Semua berawal dari malam ia melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan. Dia dan ibunya berlari terpisah di tengah kekacauan kota. Karena terburu-buru, sang ibu tak menyadari bahwa ia tertinggal.
Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tersesat, berlari tanpa arah di lorong-lorong gelap yang asing. Dan sialnya, di setiap ujung jalan, bayang-bayang prajurit mulai mengepungnya.
Tepat sebelum tangan kasar seorang prajurit menyentuh kerah bajunya, tiba-tiba mereka berjatuhan. Satu per satu, tanpa suara. Sany berdiri di depannya, dengan ujung jari telunjuk masih teracung ke depan.
Setelah mengantarnya ke tempat yang aman, Sany memberinya beberapa emas dan pergi begitu saja. Tanpa nama. Tanpa alasan. Tanpa janji.
Tapi dia, tak akan pernah melupakan siapa yang menyelamatkannya malam itu.
Dan suatu saat nanti... ia yakin akan menemukan bertemu lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi rahasia
Keesokan harinya.
Will terbangun di penginapan. Cahaya matahari pagi masuk melalui sela-sela tirai jendela, jatuh ke lantai kayu yang sudah sedikit usang.
Untung saja, ia sudah menyewa kamar ini kemarin untuk beberapa hari. Jadi tidak perlu pusing mencari tempat menginap lagi di pagi hari yang lelah begini.
Ia duduk di tepi kasur. Badannya masih terasa pegal. Tapi setidaknya, ia bisa tidur tanpa mimpi buruk.
Tiba-tiba, batu komunikasi di samping bantalnya bergetar.
Will menoleh. Batu itu ada di sana, padahal ia yakin sudah menyimpannya di dalam kantong.
Entah bagaimana caranya, batu ini bisa ada di luar, muncul begitu saja, seolah-olah ia memang ingin didengar.
Will mengambilnya.
"Kak Aisa?"
"Will. Ada yang ingin kubicarakan,"
Suara Aisa terdengar serius. Tidak seperti biasanya.
"Ada apa, Kak?"
"Kau harus menyelamatkan Reno dari penjara,"
Will mengerjap. "Reno? Tapi kenapa?"
"Dia salah satu orang yang harus kau cari. Kau butuh dia,"
Will terdiam. Ia ingat kertas pemberian Lola untuk mencari dua nama. Clara sudah bergabung, tinggal Reno yang masih di penjara Provinsi Estburg.
"Sekarang?" tanya Will.
"Iya. Kapan lagi?"
"Tapi... aku tidak tahu di mana Provinsi Estburg itu,"
Diam sejenak.
"Aku ada ide,"
Aisa memberitahu idenya dengan detail. Suaranya pelan, terstruktur, seperti sudah dipikirkan matang-matang.
Will mendengarkan dengan saksama, mengangguk-angguk sendiri.
"Oh... aku bisa melakukannya,"
Ia menghela napas.
"Kalau begitu, aku bersiap dulu, Kak,"
"Hati-hati, Will. Jangan ambil risiko yang tidak perlu,"
"Baik, Kak,"
Batu itu dingin kembali.
Will berdiri.
Ia membuka lemari, mengambil pakaian ganti dari ruang penyimpanan lewat kantong. Jaket merahnya yang masih berlumuran tanah hutan, perlu dicuci. Tapi tidak ada waktu.
Ia berganti pakaian, merapikan rambutnya, dan memastikan pita biru di sisi kiri kepalanya masih rapi.
Hari ini... menyelamatkan Reno.
Entah bagaimana caranya.
Will keluar kamar, berjalan ke meja depan untuk sarapan. Perempuan pemilik penginapan tersenyum seperti biasa.
"Pagi, Nak. Mau sarapan?"
"Pagi, Kak. Iya, seperti biasa,"
Will duduk di meja dekat jendela. Sepiring bubur hangat dan segelas teh datang.
Ia makan perlahan, pikirannya mulai menyusun rencana.
Setelah sarapan.
Will baru saja selesai mencuci piring dan gelasnya ketika sesosok perempuan melangkah masuk ke penginapan.
Will mengenalinya.
Kerudung menutupi kepala. Wajahnya hanya terlihat sedikit. Tapi cara berjalannya, pelan, ringan, hampir tanpa suara, sama persis dengan kemarin.
Wanita yang memberi apel hitam.
Will tahu dia harus siap. Tapi dia juga harus bersikap normal. Tidak boleh terlihat curiga. Tidak boleh terlihat takut.
"Hai, nak,"
Wanita itu berdiri di samping mejanya. Tangannya menggenggam sebuah apel, hitam pekat, sama seperti kemarin.
"Kau meninggalkan apelmu kemarin,"
Ia meletakkan apel hitam itu di atas meja, di depan Will.
Will menatap apel itu. Hitam. Dingin. Sama persis.
"Oh, iya. Makasih sudah diingatkan," balas Will dengan ramah. Senyumnya terlihat alami.
Ia mengambil apel itu. Menciumnya sebentar. Wangi. Anehnya wangi. Seperti buah biasa, tapi ada aroma lain yang tidak bisa ia kenali.
Kemudian, Will memakan apel hitam itu sampai habis.
Daging buahnya hitam. Airnya hitam. Lidahnya terasa dingin. Tapi rasanya... manis. Seperti madu. Seperti sesuatu yang membuatnya ingin makan lebih banyak.
Ia menghabiskan apel itu. Tinggal bijinya di telapak tangan.
Wanita itu tersenyum.
"Bagus,"
Ia berbalik.
"Sampai jumpa, nak,"
Lalu pergi meninggalkan Will.
Will duduk diam di mejanya. Ia menatap biji apel hitam di tangannya.
Tidak ada yang terjadi, atau mungkin belum.
Ia menggenggam biji itu, menyimpannya ke dalam kantong, lalu berdiri.
"Sekarang... ke Guild," pikirnya.
Will mulai keluar dari penginapan. Begitu kakinya melangkah keluar pintu, ia sudah melihat Clara berdiri di samping tiang kayu di depan penginapan.
Tangan kanannya memegang pisau kecil yang biasa ia bawa. Wajahnya tenang, seperti sudah menunggu cukup lama.
"Ayo, Will. Kita temui resepsionis Guild," ucap Clara yang suaranya terdengar sabar, tidak terburu-buru.
Will mendekatinya. Matanya bergerak cepat ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada orang yang mendengar.
"Tunggu. Ada yang mau kuberitahu sebelumnya,"
Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Clara, lalu mulai berbisik.
Hanya beberapa detik. Tidak ada yang terdengar oleh orang lain yang lewat. Tapi wajah Clara berubah, dari tenang menjadi serius, lalu menjadi paham, lalu mengangguk kecil.
"Aku setuju. Ayo kita temui resepsionis,"
Clara berjalan lebih dulu. Will mengikuti.
Entah apa yang dibisikkan Will sehingga Clara menyetujuinya. Tapi dari cara mereka melangkah cepat, tegas, tidak seperti orang yang baru bangun tidur, sepertinya rencana itu sudah matang.
Matahari pagi mulai meninggi.
Jalanan semakin ramai.
Will dan Clara berjalan berdampingan menuju Guild.
Sesampainya di Guild.
Suasana di dalam masih sama seperti biasa, ramai, berisik, orang-orang lalu lalang membawa kertas misi.
Tapi Will dan Clara tidak menghiraukan siapa pun. Mereka langsung berjalan menuju meja resepsionis.
"Hai, Nak. Siap untuk misi baru?" ucap resepsionis dengan senyumnya yang ramah, suaranya ceria, seperti tidak melakukan kesalahan kemarin.
Clara tersenyum. Senyum manis. Tapi matanya dingin.
"Kami tidak mau,"
Resepsionis itu terdiam sejenak. "Ha? Kenapa?" Suaranya agak terkejut. Mungkin tidak menyangka penolakan sesederhana itu.
"Maaf, kami ada urusan di Provinsi Estburg. Kami ke sini hanya untuk melapor saja," jawab Clara, masih dengan senyum yang sama.
Resepsionis terlihat panik. Matanya bergerak cepat, seperti sedang mencari kata-kata. Tangannya di bawah meja, mungkin mengepal, atau gemetar.
Ketua menyuruhnya menggunakan segala cara untuk membujuk mereka.
Will melihat perubahan itu. Ia bisa merasakan kegelisahan dari balik meja.
"Tunggu,"
Resepsionis itu berdiri. Tangannya menekan meja.
"Kalian tidak bisa asal masuk ke Provinsi Estburg,"
Will dan Clara berbalik.
"Kenapa?" tanya Will.
"Penjagaannya ketat. Nanti kalian akan ditangkap,"
Suara resepsionis terdengar serius. Bukan ancaman. Tapi peringatan.
Clara menyilangkan tangan.
"Lalu? Apa saranmu?"
Resepsionis itu menarik napas. Ia menatap Will, lalu Clara, lalu kembali ke Will.
"Aku bisa membantu kalian masuk,"
Will mengerjap. "Bagaimana?"
"Tapi kalian harus melakukan satu misi untuk kami,"
Clara hendak menolak, tapi Will menahan lengannya.
"Misi apa?"
"Tidak tahu. Tapi bukan misi rank A yang membahayakan,"
Diam sejenak.
Will menatap Clara.
Clara menatap Will.
"Baik," jawab Will akhirnya.
Resepsionis itu menghela napas lega.
"Tunggu di sini. Aku ambil peta dan surat izin,"
Ia berbalik dan berjalan ke pintu belakang.
Will dan Clara berdiri di depan meja, saling berpandangan.
"Kita benar-benar akan percaya padanya?" bisik Clara.
"Kita tidak punya pilihan. Lagipula, dia juga butuh kita,"
"Bagaimana kau tahu, dia butuh kita?" tanya Clara.
"Dari sikapnya," jawab Will dengan bisik.
Bersambung...