Celina Andreas dijuluki sebagai bawang merah begitu tergila-gila dengan seorang pria sehingga berbagai cara ia lakukan buat menaklukkan hati sang pria incarannya. Meskipun pria itu mencintai adik tirinya.
Berhasilkah Celina menjadi istrinya atau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 24
Sepulangnya Yura dan keluarga kecilnya, Azka menyusul istrinya ke kamar. Ia mempertanyakan hubungan Celina dengan mantan kekasihnya yang wanita itu temui di luar negeri beberapa bulan lalu.
"Ya, selama di sana aku memang sering menghabiskan waktu bersamanya. Tapi, kami tidak berdua saja. Ada temanku dan sepupuku!"
"Kenapa kau tidak pernah memberitahu aku kalau mempunyai kekasih? Mengapa harus meninggalkan dia demi aku?" cecar Azka.
"Aku meninggalkannya demi kamu?" Celina malah tertawa sinis.
"Kalian putus karena kau terobsesi padaku dan memaksa aku buat menikahimu!" ungkit Azka.
Celina tertawa getir.
"Kau mengorbankan perasaan orang lain demi ambisi mengejarku!" kata Azka.
"Kau bicara apa? Mengapa aku tidak mengerti dengan semua ocehan dirimu itu?" Celina malah melemparkan senyuman sinis, ia tak mau membeberkan terus terang masa lalunya.
"Kau masih mencintainya atau tidak?" Azka ingin memastikan istrinya tak menyimpan perasaan kepada pria lain.
"Aku tidak akan menikah denganmu jika aku memiliki perasaan dengan orang lain. Jadi, jangan pernah mempertanyakan bagaimana kondisi hatiku hari ini!!" kata Celina.
"Kalau kau memang tidak memiliki perasaan dengannya, kenapa sikapmu begitu acuh padaku? Apa kau sengaja juga ingin menghancurkan aku secara perlahan karena aku pernah mengacuhkanmu?" tuding Azka.
"Karena kau belum benar-benar tulus mencintaiku. Kau masih membelanya daripada aku sebagai istrimu!" kata Celina.
"Kau mengungkit kejadian tadi sore?" tanya Azka.
"Ya," jawab Celina.
"Elma sedang mengandung. Calon buah hatinya cuma menginginkan tas yang kau sukai. Apa salahnya kau mengalah demi bayi dalam kandungannya?" Azka memberikan alasan.
"Aku disuruh mengalah?" Celina tertawa getir. "Kenapa dari dulu aku dipaksa mengalah?"
"Ya, karena kau terlalu egois. Kau bisa membeli sesuatu yang kau inginkan," kata Azka.
"Tapi, tidak dengan perhatian papaku dan suamiku!! Kalian selalu membelanya tanpa melihat bagaimana perasaanku. Apakah aku baik-baik saja atau tidak. Kalian hanya memikirkan perasaannya!!" Celina mengungkapkan isi hatinya.
"Jika dia tidak hamil, mungkin aku berpihak padamu!" ucap Azka beralasan lagi.
"Seharusnya kau cukup diam tanpa ikut campur. Biarkan dia merasakan bagaimana rasanya menjadi tersisih!!" kata Celina.
"Elma sudah merasakannya. Dia memilih pria lain dan merelakan aku menikahimu!" Azka tetap membela mantan calon kekasihnya.
"Ya, karena aku ingin dia merasakan kehilangan!" kata Celina lagi.
"Jadi, sebenarnya kau yang sangat egois. Kau tidak bisa menjadi wanita lembut sampai kapanpun!!" tuding Azka.
Celina mengepalkan tangannya mendengar tudingan suaminya.
"Percuma aku mencoba membuka hatiku buatmu tapi sikapmu masih arogan seperti ini!!" kesal Azka.
"Aku juga tidak memintamu untuk membuka hatimu, aku tak perlu cinta dan kasih sayangmu!" ucap Celina tegas.
"Apa kau ingin kembali kepadanya?" tuduh Azka.
"Kau tidak berhak menanyakan tentang itu!!"
"Aku masih suamimu, jadi aku harus tahu apa yang kau inginkan!!" kata Azka.
"Keinginan aku adalah kau harus menceraikan aku enam bulan lagi!! pinta Celina.
"Kenapa harus tunggu enam bulan?" tanya Azka.
Celina terdiam dan tak dapat menjawabnya. Jika dia berkata jujur maka Azka akan mengetahui kehamilannya. Dia berencana beberapa bulan menghilang dari kehidupan suaminya dan akan muncul setelah 2 bulan melahirkan agar Azka tak terus mengikatnya dalam pernikahan.
"Enam bulan terlalu lama. Kau ingin bebas 'kan?" Azka menatap istrinya yang wajah semakin pucat dan panik.
Celina yang tak mampu berkata-kata mendorong tubuh Azka keluar dari kamarnya lalu dengan cepat menutup pintunya.
Dibalik pintu, Celina membatin, "Aku harus segera pergi dari kota ini!!"
***
Keesokan paginya, selepas Azka berangkat kerja. Celina mendorong 2 koper besar miliknya keluar dari kamar. Ia lalu meminta pelayan membantunya membawa benda itu menuju mobilnya.
"Nona mau ke mana bawa koper sebanyak ini?" tanya salah satu pelayan heran.
"Aku mau ke luar kota buat menenangkan diri beberapa hari," jawab Celina berbohong.
"Apa Tuan Azka tahu kalau Nona mau ke luar kota?" tanya pelayan yang lainnya.
"Dia sudah mengetahuinya," jawab Celina kembali berbohong.
"Baiklah Nona kalau begitu, semoga perjalanannya ke luar kota menyenangkan dan membuat Nona menjadi sedikit lebih tenang!" kata si pelayan yang pertama bertanya.
"Terima kasih, sampai jumpa!" Celina masuk ke dalam mobilnya.
Sore harinya, Azka pulang ke rumah. Ia tak melihat mobil istrinya terparkir di halaman. Dalam pikirannya pasti Celina sedang mengadakan rapat atau menghabiskan waktu bersama dengan temannya.
Jarum jam terus berputar, Azka pun sudah selesai menikmati makan malamnya seorang diri. Biasanya sesekali dirinya dan Celina makan satu meja yang sama.
Setelah mengisi perutnya, Azka menyibukkan dirinya dengan mengerjakan pekerjaannya yang belum sempat selesai di kantor.
Jam telah menunjukkan pukul 10 malam tetapi suara deru mobil Celina belum terdengar. Perasaan Azka mulai khawatir, ia kemudian mencoba menghubungi nomor istrinya namun ponselnya tak aktif.
"Mungkin lagi kehabisan baterai!" Azka tetap berpikir tenang.
Azka lalu ke kamar dan memejamkan matanya. Lagi-lagi pikirannya mengingat istrinya yang belum kunjung kembali.
Membuka matanya dan berjalan ke arah jendela, tak ada mobil Celina yang terparkir. "Ke mana dia?" gumamnya.
Azka coba menghubungi Celina lagi, namun dia kembali menelan kekecewaan. Ponselnya Celina belum juga aktif.
"Mungkin sebentar lagi dia pulang!" pikir Azka.
***
Keesokan harinya, Azka mengecek ke halaman rumahnya. Mobil istrinya tak tampak terparkir. Ia mencoba menghubungi Celina, namun tetap tak dapat dihubungi.
Azka lalu bertanya kepada salah satu pelayan yang sedang menghidangkan sarapan dihadapannya. "Apa kalian tahu ke mana Nona Celina pergi?"
"Bukankah Nona Celina sudah memberitahu Tuan?" si pelayan malah balik bertanya.
"Memberitahu apa? Dari kemarin aku sulit sekali menghubunginya," kata Azka.
"Nona bilang kepada kami kalau ke luar kota untuk menenangkan diri."
"Berapa hari? Dia pergi dengan siapa? Di kota mana yang dikunjunginya?" cecar Azka.
"Nona berangkat dari sini sendirian. Dia bilang cuma beberapa hari saja. Dia tak menyebutkan nama kotanya."
Setelah mengetahui kabar istrinya sedikit membuat Azka lebih tenang. Ia yakin istrinya baik-baik saja dan ponselnya kemungkinan lagi rusak sehingga sulit dihubungi.
Dalam perjalanan ke kantor, Azka berusaha menerka kota tujuan istrinya. Jika Celina terlalu lama di sana, dia berencana akan menjemputnya.
Ponselnya Azka berdering tertera nama ibunya, bergegas ia menjawab panggilan tersebut. "Halo, Ma. Ada apa?"
"Azka nanti malam ke rumah. Sudah lama kita tidak makan malam bersama, ajak Celina juga!"
"Celina tidak di kota ini, Ma!"
"Jadi, dia di mana?" tanya Andin.
"Dia lagi ke luar kota," jawab Azka.
"Kenapa waktu Mama meneleponnya dia tidak bilang kalau lagi ke luar kota?" tanya Andin lagi.
"Mama bisa meneleponnya?" Azka yang heran balik bertanya.
"Iya, setengah jam lalu Mama meneleponnya," jawab Andin.
"Tapi, kenapa aku sulit sekali menghubunginya?" batin Azka.
"Apa dia mendapatkan tugas mendadak dari kantor?" tanya Andin menerka.
"Nanti aku telepon Mama lagi!" tanpa menjawab Azka mengakhiri panggilan teleponnya.
Azka mencari kontak istrinya, ia coba kembali menghubunginya. Lagi-lagi, rasa kecewa yang didapatkannya. Nomor telepon Celina tak bisa dihubungi. "Apa dia sengaja memblokir nomor teleponku?" gumamnya.