update setiap tanggal genap
Lin Yinjia adalah mahasiswi biasa yang hidupnya sederhana namun hangat bersama keluarganya. Ketika adiknya mengalami kecelakaan dan terbaring koma, kehidupannya perlahan berubah. Demi membantu biaya pengobatan, Yinjia terpaksa mempertahankan perjodohan yang sudah diatur keluarganya dengan Gu Zhenrui, pewaris keluarga kaya yang arogan dan penuh kesombongan.
Di kampus, Yinjia harus menghadapi berbagai gosip, sindiran, dan pengkhianatan dari orang-orang yang dulu ia percaya. Ketika ia mulai menyadari bahwa tunangannya berselingkuh, Yinjia memutuskan untuk berhenti menjadi gadis yang hanya diam menerima semuanya.
Kesempatan datang saat ia diterima magang di sebuah perusahaan ekspor impor besar di Shanghai. Di sanalah ia bertemu Guo Linghe—presiden direktur perusahaan yang dingin, kaku, dan memiliki dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan Yinjia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama Magang - 2
Menjelang siang, suasana di departemen logistik internasional mulai berubah sedikit.
Beberapa karyawan berdiri dari meja mereka, berjalan ke pantry kecil di ujung ruangan untuk mengambil kopi. Suara mesin kopi terdengar pelan, bercampur dengan bunyi keyboard dan percakapan singkat yang tetap dijaga rendah.
Yinjia masih menatap layar komputernya dengan serius. Matanya mulai terasa sedikit lelah karena terlalu lama membaca angka dan kode pengiriman. Ia mengusap pelipisnya sebentar lalu menegakkan punggung.
Di layar komputer, ia sedang mengecek data pengiriman kontainer menuju Rotterdam. Ada beberapa kolom yang harus dicocokkan: nomor kontainer, kode pelabuhan, jenis barang, serta jadwal keberangkatan kapal.
Awalnya semua terlihat normal. Namun setelah membaca ulang untuk ketiga kalinya, alis Yinjia perlahan berkerut. Ada sesuatu yang terasa tidak pas.
Ia menggeser kursinya sedikit lebih dekat ke meja dan membuka dokumen pembanding yang lain. Nomor kontainer sama. Tanggal pengiriman sama. Namun kode pelabuhan tujuan berbeda.
Yinjia menatap layar itu cukup lama. Mungkin hanya salah lihat. Ia membaca ulang lagi. Tetap sama. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia mengangkat tangan kecil. “Li Wen… boleh tanya sebentar?”
Li Wen memutar kursinya. “Ada apa?”
Yinjia menunjuk layar komputernya. “Dokumen ini bilang kontainer menuju Rotterdam, tapi kode pelabuhannya Antwerp.”
Li Wen mendekat dan melihat layar. Beberapa detik ia hanya diam. Lalu wajahnya berubah sedikit serius. “Itu memang tidak cocok.”
“Harusnya bagaimana?”
“Biasanya kode pelabuhan mengikuti tujuan akhir.”
Yinjia menggigit bibirnya pelan. “Kalau ini salah… berarti kontainernya bisa tertahan di pelabuhan yang salah?”
Li Wen mengangguk kecil. “Iya. Dan kalau barangnya terlambat sampai… perusahaan bisa kena penalti.”
Yinjia langsung merasa perutnya sedikit dingin. Hari pertama. Dan ia sudah menemukan kemungkinan kesalahan dalam dokumen pengiriman.
Ia menoleh ke arah meja Song Jian di ujung ruangan. Manajer itu sedang berbicara di telepon dengan nada serius. Yinjia ragu beberapa detik.
Namun akhirnya ia berdiri dan berjalan ke meja itu. “Maaf, Manajer Song…”
Song Jian menutup teleponnya dan menatapnya. “Ada masalah?”
Yinjia menyerahkan berkas yang ia pegang. “Saya menemukan perbedaan kode pelabuhan di dokumen ini. Saya tidak yakin apakah ini hanya kesalahan penulisan atau memang ada perubahan tujuan.”
Song Jian mengambil berkas itu tanpa banyak bicara. Ia membaca beberapa halaman dengan cepat. Ruangan terasa sangat sunyi bagi Yinjia selama beberapa detik itu.
Lalu Song Jian membuka file di komputernya. Matanya bergerak cepat membandingkan data. Beberapa detik berlalu lagi.
Kemudian ia bersandar sedikit di kursinya. “Kamu benar.”
Yinjia mengedip. Song Jian berkata dengan nada tetap datar, “Jika ini tidak dicek ulang, kontainer itu bisa dikirim ke pelabuhan yang salah.”
Yinjia tidak tahu harus merasa lega atau takut. Song Jian mengambil telepon kantor dan langsung menekan nomor. “Hubungi bagian dokumen pelabuhan. Ada kesalahan kode tujuan.” Nada suaranya tegas.
Setelah panggilan selesai, ia menatap Yinjia lagi.
“Kerja bagus.” Hanya dua kata. Tapi cukup membuat Li Wen yang mendengar dari jauh hampir menjatuhkan penanya.
Yinjia hanya mengangguk kecil. “Terima kasih.”
Ia kembali ke mejanya dengan langkah yang sedikit lebih ringan. Begitu duduk, Li Wen langsung mencondongkan badan. “Kamu baru saja menyelamatkan satu pengiriman internasional di hari pertama.”
Yinjia tertawa kecil, tapi jujur saja tangannya masih sedikit gemetar. “Aku cuma kebetulan melihatnya.”
“Tidak semua orang akan menyadari.”
Di meja depan, Zhao Ming ikut menoleh. “Song Jian jarang memuji orang. Kamu beruntung.”
Yinjia hanya tersenyum tipis. Namun jauh di atas mereka, di lantai paling atas gedung itu, sebuah percakapan lain sedang terjadi.
Di kantor presiden direktur perusahaan, suasana jauh lebih tenang. Ruangan itu luas, dengan jendela kaca besar yang memperlihatkan seluruh distrik bisnis Shanghai.
Di balik meja kayu gelap yang besar, Guo Linghe duduk membaca laporan keuangan. Ia mengenakan setelan jas hitam sederhana. Rambutnya rapi, wajahnya tenang, dan matanya tajam seperti seseorang yang terbiasa membuat keputusan besar tanpa keraguan.
Di depan mejanya berdiri seorang wanita dengan tablet di tangan. He Suyin, sekretaris pribadinya. “Direktur Guo, laporan pengiriman Rotterdam sudah diperbaiki.”
Linghe tidak langsung menjawab. Ia menyelesaikan membaca satu halaman laporan terlebih dahulu sebelum mengangkat kepala. “Apa yang terjadi?”
Nada suaranya rendah dan stabil. Suyin menjawab, “Ada kesalahan kode pelabuhan dalam dokumen logistik.”
Linghe menutup map di tangannya. “Kesalahan dari departemen logistik?”
“Tidak persis.”
Suyin melihat catatan di tabletnya. “Kesalahan itu ditemukan oleh salah satu magang baru.”
Linghe sedikit mengangkat alisnya. Magang? Jarang sekali sesuatu yang berkaitan dengan magang sampai ke laporan yang ia dengar. “Nama?”
Suyin membaca layar. “Lin Yinjia.”
Linghe tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik. Nama itu terdengar asing baginya. Namun sesuatu tentang laporan itu membuatnya bertanya lagi. “Dia menemukan kesalahan itu sendiri?”
“Ya.”
Linghe bersandar sedikit di kursinya. “Menarik.” Itu saja yang ia katakan.
Namun bagi seseorang seperti Guo Linghe, satu kata itu sudah cukup berarti. Ia membuka kembali laporan lain di mejanya. Seolah percakapan itu sudah selesai. Tapi entah mengapa…
Nama Lin Yinjia tetap tersimpan di pikirannya.
Sementara itu di lantai dua belas, Yinjia akhirnya bisa menarik napas sedikit lebih lega. Hari pertamanya hampir selesai. Jam di dinding menunjukkan pukul lima sore. Sebagian karyawan mulai merapikan meja mereka. Li Wen meregangkan bahunya. “Akhirnya selesai juga.”
Zhao Ming mematikan komputernya. “Hari pertama biasanya paling melelahkan.”
Yinjia menutup file terakhir di komputernya. Matanya sedikit perih, tapi ada rasa puas kecil di dalam dadanya. Ia tidak menyangka bisa melewati hari pertama tanpa membuat kesalahan besar. Justru sebaliknya.
Ia menemukan kesalahan yang hampir merugikan perusahaan. Ia merapikan meja kecilnya lalu memasukkan buku catatan ke dalam tas. Saat berjalan keluar gedung kantor, udara sore Shanghai terasa lebih dingin dari pagi.
Lampu-lampu kota mulai menyala. Lalu lintas mulai padat lagi. Yinjia berdiri sebentar di trotoar. Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat pesan dari ibunya. “Bagaimana hari pertama magangmu?”
Yinjia tersenyum kecil. Ia mengetik balasan sederhana. “Lumayan. Tidak dimarahi.”
Namun jauh di dalam dirinya, ia tahu sesuatu mulai berubah. Hari ini mungkin hanya hari pertama. Tapi langkah kecil yang ia ambil di gedung itu…
akan membawanya semakin dekat ke dunia keluarga Gu. Dunia yang jauh lebih rumit. Dunia yang dipenuhi ambisi, kekuasaan, dan obsesi.