Mati karena peluru lalu jiwa bertransmigrasi ke dalam raga seorang yang ternyata adalah seorang figuran tanpa nama yang miskin. Anin pun bertekad untuk merubah takdir nya memanfaatkan wajah polos raga barunya ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anak rapuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cph 23
"Ayah dengar kalian sedang dekat dengan anak angkat keluarga Maheswari."
Julian mengepalkan kedua tangannya begitu juga dengan Marco.
"Gak usah ikut campur!" datar Julian.
"Lebih baik ayah urus keadaan ayah sendiri!" timpal Marco.
Kedua pemuda itu bersaudara beda ayah. Dengan selisih kelahiran hanya 3 bulan.
"Ayah gak pernah setuju! Kalian harus bersama dengan gadis yang keturunan murni dari konglomerat bukan yang hanya menumpang marga!"
Prang!
Julian melempar piring makanan nya ke lantai. Memang yang paling sulit mengendalikan diri adalah Julian.
"Urus suami bunda dengan benar!" Julian meninggalkan ruang makan. Marco walaupun emosi tetap menghabiskan makannya.
"Marco dengar ayah, kamu haru—"
"Orang cacat diam aja!" sentak Marco tiba-tiba yang membuat Bianca terkejut.
"Marco!"
Marco tersenyum miring mendengar bentakan ibunya. "Bener kata Julian, urus suami bunda! Gak usah ikut campur urusan kita!"
"Marco!" teriak Halim dengan keras. Bianca mengelus punggung suaminya. "Sudah mas, biarkan mereka menentukan pilihan sendiri. Aku takut kalau di kekang mereka akan semakin berontak." lirih Bianca.
Selain Darius dan Darian yang bersaudara, Julian dan Marco juga bersaudara. Namun beda dengan kedua anak kembar itu, Julian serta Marco di asuh dengan tekanan Halim. Tapi semenjak pria paruh baya itu kecelakaan menyebabkan dirinya harus lengket dengan kursi roda, kekangan agak berkurang.
"Mereka sudah besar, sudah bisa membedakan mana yang buruk mana yang tidak. Tolong ya mas, biarkan mereka berdua menentukan pilihan mereka." bujuk Bianca. "Kalau mas tidak percaya dengan gadis itu kita bisa menemui nya secara langsung untuk menilai, bagaimana menurut mas?"
Halim menghela nafas, "Kalau itu mau kamu. Kita akan datang ke rumah Maheswari besok malam." Bianca tersenyum cerah mendengar ucapan suaminya.
"Papa curang!"
Pramudita tertawa melihat wajah Ara yang belepotan penuh dengan bedak. Mereka sedang bermain catur atas ajakan Pramudita. Tentu saja Ara selalu kalah karena dia tidak menyukai permainan itu.
"Mama Ara haus!"
Ara menyingkirkan papan catur dari hadapannya. Terlihat sekali di wajah gadis itu guratan lelah akibat meladeni Pramudita.
"Mau susu, hm?"
Ara menyembunyikan wajahnya di dada Larasati. "Ara haus, papa main nya curang!" adu Ara sambil cemberut.
"Siapa yang curang? Itu kamu aja yang gak bisa main catur." ledek Pramudita yang semakin membuat Ara murung.
"Mas jangan di godain anak nya nanti nangis!" tegur Larasati menatap tajam suami nya. Pramudita pun menepuk punggung Ara halus. "Papa akan buatkan susu sebentar ya, kamu harus tidur sudah terlalu lama bermain."
"Malam ini tidur bareng mama papa ya," pinta Larasati. Ara mengangguk saja. Larasati membersihkan sisa bedak di wajah putrinya. Tatapan nya menyendu, andai Silviana masih di sini bisakah mereka bahagia berempat?
"Sayang, ayo ke kamar." Pramudita datang sambil membawa sebotol dot.
"Kamu gendong Ara mas, dia tidur sama kita malam ini."
Pramudita cemberut, kenapa buntalan ini malah tidur bersama mereka? Kalau ada putri imut nya ini dia jadi tidak bisa modus.
"Baiklah, sini papa gendong anak singa yang bantet ini."
"Ara gak bantet!"
Plup
Ara menatap penuh permusuhan kepada Pramudita yang tiba-tiba menyumpalkan dot ke mulutnya namun saat dia di gendong oleh ayahnya itu, Ara lekas mengalungkan tangannya ke leher Pramudita.
"Sweet dream bayi singa." bisik Pramudita. Larasati juga mengucapkan hal yang sama sambil mengecup lembut kening Ara.
****
"Jadi kamu sebenarnya ingin di jodohkan dengan putri kedua dari Pramudita Maheswari, Arsen?"
Arsen mengangguk. Dirinya sudah mengatakan tentang kesalahpahaman yang sempat terjadi.
"Dia anak angkat kan?" tanya Santi dengan nada tak suka.
"Kenapa memang nya bun? Ara anak yang baik," jawab Arsen.
"Baik saja tidak cukup Arsen. Kamu harus mencari calon istri yang statusnya jelas! Contohnya Silviana, dia anak kandung dari keluarga itu. Dia baik, kuat dan tidak terlihat seperti bocah!"
"Bun, Arsen pokoknya cuma mau di jodohkan sama Ara. Arsen cuma nikah sama Ara!"
Arsen menatap kecewa kedua orangtuanya. "Apapun keputusan ayah dan bunda, Arsen hanya akan memilih Ara!"
"Arsen! Arsen tunggu dulu!"
Mengacuhkan panggilan Santi, Arsen naik ke kamarnya.
"Kali ini pasti berhasil, Ara bakal musnah haha..!" tawa Sora.
semangat buat auto ya 💪💪💪