Aline gadis cantik yang berusia 23 tahun, tidak pernah menyangka saat ia menghadiri pesta adik tirinya menjadi sebuah bencana yang membuatnya harus kehilangan keperawanannya.
Puncak dunia Aline hancur saat ayahnya yang seharusnya mendukung dan melindunginya, dengan teganya mengusirnya dari rumah setelah mengetahui bahwa dia sedang hamil dan lebih memilih percaya pada istri dan adik tirinya.
Tidak berselang lama Aline akhirnya bertemu dengan pria yang tidur dengannya, akankah hidup Aline bahagia setelah memilih ikut dengan pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 23 HARI H
Keesokan harinya. Erlangga tidak main-main dengan perkataannya, ia sudah menyiapkan segalanya.
Pernikahan Erlangga dan Aline di gelar dengan meriah di sebuah hotel mewah. Undangan secara daring dan bercetak malam itu juga sudah tersebar luas oleh orang suruhan Kusuma Dewangga.
Pria paruh baya itu tidak main-main dengan ucapannya, bahwa ia tidak ingin pernikahan putra bungsu dan calon mantunya biasa saja.
Berita itu langsung tersebar luas, bahkan semua orang berdecak kagum dan juga iri pada sosok wanita yang akan masuk ke dalam keluarga Dewangga. Siapa yang tidak mengenal keluarga itu mereka orang yang dermawan memiliki bisnis di mana-mana dan beberapa rumah sakit.
Tidak sedikit orang yang mempertanyakan siapa wanita beruntung itu dan dari latar belakang keluarga mana.
Di dalam kamar hotel VIP, Aline yang sedang di dandani oleh penata rias. Melihat pantulan dirinya di depan cermin tampak tidak percaya dengan semua yang terjadi. Baginya ini seperti sebuah mimpi, laki-laki itu benar-benar menikahinya hari ini.
Ia mengenakan gaun Ball Gown berwarna putih yang tampak terlihat seperti putri kerajaan. Kecantikan yang terpacar dari wajahnya tidak pernah luntur.
"Masyaallah... pengantin wanitanya cantik sekali." puji salah satu penata rias tersebut.
Aline yang mendapatkan pujian itu seketika pipinya bersemu merah. "Mbak bisa saja." jawabnya sambil tersenyum ramah.
Tiba-tiba saja pintu kamar itu terbuka, seketika menampilkan kedua wanita yang berbeda usia, dan kedua wanita itu sebentar lagi akan menjadi ibu mertuanya dan juga kakak iparnya.
"Selamat ya, Nak. Semoga kedepannya kalian selalu hidup bahagia." ucap tulus Alya. Ia memegang kedua tangan menantunya dan duduk di sampingnya.
"Terima kasih... atas do'anya, Mommy." jawab Aline dengan senyum lebih lembut dari sebelumnya.
"Kakak ikut bahagia melihat kamu menikah dengan Erlangga." Suara Rara terdengar sangat antusias.
Aline mengangguk sopan. "Terima kasih, Kak."
Beberapa menit kemudian, setelah selesai bersiap kini Aline di bawa ke luar dari kamar hotel itu diampit oleh ibu mertuanya dan juga kakak iparnya.
Beberapa orang terpaku saat melihat Aline dengan balutan Ball Gown berwarna putih yang senada dengan tuksedo yang dikenakan Erlangga. Ia sangat terlihat cantik dengan wajah yang bercahaya.
Erlangga yang sedang duduk di hadapan bapak penghulu tidak bisa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari wajah Aline, membuatnya sampai tidak berkedip sama sekali.
Aline yang merasa diperhatikan dengan intens oleh Erlangga hanya bisa menundukkan kepalanya. Karena malu.
Di sudut lain, Reno yang menghadiri acara sang sahabat raut wajahnya tampak kusut. Namun, ia tetap menampilkan senyum tampannya seolah benar-benar sudah menerima takdir cintanya.
Aline mulai duduk di samping Erlangga, menatap pria yang berada di sampingnya hanya tinggal menunggu hitungan menit akan resmi menjadi suaminya.
Orang-orang yang menghadiri acara tersebut terlihat bahagia dan tidak sedikit dari mereka juga merasa iri dengan Aline.
Acara pun dimulai, bapak penghulu mulai membacakan serangkaian nasihat pernikahan tentang hak dan kewajiban sebagai suami/istri dan beliau juga mengajak do'a bersama membaca surah Al-fatihah, Istighfar, dan Syahadat.
Hingga akhirnya Bapak penghulu tersebut menjabat tangan Erlangga.
"Apakah sudah siap Pak Erlangga?" tanya Bapak Penghulu tersebut.
Erlangga manarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengangguk dengan tegas.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, saudara Erlangga Dewangga bin Kusuma Dewangga dengan saudari Aline Anastasia Prasetyo binti Dimas Prasetyo yang perwaliannya telah diwakilkan sepenuhnya kepada saya, dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat, sepasang cicin pernikahan dan lima puluh persen kekayaan Dewangga dibayar tunai." ucap tegas Bapak Penghulu dengan sekali tarikan napas.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya saudari Aline Anastasia Prasetyo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Suara Erlangga menggema di seluruh ruangan itu dan terdengar sangat tegas tanpa gugup sedikit pun.
"Bagaimana para saksi, sah?" tanya pak penghulu.
"Sah!" ucap mereka serempak, di samping Aline, ibu mertuanya dan juga kakak iparnya yang tampak paling keras menjawab kalimat itu. Sementara di belakang Erlangga ada kakaknya dan juga ayah pria itu.
Di sudut lain, Reno tertunduk lesu sambil menjawab kalimat itu dengan nada lirih.
"Allhamdulillah... Barakallahu laka wa baraka'alaika wa jama'a bainakuma fii khoir."
Setelah itu Erlangga meraih tangan Aline dan menyematkan cicin pernikahan mereka dijari manis wanita itu, begitu pun sebaliknya Aline juga melakukan hal yang sama.
Lalu Erlangga mengulurkan tangan kanannya kepada Aline.
Aline menerimanya sambil mencium punggung tangan pria yang sudah resmi menjadi suaminya dengan takzim tanda hormat kepada suaminya.
Tangan Erlangga terangkat dan ditempatkan di atas kepala Aline sambil mengucapkan serangkaian do'a untuk wanita yang sudah resmi menjadi istrinya.
"Allahumma inni as'aluka min khairihaa wa khairimaa jabaltahaa 'alaihi, wa au'dzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltahaa 'alaihi."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut ia langsung mencium kening Aline dengan penuh perasaan.
Beberapa gadis terlihat sedih melihat sang dokter impian mereka sudah menikah.
Rara memeluk adik iparnya dari samping sambil tersenyum lebar. "Selamat menempuh hidup baru, Dek."
Aline yang mendapatkan perlakuan tiba-tiba itu dari orang lain merasa tersentuh meski mereka baru saja saling mengenal entah kenapa ia merasa sangat nyaman berada didekat kakak iparnya itu.
Alya langsung memeluk menantunya dengan binar mata kebahagiaan. "Selamat, Sayang. Sekarang kamu bagian dari keluarga Dewangga."
Aline merasa terharu dengan semuanya. Keluarga Dewangga benar-benar sangat baik. Semenjak kepergian ibunya, Aline tidak pernah sama sekali terpikirkan bahkan dalam mimpi sekali pun bahwa ia akan memiliki keluarga yang begitu menerima keberadaannya.
Hari ini semuanya mulai berubah ia sudah menyandang status istri seorang Erlangga Dewangga. Pria yang banyak di kagumi oleh wanita dan tidak sedikit orang yang menjodohkan putrinya dengan pria itu.
Kini mereka mulai menyapa tamu satu persatu dan hanya menyisakan dirinya yang duduk sendirian di kursi pengantin.
Tiba-tiba Erlangga mendekat ke arahnya.
"Kamu lelah? Apa masih merasa mual?"
"Sedikit." Tidak dipungkiri bahwa ia mulai lelah dan merasa mual, apalagi saat menyapa para tamu yang berdatangan memberi ucapan selamat.
"Mau aku antar ke kamar untuk istirahat?"
Aline terdiam sejenak. Apa tidak apa-apa jika ia meninggalkan pesta itu, bagaimana jika ia membuat kesan buruk terhadap keluarga pria itu. Pikirnya.
"Kalau kamu sudah merasa tidak nyaman sebaiknya tidak perlu di paksakan, Aline."
Suara lembut dan penuh perhatian dari Erlangga malah membuat Aline semakin tidak enak hati jika meninggalkan pesta begitu saja.
Ia menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja, kamu nggak perlu khawatir."
Seram, Erlangga seram😬😬😬😬🤣
Semoga si Iblis bernama Anita itu, binasa aja🤣