishan---mau berontak pun tenaga Ishan lebih kuat darinya.
*