Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Desas-desus kembali pulang.
Setelah lebih dari dua bulan menghabiskan waktu berlibur santai bersama teman-teman sosialitanya, Ratih akhirnya kembali menginjakkan kakinya ke rumah. Kepulangannya sore itu disambut kesibukan para pelayan yang bergegas menurunkan tumpukan barang bawaan dari bagasi mobil. Ratih membawa banyak sekali oleh-oleh, mulai dari perhiasan mewah, kain sutra berkelas, hingga camilan khas daerah yang sengaja ia borong untuk penghuni rumah.
Langkah anggun Ratih terhenti di lobi utama. Hal pertama yang terlintas di dalam benaknya adalah keberadaan gadis kesayangannya. Sambil menyerahkan tas jinjingnya kepada salah seorang pelayan, ia mengedarkan pandangan dan langsung mencari keberadaan Prisha kepada Malik, kepala pelayan senior yang sudah berdiri menyambutnya dengan takzim.
“Malik, di mana Prisha? Kenapa suasananya sepi sekali?”
Malik membungkuk hormat sebelum menjawab dengan nada suara yang tenang dan tertata. “Nona Prisha saat ini sedang berada di dalam kamarnya, Nyonya. Beliau sedang fokus mengerjakan beberapa tugas kuliahnya.”
Ratih manggut-manggut paham. Gurat kelelahan di wajah paruh bayanya berganti dengan binar kepedulian. “Ah, begitu ya. Kalau dia sedang belajar, aku tidak ingin mengganggunya dulu kalau begitu. Biarkan dia menyelesaikan PR.”
Ratih kemudian melangkah menuju ruang tengah, namun rasa ingin tahunya tentang dinamika rumah tangga yang ia tinggalkan kembali terusik. Ia berbalik dan bertanya dengan nada selidik, “Lalu ... bagaimana dengan Saka? Di mana anak laki-lakiku itu sekarang?”
“Tuan Muda Saka sudah pergi meninggalkan mansion sejak setelah jam makan siang tadi, Nya,” jawab Malik apa adanya.
Kedua alis Ratih bertaut rapat, ekspresinya menunjukkan rasa heran yang tidak bisa disembunyikan. “Dia makan siang di rumah? Hari ini? Di pertengahan minggu seperti ini?” Bagi Ratih, fakta bahwa putranya yang gila kerja itu mendadak berada di mansion pada siang hari adalah sebuah anomali besar.
“Benar, Nyonya,” Malik mengulum senyum tipis, merasa perlu menyampaikan detail yang dipastikan akan menyenangkan hati sang majikan. “Namun, mereka tidak makan di ruang makan utama. Tuan Muda Saka dan Nona Prisha makan siang bersama di bawah pohon ek halaman belakang.”
“Benarkah?! Itu terdengar sangat mustahil untuk seorang Saka,” seru Ratih dengan nada suara yang naik satu oktav karena terkejut. Sepengetahuannya, Saka tidak akan pernah mau membuang-buang waktu yang menurutnya berharga hanya untuk sekadar duduk di bawah pohon.
“Tuan Muda memenuhi permintaan Nona Prisha, Nyonya,” tambah Malik.
Mendengar konfirmasi tersebut, gumpalan rasa bahagia langsung meledak di dalam dada Ratih. Senyum lebar mengembang di bibirnya yang dipulas lipstik merah. “Bagus! Bagus sekali! Ini bisa jadi tanda-tanda awal terbukanya hati Saka untuk Prisha. Gadis itu benar-benar tahu bagaimana cara melunakkan batuan es di dalam diri anakku.”
Kebetulan pada saat yang sama, Bora berjalan turun menuruni anak tangga utama untuk mengambilkan sesuatu keperluan dari dapur. Begitu menyadari kehadiran sang nyonya besar yang baru saja kembali, pelayan pribadi Prisha itu segera menghentikan langkah dan memberikan salam sopan yang sangat tulus.
“Selamat datang kembali, Nyonya.”
Ratih menoleh, menatap Bora dengan pandangan yang ramah. “Ah, Bora. Pas sekali kau di sini. Apa Prisha sudah benar-benar selesai dengan tugas kuliahnya? Aku ingin membawakan beberapa oleh-oleh untuknya.”
Mendengar pertanyaan tentang tugas kuliah, dalam benak Bora seketika bertanya-tanya dengan penuh kebingungan. 'Tugas kuliah seperti apa yang dimaksud Nyonya Besar?' batin Bora keheranan. Pasalnya, ingatan Bora masih sangat segar tentang apa yang ia saksikan di kamar beberapa menit lalu.
Di dalam kamarnya, Prisha hanya berbaring telentang di atas ranjang, menyalakan televisi berukuran besar, namun sepasang matanya menatap kosong ke arah layar tanpa benar-benar menonton tayangannya. Dengan kata lain, sang nona muda sebenarnya hanya sedang bermalas-malasan sambil melamunkan sesuatu yang tampak sangat berat.
Namun, sebagai pelayan yang setia dan tahu cara menjaga reputasi majikannya, Bora tentu saja tidak akan membongkar fakta tersebut di depan Ratih. Setelah menjernihkan tenggorokannya sekilas, Bora menjawab dengan nada yang netral, “Sepertinya dia tidak sedang terlalu sibuk sekarang, Nyonya. Tugasnya mungkin sudah hampir selesai. Mau saya panggilkan Nyonya ke bawah?”
“Tidak perlu, aku akan ke sana sendiri untuk memberinya kejutan,” tolak Ratih lembut sambil melambaikan tangan kanan.
Ratih kemudian membalikkan tubuh dan melangkah naik ke lantai atas, menuju ke arah kamar tidur Prisha. Langkah kakinya yang beralaskan sepatu rumah berbulu halus nyaris tidak menimbulkan suara di atas lantai marmer. Setibanya di depan pintu kamar bernuansa putih-emas itu, Ratih mengetuk daun pintu kayu tersebut beberapa kali dengan ketukan yang pelan dan berirama.
Namun, tidak ada sahutan atau jawaban apa pun dari dalam ruangan. Karena ketukan pertamanya tidak mendapat respons dan ia menyadari bahwa pintu kamar tersebut ternyata tidak tertutup rapat melainkan sedikit terdorong terbuka, Ratih akhirnya memutuskan untuk mendorong pintu begitu saja tanpa ragu.
Pemandangan di dalam kamar langsung tersaji di depan matanya. Ratih melihat Prisha tengah berbaring di atas ranjang king size miliknya. Sesuai dengan apa yang dipikirkan Bora tadi, gadis itu memang sedang menatap lurus ke arah TV, namun seluruh gestur tubuh dan pandangan matanya memperlihatkan dengan jelas bahwa ia sedang bengong, tenggelam dalam lautan pikirannya sendiri.
“Prisha?” panggil Ratih dengan suara lembut, mencoba memecah lamunan gadis itu.
Prisha tersentak, bola matanya mengerjap beberapa kali sebelum menoleh ke arah sumber suara. Begitu menyadari siapa yang berdiri di ambang pintu, ekspresi kosong di wajahnya seketika lenyap, digantikan dengan raut wajah cerah yang dibuat-buat dengan cepat. Ia langsung duduk tegap di tepi ranjang.
“Bibi?”
Prisha bergegas turun dari ranjangnya yang tinggi, berjalan cepat untuk menjemput Ratih dan menuntun wanita paruh baya itu untuk duduk bersama di sofa santai yang terletak di sudut kamar.
“Kapan Bibi pulang? Kenapa tidak ada pelayan yang mengabari aku?”
“Bibi baru saja sampai beberapa menit yang lalu,” jawab Ratih sembari menepuk punggung tangan Prisha yang terasa hangat.
Prisha memasang wajah cemberut yang manja, sebuah taktik visual yang selalu berhasil memikat hati Ratih. “Kenapa Bibi tidak memberitahu aku lewat pesan singkat sebelumnya? Kalau tahu Bibi pulang sore ini, aku pasti akan menunggu dan menyambut Bibi di depan lobi sejak tadi.”
Ratih tertawa kecil, hatinya terasa sangat meleleh mendengar perhatian manis yang ditunjukkan oleh calon menantunya itu. “Astaga, si cantik ini ... kau tidak perlu repot-repot melakukan hal seperti itu. Lagipula, bagaimana dengan kondisi kakimu yang kemarin cedera? Apa masih terasa sakit?”
“Sudah sembuh total, Bi. Sama sekali tidak ada masalah lagi,” jawab Prisha sembari menggerakkan pergelangan kakinya untuk meyakinkan Ratih.
Ratih mengembuskan napas lega, namun gurat penyesalan mendadak muncul di wajahnya. “Syukurlah kalau begitu. Maafkan Bibi ya, kemarin tidak bisa langsung pulang saat kakimu sempat patah dan cedera.”
“Tidak apa-apa, Bibi. Sama sekali tidak ada yang perlu dimaafkan,” sahut Prisha dengan senyuman tulus. “Selama Bibi tidak ada di rumah, aku dilayani dengan sangat baik di sini oleh Bora dan pelayan lainnya. Aku benar-benar bersyukur bisa tinggal di mansion ini.”
Mendengar respons bijak dari Prisha, Ratih merasa momen ini sangat tepat untuk membahas topik utama yang paling ia pedulikan.
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Prisha dengan binar mata penuh harap. “Bibi tadi mendengar laporan dari Malik. Katanya ... siang ini kau dan Saka makan siang bersama di bawah pohon ek? Bagaimana perkembangannya? Apa anak kaku itu sudah mulai melunak?”
Mendengar pertanyaan itu, senyuman di wajah Prisha seketika meredup. Ia melipat kedua tangannya di dada, lalu menekuk wajahnya menjadi cemberut seraya mengeluarkan keluhan yang jujur dari lubuk hatinya. “Kak Saka itu ... sangat sulit didekati, Bi. Aku harus membuang rasa maluku berkali-kali demi menarik perhatiannya, bersikap tebal muka di depannya setiap hari. Lalu ... ada satu hal lagi yang membuatku tidak tenang, Bibi.”
“Lalu? Apa itu? Katakan pada Bibi, apa yang dia lakukan padamu?” tanya Ratih bertubi-tubi, rasa penasaran dan protektifnya langsung bangkit.
Prisha menggigit bibir bawahnya ragu-ragu sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya dengan nada suara yang merendah, sarat akan kecemasan terselubung.
“Siang tadi, saat kami sedang makan bersama di taman, Kak Saka menerima sebuah panggilan telepon darurat. Aku ... sepertinya aku mendengar nama Utami diucapkan secara samar dari mulutnya sebelum dia mendadak pergi dengan panik.”
Seketika itu juga, atmosfer di dalam kamar yang hangat langsung berubah menjadi sedingin es. Rahang Ratih mengeras dengan seketika, urat-urat di lehernya menegang, dan sepasang matanya berkilat tajam memancarkan amarah yang mendalam.
Ia mengepalkan tangannya di atas pangkuan, mati-matian menahan gejolak emosi yang meluap di dalam dadanya hanya karena mendengar satu nama itu kembali disebut di dalam rumahnya.
Prisha yang menyadari perubahan drastis pada aura di sekeliling Ratih, memiringkan kepalanya sedikit, berpura-pura polos. “Bibi ... kau sudah tahu tentang wanita bernama Utami itu?”
Ratih menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam suaranya agar tidak meledak di depan Prisha. “Kau ... dari mana kau tahu nama itu, Prisha?”
“Aku pernah melihat fotonya secara tidak sengaja di ruangan kantor Kak Saka beberapa waktu lalu,” tutur Prisha dengan nada sedih yang dibuat-buat, mencoba memancing reaksi lebih jauh. “Dari apa yang kulihat dan bagaimana Kak Saka menyimpannya, sepertinya mereka berdua saling mencintai dengan sangat dalam. Tapi ... kalau mereka saling mencintai, kenapa sampai sekarang mereka belum juga menikah?”
“Tidak akan pernah terjadi! Sampai Bibi mati pun, hal itu tidak akan pernah terjadi!” Suara Ratih tiba-tiba menggeram dengan nada rendah yang sangat mengerikan, sarat akan kebencian mutlak.
Melihat ekspresi terkejut dan bingung yang kini tercetak jelas di wajah Prisha akibat bentakan spontannya, Ratih segera tersadar dari emosinya. Ia mengembuskan napas panjang, mengusap wajahnya sekilas, lalu berusaha keras menormalkan kembali ekspresi wajahnya menjadi selembut mungkin.
Ia memegang kedua pundak Prisha, menatap gadis itu dengan tatapan yang penuh penekanan. “Prisha, dengarkan Bibi baik-baik. Jangan pernah kau memikirkan atau memusingkan hal-hal tidak penting tentang Utami, ya? Wanita itu sama sekali bukan tandinganmu dan tidak akan pernah menjadi bagian dari keluarga ini. Fokuslah saja pada tujuanmu untuk memenangkan hati Saka. Mengerti?”
Prisha yang menyadari ada dinding permusuhan yang sangat besar antara Ratih dan Utami, mau tidak mau harus menurunkan egonya dan menjawab sesuai dengan apa yang diharapkan oleh calon ibu mertuanya itu. Ia mengangguk patuh. “Baik, Bibi. Aku akan mengingat kata-kata Bibi.”
Begitu melangkah keluar dari dalam kamar tidur Prisha dan menutup pintunya rapat-rapat, topeng ketenangan di wajah Ratih langsung runtuh sepenuhnya. Dengan langkah cepat yang dipenuhi amarah, ia berjalan menuju lorong sepi di dekat jendela lantai dua. Ratih merogoh saku pakaiannya, mengeluarkan ponselnya, lalu menekan nomor kontak Saka dengan gerakan kasar.
Ponsel itu berdering beberapa kali, namun hingga panggilan itu terputus secara otomatis, tidak ada jawaban sama sekali dari seberang sana. Saka sengaja mengabaikan panggilannya.
“Saka ... anak itu benar-benar menantangku!” gumam Ratih dengan suara menggeram, giginya mengatup rapat karena menahan kekesalan yang amat sangat. “Sudah berulang kali kubilang padanya untuk jangan pernah sekali pun menemui wanita itu!”
Sementara itu, di belahan kota yang lain, suasana di dalam kamar rawat inap rumah sakit terasa begitu sunyi. Saka tengah duduk diam di sebuah kursi plastik yang diletakkan tepat di samping ranjang tempat Utami terbaring. Pandangan mata pria itu tertuju pada layar ponselnya yang menyala di tangannya, menampilkan pemberitahuan panggilan tak terjawab dari ibunya, diikuti oleh sebuah pesan singkat yang baru saja masuk.
[Mama: Apa yang sedang kau lakukan di sana? Apakah itu kabar kematian atau bagaimana? Pulang secepatnya malam ini karena Mama sudah berada di rumah!]
Untaian kalimat kasar dan penuh ancaman tersirat dari Ratih seketika membuat jemari Saka mencengkeram kuat pinggiran ponselnya. Rahangnya mengeras, dan ia mengepalkan tangan kirinya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Saka tahu betul watak ibunya; jika ia terus-terusan mengabaikan perintah ini dan memilih untuk tetap bertahan di rumah sakit, Ratih yang sedang diselimuti emosi bisa saja bertindak nekat. Dia akan datang langsung ke rumah sakit ini, lalu mencaci maki serta mempermalukan keluarga Utami di depan umum.
Saka melirik ke arah Ilyam dan Aini yang saat ini sedang berdiri di dekat sofa kamar rawat, memperlihatkan ekspresi wajah yang tampak begitu polos dan tidak mengetahui apa-apa tentang fakta bahwa Ratih sebenarnya sangat membenci keberadaan mereka serta tidak akan pernah memberikan restu.
Saka tidak ingin ketenangan Utami yang baru saja sadar terganggu oleh keributan besar.
Saka mengembuskan napas berat, lalu perlahan bangkit berdiri dari kursinya. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, lalu menatap Utami yang sedang memandangnya dengan tatapan sayu. Saka membelai lembut puncak kepala wanita itu sekilas sebelum mengalihkan pandangannya kepada kedua orang tua Utami.
“Bibi, Paman ... sepertinya aku harus berpamitan untuk pulang ke rumah sekarang. Ada urusan keluarga mendadak yang harus segera kuselesaikan di mansion,” ucap Saka dengan nada suara yang diatur se-tenang mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan. “Mengenai semua kebutuhan medis Utami selama di sini, kalian tidak perlu khawatir. Aku sudah menyelesaikannya dengan pihak administrasi.”
Aini dan Ilyam sontak mengangguk-angguk dengan senyuman lebar yang penuh rasa terima kasih yang berlebihan. “Ah, iya, Saka. Tidak apa-apa, pergilah urus urusanmu. Terima kasih banyak ya, Nak Saka,” sahut Ilyam dengan nada yang dibuat-buat seramah mungkin.
Saka hanya memberikan anggukan pendek sebagai respons, lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah lebar keluar dari kamar rawat.
Bersambung....