NovelToon NovelToon
Tasbih Sangker

Tasbih Sangker

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Horor / Bad Boy
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Divya bharti

Zenix adalah gambaran sempurna dari seorang pemuda metropolitan yang tersesat dalam gemerlap dunia tampan, kaya, arogan, dan menyandang julukan "Pangeran Es" yang semena-mena. Namun, liburan semester yang melintasi perbatasan kota mengubah segalanya. Setelah mobilnya dihadang bandit, Zenix dan empat sahabatnya terbangun di kedalaman Hutan Sangker sebuah wilayah inti mistis yang terkenal sebagai istana demit yang paling dikutuk dan mematikan.
Di ambang kematian, sesosok roh putih menuntun mereka ke sebuah pondok bambu milik Anisa, seorang gadis berhijab yang hidup sebatang kara di tepi hutan angker. Keteguhan iman Anisa dan kemerduan suara tadarus subuhnya semalam suntuk tidak hanya mengusir mahluk gaib yang mengamuk, tetapi juga meruntuhkan hati dingin Zenix yang tak pernah tersentuh cinta.
Kembali ke kota, Zenix berjanji memantaskan diri. Di bawah iringan doa subuh Anisa dari kejauhan,.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Balik Kabut dan Kesunyian Taman

Suasana siang di taman area kampus terasa begitu sejuk di bawah rindangnya pepohonan flamboyan yang sedang bermekaran. Angin sepoi-sepoi bertiup lembut, menggugurkan beberapa helai kelopak bunga berwarna merah jingga ke atas hamparan rumput hijau yang rapi. Di salah satu bangku taman yang melingkar, tampak Zenix sedang asyik berkumpul dengan keempat sahabat setianya Deandra, Jovanka, Sasti, dan Susan.

Seperti biasa, rutinitas nongkrong mereka jauh dari kesan mewah. Di atas meja batu tergelar berbagai macam makanan dan minuman ringan hasil buruan dari minimarket terdekat beberapa botol teh kemasan, kopi kaleng, keripik kentang, dan beberapa bungkus roti sobek. Meskipun Zenix dan gengnya menyandang reputasi sebagai kelompok mahasiswa yang paling ditakuti, nakal, dan kerap terlibat keributan di jalanan, mereka memiliki prinsip hidup yang sangat rigid. Mereka memiliki batasan moral yang tegas geng Zenix tidak pernah sekalipun menyentuh barang-barang haram seperti narkoba, obat-obatan terlarang, ataupun minuman yang memabukkan. Kenakalan mereka hanyalah sebatas ego masa muda, balapan, dan pembangkangan aturan kampus, namun fisik dan jiwa mereka tetap bersih dari zat yang merusak kewarasan.

"Gila, ya. Kalau dipikir-pikir, udah beberapa bulan berlalu sejak kita tersesat di Desa Beringin Sakti," ujar Jovanka membuka obrolan sambil mengunyah keripik kentangnya dengan lahap. Pandangannya menerawang jauh. "Gua kadang masih sering kebayang gimana seremnya jalanan setapak di sana."

"Sama, Jovan," timpal Deandra yang duduk di sebelahnya sambil meneguk kopi kalengnya. "Tapi di balik seremnya, desa itu tenang banget. Suasananya bikin kangen, terutama pondok bambunya... dan tentu saja, si pemilik pondok." Deandra melirik Zenix dengan senyuman penuh arti yang sengaja disembunyikan.

Sasti yang sedang membuka bungkus roti mendadak menatap Zenix dengan rasa penasaran yang membuncah. "Eh iya, Zen. Ngomong-ngomong soal desa itu, gimana kabar Anisa sekarang? Lu masih tahu kabarnya, kan? Dia baik-baik saja di tepi Hutan Sangker yang horor itu?"

Zenix yang sejak tadi hanya diam mendengarkan sambil bersandar santai pada sandaran bangku, perlahan menegakkan tubuhnya. Tatapan matanya yang tajam melunak seketika saat nama gadis itu disebut. "Dia baik-baik saja. Sangat baik," jawab Zenix dengan nada suara beratnya yang terdengar sangat tenang dan pasti. "Selama ini kami berdua rutin bertukar pesan. Lewat surat."

"Hah?! Surat?!"

Suara pekikan kompak dari Sasti dan Susan seketika memecah kesunyian taman kampus. Kedua gadis itu melotot tak percaya, menghentikan aktivitas makan mereka dan menatap Zenix seolah-olah sang ketua geng baru saja mengaku telah berkomunikasi dengan mahluk planet lain.

"Bentar, bentar... telinga gua enggak salah dengar, kan?" Susan memajukan tubuhnya, menatap Zenix dengan intens. "Seorang Zenix Dirgantara... cowok paling anti sosial sama cewek, yang kalau ada mahasiswi centil ngedeket langsung ditatap kayak mau ngebunuh, sekarang rajin surat-suratan sama cewek desa? Sejak kapan lu bisa sedekat itu sama lawan jenis, Zen?!"

Sasti ikut menggeleng-gelengkan kepala keheranan. "Asli, ini rekor dunia. Sepanjang gua kenal lu dari zaman SMA, lu itu ibaratnya benteng es yang mustahil ditembus. Cewek secantik Jennie aja lu anggap kayak angin lalu. Ini beneran gara-gara gadis berhijab di tepi hutan itu?"

Melihat kepanikan dan keterkejutan kedua sahabat perempuannya, Jovanka dan Deandra yang duduk di seberang meja hanya bisa saling berpandangan lalu tersenyum lebar. Sebagai dua orang yang berada di baris terdepan saat Zenix pertama kali terpesona oleh suara tadarus subuh Anisa, mereka adalah pihak yang paling tahu bagaimana sifat asli Zenix. Jika seorang Zenix Dirgantara sudah menjatuhkan pilihan hatinya pada seseorang yang menurutnya tepat dan suci, maka seluruh dunia pun akan ia terobos demi mendapatkan restu.

"Udah, Sas, Sus, enggak usah lebay," kelakar Jovanka sambil terkekeh geli, melempari Nan dengan sebutir kacang. "Bos kita ini emang penampilannya aja yang kayak berandalan bad boy, tapi kalau soal urusan hati, sekali dia ngunci target yang bener, dia bakal jadi cowok paling setia se kecamatan."

Zenix hanya mendengus pelan mendengar godaan dari para sahabatnya, namun ia tidak membantah ucapan Jovanka. Ia kembali merogoh saku jaket kulitnya, memastikan ujung amplop cokelat dari Anisa tersimpan aman di sana, menjadi sumber ketenangan batinnya di tengah riuhnya dunia kota.

Namun, momen kehangatan di taman itu mendadak terusik ketika dari arah koridor utama, geng Jennie tampak berjalan mendekat. Jennie, yang hari ini mengenakan pakaian modis berwarna biru pastel namun dengan gurat wajah yang tampak pucat dan dipenuhi lingkaran hitam di bawah matanya karena kurang tidur, berjalan dengan langkah terburu-buru. Di belakangnya, Bella dan Lucy mengikuti dengan ekspresi cemas.

Mata pirang madu Jennie langsung mengunci sosok Zenix yang sedang duduk santai. Tanpa memedulikan tatapan tidak suka dari Sasti, Susan, Jovanka, maupun Deandra, Jennie langsung melangkah maju menerobos lingkaran bangku taman. Dengan gerakan cepat dan agak nekat, tangan Jennie yang dipenuhi perhiasan perak langsung menggenggam dan menarik lengan tegap Zenix yang terbalut jaket kulit hitam.

"Zenix, ikut aku sekarang. Ada hal sangat penting yang harus kita bicarakan. Secara pribadi. Cuma berdua," ucap Jennie dengan nada suara yang bergetar egois namun tersirat kepanikan yang mendalam di dalamnya.

Melihat tindakan kasar Jennie, Jovanka sudah bersiap untuk bangkit berdiri dan menegurnya, namun tangan Zenix bergerak memberikan isyarat agar sahabat-sahabatnya tetap tenang di tempat. Zenix menatap tangan Jennie yang mencengkeram lengannya, lalu beralih menatap wajah Jennie yang tampak tidak se pede biasanya.

Mengingat bahwa ia harus menyelesaikan urusan batasan di antara mereka agar tidak ada lagi gangguan di masa depan, Zenix akhirnya menghela napas pendek. Mau tidak mau, ia mengiyakan ajakan tersebut. "Oke. Lepaskan tanganmu, aku akan ikut," ujar Zenix dingin.

Zenix bangkit berdiri, merapikan jaketnya, lalu berjalan mengikuti Jennie menjauh dari area taman kampus menuju ke sudut koridor belakang gedung laboratorium yang sepi dan jarang dilalui oleh mahasiswa lain pada jam siang.

Begitu mereka tiba di sudut koridor yang sunyi di bawah bayangan pohon besar, Zenix langsung berbalik badan, melipat kedua tangannya di depan dada bidangnya, dan menatap Jennie dengan pandangan datar tanpa emosi. "Apa lagi yang mau kamu bicarakan, Jennie? Kalau ini soal surat kemarin, aku sudah tidak berminat membahasnya."

Jennie meremas kedua telapak tangannya sendiri yang terasa dingin dan berkeringat. Di dalam otaknya, rasa frustrasi karena empat orang preman sewaannya (Tigor dan kawan-kawan) hilang tanpa kabar sejak semalam sudah berada di ambang batas kewarasan. Namun, ia tidak sebodoh itu untuk mengaku di depan Zenix bahwa ia telah menyewa penjahat untuk menculik Anisa.

Jennie mengatur napasnya yang memburu, lalu membuka suara dengan nada yang berpura-pura santai namun terdengar kaku. "Zenix... aku cuma mau tanya soal kata-katamu kemarin di lorong kampus. Soal... tempat bernama Hutan Sangker itu."

Jennie menatap lekat-lekat sepasang mata tajam Zenix, mencoba mencari celah kebohongan. "Kamu kemarin bilang, kalau ada orang yang berniat jahat ke gubuk cewek itu, mereka harus berhadapan dengan mahluk-mahluk hutan. Apa... apa benar hutan itu se mengerikan itu? Apa benar di dalam sana ada penghuni gaib yang jahat, atau... atau ada istana demit seperti yang sering dirumorkan orang orang?"

Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Jennie, kilat kecerdasan langsung menyala di mata tajam Zenix. Sebagai pria yang memiliki intuisi kuat, Zenix langsung bisa mencium kejanggalan dari pertanyaan mendadak ini. Mengapa seorang gadis kota yang angkut dan sangat tidak percaya takhayul seperti Jennie, tiba-tiba datang menanyakan kebenaran mistis Hutan Sangker dengan wajah pucat dan tubuh yang sedikit gemetar?

Zenix tersenyum tipis sebuah senyuman dingin yang sarat akan misteri dan ironi yang membuat bulu kuduk Jennie mendadak merinding. Anting hitam di telinga kirinya tampak berkilat di bawah bayangan pohon.

"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya tentang hal itu, Jennie? Apa kamu baru saja mengirim seseorang ke sana dan mereka tidak kunjung kembali?" tanya Zenix dengan nada suara rendah yang berbisik, namun terdengar bagai hantaman palu di telinga Jennie.

Jennie tersentak, wajahnya kian memucat, namun ia buru-buru mengelak. "N-nggak! Aku cuma nanya karena penasaran aja! Jawab aja pertanyaanku, Zenix!"

Zenix memajukan langkahnya satu kali, membuat tubuh tingginya memberikan bayangan intimidasi yang besar di atas tubuh Jennie. "Dengar baik-baik, Jennie. Hutan Sangker bukan sekadar hutan tua ber pohon besar. Tempat itu adalah wilayah di mana logika kotamu tidak akan pernah berlaku. Di dalam sana, kegelapan malam bisa mewujud menjadi mahluk raksasa bermata merah dengan taring yang siap merobek siapa saja yang masuk dengan niat busuk. Roh-roh pendendam di sana tidak butuh uangmu, mereka hanya butuh jiwamu untuk dijadikan budak selamanya."

Zenix menatap Jennie dengan pandangan memperingatkan yang sangat tajam. "Siapa pun yang mencoba mengusik kesucian tempat itu dengan hati yang penuh kedengkian, mereka tidak akan pernah bisa keluar lagi untuk melihat matahari pagi. Alam di sana punya cara sendiri untuk melenyapkan para pendosa tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Jadi, saranku... tetaplah tinggal di kotamu yang nyaman ini sebelum kamu ikut terseret ke dalam kegelapan yang tidak akan pernah bisa kamu bayangkan."

Setelah mengucapkan kalimat panjang yang sarat akan teror kenyataan tersebut, Zenix berbalik arah tanpa menunggu respons dari Jennie yang kini berdiri mematung dengan bibir yang bergetar ketakutan.

Kebetulan sekali, dari arah gerbang luar, taksi pesanan Zenix yang akan mengantarnya pulang ke mansion telah datang dan membunyikan klakson pelan. Tanpa memedulikan Jennie yang masih shock menahan ketakutan atas nasib anak buahnya yang kini ia sadari telah lenyap selamanya di perut hutan, Zenix berjalan cepat menghampiri para sahabatnya untuk berpamitan, lalu segera masuk ke dalam kabin taksi dan pergi meninggalkan area kampus dengan perasaan bebas, menyerahkan segala keadilan pada takdir suci yang menjaga kekasih hatinya di ujung sana.

1
Harto Ninis
namanya sering tertukar thor, semangat 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!