Dawai Asmara, seorang fresh graduate sekaligus guru Bahasa Inggris baru di SMA Bina Bangsa, sekolah menengah atas yang terkenal elite.
Perawakan Dawai yang imut membuatnya menjadi target sasaran permainan dari Rendra, siswa kelas dua belas, ketua dari geng the Fantastic Four, geng yang terdiri dari siswa-siswa paling keren di sekolah, yang merupakan putra dari dewan komite sekolah.
Suatu ketika, Rendra mengatakan "I love you, Miss," pada Dawai. Dawai yang sering menjadi sasaran keanehan sikap Rendra, tak menghiraukan pernyataan cinta Rendra.
Apakah Rendra hanya becanda mengatakan itu? Atau serius? Temukan jawabannya hanya di I Love You, Miss!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Sembarang Bocil
Seharian itu, Disa tak fokus bekerja. Pikirannya dipenuhi tentang Dawai. Tak biasanya Disa merasa tak tenang begitu. Sesekali, saat ada waktu, Disa mencoba menghubungi Dawai via chat. Meski lama, saat balasan dari Dawai mendarat ke ponselnya, Disa merasa sedikit lebih tenang.
Aman?
Lima belas menit kemudian.
Aman? Apanya yang aman, Dis?
Nggak apa-apa. Berarti lo aman.
Iyaaaa... Aman, aman. Udah, kerja yang bener.
Siap, bos!
Begitu baru Disa merasa tenang. Tapi, tetap saja, bayangan Rendra akan leluasa mendekati Dawai terus melintas di otak Disa. Disa mengacak rambutnya kasar, seolah menghapus bayangan tentang Dawai dan Rendra dari kepalanya.
"Lo kenapa, Dis?" tanya Hendra pada Disa, salah satu rekan sekantor Disa.
"Eh? Nggak apa-apa," jawab Disa sambil merapihkan kembali rambutnya.
"Kusut banget. Padahal rancangan lo baru aja disetujui sama klien besar," kata Hendra. Disa hanya meringis.
"Mmm... Cewek?" tanya Hendra, tepat membidik sasaran. Disa memutar bola mata, salah tingkah.
"Lo udah punya cewek? Bukannya lo baru putus?" tanya Hendra penasaran.
"Bukan. Temen," kata Disa singkat sambil merapihkan mejanya yang berantakan untuk menutupi salah tingkahnya. Hendra tersenyum.
"Mmm... Temen... Kenalin ke gue dong," goda Hendra, memancing reaksi Disa.
"Enak aja. Cari sendiri sana!" kata Disa sedikit kesal.
"Naaah... Kaaan... Kalo kek gini responnya biasanya bibit unggul nih," komentar Hendra. Disa mendengus kesal. Hendra terkekeh, merasa puas sudah berhasil menggoda Disa.
"Eh. Klien tadi bukannya dari Kentjana Group?" tanya Hendra mengalihkan pembicaraan. Disa mengangguk.
"Mereka mau bangun apalagi sih?" tanya Hendra penasaran. Disa menyerahkan beberapa lembar kertas berukuran A2 yang berisi desain interior sebuah bangunan pada Hendra.
"Cuma renovasi aja. Katanya itu proyek kecil-kecilan Tuan Mudanya," kata Disa sambil masih merapihkan meja kerjanya. Hendra manggut-manggut.
"Eh? Tunggu bentar. Tuan Muda lo bilang?" tanya Hendra dia tak salah dengar. Disa mengangguk dengan raut bingung.
"Kenapa?" tanya Disa.
"Tuan Muda Kentjana Group itu bukannya masih SMA ya? Keren dong kalo dia bikin art gallery plus bar lounge kek gini," kata Hendra sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat design bangunan yang Disa garap.
"SMA? Yang gue sama bos temuin tadi udah mas-mas, Hen. Seumuran kita," kata Disa bingung.
Hendra mengerutkan kedua alisnya. Sedetik kemudian, Hendra merogoh ponsel di dalam saku celananya. Setelah beberapa detik mengusap-usap layar ponselnya, Hendra memberikannya pada Disa.
"Dia itu salah satu pemuda yang berpengaruh di kota, bahkan negara kita. Masa' lo nggak tau?" kata Hendra.
Mata Disa membulat. Dia tak percaya pada apa yang dia lihat. Sebuah artikel tentang seorang pemuda yang sedang memamerkan lukisan karya seni kontemporernya di sebuah art gallery.
'Rendra?!'
***
"Desain art gallery dan bar lounge yang Tuan Muda setujui akan mulai digarap minggu depan," kata Haris pada Rendra sore itu.
"Terimakasih," kata Rendra singkat.
Pak Raharja tersenyum melihat puteranya diam-diam memikirkan bisnis usaha, meskipun tidak seperti bisnis usaha yang digelutinya, resort and property. Menurut Pak Raharja, membuka art gallery and bar lounge juga merupakan bagian dari resort and property, karena akan mendatangkan banyak pengunjung yang merupakan penikmat seni ataupun anak muda biasa yang sekedar hanya ingin nongkrong di bar lounge.
"Ayah masih heran, darimana kamu dapat ide art gallery and bar lounge?" tanya Pak Raharja pada Rendra.
"Lukisan Rendra udah terlalu banyak di studio. Nggak mungkin mau dipajang di kamar Rendra semua," kata Rendra. Pak Raharja tersenyum.
"Ayah ikut senang kamu punya sesuatu yang kamu minati dan kamu serius dengan itu," kata Pak Raharja. Rendra menaikkan satu alisnya.
"Kalau Rendra benar-benar ingin jadi pelukis, apa ayah akan mendukung Rendra?" tanya Rendra to the point. Pak Raharja tak terlihat terkejut. Tuan Besar itu justru tersenyum.
"Kamu punya bakat disitu. Kalau ayah tak mendukung mu, itu sama saja ayah menjadi orangtua yang durhaka," kata Pak Raharja tenang.
Rendra cukup terkejut. Selama ini dia mengira ayahnya akan memaksanya meneruskan bisnisnya. Tapi, mendengar perkataan ayahnya itu, Rendra jadi sedikit berpikir.
"Lalu, perusahaan ayah?" tanya Rendra, penasaran.
Pak Raharja bangkit dari kursi kerjanya, berjalan mendekat ke arah Rendra yang duduk di kursi sofa ruang kerja ayahnya di rumah.
"Ayah akan sangat senang kalau kamu mau meneruskannya. Bagaimanapun, kamu adalah pewaris tunggal Kentjana Group," kata Pak Raharja sambil menepuk bahu Rendra.
"Kamu boleh jadi apa saja yang kamu mau. Tapi, kamu harus ingat, untuk menjadi apa yang kamu mau itu tidak akan semudah yang kamu bayangkan," lanjut Pak Raharja.
"Impian itu selalu berkilauan, sehingga membuat siapa saja yang memilikinya terhipnotis olehnya, tanpa menyadari bahwa jalan menuju impian itu tak seindah impian itu sendiri," lanjut Pak Raharja dengan suara berat.
Rendra terdiam. Dia tahu, selama ini karyanya dilirik para penikmat seni karena salah satu faktornya tentu saja pengaruh dari ayahnya. Meskipun beberapa seniman mengatakan bahwa Rendra memiliki bakat, Rendra sendiri tak begitu yakin akan hal itu. Dia masih menganggap komentar-komentar baik itu terucap karena pengaruh ayahnya.
"Well, ayah tetap berharap kamu meneruskan bisnis ayah," kata Pak Raharja.
"Menjadi pelukis sekaligus pebisnis bukan hal yang buruk sepertinya," lanjut Pak Raharja sambil menepuk-nepuk bahu Rendra lalu berjalan kembali ke kursi kerjanya.
Rendra terdiam di sofa, memikirkan setiap kata-kata ayahnya. Rendra merasa, jalan apapun yang akan ditempuhnya akan terasa mudah berkat ayahnya. Tapi, mendengar ucapan ayahnya tentang meraih cita-cita, sepertinya, ayahnya tidak akan terlalu turun tangan untuk membuat segalanya berjalan mudah.
Rendra tahu, memang begitulah ayahnya sejak dulu, tak ingin terlalu memberi kemudahan padanya. Meski begitu, nama besar sang ayah yang menaunginya selalu saja memeberikan dampak yang signifikan dalam hidupnya.
'Jalan mana saja yang gue pilih, sepertinya... akan sama saja,'
***
Disa melajukan mobil jeepnya menyusuri jalanan kota yang sibuk. Rush hours membuat jeep Disa melaju pelan mengikuti arus kendaraan yang cukup padat.
Meski mata Disa fokus menatap jalanan, pikirannya mengembara memikirkan fakta tentang Rendra yang baru saja dia sadari. Selama ini Disa kira yang datang menemuinya untuk konsultasi desain interior proyek barunya itu adalah tuan muda Kentjana Group dan sekretarisnya. Ternyata bukan.
Disa tak menyangka bahwa Rendra memiliki ketertarikan di dunia lukis. Setelah Hendra menunjukkan artikel tentang Rendra tadi siang, Disa mencoba mencari beberapa artikel lain tentang Rendra. Seperti yang Hendra katakan, banyak sekali artikel yang mengatakan bahwa Rendra merupakan sosok pemuda berpengaruh, terlebih di bidang seni kontemporer.
'Ternyata... Dia bukan sembarang bocil,'
***