NovelToon NovelToon
The Sovereign Architect: Runtuhnya Dinasti Wijaya

The Sovereign Architect: Runtuhnya Dinasti Wijaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Sistem
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

"Kecerdasanmu mati di jalanan bersama jaket kurirmu, Arka."
​Hinaan Sarah di hari kelulusannya menjadi luka terdalam bagi Arka, pria yang rela putus kuliah demi membiayai hidup gadis itu. Diinjak-injak oleh Rian Wijaya sang pewaris korporat, Arka mencapai titik nadir hingga sebuah suara dingin bergema: [Sistem Sovereign Architect Aktif].
​Sistem ini tidak memberinya uang instan, melainkan 'mata' untuk melihat celah busuk di balik kemegahan kota. Bermodal sepuluh ribu rupiah dan otak jenius yang dianggap sampah, Arka mulai merancang arsitektur balas dendamnya.
​Bukan dengan senjata, tapi dengan memutus urat nadi ekonomi sang konglomerat. Satu per satu gedung pencakar langit akan bertekuk lutut, dan Sarah akan menyadari bahwa pria yang ia buang adalah penguasa tunggal atas cetak biru dunianya.
​"Selamat datang di permainanku. Di sini, aku adalah arsiteknya, dan kau hanyalah debu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

Bab 24: Kedaulatan di Balik Jeruji

Dunia luar mungkin mengenal Arka Pramudya sebagai pemilik Skyview Mall yang revolusioner, namun di balik tembok beton Lembaga Pemasyarakatan Kelas II Tanjungbalai, ia hanyalah "Nomor 402". Bau disinfektan murah yang bercampur dengan keringat manusia dan lembapnya sel pengap menjadi udara baru yang harus dihirupnya.

Arka duduk di sudut sel yang remang-remang, punggungnya bersandar pada dinding semen yang kasar. Pergelangan tangannya masih terasa perih, menyisakan bekas kemerahan akibat borgol yang terlalu kencang semalam. Ia meraba sakunya secara refleks, lupa bahwa jaket kurirnya—dan bros perak di dalamnya—telah disita saat pendaftaran tahanan.

[Status Sistem: Kritis. Energi di bawah 10%.]

[Bisikan Insting: Lingkungan bermusuhan terdeteksi. 12 meter ke arah utara, target dengan niat membunuh.]

Arka memejamkan mata, mencoba menulikan suara bising dari sel-sel tetangga. Tanpa dukungan data penuh dari Sistem, kepalanya terasa berdenyut hebat. Namun, ia tidak boleh terlihat lemah. Di tempat ini, kelemahan adalah undangan untuk kematian.

"Oi, anak baru!"

Suara serak itu memecah kesunyian sel. Tiga orang tahanan berdiri di depan jeruji Arka. Salah satunya, seorang pria bertubuh gempal dengan tato kalajengking di lehernya, menatap Arka dengan tatapan haus darah.

"Aku dengar kau si sombong yang mencoba melawan Wijaya Group?" pria itu tertawa, suaranya terdengar seperti besi yang berkarat. "Namaku Jono. Dan di blok ini, kau harus tahu siapa tuannya. Rian Wijaya mengirimkan salam hangat untukmu... lewat tanganku."

Jono memberi kode pada petugas jaga yang tampak memalingkan muka setelah menerima selipan amplop cokelat. Pintu sel Arka terbuka perlahan.

Arka berdiri dengan tenang. Ia tidak memiliki linggis seperti Bang Jago, atau tim keamanan seperti Elina. Ia hanya memiliki kemeja putihnya yang kini kotor dan otaknya yang masih berusaha memproses data secara manual.

"Rian memang payah," ucap Arka, suaranya tenang tanpa getaran sedikit pun. "Bahkan untuk membunuhku, dia masih harus menggunakan tangan orang lain."

"Kau banyak bicara!" Jono menerjang maju, melayangkan pukulan keras ke arah wajah Arka.

Arka tidak menghindar sepenuhnya. Ia membiarkan pukulan itu menyerempet bahunya, menggunakan momentum tersebut untuk memutar tubuh dan menghantamkan sikunya ke rusuk Jono. Tanpa bantuan Sistem untuk menghitung sudut serangan, Arka hanya mengandalkan insting bertahan hidup yang ia pelajari selama bertahun-tahun sebagai kurir jalanan.

"Ugh!" Jono terhuyung, namun dua rekannya segera menyergap Arka.

Pengeroyokan tak terelakkan. Arka tersungkur ke lantai semen. Tendangan demi tendangan mendarat di perut dan punggungnya. Darah segar mulai mengalir dari sudut bibirnya, membasahi lantai yang berdebu.

Di waktu yang sama, di ruang kunjungan yang dibatasi kaca tebal, Sarah duduk dengan tangan bertaut erat. Wajahnya sembap, matanya merah karena terlalu banyak menangis. Di sampingnya, Elina Clarissa berdiri dengan aura dingin yang menusuk, terus-menerus menekan nomor di ponselnya, memaki pengacara-pengacara mahalnya.

"Ini semua salahku," bisik Sarah, suaranya pecah.

"Rian menjebaknya menggunakan akun yang dulu aku buatkan atas perintahnya. Aku seharusnya tahu... aku seharusnya mati saja daripada mencelakakannya lagi."

Elina menoleh, menatap Sarah dengan tajam.

"Menangis tidak akan mengeluarkan Arka dari sana, Sarah. Kau ingin menebus dosa? Berhenti meratapi dirimu dan mulai cari celah di mana Rian menyembunyikan bukti transfer aslinya. Aku punya uang dan pengacara, tapi kau punya pengetahuan tentang cara kerja kotor Rian.

Gunakan itu!"

Sarah tersentak. Ia menghapus air matanya dengan kasar. Benar. Arka menyerah bukan untuk membuatnya menangis, tapi untuk memberinya waktu untuk melawan. "Aku... aku punya salinan enkripsi lama dari kantor Rian. Jika aku bisa meretas peladen cadangan Wijaya Group dari Skyview, mungkin aku bisa membuktikan bahwa dana itu masuk dari akun rahasia Hendra Wijaya, bukan Arka."

Elina mengangguk puas. "Lakukan. Aku akan memastikan Thomas Van Heusen sibuk dengan gugatan perdata di pengadilan agar perhatiannya teralih dari penjara ini."

Kembali ke dalam sel, Arka tergeletak dengan napas tersengal. Jono dan anak buahnya sudah pergi setelah puas melampiaskan amarah mereka. Arka mencoba bangkit, setiap gerakannya memicu rasa sakit yang luar biasa di tulang rusuknya.

"Sst... jangan banyak gerak. Kau bisa patah tulang," sebuah suara lembut terdengar dari sel sebelah yang terpisah oleh jeruji besi.

Seorang pria tua dengan rambut putih panjang dan kacamata yang salah satu gagangnya patah sedang duduk sambil membaca sebuah buku kusam. Ia tidak tampak seperti tahanan kriminal.

"Siapa kau?" tanya Arka, suaranya serak karena darah di tenggorokannya.

"Hanya seorang arsitek yang gagal membangun mimpinya, sama sepertimu," pria tua itu menutup bukunya. "Namaku Baskara. Aku mantan akuntan di dinas agraria Tanjungbalai sepuluh tahun lalu. Aku di sini karena aku tahu terlalu banyak tentang bagaimana keluarga Wijaya dan Thomas Van Heusen mencuri lahan panti asuhanmu."

Arka tertegun. Di tempat yang paling gelap ini, ia justru menemukan potongan teka-teki yang hilang.

"Kau... kau punya buktinya?"

Baskara tersenyum pahit. "Bukti fisik mungkin sudah dibakar. Tapi logika kejahatan tidak bisa dihapus. Arka, kau ditangkap karena pencucian uang, kan? Kau pikir itu serangan untuk memenjarakanmu? Bukan. Itu serangan untuk membuatmu 'menghilang' di dalam sini. Jono hanya awal."

Arka menyeka darah di dagunya. "Aku sudah menduganya. Thomas ingin aku mati di sini agar tidak ada lagi hambatan untuk mengambil alih kedaulatan Sovereign."

"Kalau begitu, berhentilah bertarung dengan otot," Baskara menunjuk ke arah kepalanya. "Di penjara ini, mata uangnya bukan uang, tapi informasi dan loyalitas. Kau lihat petugas yang menerima suap tadi? Namanya Pak Setyo. Anaknya sedang sakit parah dan butuh biaya operasi. Jika kau bisa memberinya solusi, kau akan punya 'kunci' untuk bergerak di blok ini."

Arka memejamkan mata. Ia memanggil sisa-sisa energi Sistem yang hampir habis.

[Analisis Saraf: Diperlukan akses komunikasi luar untuk memverifikasi data medis Setyo.]

[Insting: Gunakan 'kunjungan' Sarah besok pagi.]

Keesokan harinya, saat sesi kunjungan singkat, Arka duduk di depan Elina dan Sarah. Wajahnya yang lebam membuat Sarah hampir menjerit, namun Arka menempelkan telapak tangannya di kaca, memberi kode untuk diam.

"Dengar," ucap Arka dengan suara rendah melalui interkom. "Jangan bicara soal kasusku dulu. Elina, aku butuh kau mencari informasi tentang seorang petugas bernama Setyo. Anaknya butuh operasi jantung. Kirimkan bantuan medis terbaik dari yayasan Clarissa atas nama 'Anonim'. Jangan biarkan dia tahu itu dari kita dulu."

Elina mengernyitkan kening. "Kenapa kita harus membantu penjagamu?"

"Karena aku sedang membangun barikade di dalam sini," jawab Arka, matanya berkilat meski dikelilingi lebam biru. "Sarah, sudah temukan celah di peladen Rian?"

Sarah mengangguk cepat. "Hampir. Rian menggunakan protokol blockchain tersembunyi. Aku butuh kunci akses yang ada di dalam chip warisan ayahmu. Aku menyesal telah membiarkannya tertinggal di meja Thomas!"

Arka tersenyum tipis. "Aku tidak membiarkannya tertinggal, Sarah. Aku menukarnya dengan chip dummy. Chip aslinya ada di bawah pot bunga depan panti asuhan, terkubur di bawah akar mawar yang aku tanam sepuluh tahun lalu."

Mata Sarah membelalak. Arka sudah merencanakan ini bahkan sebelum ia menyerahkan diri.

Malam ketiga di penjara. Jono kembali datang bersama kelompoknya, kali ini membawa sikat gigi yang sudah diruncingkan menjadi belati.

"Waktunya tidur selamanya, Arka," desis Jono sambil merangsek masuk ke sel Arka.

Namun, sebelum Jono bisa melangkah, sebuah tongkat pemukul menghantam jeruji sel dengan keras. Pak Setyo, petugas jaga yang biasanya acuh, berdiri di sana dengan wajah yang berbeda. Ia baru saja menerima telepon dari istrinya bahwa biaya operasi anaknya sudah lunas dan tim dokter terbaik dari Medan sudah tiba.

"Jono! Kembali ke selmu sekarang!" teriak Pak Setyo.

"Apa-apaan kau, Setyo? Kau sudah dibayar oleh Wijaya!" Jono protes.

"Uang Wijaya tidak bisa menyelamatkan nyawa anakku, tapi kebaikan pria ini bisa," jawab Setyo, matanya menatap Arka dengan rasa hormat yang mendalam. "Keluar, atau aku pastikan kau masuk ke sel isolasi selama sebulan."

Jono dan kelompoknya terpaksa mundur dengan penuh dendam.

Arka berdiri, menatap Pak Setyo. "Terima kasih."

"Aku yang berterima kasih, Arka," bisik Setyo. "Apa pun yang kau butuhkan di dalam sini, katakan padaku. Selama itu tidak melanggar hukum terlalu jauh, aku akan membantumu."

Arka menoleh ke arah sel sebelah. Baskara, si akuntan tua, sedang tersenyum.

"Langkah pertama selesai, Arsitek," ucap Baskara. "Sekarang, mari kita bicara tentang bagaimana kita menghancurkan Thomas Van Heusen dari balik tembok ini."

Arka duduk kembali di lantai semen yang dingin. Ia tidak lagi merasa seperti tahanan yang kalah. Di balik jeruji besi ini, ia sedang merancang sebuah rencana pengambilalihan paksa (hostile takeover) yang paling elegan dalam sejarah bisnis Tanjungbalai.

Thomas dan Rian mungkin mengurung tubuhnya, tapi mereka telah memberikan Arka sesuatu yang paling berbahaya: waktu untuk berpikir dan akses ke orang-orang yang telah mereka sakiti.

Kedaulatan Sovereign tidak mati di halaman panti.

Ia sedang bermetamorfosis di dalam penjara, menunggu saat yang tepat untuk meledak dan meruntuhkan menara kesombongan Wijaya Group.

1
marsellhayon
ceritanya menarik,melawan sistem.
tapi alurnya terlalu lambat dan bertele tele.
tokoh utama memang mantan kurir,bagus banget ketika ia tak mengkikuti maunya sistem utk jd oportunis dan tak berperasaan.
tp kan oleh sistem dia udah dpt kemampuan analisis utk berani melawan dan berpikir cepat.
jadinya malah membosankan membaca cerita ini.
variable of ancient
banyak cingcong di kepalanya
variable of ancient
lama banget anjg
Manusia Biasa
Konsep Sistemnya menarik thor🫣
adib
banyak pengulangan... tolong dikoreksi lagi
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Founna: siap💪
total 1 replies
Founna
iya kaka, maaf ya🙏 belum lulus review
Wega Luna
ini cerita nya diganti kah Thor , perasaan kemarin GK gini deh
Founna: iya kak, maaf ya🙏 Belum lulus review kemaren
total 1 replies
Naga Hitam
"ayo sayang....."
Loorney
Pasar langsung kacau nih kalau ada yang begini, 100% terlalu gede.
Dewiendahsetiowati
Sarah sama Adrian tadi kan naik mobil pergi dari sana to
Founna: Halo Kak Dewi! Makasih banyak ya masukannya, sangat membantu Fonna memperbaiki cerita ini. 🙏 Fonna baru saja merevisi Bab 1 dan Bab 2 supaya alurnya lebih nyambung. Ternyata Sarah dan Adrian nggak langsung pergi, tapi mereka sombong mau pamer kamar suite dulu. Yuk, dibaca ulang revisinya, dijamin lebih greget! 🔥
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Wega Luna
setuju, biar tahu rasanya di rendah kan ,untung 2 tobat , setidaknya sadar diri GK mengharapkan mantanya🤣🤣🤣🤣
Wega Luna
ehm dibuang sih,,,dia sejak awal bohong ,dia dapat transfer an terus ,
BaekTae Byun
Mending nanti aja thor cinta cinta an mah kan baru mulai move on kalau bisa nikmatin dulu waktu sendiri thor
Wega Luna
🙀 semangat
Jack Strom
Itu tergantung Sarah-nya Thor, kalau dia masih originil ya boleh sih baikan kembali sama Arka, tapi kalau sudah dol... ya jangan lah... 🤭😁😂🤣😛
Jack Strom
Seandainya Arka-nya jadi kaya pelan², tahap demi tahap, mungkin cerita ini lebih seru... 🙂😁😛
Jack Strom: Baik, tak tunggu ya Om... 🤭😁😁😛😛
total 2 replies
iky__
3 bab perhari thor
iky__
tes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!