Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .
"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .
Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?
ikuti kisahnya hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 24. BCS
Prasasti terbangun dari pingsan, kepalanya terasa pusing. Ia mencoba turun dari ranjang pasien berjalan ke arah pintu keluar.
Seorang suster melihat Prasasti keluar dari ruangan mengikutinya. "Maaf, Nona mau kemana? anda masih butuh istirahat,"
"Aku mau menemui suamiku," jawab Prasasti.
”Kalau begitu saya antar, lebih baik anda pakai kursi roda, karena kondisi anda masih lemas," kata suster kemudian mengambil kursi roda.
Prasasti duduk di kursi roda didorong oleh suster menuju ruang rawat Albi. Sampai didepan pintu Prasasti membuka tanpa mengetuk lebih dulu lalu, masuk. Semua orang yang ada didalam melihat ke arah pintu bersamaan.
Albi sudah bangun dari tidur melihat Prasasti tersenyum senang. Prasasti berderai mendekati ranjang pasien, hatinya sedih. Suster keluar setelah mengantarnya masuk bertemu dengan Albi.
"Apa yang terjadi sama kamu?" tanya Prasasti menggenggam tangan Albi erat dan menciumnya.
Albi mengusap airmata Prasasti, ada harapan pada diri Albi melihat pancaran pandangan di mata Prasasti terhadapnya. Albi tersenyum tipis masih ada rasa nyeri dibagian tubuhnya akibat kecelakaan namun, tidak ia tampakkan didepan istrinya.
"Aku tidak tahu pasti tiba-tiba saja remnya blong dan aku tidak ingat apa-apa selain dirimu," jawab Albi dengan suara lirih menahan sakit.
Wajah Albi terlihat pucat dan ada memar dibagian keningnya. Prasasti merasa kasihan sekaligus terkejut mendengarnya. Tidak menyangka disaat genting Albi menyebut namanya. Prasasti memeluk Albi sambil menangis.
“Maafkan aku, Albi. Aku salah menilaimu," kata Prasasti.
Albi melepaskan pelukan istrinya dan menatap wajahnya lekat sambil mengusap airmatanya. "Sudah, jangan menangis terus nanti matamu bengkak,"
“Aku keterlaluan ya.. Maaf," ucap Prasasti cemberut.
"Jadi pengen cium kalau lihat bibirmu seperti itu," canda Albi tertawa melihat ekspresi wajah istrinya.
Prasasti memukul Albi pelan karena diledek sambil tersenyum malu. “Jangan bicara begitu, malu didengar yang lain,"
“Lucu sekali istri siapa sih?" canda Albi mencubit hidung Prasasti merasa gemas.
“Sakit bisa aja bercandanya," sahut Prasasti.
“Mama pulang dulu ya, Sayang nanti kalau butuh sesuatu telepon Mama ya," pesan Mama Khasanah.
“Iya, Ma. Hati-hati," jawab Albi dan Prasasti bersamaan.
Begitu juga dengan Abdi berpamitan kepada mereka. Sedangkan Fabio melihat kepergian suami istri dengan perasaan bersalah. Fabio teringat ucapan Abdi mengenai musuh Albi kemudian melakukan panggilan sambil berjalan keluar.
"Papa keluar sebentar, kamu kalau pulang hubungi Papa,“ pesan Fabio.
Prasasti menjawab dengan anggukan. Ia ingin tahu melihat papanya melakukan panggilan telepon. Mengingat dirumah sakit mengabaikan rasa keingintahuannya.
"Apa kata dokter mengenai lukamu?" tanya Prasasti.
“Kakiku patah, tapi sudah dioperasi oleh dokter," jawabnya dengan nada manja.
Prasasti gemas melihat ekspresi Albi suaminya, rasanya ingin mencubit kedua pipinya. "Sudah makan apa belum?"
"Belum, aku menunggu disuapi kamu," sahutnya jahil.
"Tangan kamu suka sekali kesitu melulu," Prasasti merasa geli karena sentuhan tangan Albi pada area sensitifnya.
"Kamu selalu menggodaku apa memang sengaja ingin sesuatu," kata Albi menarik tangan istrinya masuk ke dalam selimutnya.
”Eh, ini tanganku mau diapain, Mas. Malu kalau dilihat orang lain dikira sedang apa," Prasasti menoleh ke arah pintu takut ada orang masuk dan melihatnya.
"Memangnya kenapa, kita kan suami istri. Bebas mau melakukan apapun selama berdua saja," Albi mencari alasan agar Prasasti nurut.
"Dasar mesum," Prasasti kesal.
Ponsel Prasasti berdering diambilnya lalu melihat siapa penelpon dan ternyata dari Jesika teman dekatnya." Iya, Jes. Ada apa? "
"Ada apa bagaimana maksudnya, ingat besok festival selancar dimulai kamu harus ikut no debat, no tolak. Pokoknya kamu harus datang ini kesempatan emas buatmu," kata Jesika dengan suara kencang.
"Masa besok bukannya minggu depan acaranya," sahutnya sambil mengerutkan alis.
"Makanya lihat jadwal, Nona. Apa kamu sudah pikun, kamu sendiri yang kasih tahu minggu lalu dan aku masih simpan jadwalnya," Jesika mengingatkan.
"Baiklah kalau begitu aku akan bersiap-siap," kata Prasasti kemudian mematikan panggilan ponselnya.
”Acara apa? " tanya Albi ingin tahu.
"Dari Jesika mengingatkan Festival selancar besok, aku sudah daftar sejak minggu lalu," jawab Prasasti merasa tidak enak.
"Kenapa kamu tidak meminta ijin sama aku lebih dulu, apa kamu tidak menganggap ku sebagai suami," Albi dengan suara dingin.
"Bukan begitu, waktu itu kamu sibuk banget dan kamu tidak ada waktu untuk ngobrol. Jadi aku memutuskan daftar karena ini adalah kesempatan emas, kali ini hadiahnya gak main-main, kamu tahu tidak..." Prasasti terdiam membeku melihat raut wajah Albi berubah.
"Tidak, aku tidak mengijinkan kamu ikut festival selancar," sahut Albi cepat.
Prasasti merasa tidak nyaman dengan situasi saat ini. Ia sadar kalau dirinya sudah menjadi istri seorang Albi pengusaha muda dan kesuksesannya. Semua orang pasti sangat mengenalnya, dan pasti akan menjadi sorotan semua orang ketika sedang berselancar nantinya.
”Tolong ijinkan sekali ini saja, ini kesempatan bagus yang harus aku ambil siapa tahu aku menang doakan yang terbaik buat keluarga kita," kata Prasasti memohon dengan sangat didepan wajah Albi.
Albi menatap wajah istrinya yng menunduk sambil menangis merasa bersalah. Albi bukan bermaksud melarang tapi demi keselamatan istrinya lagi pula saat ini Albi sedang butuh dirinya untuk merawat luka pasca kecelakaan.
Prasasti terdiam tidak lagi duduk dekat Albi melainkan berdiri didekat jendela melihat hamparan kota yang sibuk dengan kendaraan yang penuh dijalan raya.
"Jika itu keinginanmu dan kesempatan emasmu bersiaplah jangan sampai tertinggal," kata Albi dengan perasaan berat.
Prasasti mengangkat kepalanya melihat Albi dengan wajah berseri, Albi menghapus sisa airmata diwajah istrinya. ”Pergilah gapai cita-cita mu,"
Prasasti merasa ada sesuatu yang aneh dari kata-kata Albi, seperti sebuah firasat mencoba menepis dugaan dibenaknya.
"Kamu serius mengijinkanku?" Prasasti meyakinkan perkataan suaminya.
Albi mengangguk sambil tersenyum. "Yang penting jaga diri, dan jaga kepercayaan ku, "
Hati Prasasti menghangat dan tenang mendengarnya, ia memeluk Albi dan mencium seluruh wajahnya. ”Terimakasih, aku akan menjaga diri dengan baik,"
Jujur Albi mengatakan hal itu tidak ingin membuat Prasasti merasa kecewa dan ia akan terus memantau keberadaan Prasasti ketika jauh darinya. Saat ini Albi tidak bisa pergi jauh karena kakinya belum sembuh dengan benar.
____________
Di tempat festival semua peserta sudah berkumpul dan bersiap untuk berlomba berselancar menerjang gelombang air laut, Prasasti dan Jesika duduk dibebatuan sambil berbincang dan mempersiapkan diri menunggu giliran mereka dipanggil sesuai nomor undian.
”Pakai rayuan apa kamu bisa ikut acara festival?" tanya Jesika sambil meminum air mineral.
”Aku cuma minta ijin aja, tidak pakai merayu atau dengan cara aneh, menurutku sangat ribet dan kelamaan," jawab Prasasti sambil memperhatikan gelombang air laut.