NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Pengganti

Menjadi Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
​Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Panggung Cermin dan Barikade Debu

Rencana sabotase yang dibisikkan Siska mengubah cara Arumi memandang setiap lampu lighting dan kamera di lokasi syuting. Jika sebelumnya ia melihat perangkat itu sebagai alat seni, kini ia melihatnya sebagai moncong senjata yang diarahkan ke jantung karier Adrian. Arumi menyadari bahwa ia tidak bisa sekadar mundur; ia harus tetap berada di dalam produksi untuk memantau gerak-gerik musuh.

"Mas, aku akan tetap melanjutkan film ini," ujar Arumi saat mereka duduk di meja makan yang penuh dengan cetak biru proyek Bekasi dan draf skenario film.

Adrian mendongak, matanya yang lelah menatap Arumi dengan cemas. "Rum, Siska bilang mereka ingin menjatuhkan kita. Kenapa kamu malah tetap di sana?"

"Karena kalau aku keluar, kita tidak akan pernah tahu siapa 'pemegang saham tersembunyi' itu, Mas. Aku butuh akses ke data keuangan rumah produksi ini. Sebagai konsultan utama, aku punya hak untuk melihat laporan kemajuan dan aliran dana promosi. Aku akan mencari tahu siapa yang membiayai kampanye hitam terhadapmu," jawab Arumi mantap.

Adrian menghela napas panjang, lalu menggenggam tangan istrinya. "Hati-hati. Mereka tidak hanya bermain dengan uang, tapi juga dengan reputasi. Dan reputasi adalah segalanya di proyek teknologi hijau ini."

Kekhawatiran Adrian terbukti keesokan harinya.

Saat ia tiba di lokasi proyek Bekasi, suasana sudah memanas. Sekelompok massa yang mengaku sebagai warga lokal melakukan demonstrasi di depan gerbang proyek *Eco-Tech Nusantara*. Mereka membawa spanduk-spanduk yang menuduh teknologi Adrian akan meracuni air tanah setempat.

"Kami tidak butuh limbah asing di tanah kami!" teriak salah seorang orator melalui pelantang suara.

Adrian turun dari mobilnya, mencoba berbicara dengan tenang. "Bapak-Bapak, teknologi kami justru untuk membersihkan limbah yang sudah ada. Air tanah kalian akan jauh lebih bersih setelah instalasi ini selesai."

Namun, suara Adrian tenggelam oleh sorakan massa. Di sudut kerumunan, Adrian melihat beberapa orang pria berambut cepak dengan earphone di telinga—sosok yang tidak tampak seperti warga lokal. Mereka adalah provokator bayaran.

Tak jauh dari sana, seorang reporter dari situs berita online yang berafiliasi dengan grup media besar sedang melakukan siaran langsung, menyebarkan narasi bahwa "Proyek Adrian Pramoedya ditolak warga karena dianggap berbahaya bagi lingkungan".

Di kantor produksi film, Arumi memulai "perannya". Ia bersikap seolah tidak tahu apa-apa tentang kekacauan di Bekasi. Ia bahkan meminta Bramantyo untuk mengundang para investor film dalam acara syukuran dimulainya proses syuting utama.

"Bram, aku ingin bertemu dengan mereka. Aku ingin berterima kasih karena mereka telah mendukung kisah jujurku," ujar Arumi dengan nada manis yang dibuat-buat.

Bramantyo, yang tampak gugup namun bersemangat, mengabulkan permintaan itu. Acara diadakan di sebuah restoran mewah di kawasan SCBD. Di sana, Arumi diperkenalkan kepada seorang pria paruh baya bernama Tuan Hendrawan. Ia adalah perwakilan dari Lentera Media, namun Arumi memperhatikan jam tangan dan gaya bicaranya yang lebih mirip seorang pialang saham daripada pengusaha media.

"Nyonya Arumi, kami sangat bangga bisa mendanai proyek ini," ujar Hendrawan dengan senyum yang tidak sampai ke mata. "Bagaimana kabar Tuan Adrian? Saya dengar proyeknya di Bekasi sedang mengalami sedikit kendala?"

Arumi tersenyum lebar, memutar gelas minumannya. "Oh, itu hanya kesalahpahaman kecil dengan warga. Mas Adrian selalu bisa mengatasinya. Lagi pula, fokus kami sekarang adalah menyukseskan film ini. Saya sangat menghargai dukungan dana tambahan untuk promosi internasional yang Anda berikan."

"Tentu saja. Kami ingin film ini menjadi besar," sahut Hendrawan.

Setelah Hendrawan pergi, Arumi segera mengirim pesan singkat kepada Pandu yang sedang berpura-pura menjadi asisten pribadinya. "Lacak aliran dana promosi internasional ke rekening bank mana di Singapura. Cocokkan dengan nama perusahaan yang menyuplai material untuk saingan Adrian di Bekasi."

Malam harinya, Pandu datang ke rumah Arumi dengan wajah pucat. Ia membawa beberapa lembar kertas hasil "audit kecil" yang ia lakukan melalui kenalannya di bagian administrasi rumah produksi.

"Rum, kamu benar. Lentera Media hanyalah kedok. Uang yang digunakan untuk membiayai filmmu berasal dari Goliath Infrastructure, konsorsium asing yang sedang bersaing dengan Adrian di Bekasi," ungkap Pandu.

"Jadi mereka membiayai filmku untuk mencuci citra mereka, sekaligus menggunakannya sebagai alasan untuk membuntutiku dan Adrian?" tanya Arumi.

"Lebih dari itu. Mereka sengaja memasukkan klausul di kontrak yang menyatakan bahwa jika terjadi 'skandal moral' pada subjek asli cerita—yaitu kamu dan Adrian—maka rumah produksi berhak menuntut ganti rugi sepuluh kali lipat.

Mereka sedang menyiapkan skandal, Rum. Mereka ingin membangkrutkanmu secara finansial agar Adrian kehilangan modal untuk proyek Bekasi-nya."

Arumi menyadari betapa liciknya rencana ini. Mereka ingin menjatuhkan Adrian bukan dengan teknologi, melainkan dengan menghancurkan sumber dukungannya yang paling kuat: istrinya dan reputasi keluarganya.

Keesokan paginya, berita utama di sebuah majalah gosip ternama meledak: "Arumi Pramoedya: Penulis 'Akar yang Menghujam' Diduga Terlibat Manipulasi Sejarah Keluarga demi Popularitas?"

Artikel itu menuduh bahwa kisah dalam bukunya hanyalah fiksi yang dilebih-lebihkan untuk menutupi sifat asli Adrian yang "otoriter dan anti-lingkungan".

Media itu menggunakan foto-foto Adrian di lokasi proyek yang sedang dikepung massa sebagai "bukti" bahwa ia adalah sosok yang tidak disukai rakyat.

Adrian yang sedang berada di bawah tekanan besar di lokasi proyek merasa hancur. Ia menelepon Arumi dengan suara yang hampir patah. "Rum, mungkin kita harus berhenti.

Mereka menang. Proyek ini akan dicabut izinnya oleh pemerintah besok pagi jika demo ini tidak berakhir."

"Tunggu, Mas. Jangan menyerah sekarang," ujar Arumi tegas. "Aku sudah punya senjata kita."

Arumi segera menghubungi Bramantyo. Ia meminta sesi wawancara eksklusif di lokasi syuting yang dihadiri oleh seluruh awak media. Di sana, di depan kamera yang sedang menyala, Arumi tidak bicara soal film.

"Saya ingin memberikan pengumuman penting," ujar Arumi di hadapan puluhan wartawan. "Film ini bukan sekadar tentang cinta. Film ini adalah tentang bagaimana sebuah korporasi asing mencoba menghancurkan inovasi anak bangsa.

Saya memiliki bukti bahwa investor film ini, Goliath Infrastructure, secara ilegal telah mendanai demonstrasi bayaran di Bekasi untuk menjatuhkan saingan bisnis mereka, yaitu suami saya."

Arumi mengangkat dokumen yang diberikan Pandu. "Inilah data aliran dananya. Saya tidak akan membiarkan karya saya digunakan sebagai alat sabotase. Dengan ini, saya secara resmi menarik hak adaptasi film saya dan akan menuntut Lentera Media atas pelanggaran integritas kontrak."

Pernyataan Arumi adalah bom atom di dunia media. Dalam hitungan jam, publik berbalik arah.

Netizen yang tadinya menghujat Adrian mulai menyelidiki Goliath Infrastructure. Bukti-bukti yang dibongkar Arumi menjadi viral. Warga asli Bekasi yang merasa namanya dicatut dalam demo bayaran mulai angkat bicara, menyatakan bahwa mereka sebenarnya mendukung proyek Adrian karena janji lapangan kerja dan lingkungan bersih.

Pemerintah daerah, yang sebelumnya ragu, kini melihat posisi Adrian sebagai korban sabotase asing. Izin proyek Bekasi justru dipercepat sebagai bentuk dukungan terhadap kedaulatan teknologi lokal.

Tuan Hendrawan dan antek-anteknya di Lentera Media menghilang dalam semalam, menghindari kejaran hukum dan kemarahan publik.

Satu minggu kemudian, suasana di lokasi proyek Bekasi berubah drastis. Tidak ada lagi spanduk kebencian, yang ada adalah barisan pipa pengolahan limbah yang mulai terpasang rapi. Adrian berdiri di atas tumpukan tanah, menatap cakrawala dengan perasaan lega yang tak terkira.

Arumi datang menghampirinya, kali ini tanpa lampu kamera, hanya dengan sandal jepit dan senyum kemenangan.

"Kita melakukannya, Rum," ujar Adrian, memeluk istrinya erat. "Kamu benar-benar membakar panggung itu."

"Aku hanya menulis bab penutup yang pantas bagi penjahatnya, Mas," jawab Arumi bersandar di dada Adrian.

Namun, di tengah kedamaian itu, sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan gerbang proyek. Seorang wanita turun dengan anggun. Bukan Clara, bukan Siska.

Wanita itu adalah Ibu Adrian—setidaknya, wanita yang selama ini Adrian kira sudah meninggal di Puncak, namun kini berdiri dengan tegap, menatap Adrian dengan mata yang sama persis dengan miliknya.

"Adrian," panggil wanita itu dengan suara yang bergetar. "Sudah waktunya kamu tahu kebenaran yang tidak sempat dituliskan ibumu di dalam surat-surat itu."

Dunia seolah berhenti berputar bagi Adrian. Arumi merangkul lengan suaminya, menyadari bahwa rahasia keluarga Pramoedya baru saja memasuki babak yang paling gelap dan paling nyata.

1
Safira Indahcahyani
ulet bulunya keok 🤣🤣
Safira Indahcahyani
novelmu bagus thor, saya suka alurnya...
pemeran utama wanita g menye2...
semangat thor💪💪
sefira🐼: makasih kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!