yaseer, seorang anak yang hidup di negara konflik. keluarga petani zaitun, namun dia bermimpi untuk mengembangkan usaha orangtuanya dewasa kelak. Namun, karena konflik semakin parah, semua usahanya perlahan runtuh. hingga ketika konflik berhenti, yaseer berusaha sekuat tenaga nya beserta keluarga nya untuk membangun kembali. tapi tiba-tiba hantaman rudal dari penjajah meluluh lantakkan bahan utama usahanya. hingga akhirnya menghancurkan usahanya tak bersisa. akan kah yaseer bangkit kembali atau tamat dengan keadaan fustasi berat? yuk kita simak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummi Adzkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15. Hari-hari Mencekam.
Perlahan tapi pasti. Sedikit demi sedikit efek kehadiran kependudukan zionis makin terasa. Selain ekonomi yang merosot tajam, penculikan dan penahanan warga sipil dengan tuduhan tak jelas. Kini, Tepi Barat, khususnya telah mengalami banyak pengusiran warga dari rumah nya.
Kejahatan demi kejahatan yang terjadi di tanah Palestina oleh kependudukan zionis, membangkitkan ghiroh juang untuk memperjuangkan hak dan keadilan untuk warga sipil.
Organisasi sosial yang bermula di bentuk sebagai bentuk penyaluran bantuan sosial, kini menjadi organisasi militan. Gerakan ini seolah berperang melawan militer penjajahan.
Peristiwa - peristiwa besar satu persatu terjadi. Suasana semakin mencekam. Letupan senjata terdengar dimana-mana. Nyawa satu persatu "di mangsa" oleh moncong senjata dan bom-bom. Jelas sudah tak ada lagi kenyamanan dan ketenangan untuk hidup.
****
Matahari sudah merangkak naik. Panas terik makin terasa. Haus dan lapar adalah kata yang tepat yang biasa terjadi di jam ini.
" Ummi.. Ade lapar... Hiks...". Abia terus merengek karena perutnya yang lapar.
" Kakak juga lapar dek. Kita semua lapar. Shobar dulu ya, semoga setelah ini kita dapat bantuan makanan". Yasser juga sedih melihat keadaan keluarganya.
Tak hanya keluarga Yaseer saja yang kelaparan. Tapi semua warga di desa dan sekitarnya yang terdampak penjajahan ini mengalami hal serupa.
" Ummi, tak adakah bahan yang bisa di olah lagi?". Tanya Haniya putus asa.
Laila yang melihat anak-anaknya merengek kelaparan, sudah tak ada kata-kata lagi untuk menenangkan. Karena semua kata-kata tak akan mengenyangkan mereka.
" Apa yang harus ku lakukan Ya Allah ...." ratapnya lirih. Dirinya pun sama. Sudah 2 hari mereka tak mendapati makanan. Hanya air putih yang mengganjal perut lapar mereka.
" Ummi, kalo aku pergi keluar mencari makanan, apakah ummi izinkan?" Tanya Yaseer penuh tekad.
" Tidak nak, diluar sangat berbahaya ". Tolak ummi tegas sambil menggelengkan kepalanya.
" Tapi kalo kita di rumah aja, kita akan terus kelaparan ummi..." Bujuk Yaseer.
"Tapi nak. Ummi ga mau kehilangan lagi. Cukup Abang saja yang mereka tangkap. Jangan ada lagi.. Hiks.." Pintanya pada Yaseer.
Yaseer tak mendebat lagi. Kehilangan anggota keluarga memang sangat menyakitkan dan menyesakkan. Yaseer mundur dari hadapan ummi dan duduk di sudut ruang keluarga itu. Ia terdiam cukup lama.
" Ummi, ponsel ummi ada sinyal nya kan?" Tanya Yaseer ragu.
" Sebentar ummi ambil dulu di kamar". Jawab ummi melangkah ke dalam kamarnya.
" Masih ada sinyalnya Alhamdulillah." kata Ummi memvalidasi.
" Alhamdulillah. Berarti ledakan kemarin gak ngaruh ke sinyal." Seru Yasser semangat.
Yasser mempunyai ide. Walau akan berdampak lama, atau malah tidak sama sekali. Tapi setidaknya kata-kata dan kondisinya bisa diketahui dunia luar.
SMS. Itu yang terpikir di otaknya saat terdiam tadi. Jasadnya tak keluar rumah, tapi pesan kata-kata nya akan menyebar ke penjuru negri, berharap ada bantuan datang buat mereka.
" Pulsa ada mi?"
" Insyaallah ada. Ummi jarang pake." Jawab ummi masih bingung.
" Bismillah, kita akan sebarkan keadaan kita pada dunia luar mi, semoga saja bantuan segera datang." Ucap Yaseer sangat berharap usahanya berhasil.
Yaseer membuka kontak dan mencari no rekan babanya dulu, Tuan Yusran. Bersyukur no tuan Yusran sempat ia simpan saat mengabari kepergian baba. Tuan Yusran adalah akademisi, pasti tau cara menyampaikan pesan nya ke jejaring internet. Ia semakin yakin misinya akan berhasil.
Ia memikirkan kata-kata yang cocok, singkat dan jelas supaya pesannya dapat di pahami.
' Bismillah..'
" Bismillah.. Assalamualaikum. Tuan, saya Yaseer bin Ali, kami butuh bantuan untuk di kirim makanan tuan. Kami mohon bantuan untuk desa kami yang masih terisolir dari bantuan. Tak ada makanan dan kami tidak bisa keluar rumah. Penjajah militer dimana-mana. letupan senjata dan bom pun terdengar kapan saja. Kami butuh bantuan tuan-tuan segera. terima kasih. Wassalamu'alaikum warahmatullah. " klik, kirim.
Yaseer menarik nafas panjang. Kata-kata yang terkirim dalam pesan itu seakan menyedot isi paru-paru nya. Ummi, Haniya dan Abia hanya memperhatikan saja apa yang dilakukan Yaseer. Mereka hanya tak terpikirkan menyiarkan kepedihan mereka. Tapi apapun itu, semoga ada harapan baik.
***
Ting..
Sebuah pesan masuk ke ponsel Yusran. Ia yang sedang berada di rumah pun penasaran membuka isi pesannya.
"Bismillah.. Assalamualaikum. Tuan, saya Yaseer bin Ali, kami butuh bantuan untuk di kirim makanan tuan. Kami mohon bantuan untuk desa kami yang masih terisolir dari bantuan. Tak ada makanan dan kami tidak bisa keluar rumah. Penjajah militer dimana-mana. letupan senjata dan bom pun terdengar kapan saja. Kami butuh bantuan tuan-tuan segera. terima kasih. Wassalamu'alaikum warahmatullah."
(Kira-kira begitulah ya isi pesannya. Kan mereka mah pake bahasa arab. Pasti ada bahasa singkat nya. pulsanya per karakter ya..muahal)
Yusran terpekur membaca isi pesan dari putra almarhum rekannya, Ali. Mereka dalam keadaan sulit. Pasti mereka juga mengalami kelaparan seperti yang lain. Dirumah nya masih ada bahan makanan, karena ia seorang yang memiliki penghasilan. Dan pastinya akan menyetok makanan walaupun tidak banyak.
Ia berfikir untuk meneruskan pesan Yaseer ke penyiaran. Ia juga berharap bantuan segera datang hingga ke pelosok desa.
Dengan berbagai cara yang ia tau untuk meneruskan pesan dari Yaseer ini. Hingga sampai ke ranah penyiaran berita. Dari informasi dan data yang di dapat, maka diangkat lah berita mengenai situasi di sudut kota Nablus. Berita menyebar cepat. Dan respon masyarakat dunia terbilang cepat.
Satu persatu berita yang ditayang kan mengenai pergolakan di Gaza, Palestina terus memanas. Dan bantuan-bantuan mulai diakomodir.
Namun kendalanya adalah dari titik-titik bantuan. Banyak diantaranya berada di situasi berbahaya. Hanya beberapa saja yang masih aktif menyalurkan bantuan.
Titik-titik chekpoint banyak yang ditutup. Di batasinya jumlah truk bantuan yang bisa masuk. Yang mengakibatkan keterlambatan menyebarnya bantuan hingga ke tangan warga.
*****
Dua pagi berlalu setelah pesan Yaseer terkirim. Namun belum juga datang bantuan hingga ke tempat mereka. Tenaga mereka rasanya sudah habis lemas.
Ting....
"Para warga harap segera datang ke titik A (masjid jami' ), ada bantuan datang. Ayo segera. fiiamaanillah.."
Pesan singkat, tapi bagaikan oase di padang pasir. Ummi yang membuka pesan itu berseru pada anak-anak nya
" Yasser, akak, ada bantuan di masjid jami'. Ayo segera kita kesana. Semoga saja cukup untuk stok kita!" Ajak ummi dengan semangat.
Haniya dan Yaseer yang sudah lemas, hanya bisa tersenyum lega. Sebisa mungkin mereka bangkit berjalan menuju masjid.
Matahari yang sudah mulai panas, memaksa mereka untuk terus terjaga demi menjemput bantuan logistik yang telah lama mereka harapkan.
Antrean panjang sudah terjadi. Dengan kesabaran penuh harus menunggu. Hingga tiba giliran keluarga Laila.
" Alhamdulillah Umma, bantuan telah sampai pada kita. Silahkan dimanfaatkan.." kata penghibur dari panitia mengukir senyum di bibir mereka.
" Alhamdulillah. Jazaakumullah khoiran katsiiran. Hanya Allah yang dapat membalas kebaikan kalian". Balas ummi penuh syukur.
Laila menepi dari antrean. Dan melihat isi bingkisannya.
"Alhamdulillah ya Allah... Yaseer tolong bantu ummi bawa ini. Akak tolong bawa ini. Biar ummi bawa tepung ini. " Titah ummi. Haniya dan Yasser mengangguk setuju. Dan mereka pulang dengan rasa haru dan gembira.
" Alhamdulillah ummi.. Allah mendengar doa kita. Hingga Allah gerakkan hati orang-orang baik dan mengirim ini buat kita ." Kata Haniya dalam perjalan pulang.
" Iya. Semoga ini akan menjadi tenaga kita untuk hidup lebih baik lagi". Harap ummi.
*****
Situasi sulit ternyata terus berlanjut. Bahkan semakin parah karena adanya perlawanan dari militan warga sendiri. Sudah ratusan bahkan ribuan nyawa yang melayang dan ratusan pula yang tertangkap oleh militer zionis.
Organisasi militan juga menawan warga kependudukan dan tahanan perang. Jadi perang saling berbalas. Begitulah seterusnya. militer kependudukan yang berlaku sewenang-wenang, dan organisasi militan yang terus memberikan perlawanan.
Belum ada tanda-tanda perang ini akan berakhir. Zona klaim kependudukan pun semakin meluas. Laila bahkan belum sempat menanyakan bagaimana lahan kebun zaitun nya pada kelompok petani zaitun.
" Semoga saja wilayah kita aman dari pengusiran ya kak..." doa Yaseer di sela makan nya.
Iya hanya doa dan doa. karena warga sipil tak bisa melakukan perlawanan berarti. Atau bisa jadi melawan \= mati. Bukan kah itu hal yang sangat di hindari? Itu mau nya militer zionis. Tapi kenyataannya, semakin brutal penjajah berulah, maka brutal juga perlawanan yang mereka dapatkan.
"Hasbunallah... Ni'mal Maula wa ni'man nashiir"
happy reading 💪
happy Ied Mubarak
komen baik nya ditunggu ya.