Han Chuan adalah seorang anak desa yang ceria dan penuh semangat. Ia menghabiskan hari-harinya dengan melukis pemandangan dan bermain bersama teman-temannya di bukit kecil dekat desa. Hidupnya sederhana dan bahagia hingga suatu hari, segalanya berubah menjadi mimpi buruk. Saat sedang bermain bola bersama teman-temannya, langit tiba-tiba menggelap. Suara raungan aneh menggema dari hutan, dan makhluk-makhluk iblis menyerang desa tanpa ampun. Anak-anak yang bermain bersamanya menghilang satu per satu, ditelan oleh iblis saat di bersama ibunya. Ketika Han Chuan turun dari bukit, yang tersisa hanyalah pemandangan mengerikan desa hancur, dan jasad para penduduk berserakan. Dalam keputusasaan, ia juga menyaksikan ibunya yang ternyata seorang dewa yang turun tangan melawan para iblis. Namun malang, sang dewa tewas ditusuk dari belakang dan tubuhnya dilahap utuh oleh iblis. Rasa sakit dan amarah yang tak tertahankan membangkitkan kekuatan tersembunyi di dalam diri Han Chuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FAUZAL LAZI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Pertarungan Antar Dewa
Setibanya di atas bukit, Han Ming berdiri tegak, menatap tajam ke arah kota di kejauhan. Suaranya menggema kuat, dipenuhi amarah dan diperkuat oleh energi spiritual yang menyelimuti tubuhnya.
“Si tua Yan Long! Keluarlah kau dan temui aku, dasar pengecut!” teriaknya lantang. Suara itu bergema di seluruh lembah, mengguncang pepohonan di sekitar.
Di kediaman keluarga Yan, Yan Long yang sedang bermeditasi langsung membuka matanya. Aura hijaunya bergolak hebat. “Han Ming, beraninya kau memanggilku pengecut! Tunggu saja, aku akan datang menemuimu!” geramnya sambil berdiri.
Dalam sekejap, tubuh Yan Long melesat keluar, meninggalkan bayangan hijau di udara. Dalam hitungan detik, ia sudah tiba di depan Han Ming di atas bukit. Keduanya saling menatap tajam, udara di antara mereka terasa menegang seolah siap meledak kapan saja.
“Yan Long,” ucap Han Ming dengan nada tajam, “kenapa para anggota keluargamu, atau siapapun itu, berani membuat kekacauan di restoran milikku?”
Yan Long menyipitkan mata, suaranya terdengar datar namun tegas. “Itu bukan dari keluargaku. Mungkin informasi yang kau dengar salah.”
Han Ming mengepalkan tangannya, suaranya meninggi. “Kau pikir aku bodoh, Yan Long? Tidak perlu banyak bicara lagi!” ucapnya dengan amarah yang kian memuncak. Aura panas merah menyala keluar dari tubuhnya, membuat udara di sekitar seolah terbakar.
Yan Long menegakkan tubuhnya, wajahnya juga sudah dipenuhi aura dingin kehijauan yang menyelimuti tubuhnya. “Kalau begitu, aku juga tidak akan menahan diri lagi,” ucapnya dengan nada berat.
Dalam sekejap, dua kekuatan besar itu bertemu. Aura panas milik Han Ming dan aura hijau milik Yan Long bertabrakan di udara, menciptakan tekanan luar biasa yang membuat tanah bergetar hebat dan pepohonan di sekitar bukit tercabut dari akarnya. Udara di antara mereka bergetar hebat, pertanda bahwa pertarungan dua sesepuh kuat itu sudah tidak bisa dihindari.
Sementara itu, di Istana Pedang Matahari, Yun Ruan ia adalah pemimpin istana pedang matahari dan dia duduk santai dengan sebotol arak di tangannya. Tatapannya tertuju ke arah dua sosok yang sedang bertarung di kejauhan.
“Haih... sudah tua tapi kelakuannya masih seperti anak kecil,” gumamnya sambil menghela napas dan meneguk arak dari botolnya.
“Tuan, apa tidak sebaiknya Anda menghentikan mereka?” tanya Bong Ling, pelayan pribadinya yang berdiri di belakang.
“Biarkan saja dulu,” jawab Yun Ruan dengan nada malas sambil meneguk araknya lagi. “Mereka butuh menyalurkan emosi.”
Sementara itu, di bukit di samping istana, Han Ming melangkah maju dengan cepat. Tongkat panjang di tangannya bergetar hebat sebelum ia mengayunkannya dengan kekuatan penuh. Serangannya menghantam udara, menghasilkan suara ledakan yang keras.
Yan Long yang melihat serangan itu langsung menangkisnya dengan tangan kosong. Dentuman keras menggema di seluruh bukit, diikuti ledakan energi yang membuat tanah bergetar dan pepohonan di sekitar mereka roboh satu per satu.
Pertarungan keduanya pun pecah dengan sengit. Tongkat Han Ming menghantam berkali-kali, meninggalkan jejak merah membara di udara, sementara Yan Long menangkis dengan serangan tangan berlapis energi hijau pekat. Setiap benturan membuat percikan cahaya spiritual beterbangan, dan udara di sekitar mereka bergolak hebat seperti badai.
Setelah beberapa kali benturan keras, keduanya mundur beberapa langkah, menatap satu sama lain dengan tajam.
“Pedang Api Pembelah Bumi!” teriak Han Ming lantang.
Langit tiba-tiba berubah merah menyala. Aura panas mengalir dari tubuh Han Ming, dan dalam sekejap, pedang raksasa berwarna merah membara muncul dari langit, menebas ke arah Yan Long dengan kecepatan luar biasa.
Melihat hal itu, Yan Long segera menggerakkan kedua tangannya dengan cepat, membentuk serangkaian segel tangan. Energi hijau pekat melingkar di sekelilingnya.
“Tangan Raja Tengkorak!” serunya keras.
Dari tanah, muncul manifestasi menyeramkan berbentuk setengah tengkorak raksasa berjubah hitam. Sosok itu memiliki mata hijau menyala dan aura kehancuran yang mengerikan. Tengkorak itu mengangkat tangannya dan menahan pedang besar Han Ming yang turun dari langit.Suara benturan keduanya menggelegar keras.
Ledakan energi panas dan hijau kehitaman menyebar ke segala arah, menghancurkan tanah dan bebatuan di sekitar mereka. Bukit itu bergetar hebat, seolah hendak runtuh.
Sementara itu, dari puncak sebuah bangunan tinggi di kejauhan, Han Chuan berdiri sambil menatap ke arah pertempuran tersebut dengan mata terbelalak.
“Jadi ini... pertarungan antar dewa,” ucapnya kagum.
“Benar-benar pertarungan hebat. Bahkan aku yang berdiri sejauh ini bisa merasakan tekanannya,” lanjutnya dengan napas tertahan, matanya terpaku pada pemandangan mengerikan di kejauhan.
Ledakan besar kembali terjadi. Pedang merah raksasa Han Ming hancur berkeping-keping, dan tengkorak hitam milik Yan Long retak di beberapa bagian sebelum meledak menjadi kabut hitam. Keduanya terdorong mundur beberapa langkah.
Yan Long memuntahkan darah dari mulutnya, tubuhnya sedikit goyah, sementara Han Ming menahan rasa sakit di dada dan matanya tertuju pada Yan long yng memuntahkan darah dari mulut nya"ternyata kau semakin melemah tapi ya Yan long"sindir nya sambil tersenyum kecil.
Mendengar itu Yan long menyeka mulutnya"diam kau wanita tua "jawab nya sambil berusaha berdiri dan menatap Han Ming dengan tajam,Aura mereka pun kembali melonjak seperti sebelumnya dan menatap tajam satu sama lain.
Han Ming yang dipanggil “tua” langsung naik pitam. Wajahnya memerah dan matanya menyala penuh amarah.
“Berani sekali kau memanggilku kakek bau tanah!” teriaknya dengan nada membara.
Dalam sekejap, aura panas membubung dari tubuhnya. Han Ming mengangkat tangan tinggi-tinggi dan berteriak lantang, “Penempaan Fondasi Dewa: Pembentukan Zirah Dewa Api!”
Suara dentuman keras terdengar. Dari belakang Han Ming muncul sosok zirah setengah badan berwarna merah menyala, seluruh permukaannya tertutup lapisan logam mengilap, dan dari setiap celahnya berkobar api yang begitu panas hingga udara di sekitarnya tampak bergetar.
Zirah itu mengayunkan pedang raksasanya, menimbulkan hembusan angin panas yang memecah tanah di bawahnya. Han Ming sendiri mengayunkan tangannya bersamaan, dan zirah api di belakangnya meniru gerakan itu pedang besar menyapu udara, membelah bukit dan mengarah langsung ke Yan Long.
“Sial! Wanita tua ini mulai mengamuk,” gumam Yan Long sambil menahan tekanan panas yang luar biasa. Keringat mulai menetes di pelipisnya, dan tanah di sekitarnya mulai retak akibat suhu tinggi.
Sementara itu, di dalam Istana Pedang Matahari, Yun Ruan yang sedari tadi meminum araknya kini meletakkan botol itu. Tatapannya tajam menembus ke arah pertempuran di kejauhan.