Punya rumah tangga bahagia adalah dambaan setiap orang. Apalagi bagi seorang wanita. Suami dan mertua yang baik adalah anugerah yang tak ternilai harganya.
Seperti itulah harapan Kyara Nawasena. Menikah dengan lelaki yang ia cintai dan mencintainya ternyata tidak menjamin rumah tangganya berjalan mulus.
"Mas, tidakkah kau punya sedikit pun rasa iba kepadaku? Aku ini istrimu, bukan seorang babu!"
"Kalau kau sudah tak mau menuruti semua perintahku, lebih baik kau keluar dari rumah ini! Aku capek dan muak setiap pulang kerja harus mendengar ocehanmu! Kau itu adalah istri yang menyusahkan dan pembangkang!" Doni menghardik Kyara seraya melemparkan bantal ke wajah istrinya.
Kyara tersenyum getir, "Jika aku istri pembangkang, berarti kau adalah suami yang tidak bertanggung jawab!"
"Kyaraaa!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Wildan buru-buru menjauh dari tubuh Kyara begitu suara teriakan Doni menggema di ruang tamu.
Kyara langsung bangkit dari sofa dengan napas tersengal. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya pucat karena shock. "Mas, ini tidak seper-" Ia belum sempat menjelaskan.
Karena Hesti tiba-tiba menjerit nyaring. "Berani sekali kamu berzina di rumahku?!"
Suaranya sengaja dibuat sangat keras. Hingga terdengar sampai ke luar rumah.
Di luar, beberapa bapak yang sedang ronda malam langsung menoleh. Mereka baru saja lewat di depan rumah ketika suara Hesti terdengar. "Bu Hesti kenapa tuh teriak-teriak?" kata salah satu dari mereka.
Beberapa langkah kaki pun mendekat ke halaman karena gerbang rumah sengaja dibuka oleh Hesti. Bapak-bapak itu langsung berlari ke pintu, ingin menyaksikan apa yang terjadi.
"Bu Hesti, Mas Doni ... ini ada apa?" tanya salah satu bapak sambil melarikan pandangan ke arah Kyara dan Wildan.
"Kak Kya kepergok lagi berduaan dengan lelaki ini, Pak. Dia mau berzina!" teriak Dini lantang.
Para bapak melongo tak percaya.
Kyara membeku mendengar tuduhan itu. "Tidak! Aku tidak berzina kalian salah paham. Dia in-
Namun Hesti memotong lagi, suaranya melengking nyaring. "Dasar menantu tidak tahu diri! Berani-beraninya kamu membawa laki-laki lain ke rumah ini! Tega sekali kamu mengkhianati putraku!"
Sementara Doni menatap Kyara dengan wajah penuh amarah, seolah benar-benar baru saja memergoki sesuatu yang memalukan. Di saat semua perhatian tertuju pada Kyara ... Hesti melirik cepat ke arah Wildan. Ia memberi isyarat kecil dengan matanya menuju dapur.
Wildan langsung mengerti. Tanpa banyak bicara, ia tiba-tiba berlari ke arah yang diisyaratkan Hesti.
"Hei! Jangan lari!" teriak salah satu bapak yang berdiri dekat kusen pintu.
Namun Wildan sudah lebih dulu melewati dapur dan keluar melalui pintu belakang sesuai apa yang diperintahkan Hesti.
Pintu itu langsung terbuka menuju jalan kecil di belakang rumah yang berbatasan dengan irigasi.
Para bapak langsung minta izin untuk masuk lebih jauh ke dalam rumah, menangkap lelaki itu.
Hesti mengiyakan.
Namun Wildan sudah menghilang.
Tak lama, tiga orang bapak tadi kembali ke ruang tamu.
"Mana bajingan itu, Pak?" geram Doni dengan wajah memerah.
"Dia berhasil kabur, Mas Doni. Larinya cepat sekali," jawab salah satu bapak berpeci putih.
"Sepertinya dia sudah sering ke sini. Makanya tahu jalan belakang," timpal yang lain.
Seketika, semua mata tertuju lagi pada Kyara yang berdiri dengan tubuh dan bibir gemetar. "Demi Allah, Mas ... aku tidak berzina dengan lelaki tadi. Ak-
"Cukup Kya!" Doni merentangkan telapak tangannya. "Aku tak sudi mendengar penjelasanmu." Telunjuk Doni kini mengacung tepat ke wajah Kyara. "Kurang apa aku selama ini, Kya?" Suaranya melemah, matanya berkaca-kaca. "Aku kerja banting tulang siang dan malam ... semua kulakukan untuk membahagiakanmu. Untuk memenuhi gaya hidupmu yang hedon itu. Kuserahkan semua gajiku untukmu, tapi apa ... apa balasanmu? Kau ... kau malah mengkhianatiku. Kau selingkuhi aku, Kyara!" Doni memainkan perannya dengan apik, sampai ia berhasil menitikan air mata.
"Nggak, Mas. Aku tidak melakukan itu. Kenapa kalian semua tidak mempercayaiku?" Suara Kyara bergetar, dadanya terasa sesak. "Lelaki tadi ingin bertem-"
"Diam, Kya! Diam!" Seolah takut ketahuan, Hesti segera menyela penjelasan Kyara. Wanita itu tiba-tiba meraung keras. "Pantas saja tadi kamu menolak saat kami ajak ke rumah Hilda ... ternyata ini alasanya. Kamu sudah janjian dengan pacar gelapmu!" Ia memegangi dadanya lalu bersandar dramatis ke tubuh Dini. "Kenapa aku punya menantu seperti ini?!"
Dini memeluk ibunya seolah menenangkan. "Sudah, Ma, sabar." Matanya ikut berkaca-kaca.
"Kenapa Masmu punya istri seperti dia, Din?" Raungan Hesti terdengar lagi. "Sudah mah pembangkang, boros, pemalas, tidak mau punya anak, dan kini ... dia selingkuh. Saling menindih di atas sofa ini!" jeritnya dengan air mata yang tumpah ke pipi kiri dan kanan.
Para tetangga dekat mulai berdatangan, termasuk RT setempat. "Ada apa ini, Mas Doni, Bu Hesti?"
Doni angkat bicara lagi. "Dia ..." Ia menudingkan telunjuknya lagi ke wajah Kyara. "Nyaris berzina dengan lelaki lain di rumah ini, Pak RT."
"Astagfirullah!" Pak RT mengusap dada, diikuti istrinya.
"Ya Allah ... Kya. Bener-bener ya kamu!" teriak Bu Leha ikut menghakimi. "Udah dikasih suami setampan, semapan dan sesempurna Doni, masih tetep aja nyari lelaki lain. Dasar perempuan nggak tahu diri!" makinya nampak emosi.
"Memalukan!" timpal salah satu bapak.
"Amit-amit, Mas Doni. Jangan-jangan dia sudah sering ditiduri oleh lelaki tadi." Yang lain ikut berkomentar, lebih tepatnya memprovokasi.
"Iya, ih. Naudzubillahi min dzalik. Bakal kena sial nih, area tempat tinggal kita kalau dia benar-benar sudah sering berzina di rumah ini!"
Keadaan di ruang tamu itu makin ricuh. Semua orang memojokan Kyara. Tak ada satu pun yang mau mendengarkan penjelasannya.
Namun Kyara tak putus asa, dia menjerit dengan sekuat tenaga. Dengarkan dulu penjelasanku!" Seketika, kericuhan itu berhenti. Mata semua orang kini makin tajam menatapnya. "Lelaki tadi datang mencari Mama Hesti. Dia bilang mau bertemu Mama!"
"Alah! Jangan banyak alasan kamu, Kya!" sentak Bu Leha ikut campur. "Pake mengambinghitamkan mertuamu. Kami semua tidak akan percaya lagi sama kamu. Dasar menantu edan!"
"Aku tidak sudi lagi punya menantu seperti kamu!" teriak Hesti menggema.
"Aku pun tak sudi lagi punya istri tukang selingkuh seperti kamu!" Doni melangkah maju satu langkah. Tatapannya dingin. Seketika ruang tamu itu mendadak hening.
Doni menatap Kyara dengan penuh kemarahan. Lalu dengan suara keras, ia berkata lantang. "Aku ... Doni Wiratama ..." Ia menarik napas. "Malam ini, menjatuhkan talak tiga kepada Kyara Nawasena."
Kyara langsung membeku. Kalimat itu jatuh seperti palu yang menghantam dadanya.
Semua yang berdiri di sana saling berpandangan. Perceraian itu baru saja terjadi. Di depan banyak saksi.
"Bagus, Don!" teriak Bu Leha tiba-tiba. "Wanita tukang zina seperti si Kyara memang harus diceraikan. Najis banget make memew yang udah dicicipi sama lelaki lain. Iuuhh, menjijikan!" lanjut Bu Leha sambil bergidik seperti orang mau muntah.
Yang lain ikut berbisik-bisik, bahkan Bu RT kini buka suara. "Makanya, Kya. Jadi wanita tuh harus pandai bersyukur. Allah sudah memberimu suami dan mertua yang baik. Eh ... ini malah disia-siakan. Jadinya begini kan, Allah ambil anugerah itu dengan cara memalukan."
Kyara hanya bisa berdiri terpaku dengan air mata mengalir di wajahnya, dunianya runtuh dalam satu malam. Semua orang mencaci maki dirinya. Mengata-ngatai jika dirinya adalah perempuan tukang zina.
Baru beberapa menit yang lalu ia duduk santai membalas komentar pembaca, merasa bahagia ... merasa tidak sendirian. Namun sekarang, rasa bahagia itu sudah tak ada. Belum sempat ia menata hati dari kehancuran, dengan suara keras dan tegas, Doni kembali berkata, "Keluar dari rumah ini sekarang juga!"
Kyara tersentak. Matanya yang basah menatap mantan suaminya dengan tidak percaya. "Mas ..." Suaranya nyaris tidak terdengar.
Namun Doni tidak memberi kesempatan. "Ambil semua barang pribadimu! Cepat!" bentaknya dengan mata tanpa belas kasihan.
Kyara menggeleng perlahan. "Kalian semua salah paham."
Namun Doni justru tertawa sinis. "Salah paham apa, hah?!" Mata Doni nyaris keluar dari tempatnya. "Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri ... kamu dan lelaki tadi sedang asyik tumpang tindih di atas sofa! Aku tidak buta, Kyara! Aku, Mama dan Dini melihat semuanya dengan jelas!"
Dini mengulum senyum, menikmati penderitaan Kyara. Sementara Hesti mendengus tajam. "Cepat pergi dari sini!" bentaknya. "Aku muak melihat wajahmu! Lagipula, kau sudah bukan menantuku lagi!"
Kyara memandang sekeliling ruangan. Tak satu pun yang berpihak padanya. Lalu dengan langkah berat, ia berbalik menuju kamar untuk mengambil barang-barang berharga miliknya. "Ya Allah ... ternyata firasat buruk yang kurasakan sejak subuh adalah ..." Suara batinnya tak terlengkapi, sebab terputus oleh air mata.
Setelah beberapa detik meratap, batin Kyara baru bersuara lagi. "Rumah tanggaku berakhir dengan cara paling menyakitkan dan memalukan."
Ia membuka pintu kamar dengan tangan gemetar. Kakinya seperti tak memijak lantai. Saat mengambil tas dan memasukan beberapa potong pakaian, ponsel serta dokumen penting ... pikiran Kyara masih terombang-ambing. Antara merasa ini mimpi ataukah kenyataan.
Tapi pikiran itu dipatahkan oleh kedatangan Doni yang kembali berteriak menggelegar. "Kembalikan kartu debitku!"
Kyara menoleh, mengambil dompetnya dari tas, lalu menarik kartu itu dan melemparkannya ke atas ranjang.
Doni mengambilnya dengan cepat. Matanya mendelik tajam penuh kebencian pada Kyara. "Buruan keluar! Kamu sudah buka siapa-siapa lagi di rumah ini!"
Kyara menenteng tasnya, mengayun langkah melewati tubuh Doni yang berdiri angkuh di dekat ranjang.
Tak lama setelah Kyara keluar dari kamar, Doni mengikutinya.
Tiba di ruang tamu, Hesti langsung menghadangnya. "Din, periksa tasnya! Mama nggak mau dia membawa barang berharga pemberian kakakmu. Mama tidak rela!"
Dini sigap menarik tas Kyara, membukanya dengan penuh semangat. Ia mengeluarkan semua isi tas itu, namun tak ada satu pun barang berharga, yang ada hanya pakaian kumal milik Kyara. "Aman, Ma. Nggak ada."
Hesti menyeringai. "Syukurlah. Bukannya aku pelit, tapi aku tidak ridha barang berharga yang dibelikan anakku dibawa oleh wanita tukang zina seperti dia, betul kan ibu-ibu, bapak-bapak?" Ia meminta persetujuan dan dukungan.
Tentu saja para ibu dan bapak menganggukkan kepala. "Betull!" Semua kompak mendukung.
"Kalau saya jadi Bu Hesti dan Mas Doni ... saya akan mengusir dia tanpa busana sekalian. Biar semua orang tahu, kalau dia wanita yang tidak benar!" Bu Leha kembali memanas-manasi. Selama ini, dia menjadi kaki tangan Hesti dalam menyebarkan gosip buruk tentang tabiat Kyara kepada para ibu yang lain.
"Sudah! Sudah!" Pak RT menengahi. "Kyara ... lebih baik sekarang kamu pergi! Dan jangan pernah kembali ke tempat ini lagi." Matanya menatap Kyara dengan penuh rasa jijik.
"Besok pagi, aku akan mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama. Semua itu biar menjadi urusanku. Silakan kau bersenang-senang dengan lelaki tadi!" Doni sengaja mengatakan hal itu, agar semua orang makin simpati padanya. Supaya semua orang memujinya sebagai suami yang sabar dan lapang dada.
Kyara menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah menuju pintu keluar. Ia mengeluarkan suaranya yang parau. "Asal kalian tahu ... aku tidak bersalah." Matanya berkilat. "Semua ini adalah fitnah." Semua orang malah mengolok-oloknya. Ada yang menjulurkan lidah, ada juga yang memutar bola mata. Tapi kali ini, Kyara tak berhenti. Meskipun tidak ditanggapi, ia tetap mengeluarkan suara lagi. "Satu hal yang harus kalian tahu ... Bahwa selama ini ... Doni dan keluarganya memperlakukanku seperti pembantu. Mereka sangat pelit. Doni bukan suami yang baik dan bertanggung jawab. Sudah lima tahun ini, dia tak pernah lagi memberiku nafkah. Gajinya setiap bulan ia gunakan untuk menyenangkan ibu dan adiknya. Mereka bertiga jahat, dan lihatlah oleh kalian semua ... suatu saat nanti ... kebenaran akan terungkap. Orang yang menjahatiku pasti akan mendapatkan balasan. Allah tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Dan Allah ... Maha Adil." Bersamaan dengan usainya perkataan itu, tiba-tiba petir menyambar, guntur menggelegar dan hujan pun turun dengan sangat deras.
hehehehe tertawa jahat 🤭🤭🤭