Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.
Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.
Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.
Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.
Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.
Sistem 2Bit.
Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.
Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.
Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.
Padahal baru dimulai.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Matahari pagi di Desa Tidar tidak bersahabat. Cahayanya terik, menerpa alun-alun tanah yang sudah dipenuhi ratusan warga. Debu beterbangan setiap kali ada orang berdesakan. Bau keringat, asap rokok kretek, dan ketegangan menggantung tebal di udara.
Di tengah alun-alun, sebuah kursi kayu tua diletakkan. Di atasnya, Raka duduk. Tubuhnya masih sakit setiap kali bergerak, tapi dia memaksakan diri untuk tegak. Wajahnya pucat, bibir pecah-pecah, tapi matanya terbuka lebar. Menatap lurus ke depan.
Di sampingnya, berdiri Laras. Tangan di pinggang. Postur santai, tapi matanya menyapu kerumunan seperti elang yang mencari mangsa. Dia tidak terlihat takut. Malah, dia terlihat bosan.
Di seberang mereka, berdiri Keluarga Bima. Pak Hardo duduk di kursi rotan yang dibawa khusus, diapit oleh dua pengawal pribadinya. Wajahnya datar. Tidak ada emosi. Di sampingnya, Hendra dan Joko berdiri dengan dada busung, wajah penuh kemunafikan. Mereka memakai baju putih bersih, kontras dengan luka-luka palsu yang mereka tempel di wajah agar terlihat seperti "korban".
"Warga Desa Tidar!" seru Pak RT, tetua adat yang bertindak sebagai moderator sidang. Suaranya lantang, mencoba menguasai massa yang mulai ribut. "Hari ini kita berkumpul untuk menyelesaikan perselisihan antara Keluarga Bima dan Raka, pendatang baru. Tuduhan: Menggunakan ilmu hitam hingga menyebabkan Pak Bima koma."
Sorak-sorai marah langsung meledak.
"Usir dia!"
"Hukum dia!"
"Anak setan!"
Raka tidak bergeming. Napasnya pendek, tapi dia menahan rasa sakit di rusuknya. Dia tahu, berbicara sekarang sia-sia. Suara massa terlalu bising. Logika tenggelam dalam emosi kolektif.
Pak RT mengangkat tangan, meminta hening. "Silakan, Saudara Hendra, jelaskan kronologinya."
Hendra maju selangkah. Dia membersihkan tenggorokan, lalu mulai berakting. Air mata pura-pura menggenang di matanya.
"Malam itu," mulai Hendra dengan suara bergetar dramatis, "Kami hanya ingin menegur Raka karena sikapnya yang kurang ajar. Tapi tiba-tiba... udara menjadi dingin. Lampu padam. Dan dari tubuh Raka, keluar aura hitam pekat! Pak Bima mencoba melawan, tapi aura itu menyerangnya! Kami... kami hanya saksi bisu yang ketakutan!"
Joko mengangguk kuat-kuat di sampingnya. "Benar! Saya lihat sendiri! Mata Pak Bima membelalak, lalu jatuh pingsan! Raka tersenyum licik saat itu!"
Kebohongan itu lancar. Terstruktur. Dan karena disampaikan dengan emosi palsu yang meyakinkan, warga desa yang tidak tahu apa-apa langsung percaya. Kemarahan mereka memuncak. Beberapa orang bahkan mengambil batu, siap melempar Raka.
Laras menghela napas panjang. Terdengar jelas di tengah keheningan sesaat setelah tuduhan selesai.
"Selesai?" tanya Laras. Suaranya tidak tinggi, tapi tajam enough untuk membuat Pak RT dan Hendra menoleh.
"Ada apa, Nona Laras?" tanya Pak RT agak gugup. Dia tahu Laras bukan orang sembarangan, meski tidak tahu asal-usulnya.
Laras melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Berdiri tepat di depan Hendra. Jarak mereka hanya satu meter. Laras lebih pendek, tapi auranya jauh lebih mengintimidasi.
"Jadi, menurutmu," kata Laras pelan, matanya menatap tajam ke mata Hendra, "Aura hitam itu keluar dari Raka? Saat lampu padam?"
"I-iya!" gagap Hendra, mundur selangkah tanpa sadar.
"Lalu, kenapa kau dan Joko tidak pingsan?" tanya Laras. "Kalau auranya sekuat itu sampai bikin Pak Bima koma, seharusnya kalian yang paling dekat juga hancur. Tapi lihat yourselves. Luka lecet doang. Bahkan bajumu masih putih bersih. Tidak ada bekas terbakar aura hitam. Tidak ada tanda trauma spiritual."
Hendra berkeringat dingin. "Kami... kami punya tameng! Doa nenek moyang!"
"Tameng?" Laras tertawa kecil. Tawa yang dingin. Sinis. "Jadi kalian punya tameng doa, tapi Pak Bima yang notabene kepala keluarga, tidak punya? Atau mungkin... Pak Bima koma karena hal lain? Mungkin karena dia terlalu banyak bicara hal-hal yang tidak seharusnya diucapkan pada makhluk yang levelnya jauh di atas kalian?"
Kerumunan mulai bergumam. Argumen Laras masuk akal. Ada jeda logika di cerita Hendra.
Pak Hardo, yang dari tadi diam, akhirnya membuka mata. Tatapannya jatuh pada Laras. Bukan marah. Tapi... tertarik. Sedikit. Sangat sedikit.
Lidi, batin Pak Hardo. Gadis ini punya otak. Dan lidah yang tajam.
Hendra panik. Dia merasa sudutnya terpojok. "Itu... itu cuma teori! Faktanya Pak Bima koma setelah bertemu Raka! Itu bukti!"
"Bukti?" Laras mengangkat alis. "Buktinya mana? Siapa yang melihat aura hitam itu selain kalian berdua? Warga lain? Tidak ada. Hanya klaim sepihak dari dua orang yang punya motif untuk menyelamatkan diri dari kemarahan Keluarga Bima."
Laras berbalik, menghadap warga. Suaranya kini lebih lantang.
"Warga sekalian! Kalian mau menghakimi seseorang berdasarkan kesaksian dua pembohong yang ketahuan gugup? Atau kalian mau menunggu Pak Bima sadar dan memberikan keterangannya sendiri? Kalau kalian buru-buru menghukum Raka sekarang, dan nanti Pak Bima sadar lalu bilang hal berbeda, siapa yang akan minta maaf pada Raka? Kalian?"
Keheningan menyelimuti alun-alun. Keraguan mulai merayap di hati warga. Logika Laras sederhana, tapi efektif membongkar kerapuhan narasi Hendra.
Pak RT tampak bingung. Dia menoleh ke Pak Hardo, mencari petunjuk. "Bagaimana, Pak Hardo? Apakah kita lanjutkan hukuman?"
Semua mata tertuju pada Pak Hardo. Tetua yang diam. Penguasa bayangan di balik konflik ini.
Pak Hardo tidak langsung menjawab. Dia menatap Raka. Lalu menatap Laras. Lalu kembali ke Raka.
Dia melihat Raka yang duduk lemah, tapi tatapannya tidak menghindar. Dia melihat ketenangan aneh di mata pemuda itu. Bukan ketenangan orang bodoh. Tapi ketenangan orang yang sedang menghitung sesuatu.
Pak Hardo tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai matanya.
"Tunda," ucap Pak Hardo singkat.
"Hah?" Hendra terperanjat. "Tapi Pak..."
"Tunda sidangnya," ulang Pak Hardo, suaranya datar namun otoriter. "Pak Bima belum sadar. Kita tidak bisa menjatuhkan vonis final tanpa keterangan korban utama. Biarkan Raka tinggal di gubuknya. Di bawah pengawasan."
"Pengawasan?" tanya Pak RT.
"Ya. Hendra, Joko. Kalian berdua bertugas mengawasi Raka. 24 jam. Jangan biarkan dia kabur. Jangan biarkan dia bertemu siapa-siapa. Jika ada hal aneh, lapor langsung padaku."
Perintah itu terdengar seperti perlindungan, tapi sebenarnya adalah penjara halus. Raka dikucilkan. Dipantau terus-menerus. Tidak bisa bergerak bebas. Dan yang paling jahat: Penjaganya adalah musuh bebuyutannya sendiri.
Hendra dan Joko saling pandang. Mereka senang karena dapat tugas "resmi", tapi juga takut karena harus berdekatan dengan Raka lagi.
Laras menyipitkan mata. Dia tahu ini jebakan. Tapi dia juga tahu, ini satu-satunya cara Raka selamat dari amuk massa saat ini.
Raka akhirnya berbicara. Suaranya serak, tapi jelas. "Saya terima."
Pak Hardo mengangguk sekali. Lalu dia berdiri. Sidang bubar. Massa perlahan pulang, masih bergumam-gumam, masih curiga, tapi tidak lagi mengamuk.
Saat kerumunan mulai jarang, Laras mendekat ke telinga Raka.
"Kau selamat hari ini," bisiknya. "Tapi kau sekarang punya dua penjaga yang ingin melihatmu mati pelan-pelan. Rencana selanjutnya, Jenius?"
Raka menatap punggung Pak Hardo yang menjauh.
"Dia menguji saya," gumam Raka. "Dan saya lulus tahap pertama."
Laras mendengus. "Jangan terlalu pede. Tahap kedua biasanya lebih menyakitkan."
Mereka berjalan pulang ke gubuk. Diikuti dari jauh oleh dua pasang mata penuh dendam: Hendra dan Joko.
Tidak ada kotak biru. Tidak ada angka. Hanya rasa sakit di rusuk yang mengingatkan: Permainan baru saja dimulai.
Bersambung.