Leonardo De Luca adalah penguasa Madrid yang memiliki segalanya, kecuali masa depan. Di balik kemegahan tahtanya, ia menyimpan rahasia kelam tentang infertilitas yang membuatnya merasa seperti tanah gersang tanpa harapan akan pewaris. Baginya, garis keturunan De Luca telah menemui jalan buntu.
Hingga ia bertemu Olivia, seorang gadis penjual bunga yang hidup di antara harum kelopak dan ketabahan akar. Di mata Olivia, Leonardo bukanlah singa yang menakutkan, melainkan jiwa yang haus akan kehidupan. Pertemuan ini adalah awal dari sebuah keajaiban; tentang bagaimana cinta seorang penjual bunga mampu menumbuhkan benih kehidupan di celah batu karang yang paling keras sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tahanan di rumah sendiri
Leonardo mengira setelah diizinkan kembali ke ranjang utama, penderitaannya akan berakhir. Namun, janin di rahim Olivia tampaknya memiliki agenda lain. Seolah memiliki radar pendeteksi "dosa masa lalu" ayahnya, bayi itu memastikan Leonardo tidak sedetik pun merasakan kenyamanan yang absolut.
Siksaan fisik berubah menjadi siksaan psikis yang jauh lebih melelahkan.
"Leonardo, bangun," bisik Olivia pada pukul dua pagi, suaranya terdengar datar namun menuntut.
Leonardo, yang baru saja terlelap setelah seharian mengurus pembersihan sisa-sisa kartel di pelabuhan, langsung duduk tegak. "Ada apa? Perutmu sakit? Kontraksi?"
"Bukan. Aku tidak bisa tidur karena kau bernapas. Suara napasmu... seperti mesin uap tua. Itu membuat bayinya menendang rusukku terus-menerus," ucap Olivia sambil mengusap perutnya yang kini sudah terlihat jelas membuncit.
"Aku... aku harus berhenti bernapas agar kau bisa tidur?" Leonardo menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya. "Olivia, aku manusia, bukan patung marmer."
"Bayinya bilang kau berisik. Pergi ke pojok ruangan dan berdiri di sana sampai aku tertidur."
Leonardo menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang sangat pelan agar tidak dianggap "berisik". Pria yang ditakuti seluruh Madrid itu kini berdiri di pojok kamarnya sendiri, bersandar pada dinding dingin sambil memegang bantal, hanya karena seorang manusia kecil berukuran beberapa belas sentimeter tidak menyukai frekuensi napasnya.
Aroma Pengkhianatan
Puncak siksaan itu terjadi saat makan siang. Leonardo mencoba membawa hadiah untuk Olivia—sebuah vas kristal berisi bunga lili putih yang sudah dipastikan tidak memiliki aroma tajam. Ia ingin menunjukkan sisi lembutnya di depan ibunya dan Marco.
Namun, begitu Leonardo melangkah masuk ke ruang makan, Olivia langsung menutup hidungnya dengan serbet.
"Bau apa itu? Bau busuk apa yang kau bawa masuk?" pekik Olivia, matanya berkaca-kaca karena mual yang tiba-tiba menyerang.
Leonardo membeku. "Ini bunga lili, Olivia. Tidak ada aromanya."
"Bukan bunganya! Tapi kau! Kau bau... bau rencana pembunuhan! Aku mencium bau rencana jahat di jasmu!"
Marco, yang sedang berdiri di dekat pintu, tidak bisa lagi menahan diri. Ia harus memalingkan wajah ke arah dinding, bahunya bergetar hebat karena tawa yang sudah sampai ke tenggorokan. Donna Isabella bahkan harus meletakkan cangkir tehnya karena tangannya gemetar menahan tawa.
"Olivia, aku baru saja dari rapat bisnis legal! Tidak ada rencana pembunuhan!" protes Leonardo, merasa harga dirinya jatuh ke titik terendah.
"Bayinya tidak suka bau ambisimu. Pergi mandi dengan sabun stroberi yang kubeli kemarin. Sekarang!" perintah Olivia tanpa kompromi.
Leonardo menoleh ke arah Marco. "Marco, satu kata saja keluar dari mulutmu tentang sabun stroberi, dan aku akan memastikan kau tidak akan pernah melihat matahari lagi."
"Siap, Tuan... stroberi... maksud saya, siap!" sahut Marco dengan suara yang serak karena menahan tawa yang meledak.
Sang Singa yang Tak Berdaya
Sore harinya, Leonardo ditemukan oleh ibunya sedang duduk di kursi taman, jauh dari Olivia, sambil mengendus ketiaknya sendiri dengan wajah bingung.
"Kau benar-benar melakukan itu, Leo?" tanya Isabella sambil mendekat, senyum jenaka masih menghiasi wajahnya.
"Dia bilang aku bau ambisi, Bunda. Bagaimana mungkin seseorang bisa mencium bau ambisi?" keluh Leonardo frustrasi. "Anak ini... dia tahu persis bagaimana cara melucutiku. Dia membuatku merasa seperti pelayan di rumahku sendiri."
"Itu karena kau terlalu keras selama ini, Leo. Anakmu hanya ingin memastikan bahwa saat dia lahir nanti, ayahnya adalah seorang pria yang lembut, bukan monster yang hanya tahu cara memegang senjata," Isabella menepuk bahu putranya.
Leonardo menatap ke arah jendela kamar atas, di mana ia bisa melihat bayangan Olivia yang sedang beristirahat. Penyesalan dan rasa sayang bercampur menjadi satu. Siksaan ini memang berat, melelahkan, dan menjatuhkan martabatnya sebagai pemimpin klan.
Namun, setiap kali ia melihat Olivia tersenyum setelah ia menuruti keinginan "ajaib" bayinya, Leonardo merasa hukuman ini sepadan. Sang Singa Madrid kini telah resmi menjadi tahanan rumah bagi seorang mawar Inggris dan seorang pewaris kecil yang tampaknya belum mau berhenti memberikan pelajaran tentang kerendahan hati kepada ayahnya.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...