Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.
Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.
Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.
Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.
Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dorongan
Hari-hari berikutnya, Arka mencoba menjalani hidup seperti biasa—membantu Nadia mengepak barang, mengunjungi orang tuanya, mengedit foto-foto untuk klien. Tapi album foto itu, yang dia simpan di laci meja, terasa seperti magnet yang menariknya kembali setiap malam.
Suatu malam, saat Nadia sedang tidur di kamar, Arka diam-diam membuka laci itu, mengeluarkan album, dan menatap foto Damar lagi—wajah ceria itu, kacamata yang melorot, senyum yang familiar.
Dia memutuskan untuk menyelidiki lebih jauh—bukan dengan kekuatannya, hanya dengan cara biasa. Dia mencari nama "Damar Setiawan" lagi di internet, kali ini dengan kombinasi kata kunci yang berbeda, mencoba mencari sekolah dasar tempat foto itu mungkin diambil berdasarkan latar belakangnya.
Dia memperbesar foto, memeriksa detail-detail kecil—seragam, latar gedung, sesuatu yang bisa jadi petunjuk.
Di sudut foto, terlihat sebagian papan nama sekolah. Hanya beberapa huruf yang terbaca: "...RI 07 KEB..."
Setelah pencarian yang cukup lama, Arka menemukan kemungkinan—SD Negeri 07 Kebon Jeruk. Sebuah sekolah yang berbeda dari SD yang dia ingat dari "dunia baru" maupun "dunia lama."
Sekolah ketiga. Sekolah yang tidak pernah ada dalam ingatannya, di dunia mana pun yang dia tahu.
Arka mulai memahami sesuatu—sesuatu yang membuatnya merasa seperti berdiri di tepi jurang yang sangat dalam.
Mungkin, di antara "dunia lama" (di mana ibunya meninggal dan Damar adalah sahabatnya) dan "dunia baru" (di mana ibunya hidup dan Nadia adalah sahabatnya sejak kecil), ada dunia ketiga—dunia yang mungkin tercipta sesaat, di antara dua perjalanan waktunya, sebelum "menstabilkan diri" menjadi dunia yang sekarang dia tinggali.
Dunia ketiga itu mungkin adalah dunia di mana—untuk sesaat—baik ibunya dan Damar ada dalam hidupnya. Tapi karena alasan yang tidak dia pahami, dunia itu tidak "bertahan." Sesuatu terjadi yang membuatnya bergeser lagi, menjadi dunia yang sekarang—dunia tanpa Damar, tapi dengan Nadia.
Apakah itu mungkin? Apakah ada dunia "di antara"—dunia yang sempurna, yang punya semuanya—tapi karena alasan tertentu, nggak stabil, dan akhirnya "runtuh" jadi salah satu dari dua dunia yang aku tau sekarang?
Pikiran itu membuka sesuatu di dalam Arka—sesuatu yang berbahaya. Karena jika benar ada "dunia ketiga" yang punya semuanya, mungkin—jika dia kembali, jika dia mencoba mencari titik di mana dunia itu "runtuh"—dia bisa mencegahnya runtuh. Dia bisa menstabilkan dunia yang memiliki semuanya.
Ibunya. Nadia. Damar. Semua orang yang dia cintai, dalam satu dunia.
Tapi malam itu, sebelum dia bisa membiarkan pikiran itu berkembang lebih jauh, sesuatu terjadi yang menghentikannya.
Nadia terbangun, mendapati Arka tidak ada di kasur. Dia berjalan ke ruang tamu, menemukan Arka duduk di lantai, album foto terbuka di depannya, laptop menyala dengan puluhan tab pencarian terbuka.
"Arka? Jam segini kamu masih bangun?"
Arka mendongak, terlihat seperti orang yang baru tersadar dari trance. "Nad... maaf, aku—"
Nadia duduk di sebelahnya, melihat album foto yang terbuka di halaman dengan foto Damar. "Ini... ini Damar yang kamu maksud beberapa hari lalu, kan?"
Arka mengangguk.
"Arka," kata Nadia, suaranya lembut tapi serius, "kamu kelihatan kayak... kayak lagi nyari sesuatu yang penting banget. Tapi kamu juga kelihatan kayak nggak tidur dari kapan tau. Ada apa? Cerita ke aku."
Arka menatap Nadia—Nadia yang ada karena perjalanan waktu kedua, Nadia yang hidupnya terjalin dengan hidupnya sejak masa kecil karena Arka mengubah sesuatu.
Dan untuk pertama kalinya, sebuah pemikiran baru muncul—pemikiran yang membuat Arka merasa mual.
Jika aku mencoba mencari "dunia ketiga"—dunia dengan Damar dan ibu dan Nadia sekaligus—apa yang terjadi dengan Nadia yang ADA sekarang? Apakah Nadia ini akan tetap ada? Atau apakah Nadia ini—Nadia yang aku kenal, yang sedang duduk di sebelahku sekarang, yang aku cintai—akan digantikan oleh "Nadia versi lain" dari dunia ketiga itu?
Arka menyadari, dengan kengerian yang mendalam, bahwa "Nadia" sebagai konsep mungkin akan tetap ada di dunia manapun—tapi Nadia ini, dengan semua kenangan spesifik yang mereka bagikan, dengan semua momen yang membentuk hubungan mereka selama ini, mungkin tidak akan sama.
Mengejar "dunia yang punya semuanya" mungkin berarti kehilangan Nadia yang ini—digantikan oleh versi lain dari dirinya, yang mungkin masih bernama Nadia, masih punya wajah yang sama, tapi dengan sejarah, kenangan, dan ikatan yang berbeda dengan Arka.
Itu sama saja dengan kehilangan.
"Arka?" Nadia menyentuh wajah Arka, yang tiba-tiba terlihat pucat. "Kamu nggak apa-apa? Kamu kelihatan ketakutan."
Arka menggenggam tangan Nadia, erat—seperti memastikan dia nyata, seperti memastikan dia tidak akan menghilang begitu saja.
"Nad," kata Arka, suaranya bergetar, "aku cuma... aku cuma mau memastikan kamu di sini. Beneran di sini. Sekarang."
Nadia, meski bingung, memeluk Arka. "Aku di sini, Arka. Aku nggak akan kemana-mana."
Tapi Arka tahu—dengan cara yang Nadia tidak akan pernah mengerti—bahwa "kemana-mana" bukanlah satu-satunya cara untuk kehilangan seseorang. Kamu juga bisa kehilangan mereka dengan cara yang lebih halus: dengan menciptakan dunia di mana mereka masih ada, tapi tidak lagi sebagai orang yang sama.
Malam itu, Arka menutup album foto, menyimpannya kembali ke laci—kali ini, dengan tekad untuk tidak membukanya lagi.
Tapi tekad itu, dia tahu, akan diuji. Karena dorongan untuk "memperbaiki," untuk mendapatkan "semuanya," tidak hilang hanya karena dia memutuskan untuk mengabaikannya.
Dorongan itu hanya menunggu—menunggu momen ketika Arka paling lemah, paling sedih, paling rentan.
Dan momen itu, Arka tahu, suatu saat akan datang.