NovelToon NovelToon
Sibeban Keluarga Mendapatkan Sistem

Sibeban Keluarga Mendapatkan Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

seorang pemuda berusia 25 tahun tampak sedang rebahan dengan posisi super tidak estetis di atas bangku kayu panjang.
Dia adalah Kevin Wahyu Wijaya. Lulusan sarjana manajemen dari salah satu universitas swasta di Depok yang gelarnya saat ini hanya berguna sebagai alas tikar saat piknik keluarga.

"Kevin! Lu kagak ada niat nyari kerja apa? Itu si Doni anak RT sebelah udah keterima kerja di SCBD, tiap hari pake kemeja rapi. Lah lu? Dari pagi sampai ketemu pagi lagi kerjaan lu cuma mabar Mobile Legends sambil ngetek di warkop gua!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter: 23

Kevin tidak membuang waktu semenit pun. Dia melepaskan jas dokter putihnya dengan satu sentakan kasar, menyisakan kaos hitam ketat yang mencetak jelas lekuk otot tubuhnya yang telah diperkuat Tubuh Baja Dewa.

"Pak Herman, Viola, saya harus pergi sekarang juga."

"Ada urusan darurat yang mengancam nyawa orang lain,"

kata Kevin dengan nada suara yang begitu dingin dan penuh penekanan, membuat Pak Wijaya urung untuk bertanya lebih jauh.

"M-Mas Kevin! Aku ikut!" seru Viola, mencoba mengejar Kevin yang sudah melangkah lebar menuju lift khusus.

"Jangan, Viola! Tetap di sini, jaga Kakekmu. Di luar sana terlalu berbahaya untukmu,"

titah Kevin tanpa menoleh.

Pintu lift tertutup, memisahkan pandangan penuh kecemasan Viola dari sosok punggung tegap sang penyelamat.

Begitu sampai di basemen rumah sakit, Kevin langsung melompat ke atas jok NMAX hitamnya.

Kunci kontak diputar, dan untuk pertama kalinya, Kevin mengaktifkan Mode Tempur Penuh: Predator Hitam yang disediakan Sistem.

BRRRUMMM—VROOOOM!

Suara mesin MotoGP yang tadinya diredam kini meraung bebas di basemen, menggetarkan kaca-kaca mobil yang terparkir di sekitarnya.

Lampu LED depan motor berganti warna menjadi merah darah yang intimidatif.

Kevin menarik gasnya dalam-dalam, membelah jalanan Margonda menuju ke arah kompleks perumahan GDC dengan kecepatan yang menembus batas kewajaran dua ratus kilometer per jam di jalanan kota!

Sementara itu, di Warkop Berkah.

Malam baru menunjukkan pukul 21:00, namun suasana di sekitar warkop mendadak sunyi senyap secara tidak wajar.

Joko dan para pemuda kompleks yang biasanya nongkrong hingga larut malam, entah kenapa mendadak bubar lebih awal karena merasa hawa sekitar menjadi sangat mencekam.

Nabila sedang mengelap sisa meja kayu di depan warkop, sementara ayahnya, Cak Umar, sedang merapikan stoples kopi di dalam. Tiba-tiba, lampu jalanan di depan warkop padam serentak.

DEK.

Dari kegelapan gang, muncul lima orang pria dengan pakaian serba hitam dan wajah yang ditutupi oleh topeng kain hitam pekat.

Di tangan mereka, berkilat bilah-bilah parang panjang dan beberapa senjata pemukul besi.

Gerakan mereka sangat taktis, mengepung warkop dari segala penjuru.

"Cak Umar! Nabila! Keluar kalian!"

bentak salah satu pria bertopeng yang tampaknya adalah pemimpin komplotan, suaranya parau dan berat.

Nabila yang melihat kedatangan orang-orang menyeramkan itu langsung menjatuhkan kain lapnya, wajah manisnya memucat seketika.

"A-Ayah... ada orang jahat di luar!"

jeritnya ketakutan, berlari masuk ke dalam pelukan Cak Umar yang keluar dengan memegang sebuah pisau dapur kecil.

"Kalian siapa?! Mau ngapain di warung saya?! Kami gak punya utang!"

teriak Cak Umar berani, meskipun tangannya yang memegang pisau tampak gemetar melihat jumlah lawan yang tidak seimbang.

"Kami tidak urusan dengan utangmu, Tua Bangka! Beritahu kami, di mana si Kevin Wijaya?!

"Dia sudah mencampuri urusan faksi kami terlalu dalam!"

bentak si pemimpin Topeng Hitam.

"Karena dia tidak ada di sini, anak perempuanmu ini akan kami bawa sebagai jaminan agar kutu loncat itu menyerahkan diri!"

Dua anak buah Topeng Hitam melangkah maju, menendang pintu kayu warkop hingga hancur berantakan.

Mereka merangsek masuk, mengabaikan sabetan pisau dapur Cak Umar yang dengan mudah ditangkis menggunakan besi pemukul.

Cak Umar tersungkur ke lantai setelah perutnya dihantam tendangan kasar.

"AYAAAH!" Tangis Nabila pecah.

Dia mencoba menolong ayahnya, namun lengannya langsung dicengkeram kasar oleh salah satu penculik.

"Lepasin! Lepas! Kak Kevin... tolong Nabila... Kak Kevin!"

jerit Nabila histeris, memanggil nama pemuda yang paling dia percayai di dunia ini.

"Gak usah banyak bacot, Jalang kecil! Pahlawanmu itu gak bakal—"

BOOOOOMMMM!

Belum sempat kalimat si penculik selesai, sebuah hantaman luar biasa keras menghancurkan gerobak nasi goreng stainless-steel di depan warkop.

Motor NMAX hitam Kevin mendarat dengan dramatis setelah melakukan lompatan ekstrem melewati pagar pembatas kompleks.

Asap tebal mengepul, memercikkan bunga api dari sisa tabung gas gerobak yang pecah.

Dari dalam kabut asap, sepasang mata Kevin berkilat merah karena amarah yang sudah mencapai ubun-ubun akibat melihat Nabila disakiti.

"Lu... baru aja manggil siapa jalang?"

suara Kevin terdengar seperti desis iblis dari kerak neraka, bergema menekan udara di sekitar warkop.

Pemimpin Topeng Hitam tersentak mundur, namun dia segera menguasai keadaan.

"Oh, si keparat ini dateng juga! Bagus! Hajar dia sampai mati! Bos besar minta kepalanya malam ini!"

Empat anak buah Topeng Hitam serentak melepaskan cengkeraman mereka dari Nabila dan menerjang Kevin dengan parang yang terayun horizontal, mengincar leher dan dada Kevin dari empat sudut mati.

Kevin tidak berkedip.

Tubuh Baja Dewa dan Refleks Dewa diaktifkan pada tingkat maksimum mutlak.

TAAAKKK! TAAAKKK!

Dua bilah parang yang menghantam pundak dan dada Kevin justru patah menjadi tiga bagian begitu menyentuh kulit tubuh Kevin yang sekeras berlian.

Jaket hitam yang dikenakannya robek, namun kulit di baliknya bahkan tidak meninggalkan goresan merah.

"M-Makhluk macam apa lu?!" teriak salah satu penyerang dengan mata melotot ngeri.

"Guru matematika, supir ojol, tukang nasgor, dan malam ini... malaikat maut kalian,"

jawab Kevin dingin.

Tangan kanan Kevin melesat maju, mencengkeram wajah penyerang pertama, lalu menghantamkan kepalanya ke lantai semen hingga hancur retak.

Tanpa membuang momentum, Kevin memutar tubuhnya, melepaskan satu tendangan sapuan bawah berdaya baja yang mematahkan kedua kaki penyerang kedua berkali-kali hingga terdengar bunyi KRETEK yang memilukan.

Dua penyerang sisa mencoba menusuk perut Kevin menggunakan pisau komando, namun Kevin menangkap kedua tangan mereka, memutarnya hingga tulang sendi mereka lepas dari tempatnya, lalu memberikan pukulan kombinasi dua arah tepat di ulu hati mereka.

Kedua orang itu langsung muntah darah hitam dan ambruk tidak sadarkan diri dalam waktu kurang dari sepuluh detik.

Empat orang profesional terlatih dari faksi rahasia Depok tumbang mengenaskan tanpa bisa memberikan satu pun perlawanan berarti.

Pemimpin Topeng Hitam yang kini berdiri sendirian di dekat tubuh Cak Umar langsung gemetaran hebat.

Senjata pemukul di tangannya jatuh berdentang di lantai.

Dia menyadari, informasi dari organisasi mereka salah besar orang yang mereka hadapi bukan sekadar pemuda genius, melainkan monster dalam wujud manusia.

Kevin berjalan mendekat, setiap langkah kakinya terasa seperti detak jam kematian di telinga sang pemimpin.

"Siapa yang nyuruh kalian ke sini? Jawab, atau gue patahin setiap jari tangan lu satu-satu,"

ancam Kevin, mencengkeram leher si pemimpin dan mengangkat tubuhnya yang berbobot delapan puluh kilogram ke udara hanya dengan satu tangan.

Ding!

[Misi Utama Diperbarui: 90% Selesai!]

[Target Mengaku: Identitas Dalang Utama Faksi Rahasia Depok Utara akan segera terungkap!]

#NOTE

Siapakah sosok misterius "Bos Besar" kelompok Topeng Hitam yang mengendalikan konspirasi racun dan mafia tanah di Kota Depok?

Apakah Kevin akan langsung mendatangi markas mereka malam ini juga demi melindungi Nabila dan Viola untuk selamanya?

Jawab si Kolom Komentar ya.......

1
Tri Wahyuni
iya maaf kak ada kesalahan untuk penamaan karakternya, Skrang sudah di perbaiki,makasih udah ngasih tau ya kak👍
ラマSkuy
wait bukannya di bab sebelumnya nama ayahnya Viola itu Herman ya kok dibab ini jadi Wijaya 🤔🤔
ラマSkuy
awalan yang menarik untuk di baca Thor semangat terus berkarya 👍
Hentri Gunawan
lanjut Thor walupun beda dr yg kemarin
Tri Wahyuni: iya maaf ya soalnya kak soalnya kena revisi total
total 1 replies
Tri Wahyuni
jangan lupa kasih likenya ya kak
Hentri Gunawan
lanjut lg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!