bagaimana mungkin aku lupa dengan masa itu, bagaimana mungkin aku lupa dengan kenangan kisah cinta kita, yang kita jalin bertahun tahun lamanya, dan tidak pernah ku sangka kisah kita berakhir dengan pengkhianatan yg sadis, kau balas cinta dan pengorbanan ku dengan luka yg begitu hebat, hingga luka itu merubah ku menjadi bukan diriku, hari hari ku di penuhi rasa dendam, hingga muncul niat dalam pikiran ku untuk membunuh mu, namun takdir berkata lain.
aku nyaris kehilangan akal sehat, dan hampir gila dengan alur cerita hidup ku, hingga aku kehilangan arah tujuan hidup ku, sampai pada suatu hari tuhan menghadirkan se orang wanita yg menyadarkan ku, dan menyelamatkan hidup ku, dia merubah hidup ku menjadi berarti, dan bangkit meraih mimpi ku, hingga tuhan mempersatukan ku dengan dia, dan tuhan menganugrahkan kebahagiaan yg luar biasa tak pernah ku rasakan dalam hidup ku bersama dia sebelumnya.
dan kau lah jawaban doa dalam hati ku. HANUM RUSYDAH.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lukmanben99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
malam yang kocak dan mencoba menyatakan cinta
Dony ambil ancang-ancang. Tarik napas panjang. _HUFF!_ Dia lempar sekuat tenaga. _BUGH!_ Bola itu malah mendarat mulus di muka si Abang penjaga.
“ADUUHH... SIALAN LOE YEH!” si Abang meringis, megangin hidung.
Maya ngakak sampai sakit perut.
“Maaf Bang maaf nggak sengaja! Saya coba sekali lagi ya Bang,” Dony panik.
“Sekali lagi apa loe?! Sekali lagi kena muka gue, hah?!” si Abang ngamuk.
“Ngga Bang, kali ini saya hati-hati Bang. Sumpah,!” Dony angkat tangan.
“Iya Bang, tenang aja, Maaf Bang ya!” Maya bantu nenangin dony sambil masih nahan tawa.
Dony komat-kamit baca doa, lalu ia melempar lagi. _prangg!_ Kali ini kena! Dia langsung loncat-loncat kegirangan.
“GUE BERHASIL, MAY! HUH, GUE BERHASIL... HUH!” dia selebrasi lebay, sujud syukur di tanah, “Terima kasih Tuhan, terima kasih G TV,,!!!”
“G TV?! LOE KIRA ACARA BEDAH RUMAH?!” Maya ngakak.
“Ouh iya iya,” Dony garuk-garuk kepala, lalu nengok ke si Abang, “Mana hadiahnya, Bang?”
“Loe mau hadiah?” si Abang masih manyun.
“Ya iyalah Bang.”
“Ya udah bentar!" si abang ngambil sesuatu. "NIH..!" Si Abang nyodorin wajan penggorengan.
Maya langsung ngakak terbahak-bahak. “WAJAN DON? HAHAHAHA!”
“Bang, yang bener aja Bang. Masa iya wajan? Boneka apa kek Bang,” protes Dony lemes.
“Segini juga gue kasih hadiah. Loe mau nggak? Nggak mau gue ambil lagi nih,” ancam si Abang melotot.
“Iya dah iya,” Dony pasrah nerima wajan itu. Dia natap wajan di tangannya, lalu natap Maya. “May, nih buat loe May. Kenang kenangan dari gue May, hehe..!!”
“Ogah! Di rumah juga gue banyak,” Maya nolak sambil ngakak.
“Yah, jangan gitu May. Nih buat loe May, Gue ikhlas kok. Ngasih cewek boneka mah udah nggak aneh May. Nanti kan kalau misalnya loe kangen gue, loe bisa peluk wajan ini May, hehe!!,” Dony maksa.
“Ngga ah. Udah bawa, lumayan buat emak loe masak di rumah. Udah, cabut yuk!” Maya ngibrit duluan, masih ketawa.
“Yahh, ya udah deh, Lumayan juga buat emak gue masak,” Dony ngedumel sambil menenteng wajan. Lalu ia melihat ke arah si abang, dengan kesal ia mengejek si abang dengan menjelekan mukanya.
" eh ngeledek loe yeh" si abang melotot, dony langsung ngibrit ngejar Maya.
*dan sementara aku dan elina*
“Naik itu yuk Kak,” Elina menunjuk wahana kincir angin yang lampunya kelap-kelip. Kami naik. Duduk berhadapan, dia memeluk boneka beruangnya erat.
Semakin tinggi, angin malam semakin berembus. Lampu-lampu kota terlihat seperti lautan kunang-kunang di bawah sana. Elina menatap keluar, takjub.
“Bagus banget ya pemandangannya dari atas sini...” ucapnya.
“Iya... bagus banget,” jawabku. Tapi mataku tak lepas darinya. Di mataku, dia jauh lebih indah dari semua lampu lampu kota itu.
Saat itu aku berpikiran, ini saatnya gue nembak dia. Jantungku berdebar kencang. Tanganku dingin. Tapi kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kugenggam ujung kursiku erat-erat, lalu kutarik napas. “Lin...” panggilku pelan.
Elina menoleh. Matanya bertemu mataku. Di ketinggian ini, hanya ada kami berdua, suara angin, dan musik pasar malam yang sayup-sayup terdengar dari bawah.
“Aku... mau bilang sesuatu sama kamu lin?...”
“Kamu mau bilang apa...?!!” tanya Elina, matanya berbinar penuh penasaran.
“Sebenarnya... emm... gimana ya, sebenarnya...” ucapku, suara bergetar. Jantung rasanya mau copot. Aku benar benar gugup.
“Sebenarnya kenapa? Kok gugup gitu!” Elina mencondongkan badan. Aku yakin dia sudah tahu. Dan sejujurnya... dia juga sudah lama menunggu kalimat itu dariku.
“Sebenarnya aku...”
..KREKK.
Belum sempat kalimat itu selesai, kincir angin tiba-tiba berhenti dengan hentakan pelan. Lampunya meredup. Waktu kami habis.
“Udah turun! Gantian!” ucap si Abang penjaga dari bawah.
Aku dan Elina saling pandang, sama-sama menahan napas yang menggantung. Dengan berat hati, kami turun. Kaki menapak tanah lagi, tapi hatiku masih di atas sana, menggantung di antara langit dan kata-kata yang belum sempat terucap.
*di sisi lain wahana*
“WEEE... SERUU BANGET DON!” Maya teriak girang di atas Ombak Banyu, kedua tangan diangkat. Di sebelahnya, Dony pucat pasi, memegang erat pegangan sambil merem melek.
“ bang udah bang... pala gue puyeng banget bang..” rintih Dony, keringat dingin bercucuran.
Maya malah ngakak, “Lemah loe Don!”
Turun dari wahana, Dony jalan sempoyongan kayak orang mabuk laut. Tiba-tiba, dia muntah di pojokan.
“Don, loe kenapa? Ah lemah loe ah,” ledek Maya sambil nepuk-nepuk punggungnya, tapi tangannya reflek mijitin kepala Dony.
“Puyeng banget pala gue May...” Dony meringis.
“Lemah loe ah! Udah jangan di sini, malu noh diliatin banyak orang!” omel Maya, masih sambil mijitin.
“Kapok gue naik gituan May ah,.”
*kembali ke aku dan elina*
Kami jalan berdua menyusuri pasar malam. “Kamu mau bilang apa tadi?” Elina masih penasaran, melirikku dari samping.
“Emm, nggak... bukan apa-apa kok Lin,” jawabku sambil cengengesan, garuk-garuk kepala yang udah nggak diperban.
Kami berhenti di depan tukang permen gulali. Jajan dulu. Setelah itu, mata Elina tertuju pada lapak aksesoris. Dia narik tanganku semangat, “Kak, ke sana yuk!”
Dia milih-milih, lalu matanya berhenti di sepasang gelang sederhana dengan plat kecil. Dia ambil, menyodorkannya ke aku. “Kak, bagus nggak?”
Aku mengangguk, “Bagus. Cocok sama kamu.”
Dia senyum, lalu beli dua. Satu kupasangkan ke tangannya, satu lagi dia ambil dan menggenggam tanganku. Dengan hati-hati, dia pasangkan gelang itu di pergelangan tanganku.
“Jangan dilepas ya gelangnya. Aku juga nggak akan lepas kok,” ucapnya pelan, tapi matanya menatapku lurus. Ada janji di sana.
“Iya, nggak kok Lin,” balasku. Dadaku hangat. Kami sama-sama tersenyum, canggung tapi bahagia.
Tak lama, HP Elina berdering menerima pesan dari mamahnya, Dia baca pesan itu. Mamahnya menyuruh elina untuk segera pulang, lalu wajahnya sedikit berubah setelah membaca pesan dari mamahnya. “Kak... Mamah nyuruh aku pulang sekarang.”
Aku mengangguk, “Ya udah, yuk aku anter.”
Baru beberapa langkah menuju parkiran, tiba-tiba, “HAYOHHHH!!!”
Aku dan Elina kaget setengah mati. Maya nongol dari belakang sambil nyengir jahil mengagetkan kami berdua.
“Eh loe May, ngagetin aja loe ah,” omelku.
“ kalian sejak kapan ada di sini berdua?" tanya maya heran.
"dari tadi!" jawabku
“Ouh iya, bukannya kamu sama Dony ya tadi?”timpah elina.
“Lah kok tau aku sama Dony?” Maya melotot heran.
“Loe pacaran ya sama Dony? Hayoh ngaku loe...” tanyaku balik.
“Apaan sih loe Sat! Loe ini berdua yang pacaran mah! Udah ngaku aja... Cieee bawa-bawa boneka lagi, cie cieee udah ngaku aja!” Maya nyerang balik, nunjuk boneka beruang di pelukan Elina.
“Apaan sih Maya...” Elina nunduk tersipu malu.
terimkasih.