Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.
Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Puluh Empat — Pertemuan Pertama dan Terakhir.
Selamat membaca semoga kalian menyukai ceritaku yaa
Mereka hari ini rombongan akan pergi ke Kota Aman sebagian orang untuk mengambil barang-barang dan beberapa orang akan tetap tinggal membangun ulang gedung-gedung atau rumah-rumah walau bentuknya memang tak lagi sama seperti dulu, desainnya lebih sederhana, lebih kokoh, lebih fungsional. Yang penting layak huni dan aman.
Arsya tentunya ikut dan selalu membantu beberapa orang yang mengambil beberapa barang yang masih layak dipakai. Peralatan dapur atau keperluan mandi yang bisa dipakai.
“Yang ini masih bisa digunakan!” serunya sambil mengangkat barang yang ia temui. Namun tiba-tiba langkah orang-orang di belakangnya terhenti.
Sunyi.
Arsya menoleh. “Kenapa diam saja?”
Tak ada yang menjawab, tatapan mereka semua mengarah ke ujung jalan. Dua sosok berjalan perlahan di tengah cahaya pagi.
Tenang. Tidak menyerang.
Alpha.
Dan disampingnya—Senyap. Beberapa warga mundur reflek. “Jangan sya..” bisik seseorang saat melihat Arsya melangkah maju.
Arsya tersenyum menenangkan. “Kalian tunggu di sini aja ya..”
Kemudian gadis itu melangkah tanpa ragu mendekati Alpha dan Senyap. Tanpa ia sadari, salah satu dari warga itu berlari untuk mencari Jay, kembali ke arah perkampungan. Arsya sudah selangkah di depan Alpha dan Senyap.
“Apa kabar Alpha?” tanya Arsya dengan wajah cerianya. Alpha mengangguk dan Senyap tetap diam.
“Maaf, kedatangan kami membuat mereka takut.” ujar Alpha membuat Arsya menggeleng pelan. “Tidak apa. Rasa takut butuh waktu untuk hilang. Jadi, kedatanganmu hari ini apa?” tanya Arsya sambil melirik Senyap.
Alpha ikut melirik ke samping. “Menemaninya.. Dimana pasanganmu?”
“Kau tau?!” Arsya terkejut, Alpha mengangguk. “Tentu saja, terlihat sangat jelas.” Arsya langsung tersipu malu. “Ah menyebalkan.”
Tiba-tiba terdengar langkah cepat.
“Arsya!” panggil Jay datang dengan nafas sedikit terengah– namun langkahnya terhenti saat melihat sosok di belakang Alpha.
Matanya membesar.
“Kakak?”
Senyap yang sedari tadi diam langsung menatap Jay. Untuk pertama kalinya, Senyap tersenyum tipis, walau nyatanya terasa kaku. “Kau… hebat.” ucap Senyap pelan.
Suara itu berat namun ada nada lembut yang tersisa dari kakak perempuan Jay.
Jay menahan air matanya. “Kau..”
Senyap mengangguk. “Dimana ibu dan ayah? Apa selamat?”
Jay mengangguk cepat, “selamat, mereka selamat. Mau bertemu?”
Senyap menggeleng perlahan.
”Jangan, jangan biarkan mereka tau jika aku berubah seperti ini.”
Jay menggeleng pelan tegas. “Mereka rindu kakak. Bukan wajah kakak. Bukan tubuh kakak. Mereka pasti sepertiku tidak peduli kau berubah seperti apa. Karena kakak tetap manusia. kakak bertahan.”
Senyap terdiam lama, angin berhembus pelan. “Selamat,” ujarnya akhir, melirik Arsya yang kini berdiri di samping Jay.
“Menempuh hidup baru. Dia pintar. Cocok denganmu.”
Jay tersenyum kecil. “Dia memang pintar dan manis. Aku sangat menyukainya sejak awal bertemu.” jelas Jay yang langsung diangguki pelan oleh Senyap.
“Ini pertemuan pertama dan terakhir kita,” katanya kemudian.
Tubuh Jay menegang. “Jadi jagalah orang tua kita. Kamu adalah tanggung jawab mereka sekarang.” ujar Senyap.
Jay melangkah setengah maju. “Dan kakak tetap tanggung jawabku.”
Senyap tidak menjawab, namun tatapannya melembut. Untuk sesaat, mereka bukan lagi manusia dan makhluk eksperimen. Hanya dua saudara. Alpha memberi isyarat kecil.
Waktunya pergi.
Senyap mundur perlahan, lalu berbalik mengikuti Alpha. Jay berdiri diam, menatap punggung kakak perempuannya yang menjauh. Arsya menggenggam tangan Jay erat. “Aku bangga padanya,” bisik Jay.
Arsya mengangguk, “dan dia bangga padamu.”
Dua sosok itu menghilang di ujung jalan Kota Aman. meninggalkan perasaan campur aduk—sedih, lega, dan bangga. Di bawah langit yang cerah, Kota Aman kembali terasa sunyi, namun bukan sunyi karena ancaman. Melainkan sunyi karena perpisahan yang dipilih dengan hati yang kuat.
Senja sudah turun ketika Jay dan Arsya kembali pulang ke Kota Ceria. Langkah mereka berat setelah seharian bekerja. Namun hati Jay terasa lebih berat dari biasanya.
Malam itu, ia akhirnya duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya. Tak ada lagi yang ingin ia sembunyikan. “Ayah… ibu…” suaranya pelan, tapi tegas. “Kakak masih hidup.
Ibunya yang sedang melipat kain langsung terdiam. “Apa?” suaranya terdengar bergetar. “Aku bertemu dia. Tadi. Di Kota Aman.” air mata langsung menggenang di mata sang ibu. Tangannya gemetar, mencari pegangan pada lengan suaminya.
“Apa dia…?” ayah tak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
“Dia hidup,” ulang Jay. “Dia kuat.”
Jay menarik nafas panjang. “Dia memang berubah. Tubuhnya… berbeda. Tapi sifatnya masih sama. Dia tetap kakak yang melindungi. Dia bertanya tentang Ibu dan Ayah.”
Tangis ibunya pecah. Ia memeluk suaminya erat, bahunya bergetar. “Anak kita…” lirihnya. Jay menunduk sedikit, menahan emosinya sendiri. “Dia sekarang… Kanihu Senyap,” lanjutnya pelan. “Derajatnya tinggi. Tepat di bawah Alpha.”
Ayah terdiam lama, mencerna semuanya. “Dan.. kemungkinan dia dan Alpha punya hubungan khusus,”tambah Jay hati-hati. “Aku tidak tahu pasti. Tapi mereka berdiri seperti… saling menjaga.”
Ibunya menghapus air mata. “Asal dia tidak sendiri.”
Jay tersenyum tipis. “Dia tidak sendiri.”
Hening sejenak menyelimuti ruangan. Jay menatap kedua orang tuanya yang masih berusaha menerima kenyataan. “Kakak memang berubah,” katanya lagi lembut. “Tapi hatinya tidak. Dia pasti tahu betapa ibu dan ayah merindukannya. Jadi… tolong tunggu sedikit lagi. Aku yakin, suatu hari dia akan datang sendiri.”
Ibunya mengangguk pelan. Ayah menatap Jay lama. Ada kebanggaan di sana, dan juga kesedihan.
“Kau memang kebanggaan kami, nak,” ujar Ayah akhirnya. “Tapi kakakmu… kesayangan kami.”
Jay terdiam sejenak, lalu tersenyum miring.
“Aku tau,” jawabnya santai. ”Sekarang posisiku juga makin tergeser. Ada Lyno di samping kalian.”
Ibunya terkesiap kecil. “Dasar kamu ini…”
Ayah tertawa pelan. “Selalu saja memecahkan suasana.”
Jay mengangkat bahu. “Kalau tidak ada yang bercanda, nanti rumah ini kebanjiran terus.” ibunya tersenyum sambil mengusap pipi Jay. “Kalian berdua sama berharganya.” Jay menatap mereka, lalu mengangguk pelan.
Di luar rumah, angin malam berhembus lembut.
Di Kota Abadi, mungkin kakaknya sedang menatap langit yang sama. Dan di Kota Ceria, sebuah keluarga belajar bahwa cinta tidak pernah berkurang meski bentuknya berubah.
Kadang jarak memisahkan, kadang takdir mengubah wujud. Tapi keluarga…
Tetaplah keluarga.
Ayah menyeka sisa air mata di sudut matanya, lalu menatap Jay dengan tatapan yang mulai kembali jahil. “Lalu,” katanya sambil mengerling tipis, “sudah sampai tahap mana persiapan pernikahanmu, nak?”
Jay yang tadi masih serius langsung berkedip. “Hah?”
“Jangan sampai mengejutkan putri Ayah, ya,” lanjut Ayah santai. “Dia terlalu manis untuk kamu, pria sengklek.”
“ENAK saja, Yah!” Jay membulatkan matanya dramatis.” anakmu ini pria tertampan di dalam benak Arsya.”
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan nada pura-pura berat, “Setelah Lyno itu juga.” ibunya langsung tertawa kecil. “Oh jadi kamu nomor dua?” goda ibu.
Jay mengangkat dagu. “Nomor dua tapi tetap prioritas.” ayah terkekeh. “Kasihan sekali menantuku.”
“Justru beruntung,” balas Jay cepat. “Dia dapat paket lengkapng. Tangguh, setia, pekerja keras, tampan—”
“Suka ngelawak di situasi serius,” potong Ayah. “---dan romantis,” lanjut Jay tak mau kalah.
Ibunya menggeleng sambil tersenyum hangat. “Kalian ini benar-benar.” Ayah lalu bersandar lebih santai. “Jadi, sudah ada tanggal?”
Jay terdiam sebentar, kali ini lebih serius. “Kami ingin sederhana saja,” ujarnya pelan. “Di balai Kota Ceria. Semua orang datang. Tidak mewah. Yang penting saksi hidup kami banyak.”
Ibu menatapnya lembut. “Arsya setuju?” Jay tersenyum tipis. “Dia bilang, yang penting bukan pestanya. Tapi siapa yang berdiri di sampingnya.”
Ayah mengangguk puas. “Nah, itu baru jawaban yang benar.”
Jay menatap kedua orang tuanya bergantian. “Terima kasih sudah menerima dia seperti keluarga sendiri.” ibunya langsung memukul lengan Jay pelan. “Sejak awal kami sudah menerimanya. Bahkan sebelum kamu sadar kamu menyukainya.”
Jay terdiam, lalu tersenyum malu. Ayah menepuk bahunya. “Jadilah suami yang lebih baik dari ayah.” Jay Menyeringai. “Berarti standarnya tinggi sekali.”
“Memang,” jawab Ayah santai.
Tawa kembali menghangatkan ruangan. Di luar, lampu-lampu Kota Ceria menyala lembut. Tak ada sirine, tak ada ketakutan. Hanya keluarga kecil yang duduk bersama, bercanda tentang masa depan, sesuatu yang dulu terasa mustahil.
Dalam malam itu, untuk pertama kalinya setelah semua yang terjadi, rumah mereka terasa benar-benar utuh.
Terima kasih sudah membaca jangan lupa beri aku support kalian dengan klik tanda like dan vote ya...