laki-laki diuji tiga hal, harta, keluarga dan wanita.
Semuanya bisa mereka atasi tetapi satu yang kerap membuatnya lemah yaitu godaan wanita.
Sepuluh tahun pernikahan kandas karena satu wanita yang dizinkan Alim hadir di tengah keluarganya. Erna tak sanggup hidup dengan laki-laki yang sudah berani mengkhianati janji suci, merobohkan komitmen, dan merusak kepercayaan. Erna memutuskan pergi jauh meninggalkan kedua putrinya, Zaskia Alifta dan Rania Anggraeni di usia masih kecil. kelahiran mereka hanya selisih setahun dan terpaksa menjadi korban keegoisan orang tua. Kepergian Erna justru dicap istri yang durhaka dengan suaminya, dan itu membuat Alim tidak ada rasa bersalah dan berencana menikah dengan selingkuhannya. Zaskia tidak menerima Ibu tirinya dan lebih memilih hidup sendiri. Sementara Rania ikut sang ayah dan hidup enak bersama keluarga barunya tanpa memikirkan sang kakak.
Bagaimana nasib dan masa depan kedua saudara itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Khoiriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petunjuk Ibu
Teras itu menghadap halaman yang luas dan tenang, cukup untuk membuat siapa saja betah meski sendirian. Di salah satu kursinya, Revan duduk dengan kaki menyilang. Satu tangannya bertumpu di meja, jari-jarinya memutar ponsel yang sesekali ia lirik, layarnya tetap gelap, tanpa notifikasi.
Ia memang sedang menunggu seseorang.
“Kamu kenapa gelisah begitu?” ucap Irwan, ayahnya, yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu, tak jauh di belakangnya.
“Zaskia belum juga membalas pesan, Dad. Revan tidak akan menemuinya kalau belum ada kabar,” jawabnya.
Irwan melangkah lalu duduk di samping anaknya. “Daddy senang ada perkembangan pesat soal kasus Zaskia. Semoga lancar,” katanya sambil menepuk halus paha Revan.
Revan mengangguk. Bahunya tetap tegak, namun ia melirik jam tangan sekali, seolah sedang menghitung waktu yang terus berjalan.
Irwan memperhatikan itu, lalu berujar lagi, “Sudah, tunggu saja. Siapa tahu dia masih sibuk.”
Revan mengangguk lagi.
Hening sejenak.
Irwan kembali membuka obrolan. “Menurut kamu, Zaskia orangnya gimana?”
Alis Revan berkerut, berusaha mencerna ucapan sang ayah. Karena baginya, itu bermakna luas.
“Gimana yang bagaimana, Dad? Secara personal dia baik, nurut, tapi tegas.”
Irwan mengangguk kecil beberapa kali, seolah membenarkan pikirannya sendiri“Pertama kali bertemu pun Daddy sudah melihat itu. Mirip seperti Mommy kamu.”
Setelah ucapannya, mata mereka beradu.
Revan menatap ayahnya dalam-dalam. “Tidak sama, Dad,” tolak Revan, tidak setuju.
Irwan membantah ringan. “Yang bilang sama siapa sih? Daddy cuma bilang mirip doang.” Irwan langsung terkekeh.
“Daddy juga mau punya mantu kayak dia,” celetuk Irwan, sedikit menoel lengan Revan, menggodanya.
Revan tidak kesal. Malah, ingatan malam itu di hotel muncul lagi, membuatnya sedikit was-was. Bagaimana kalau rencana pura-puranya sebagai pasangan Zaskia justru menjadi boomerang untuk dirinya sendiri?
"Dad..."
"Hm?"
Revan menghela napas, bersiap menceritakan semuanya. "Kemarin di hotel, Revan bertemu Pak Aldrich," ucapnya, suaranya sedikit bergetar karena keresahan.
"Daddy tahu," Irwan mengubah posisi duduknya, bersandar santai. "Semalam dia telepon, Daddy," tambahnya sambil menyilangkan tangan di dada.
Mata Revan membesar, bukan karena terkejut, tapi karena menebak apa yang akan terjadi. Tanpa cerita pun, Daddy pasti sudah mengetahui semuanya. "Maaf, kalau Daddy dengar ini dari orang lain," katanya rendah. "Baru saja Revan mau cerita."
"Daddy sengaja tidak bertanya sampai kamu cerita sendiri.
"Apa yang kamu lakukan murni karena profesional. Tapi, Nak, baik kamu maupun Daddy sama-sama tahu siapa Aldrich. Apa yang dia tahu, tidak akan berhenti di mulutnya saja."
Irwan memang ingin ada keterkaitan antara Zaskia dan Revan, sejak awal ia menginginkan itu seperti celetuknya tadi, tapi bukan dengan cara seperti ini.
"Dan hal ini pasti merugikan satu pihak," lanjut Irwan.
"Revan tahu, Dad," jawabnya, mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuk, seolah tiap ketukan itu menentukan langkah ke depannya.
"Apa pun yang terjadi nanti, Daddy akan selalu ada untuk kamu," ujar Irwan, berusaha menenangkan.
Sepuluh menit mereka mengobrol. Benda pipih milik Revan yang tergeletak di depannya tiba-tiba menyala.
Ting...
Tertera di layar.
Zaskia, klien
Irwan dan Revan sama-sama melirik. Mata Irwan mengedip, memberi isyarat agar Revan membukanya.
Kak Revan, maaf baru bisa ngabarin. Kak Revan boleh ke sini sekarang? Aku sudah di rumah.
Tanpa berpikir panjang, Revan pamit dan segera bergegas pergi. Ia tak lupa mengajak asisten pribadinya, Darrel, untuk menemaninya.
Tiga jam perjalanan, mereka akhirnya sampai di depan rumah Zaskia. Mobil BMW hitam terparkir rapi di halaman.
"Assalamu'alaikum!" salam keduanya bersamaan.
Zaskia langsung keluar, tersenyum menyambut mereka.
"Wa'alaikumsalam, Kak Revan, Kak Darrel. Silakan masuk."
Mereka mengangguk dan mengikuti Zaskia. Setelah mempersilakan duduk, Zaskia menuju dapur. Tak lama kemudian, ia kembali membawa dua gelas kopi, teh, dan beberapa camilan yang disuguhkan untuk menemani obrolan.
"Nggak usah repot-repot, Zaskia," ucap Revan.
"Iya, nih… repot amat buatin beginian," sahut Darrel.
"Tapi kelihatannya enak," celetuknya lagi, lalu mengambil satu kue.
Revan hanya menggeleng pelan, tak mempermasalahkan.
Zaskia terkekeh. "Kak Darrel lucu juga. Gimana? Enak nggak?"
"Emm…" mulut Darrel masih penuh sambil mengacungkan jempol. "Enak banget, sumpah. Kamu buat sendiri?"
Zaskia mengangguk. "Iya, buatan aku sendiri, Kak."
"Kak Revan nggak mau nyoba dulu?" tanya Zaskia, menoleh ke arahnya.
Revan menggeleng, bukan menolak, hanya menunda.
"Nanti dulu. Saya ke sini mau membicarakan hal penting."
“Iya, Kak. Saya siap mendengarkan.”
Zaskia menegakkan tubuhnya, mencari posisi yang lebih nyaman. Sejak tadi ia duduk di depan Revan dan Darrel.
Di meja rumah itu—sejajar dengan kursi yang tidak terlalu tinggi—Revan duduk dengan kedua tangan menumpu di atas pahanya.
Sementara Darrel menyender santai. Ia hanya akan bicara jika memang dibutuhkan Revan.
Revan menatap lurus Zaskia. Bukan hanya mulutnya, tetapi juga matanya ikut berbicara. Ia menceritakan semua yang disampaikan Burhan kepadanya.
Air mata Zaskia mulai mengalir begitu mendengarnya. Kedua tangannya menutup hidung, kepalanya menunduk. Sudah jelas—itu adalah ibunya.
Apa yang terjadi dengan ibunya selama empat belas tahun ini?
Di hotel itu, apa yang telah menimpanya?
Pelecehan, kekerasan, semua itu. Kenapa harus ibunya yang mengalami?
Begitu banyak pertanyaan terngiang di kepalanya. Tangis Zaskia makin pecah, membuat Revan berhenti sejenak sebelum melanjutkan ceritanya.
“Menangislah. Tenangkan diri kamu.”
Revan mengambil gelas teh yang sejak tadi terdiam lama, lalu meminumnya. Sikapnya bukan karena tidak menghargai tangisan Zaskia. Saat ini, yang berperan dalam dirinya adalah logika.
“Kasihan dia, Tuan,” ucap Darrel dengan rasa iba. “Bagaimana kalau dia terus menangis? Apa Tuan Muda akan berhenti melanjutkan ceritanya?”
“Itu naluri kasih dan sayangnya. Wajar kalau dia menangis. Saya akan berhenti kalau dia yang meminta.”
Darrel mengangguk, lalu kembali diam. Mereka berdua menatap Zaskia di tengah isak tangisnya yang terdengar sesenggukan.
Kini Zaskia mengusap sisa air matanya yang sejak tadi terus menetes. Rasa rindu, ingin bertemu, telah lama terbendung. Semakin ia mengingat, semakin kuat pula dorongan untuk mencari ibunya yang kini mulai menemukan titik terang.
Meski dari cerita Revan belum diketahui pasti kondisi dan keberadaan ibu Zaskia sekarang, dua tahun lalu bukanlah waktu yang terlalu lama hingga hari ini.
Zaskia kembali mengangkat wajahnya, menatap Revan dan Darrel.
Ia pun mulai angkat bicara.
“Lalu bagaimana kita bisa menemukan ibuku, Kak?” suara Zaskia serak dan lirih, namun tetap berusaha tegar.
“Semoga kita bisa menemukan petunjuk dari ucapan terakhir ibumu yang mengatakan ada di rumah,” Revan mengatur napas sebelum melanjutkan. “Zaskia, dari ucapan itu saya yakin ada sesuatu yang bisa kita temukan di rumah ini.”
Napas Zaskia terasa berat setelah tangisnya. Ia terdiam.
Tatapannya kosong, bukan karena tak mendengar, melainkan pikirannya dipenuhi tanda tanya.
“Di kamar ibu?” tebak Zaskia spontan.
“Kak...selama ini saya hanya membersihkan tempatnya saja,” ucap Zaskia, seolah baru menyadari sesuatu.
Zaskia tak pernah kepikiran, ternyata kamar ibunya bisa menjadi petunjuk, ruang yang selama ini hanya ia singgahi sekadar untuk merapikan.