Queen adalah seorang Mahasiswa cantik dan salah satu anak dari donatur terbesar di kampusnya, tapi sayangnya nasib Queen tidak seberuntung wajah dan popularitasnya. Di kampus ia di puji karena kecantikkannya. Tapi nilai-nilai Queen sering anjlok, karena gadis itu tidak pernah belajar dengan serius, hidupnya hanya di habiskan untuk clubbing dan nongkrong bersama teman-teman nya. Kini ia terancam di Drop Out dari kampus kalau nilai skripsinya masih buruk.
Meskipun Queen anak dari donatur terbesar... Ibu Farah selaku orangtuanya tidak pernah memanjakannya. Bahkan ia meminta pihak kampus untuk berlaku adil pada anaknya sendiri. Ibu Farah berusaha membuat nilai-nilai skripsi Queen bagus, dengan cara ia memanggil guru privat kerumahnya. Setelah adanya guru privat, hidup Queen semakin tersiksa. Karena tanpa ia sadari sang mama justru menjodohkan pria itu dengannya. Bagaimana hidup Queen setelah menikah dengan guru privatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 : Di percepat
Beberapa menit kemudian...
Mereka akhirnya keluar dari club malam. Udara malam yang dingin langsung menyambut. Queen yang setengah sadar terlihat sempoyongan. Jika Kevin tidak memegang lengannya, mungkin gadis itu sudah jatuh sejak tadi.
"Kuat nggak jalan?" tanya Kevin.
Queen menggeleng pelan. "Nggak..."
Kevin menghela napas. "Ya ampun, Queen."
Sebelum Kevin sempat melakukan apa pun, Revan sudah lebih dulu mendekat. "Biar gue aja, Vin."
Tanpa banyak bicara, Revan membantu menopang tubuh Queen. Gadis itu bahkan tidak melawan. Matanya sudah terlalu berat untuk terbuka sempurna.
Beberapa saat kemudian mereka masuk ke mobil. Kevin duduk di kursi pengemudi, sedangkan Revan duduk di kursi belakang bersama Queen.
Mobil pun mulai melaju meninggalkan area club. Suasana di dalam mobil cukup sunyi. Hanya suara mesin dan musik pelan dari radio yang terdengar.
Queen menyandarkan kepalanya ke bahu Revan tanpa sadar. Pria itu sempat menegang sesaat, namun ia tidak bergerak.
Kevin yang melihat dari kaca spion langsung mengangkat alis. "Hmm..."
Revan menatap tajam ke arah kaca spion.
Kevin langsung pura-pura fokus menyetir. "Gue nggak ngomong apa-apa."
Revan kembali mengalihkan pandangan.
Sedangkan Queen terlihat benar-benar tidak sadar dengan apa yang sedang dilakukannya. Kepalanya masih bersandar nyaman di bahu Revan.
Bahkan sesekali gadis itu menggumam tidak jelas. "Pusing..."
"Iya," jawab Revan pelan.
"Pusing banget..."
"Saya tahu."
Queen kembali diam.
Beberapa detik kemudian, tangannya tiba-tiba mencengkeram lengan kemeja Revan.
Refleks pria itu menoleh. "Queen?"
"Hm..."
"Bangun sebentar."
"Nggak mau."
Kevin hampir tertawa mendengarnya.
Revan memijat pelipis. "Queen."
"Hm?"
"Kamu mabuk."
"Iya."
"Pantes."
"Kenapa pantes?"
"Kamu jadi lebih nurut."
Kevin langsung batuk untuk menyembunyikan tawanya.
Sedangkan Queen justru mengangguk pelan. "Iya..."
Revan sampai tidak tahu harus menjawab apa. Karena biasanya gadis itu pasti sudah membantah panjang lebar.
Beberapa menit berlalu, mobil terus melaju membelah jalan malam.
Tiba-tiba Queen kembali bersuara.."Pak..."
Revan menoleh.."Apa?"
Queen membuka mata sedikit. "Laki-laki itu jahat ya?"
Kalimat itu membuat suasana mendadak berubah. Kevin yang menyetir ikut terdiam.
Revan memperhatikan wajah gadis itu. "Maksud kamu?"
Queen mengerutkan dahinya. "Nathan nggak balas chat aku."
Tidak ada yang menjawab.
"Aku kirim banyak banget."mSuaranya terdengar semakin pelan. "Tapi dia nggak balas."
Entah karena mabuk atau karena perasaannya yang selama ini ditahan, suara Queen mulai terdengar sedih.
Revan hanya mendengarkan.
"Padahal aku lagi banyak masalah.".Queen menunduk. "Aku cuma pengen dia ada."
Kevin menggenggam setir lebih erat.
Sedangkan Revan menatap jalanan di luar jendela. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Karena ia melihat sisi rapuh Queen yang selama ini selalu disembunyikan di balik sifat keras kepalanya.
Beberapa saat kemudian, Queen kembali menyandarkan kepalanya di bahu Revan. Matanya perlahan tertutup.
"Pak..."
"Hm?"
"Makasih ya..."
Revan mengernyit. "Untuk apa?"
Namun Queen sudah tidak menjawab. Gadis itu tertidur, benar-benar tertidur. Mobil kembali sunyi, Kevin melirik melalui kaca spion. Lalu pelan-pelan tersenyum tipis.
Kini Revan menatap Queen dengan cara yang berbeda. Bukan seperti dosen kepada mahasiswanya, bukan juga seperti orang yang sedang dijodohkan. Melainkan seperti seseorang yang diam-diam mulai peduli jauh lebih dalam daripada yang ingin ia akui.
Sedangkan Revan sendiri hanya menghela napas pelan. Lalu tanpa sadar sedikit memiringkan bahunya agar kepala Queen lebih nyaman bersandar.
Dan entah kenapa, kemarahan yang sejak tadi memenuhi dadanya perlahan mulai mereda. Karena setidaknya sekarang, Queen sudah aman.
Beberapa menit kemudian...
Mobil Kevin akhirnya memasuki halaman rumah. Lampu teras masih menyala terang. Bahkan sebelum mobil benar-benar berhenti, pintu depan sudah terbuka.
Ibu Farah berdiri di sana dengan wajah cemas. "Astaga..."
Begitu melihat Queen yang setengah sadar di kursi belakang, wanita itu langsung panik. "Queen kenapa?!"
Kevin segera turun lalu membuka pintu belakang. "Tenang Ma."
"Tenang gimana? Ini anak mabuk!"
Queen mengerjap pelan. Wajahnya memerah dan langkahnya tidak stabil sama sekali. "Ma..." gumamnya lirih.
Ibu Farah langsung memegang wajah putrinya. "Ya ampun Queen."
Kevin akhirnya menggendong adiknya.n"Aku bawa dia ke atas dulu."
"Hati-hati."
Kevin mengangguk lalu membawa Queen menuju lantai dua. Gadis itu sudah terlalu lemas untuk berjalan sendiri.
Sementara itu...
Di ruang tamu, Pak Arman yang baru saja pulang beberapa saat sebelumnya tampak duduk dengan wajah serius. Revan duduk di hadapannya, beberapa menit kemudian Ibu Farah turun kembali sambil membawa dua cangkir teh hangat.
Queen sudah tertidur setelah dibersihkan dan diganti pakaiannya oleh Bi Inah.
Ibu Farah meletakkan teh di meja. "Nak Revan."
"Iya Tante."
"Sebenarnya bagaimana bisa Queen sampai ada di club malam bersama pria mokondo itu?" Nada suara Ibu Farah terdengar kesal.
Pak Arman juga ikut menatap Revan.
Akhirnya Revan menceritakan semuanya, dan bagaimana saat dirinya dan Kevin tiba di sana, Nathan sedang membawa Queen menuju area VIP. Semakin lama cerita itu berlangsung, wajah Pak Arman semakin gelap.
Sedangkan Ibu Farah sudah berkali-kali memegang dadanya karena kesal. "Astaga..." lirihnya.
Pak Arman mengepalkan tangannya. "Kalau kalian terlambat sedikit saja..."
Tidak ada yang melanjutkan kalimat itu. Karena semua orang tahu kemungkinan buruk yang bisa terjadi.
Ruangan mendadak sunyi.
Lalu Pak Arman bersandar di sofa sambil menghela napas panjang. "Saya sudah bilang sejak awal."
Ibu Farah menoleh.
Pak Arman menatap lurus ke depan. "Pria itu tidak benar."
Revan tidak mengatakan apa-apa.
Namun dari apa yang ia lihat malam ini, ia juga mulai memiliki penilaian yang sama.
Beberapa saat kemudian Pak Arman kembali berbicara. "Bagaimana kalau pernikahan kalian dipercepat saja?"
Revan langsung menoleh.
Ibu Farah bahkan lebih cepat bereaksi. "Mama setuju!"
Pak Arman mengangguk mantap. "Kalau Queen sudah punya suami, pria itu tidak akan bisa mendekatinya lagi."
"Tepat sekali." Ibu Farah langsung terlihat bersemangat. "Bahkan kalau perlu minggu ini juga."
"Tunggu dulu, Tante..."
Namun sebelum Revan sempat menyelesaikan kalimatnya. Terdengar suara langkah kaki dari tangga. Kevin baru saja turun. Pria itu rupanya mendengar bagian akhir percakapan mereka.
"Kalau soal itu..." ucap Kevin sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
Semua orang menoleh.
Kevin menatap Revan lalu menatap kedua orang tuanya. "Kevin juga setuju."
"Hah?" Revan mengernyit.
Kevin duduk di sofa seberang. "Setelah lihat kejadian tadi, gue nggak mau Queen masih berhubungan sama Nathan."
Ibu Farah langsung mengangguk cepat. "Nah kan."
Kevin melanjutkan. "Kalau Queen udah punya suami, si Nathan pasti mundur."
"Betul," sahut Pak Arman.
Ruangan kembali ramai dengan berbagai pendapat. Hanya satu orang yang justru diam... Revan. Pria itu menundukkan pandangannya ke cangkir teh yang masih mengepulkan uap hangat.
Anehnya, mendengar usulan pernikahan dipercepat, sebagian hatinya merasa lega. Namun bagian lain justru terasa berat. Karena ia masih ingat jelas apa yang dikatakannya pada Queen.
"Selesaikan skripsimu. Saya akan bicara dengan Mama kamu."
Ia sudah berjanji akan membela Queen, sudah berjanji akan memberinya waktu..Tapi sekarang, keluarga Queen justru ingin mempercepat semuanya.
"Van?" Suara Kevin membuatnya tersadar.
"Hm?"
"Kok malah bengong?"
Revan mengangkat kepala. Semua mata kini tertuju kepadanya.
Pak Arman berbicara tenang. "Bagaimana menurutmu, Nak Revan?"
Untuk sesaat ruangan menjadi hening..Lalu Revan menarik napas panjang.
"Saya..."
Kalimat itu menggantung.
Kini Revan menyadari satu hal yang tidak bisa lagi ia pungkiri. Ia memang ingin melindungi Queen, ia memang tidak suka melihat gadis itu bersama Nathan.
Dan yang paling berbahaya, ia ternyata mulai menginginkan Queen menjadi istrinya. Namun ia juga tahu, jika keputusan itu diambil malam ini tanpa persetujuan Queen, maka gadis keras kepala itu mungkin akan semakin membencinya. Dan entah kenapa, pikiran terakhir itulah yang paling membuatnya takut.
Saling support sabi kali ya😉