Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Guratan pasir dan jarak yang terkikis
Kairo saat malam hari memiliki sisi yang tenang namun intens. Setelah seharian penuh menginterogasi Zaki dan bernostalgia dengan Adiba, Shaheer dan Adeeva kembali ke hotel mereka yang menghadap ke arah Sungai Nil.
Di dalam kamar, suasana mendadak kembali canggung. Selama di asrama, Shaheer lebih sering mengalah—tidur di sofa sempit di sudut kamar agar Adeeva yang masih berusia sembilan belas tahun tidak merasa tertekan atau terancam privasinya. Namun, kamar hotel di Kairo ini tidak memiliki sofa panjang. Hanya ada satu ranjang besar dengan seprai putih bersih yang kaku.
Adeeva berdiri di depan jendela, menatap lampu-lampu kapal yang melintas di Nil. Ia masih mengenakan pashmina hitamnya yang kini sudah jauh lebih rapi hasil latihan beberapa hari terakhir.
"Tidurlah di kasur, Deeva. Perjalanan tadi siang cukup menguras tenaga," ujar Shaheer sambil melepas jam tangan besarnya dan meletakkannya di atas nakas.
Adeeva menoleh. "Lalu kamu? Tidak ada sofa di sini."
Shaheer hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang kini tidak lagi terasa mengintimidasi bagi Adeeva. "Aku bisa tidur di lantai kalau kamu mau. Prajurit sudah biasa tidur di mana saja, bahkan di atas semak berduri sekalipun."
Adeeva terdiam. Ia melihat bahu Shaheer yang lebar, pundak yang selama ini menanggung beban reputasi keluarga dan juga melindungi rahasia masa lalunya. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyeruak. Shaheer bukan lagi "orang asing" atau "perwira tua" yang ia benci. Pria ini adalah suaminya.
"Jangan," suara Adeeva lirih. "Kasurnya cukup luas. Kita bisa... berbagi."
Shaheer menatap Adeeva dalam-diam, memastikan tidak ada paksaan dalam ucapan istrinya. Setelah melihat anggukan kecil Adeeva, ia akhirnya naik ke sisi ranjang yang lain.
Malam itu, jarak di antara mereka yang biasanya selebar asrama, kini hanya tersisa beberapa puluh sentimeter di atas kasur yang sama. Adeeva berbaring memunggungi Shaheer, jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia menghadapi sidang nikah dulu.
"Shaheer?" panggil Adeeva ke arah kegelapan kamar.
"Ya?"
"Terima kasih sudah tidak pernah memaksaku. Tentang apa pun," bisik Adeeva. "Aku tahu aku sulit. Aku tahu aku belum bisa jadi istri yang kamu harapkan."
Ia merasakan kasur bergerak sedikit. Shaheer bergeser mendekat, namun tetap menjaga jarak yang sopan. "Aku tidak pernah mengharapkan seorang malaikat, Deeva. Aku hanya ingin seorang pendamping. Dan kamu, dengan segala pemberontakan dan sketsamu, sudah lebih dari cukup."
Adeeva memberanikan diri untuk berbalik badan. Dalam keremangan cahaya dari celah gorden, ia melihat mata Shaheer yang menatapnya dengan ketulusan yang telanjang. Tanpa aba-aba, Adeeva menggeser tubuhnya, mengikis jarak itu hingga lengannya bersentuhan dengan lengan kokoh Shaheer.
Shaheer tidak menarik diri. Ia justru mengangkat tangannya, jemarinya yang kasar mengusap helai rambut Adeeva yang keluar dari sela kerudung—yang sudah Adeeva lepas saat hendak tidur. Ini adalah pertama kalinya mereka bersentuhan dalam suasana yang begitu intim dan tenang, tanpa ada gangguan dari pihak ketiga atau tuntutan jabatan.
"Kamu wangi melati," gumam Shaheer pelan.
Adeeva tersenyum, lalu memberanikan diri menyandarkan kepalanya di dada Shaheer. Ia bisa mendengar detak jantung pria itu—ritme yang stabil, kuat, dan menenangkan. Bau maskulin khas Shaheer bercampur dengan aroma sabun hotel memenuhi indra penciumannya.
"Ini... benar-benar bulan madu, ya?" tanya Adeeva dengan nada menggoda yang mulai kembali.
Shaheer terkekeh rendah, suara tawanya terasa bergetar di dada yang menjadi sandaran Adeeva. Ia melingkarkan lengannya di bahu Adeeva, menarik gadis itu lebih rapat ke dalam dekapannya.
"Jika bulan madu artinya aku bisa memelukmu tanpa kamu protes, maka aku harap kita tidak usah pulang ke Indonesia," sahut Shaheer.
Malam itu di Kairo, tembok-tembok pertahanan Adeeva runtuh sepenuhnya. Bukan karena paksaan, melainkan karena ia akhirnya menyadari bahwa di dalam pelukan pria berseragam ini, ia tidak perlu menjadi orang lain. Ia tetap Adeeva si pemberontak, namun kini ia adalah pemberontak yang telah menemukan tempatnya untuk pulang.
Di bawah langit Mesir yang penuh sejarah, mereka akhirnya tidur tanpa jarak. Sebuah awal baru yang jauh lebih bermakna daripada sekadar kata "sah" di atas kertas akad.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...