NovelToon NovelToon
Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance / Komedi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

Begitu pintu ruangan CEO tertutup rapat dan bunyi klik pengunci otomatis bergema, Sheila tidak lagi berpura-pura menjadi asisten yang profesional. Ia melangkah tertatih menuju sofa panjang di pojok ruangan, lalu menjatuhkan dirinya dengan posisi tengkurap, menenggelamkan wajahnya di bantal sofa yang empuk.

"Aduhh... pijitin! Sakit tau!" rengek Sheila, suaranya teredam bantal namun nada protesnya terdengar sangat jelas. "Ini gara-gara kamu nggak ada remnya semalam di vila. Aku belum dinikahin saja kamu sudah brutal gini, Jeremy!"

Jeremy yang tadinya sedang menyesap kopi di balik meja kerjanya langsung meletakkan cangkirnya. Ia terkekeh rendah, suara tawa maskulin yang terdengar sangat puas. Ia berdiri, melepas jas abu-abunya dan menyampirkannya di sandaran kursi, lalu menggulung lengan kemeja putihnya hingga ke siku. Langkahnya yang mantap mendekati sofa, menatap "korban" keganasannya semalam dengan binar mata yang penuh kasih sekaligus nakal.

"Ululu... Sayangku sayang sekali waktunya terbuang," goda Jeremy, mengulang kalimat sandi mereka di depan Nilam tadi. Ia duduk di tepi sofa, tepat di samping pinggul Sheila. "Sakit banget, hm? Padahal semalam kamu nggak bilang 'rem', malah bilang 'lagi'."

"Jeremy! Mulut kamu!" Sheila memutar kepalanya, menatap Jeremy dengan mata melotot namun pipinya merah padam. "Itu kan karena aku... ah, sudahlah! Pokoknya ini pinggang sama paha aku rasanya mau copot. Tadi Nilam sampai curiga liat cara jalan aku yang aneh."

Jeremy tidak membalas lagi dengan kata-kata. Tangan besarnya yang hangat mulai mendarat di pinggang Sheila. Dengan teknik yang cukup ahli, ia mulai memberikan pijatan lembut namun bertenaga di otot-otot Sheila yang kaku. Jemarinya menekan titik-titik pegal dengan ritme yang teratur.

"Ssshh... ah, pelan-pelan, Jer," rintih Sheila, namun perlahan ia mulai menikmati sentuhan itu. Tubuhnya yang tadi tegang karena menahan malu di depan staf lain, kini mulai rileks di bawah kendali tangan Jeremy.

"Makanya, makanya... cepat-cepat mau aku nikahin saja gimana? Biar kalau jalan kamu aneh begini, orang kantor nggak bakal nanya lagi. Mereka bakal maklum kalau Pak CEO habis 'lembur' sama istrinya," bisik Jeremy. Ia menunduk, memberikan kecupan-kecupan ringan di bahu Sheila yang tertutup blus tipis.

"Enak saja! Urus dulu tuh Papa kamu yang kayak singa lapar," balas Sheila, suaranya kini terdengar lebih santai karena rasa pegalnya mulai berkurang. "Tadi pagi pas jemput, muka kamu masih tegang banget gara-gara Malik sama Papa. Sekarang kok sudah bisa bercanda soal nikah?"

Pijatan Jeremy sempat terhenti sejenak, namun ia segera melanjutkannya. "Karena buat apa aku pusing mikirin mereka kalau sumber kebahagiaanku sudah ada di depanku? Malik itu masa lalu yang nggak punya nyali, dan Papa... Papa cuma butuh waktu buat sadar kalau anaknya nggak bisa hidup tanpa asistennya yang galak ini."

Jeremy mengalihkan pijatannya ke area betis Sheila, memijat otot kaki yang tadi harus menopang tubuh Sheila saat berjalan kaku di koridor. Ia melakukan semuanya dengan penuh perhatian, seolah-olah ia sedang merawat harta karun yang paling berharga di dunia.

"Jer..." panggil Sheila pelan.

"Hm?"

"Beneran ya, jangan brutal lagi kalau belum sah. Aku nggak mau tiap Senin pagi harus dituduh Nilam habis ehem-ehem terus," Sheila membalikkan tubuhnya perlahan, kini ia berbaring terlentang, menatap Jeremy yang sedang berjongkok di samping sofa.

Jeremy menatap mata Sheila dengan intensitas yang sanggup meluluhkan es di kutub utara. Ia meraih tangan Sheila, menciumi telapak tangannya satu per satu. "Aku nggak janji bisa ngerem kalau kamu secantik itu, Shei. Tapi aku janji, secepatnya aku bakal kasih kamu marga Nasution. Biar Nilam, Toni, bahkan Papa sekalipun nggak punya hak buat ngatur-ngatur kita lagi."

Sheila tersenyum manis, senyum yang membuat semua rasa pegal dan lelahnya menguap begitu saja. Ia menarik leher Jeremy agar pria itu mendekat, lalu memberikan kecupan singkat di hidung mancungnya. "Ya sudah, lanjutin pijitnya. Jangan modus mau yang lain dulu, ini masih jam kantor!"

"Dih, yang mulai duluan siapa, yang ngelarang siapa," gerutu Jeremy sambil tertawa, namun ia tetap melanjutkan tugasnya sebagai "tukang pijat pribadi" sang asisten.

Di luar ruangan, suasana kantor masih sibuk dengan hiruk-pikuk pekerjaan. Tak ada yang tahu bahwa di dalam ruangan megah itu, sang CEO yang ditakuti ribuan orang sedang berlutut di samping sofa, dengan tulus memijat kaki asistennya sambil membicarakan masa depan yang penuh rintangan namun indah.

***

Sore itu, koridor lantai eksekutif sudah mulai sepi, namun ketegangan di area depan lift justru mencapai titik didih. Sheila berdiri bersandar di dinding marmer, berusaha menahan tawa saat Jeremy menceritakan kejadian konyol salah satu manajer cabang yang salah mengirim email laporan ke grup WhatsApp keluarga besarnya.

"Haha! Apa sih, garing banget ih! Masa beliau nggak sadar sampai lima menit?" celetuk Sheila sambil memukul bahu Jeremy pelan, melupakan sejenak status bos dan asisten di antara mereka.

Jeremy tertawa lepas, suara tawanya menggema di lorong yang sunyi. Ia baru saja ingin meraih puncak kepala Sheila untuk mengacak rambutnya dengan gemas ketika sebuah suara berat dan dingin membelah udara seperti belati.

"Jeremy Nasution! Ngapain kamu ketawa-ketawa di depan lift seperti orang tidak punya beban kerja?"

Tawa Jeremy terhenti seketika. Tubuhnya menegang, dan ia langsung menegakkan punggungnya. Di sana, Tuan Nasution berdiri dengan setelan jas hitam yang kaku, didampingi oleh dua pengawal pribadinya. Tatapan matanya beralih dari Jeremy ke arah Sheila dengan sorot yang penuh penghinaan.

"Kamu juga, Asisten! Ngapain deket-deket anak saya di jam pulang begini? Tidak ada pekerjaan lain yang lebih berguna untuk dikerjakan?"

Sheila menelan ludah, berusaha keras mengendalikan detak jantungnya yang mendadak liar. Ia segera memasang wajah profesionalnya, sedikit membungkuk sopan sebagai bentuk rasa hormat. "Sore, Pak Nasution," ucap Sheila sambil memaksakan sebuah senyum kecil yang tulus.

Tuan Nasution mendengus keras, melangkah mendekat hingga bayangannya menutupi sosok Sheila yang mungil. "Nggak usah sok akrab sama saya! Saya sudah tahu ini sore, tidak perlu diingatkan!"

Sheila mengerjapkan mata, sedikit terperanjat dengan jawaban ketus itu. Ia melirik Jeremy dari sudut matanya, melihat sang CEO yang biasanya angkuh kini hanya bisa diam seribu bahasa di depan ayahnya.

Saat Tuan Nasution sedikit berbalik untuk mengecek ponselnya, Sheila mencondongkan tubuhnya ke arah telinga Jeremy, berbisik dengan suara yang nyaris tak terdengar namun penuh dengan nada jahil.

"Salah melulu ih... Papa kamu PMS ya? Galak banget kayak belum makan tiga hari," bisik Sheila pelan, menahan tawa yang hampir meledak di tenggorokannya.

Jeremy membelalakkan mata, ia hampir saja tersedak air liurnya sendiri mendengar ucapan nekat Sheila. Ia membalas bisikan itu dengan nada memperingatkan namun matanya berkilat geli. "Heh! Dosa loh ngomongin orang tua begitu. Nanti kualat jadi menantunya baru tahu rasa kamu."

"Ngapain kalian bisik-bisik!" bentak Tuan Nasution tiba-tiba, membuat keduanya tersentak dan kembali berdiri tegak dengan posisi sempurna. "Kalian pikir saya tuli? Atau kalian sedang merencanakan sesuatu di belakang saya?"

"Nggak ada, Pa. Sheila cuma tanya soal jadwal rapat besok pagi," bohong Jeremy dengan wajah datar yang sangat meyakinkan.

"Rapat atau kencan terselubung?" Tuan Nasution menyipitkan mata. "Ingat kata-kata Papa tadi pagi, Jeremy. Jangan sampai Papa bertindak lebih jauh."

TING!

Bunyi denting lift bergema, menyelamatkan mereka dari konfrontasi yang lebih memalukan. Pintu lift terbuka perlahan, menampilkan interior mewah yang dilapisi cermin dan kayu mahoni. Tuan Nasution melangkah masuk lebih dulu dengan aura dominan yang menyesakkan. Jeremy menyusul di belakangnya, lalu memberikan isyarat mata agar Sheila tetap ikut masuk meskipun suasananya terasa seperti berada di dalam peti mati yang berjalan.

Begitu pintu lift tertutup, suasana menjadi sangat hening. Tuan Nasution berdiri di depan, sementara Jeremy dan Sheila berdiri di belakangnya. Di dalam cermin lift, Sheila bisa melihat pantulan wajah Jeremy yang tampak sangat tertekan, namun tangannya diam-diam merambat di balik jasnya, mencari tangan Sheila.

Jeremy menggenggam ujung jari Sheila dengan sangat erat, seolah memberikan kekuatan. Meskipun di depan mereka ada "singa" yang siap menerkam, genggaman itu seolah mengatakan bahwa segalanya akan baik-baik saja.

Sheila hanya bisa menatap lantai lift, merasakan adrenalin yang terus terpacu. Ia tahu, perjalanan turun dari lantai 25 menuju lobi akan terasa sangat lama. Dan ia juga tahu, ini hanyalah permulaan dari perang besar antara cinta dan restu keluarga Nasution.

"Sampai di bawah, kamu pulang naik taksi, Asisten Sheila. Jeremy ada urusan keluarga dengan saya," ucap Tuan Nasution dingin tanpa menoleh sedikit pun.

Jeremy mempererat genggamannya pada tangan Sheila, namun ia tidak membantah. Ia memberikan kode lewat remasan tangan itu; Sabar, malam ini aku telepon.

Sheila hanya mengangguk pelan. "Baik, Pak."

Lift terus meluncur ke bawah, membawa rahasia yang semakin berat untuk dipikul, namun juga membawa keyakinan bahwa di balik kemarahan Tuan Nasution, ada dua hati yang tidak akan pernah mau menyerah.

1
putmelyana
next Thor ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!