NovelToon NovelToon
Cinta Sang Ratu Bayangan

Cinta Sang Ratu Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:533
Nilai: 5
Nama Author: vier08

Elena, pembunuh bayaran terbaik dari Klan Bayangan, terpaksa menikahi Pangeran Arlon yang dikenal lemah demi sebuah misi rahasia. Rencananya sederhana, yaitu menyamar, selesaikan misi, lalu menghilang.

Namun, semua berubah saat serangan terjadi di malam pertama mereka. Elena tertegun melihat sang Pangeran Tak Berguna justru menghabisi musuh dengan tangan kosong secepat kilat.

Kini, keduanya terjebak dalam sandiwara besar. Di siang hari mereka adalah pasangan yang malang, namun di malam hari, mereka adalah duet maut paling mematikan.

"Kau dikirim untuk menjaga nyawaku, tapi kau justru mencuri hatiku. Jadi, jangan harap bisa pergi setelah ini. Aku akan melakukan apa pun, bahkan membakar istana ini, asal kau tetap menjadi milikku." _Arlon Belmont.

Di dunia di mana cinta lebih berbahaya daripada racun, sang Pangeran Kegelapan tidak akan membiarkan istrinya pergi begitu saja, bahkan jika dia harus membakar seluruh istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vier08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEBERUNTUNGAN

Arlon menangkis sisi kapak itu hanya dengan telapak tangannya.

BHUK

Bunyi logam beradu dengan kulit itu terdengar sangat aneh, seolah-olah tangan Arlon terbuat dari baja.

Seluruh aula mendadak hening, bahkan Ratu Selena sampai berdiri dari duduknya karena terkejut.

"Apa yang terjadi? Dia menangkisnya?" bisik Arkan, wajahnya berubah pucat.

Arlon segera melepaskan sentuhannya dari Elena dan berpura-pura jatuh terduduk sambil memegangi dadanya, terengah-engah hebat.

Bruk

"Uhukk! Uhukkk! Keberuntungan... itu tadi cuma keberuntungan," gumam Arlon dengan wajah yang kembali memucat pasi.

Si petarung Vale terlihat bingung, dia menatap kapaknya yang sedikit rusak di bagian samping, lalu menatap Arlon yang sedang sekarat di depannya.

"Kau! Apa yang kau lakukan tadi?" bentak petarung itu.

Elena segera masuk ke arena tanpa izin, berlari ke arah Pangeran Arlon, yang tergeletak.

"Cukup! Suamiku sudah tidak kuat! Dia hanya menangkis karena insting bertahan hidup! Kalian ingin membunuhnya di sini?!" teriak Elena, menatap tajam semua orang.

Elena memeluk pundak Arlon dari belakang, menutupi wajah Arlon yang sedang menyeringai puas di balik bahunya.

Saat tangan Elena melingkar di dadanya, Arlon bisa merasakan kekuatannya kembali stabil dan siap untuk satu serangan kejutan lagi.

"Elena, tarik dia keluar!" perintah Raja Alaric dengan nada bosan.

"Dia sudah menunjukkan kalau keberuntungannya masih ada. Cukup sampai di sini," lanjut Raja Alaric, dingin.

"Tapi Ayahanda, pertandingan belum selesai!" protes Arkan, tidak puas dengan hasil nya, karena tidak sesuai rencana.

"Aku bilang cukup, Arkan! Aku tidak ingin ada mayat pangeran yang mengotori aula ini di depan tamu dari Vale," jawab Raja dengan tegas.

Elena menarik Arlon untuk berdiri, saat mereka berjalan keluar dari arena, si petarung dari Vale itu masih menatap tangannya yang tadi beradu dengan Arlon, dia merasa tangannya masih kesemutan hebat.

Begitu mereka sampai di lorong yang sepi menuju paviliun, Arlon melepaskan aktingnya sedikit.

"Hampir saja, kalau kamu tidak sigap menaruh tanganmu di pagar tadi, kepalaku sudah jadi semangka belah," ucap Arlon sambil terkekeh pelan.

"Jangan bercanda! Tadi itu berbahaya, Arlon!" ucap Elena menyikut rusuk Arlon dengan kesal.

"Pria tadi bukan petarung biasa, tatonya itu sihir penambah beban, tiap ayunannya beratnya sama dengan satu ton batu," lanjut Elena, mengingat lawan Arlon tadi.

"Pantas saja rasanya panas sekali," gumam Arlon, berhenti berjalan dan menatap Elena yang wajahnya masih terlihat sangat khawatir.

"El, kenapa kamu kelihatan panik sekali? Bukannya aku ini cuma bagian dari misi mu?" tanya Arlon, suaranya berubah lembut dan menggoda.

Elena terdiam, wajahnya memerah seketika, dia memilih membuang muka dan berjalan lebih cepat.

"Tentu saja! Kalau kamu mati konyol gara-gara kapak berkarat, misi ku gagal dan siapa yang bakal bayar aku nanti?!" ucap Elena, dengan wajah jutek nya.

Arlon tertawa pelan, dia mengejar langkah Elena dan langsung merangkul bahu wanita itu, dengan posesif.

"Kalau begitu, jaga misi mu ini baik-baik ya, Nyonya Elena, karena aku merasa, malam ini Ratu Selena bakal ngirim sesuatu yang lebih parah dari sekadar petarung bertato itu," bisik Arlon, mencuri ciuman di pipi Elena.

Cup

"Aku tahu," jawab Elena singkat, tapi dia tidak melepaskan rangkulan Arlon.

"Makanya, nanti malam kita latihan lagi, tapi kali ini, aku mau kamu yang pegang kendali. Jangan cuma nyerap, tapi kamu harus bisa membagi energinya," lanjut Elena, melirik Arlon, tegas.

"Siap, My Queen," jawab Arlon, tersenyum lebar.

Di kejauhan, dari balkon lantai dua istana, Ratu Selena menatap mereka dengan tangan yang meremas pagar balkon sampai kuku jarinya memutih.

"Gadis itu, dia bukan gadis desa biasa, cari tahu asal-usul Elena sebenarnya sekarang juga!" perintah Ratu pada bayangan di belakangnya.

"Baik, Yang Mulia," jawab sebuah suara misterius sebelum menghilang.

Langkah Elena dan Arlon akhirnya sampai di depan pintu paviliun Bintang. Begitu pintu tertutup dan kunci diklik, Arlon langsung ambruk, dia tidak jatuh ke lantai karena Elena dengan sigap menahan ketiaknya, menyeret pria itu menuju tempat tidur.

Tanpa buang-buang waktu lagi, Elena segera membuka jubah luar Arlon, memeriksa telapak tangan kiri pria itu yang digunakan untuk menangkis kapak tadi.

Benar saja, kulit telapak tangan Arlon memerah dan ada bekas hitam seperti terbakar.

"Ini namanya nekat, bukan akting, Arlon," gumam Elena. Dia menempelkan telapak tangannya di atas luka Arlon, cahaya biru redup mulai keluar dari sela-seli jarinya.

"Aw! Pelan-pelan, El. Itu perih," keluh Arlon meringis.

"Tahan sebentar, racun dari tato sihir pria Vale itu mulai meresap ke pembuluh darahmu. Kalau tidak segera dibersihkan, tanganmu bisa lumpuh besok pagi," jelas Elena tanpa mengalihkan pandangan.

Arlon menatap wajah Elena yang begitu serius, jarak mereka sangat dekat, sampai dia bisa mencium aroma wangi dari rambut Elena.

"Kamu tahu banyak soal sihir terlarang dari kerajaan luar ya? Gadis desa dari mana yang paham soal tato kutukan Vale?" tanya Arlon, pelan.

Elena terhenti sejenak, matanya melirik Arlon tajam.

"Sudah kubilang kan, aku ini bayangan. Bayangan itu ada di mana-mana, termasuk di perpustakaan gelap para penyihir hitam kalau memang perlu," jawab Elena, datar.

"Rahasia lagi, baiklah, aku tidak akan tanya lebih jauh untuk sekarang," ucap Arlon terkekeh, meski dadanya masih terasa sesak.

Setelah beberapa menit, warna kemerahan di tangan Arlon memudar. Elena menarik tangannya, wajahnya tampak sedikit pucat karena baru saja menguras banyak energi nya.

"Kenapa? Kamu lemas?" tanya Arlon, kali ini nadanya benar-benar khawatir, bukan menggoda.

"Hanya lapar, energi yang kuberi padamu tadi itu hampir setengah dari energi ku," jawab Elena sambil mengusap keringat di dahinya.

"Dan kamu dengan tidak tahu dirinya malah membuangnya hanya untuk pamer kekuatan satu detik," lanjut Elena, mendengus.

"Itu perlu, El. Kalau aku cuma menghindar terus, Ratu tidak akan merasa terancam, aku butuh dia merasa tidak tenang agar dia melakukan kesalahan," ucap Arlon meraih tangan Elena, menarik gadis itu agar duduk di sampingnya.

"Makanya, kita harus melakukan penyatuan energi lebih dalam, bukan cuma aku yang menyalurkan, tapi kamu harus belajar menariknya sendiri dari tubuhku saat kamu butuh," ucap Elena, menatap Pangeran Arlon.

"Terdengar sangat, menyenangkan dan manis," ucap Arlon menaikkan sebelah alisnya.

"Pikiranmu itu tolong dibersihkan dulu! Ini soal aliran nadi, bodoh! Kita akan bermeditasi saling berhadapan, kalau kamu salah tarik, jantungku yang berhenti. Kalau aku terlalu banyak kasih, jantungmu yang meledak. Mau coba?" ucap Elena, mendengus kesal.

"Selama yang pegang kendali itu kamu, aku rasa aku akan baik-baik saja," jawab Arlon, mengedipkan sebelah matanya."Jangan terlalu percaya padaku, di dunia ini, satu-satunya orang yang tidak akan mengkhianatimu adalah dirimu sendiri," ucap Elena dingin.

"Mungkin benar," gumam Arlon pelan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!