(SEASON 2)
Dengan Inti Emas Iblis di Dantian-nya, Shen Yuan kini meninggalkan benua kelahirannya. Ia melangkah menembus Gerbang Lintas Benua menuju jantung peradaban Sembilan Cakrawala, siap membawa badai darah mematikan bagi para dewa palsu yang pernah merenggut segalanya darinya. Perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukum Alam
Hutan berpepohonan perak itu diselimuti oleh keheningan yang mencekam setelah bangkai raksasa Singa Api Biru mengering menjadi kerangka layu. Udara di Alam Spiritual yang sepekat madu bergetar pelan setiap kali Shen Yuan menghembuskan napas.
Dua penambang dari Paviliun Tembaga Merah yang terduduk di tanah menelan ludah dengan susah payah. Kaki mereka gemetar hebat hingga tak mampu digunakan untuk berdiri. Di mata mereka, pemuda berjubah hitam yang berdiri membelakangi mayat siluman itu jauh lebih mengerikan daripada makhluk buas mana pun yang pernah mereka temui di hutan ini.
"T-Tuan... Senior..." salah satu penambang yang berwajah tirus dan memiliki bekas luka bakar di lehernya memberanikan diri untuk bersuara, tangannya yang gemetar merogoh ke balik pelindung dadanya. "I-Ini... ini adalah Batu Roh Spiritual yang kami janjikan. M-Mohon ampuni nyawa anjing kami berdua!"
Pria tirus itu menyodorkan sebuah kantong kulit kecil.
Shen Yuan tidak melangkah maju. Ia hanya mengulurkan telapak tangannya. Hawa murni iblis melesat keluar bagaikan tentakel tak kasat mata, merampas kantong itu dari tangan sang penambang dan menariknya kembali.
Shen Yuan membuka ikatan kantong tersebut. Di dalamnya, terdapat sepuluh butir kristal yang ukurannya hanya sebesar kuku jari kelingking. Berbeda dengan Batu Roh dari alam fana yang memancarkan cahaya putih susu, kristal ini memancarkan pendaran perak kebiruan yang sangat menyilaukan, dengan urat-urat energi yang terlihat mengalir seperti darah di dalamnya.
"Batu Roh Spiritual," suara Leluhur Darah bergema dari dalam lautan kesadarannya, nadanya dipenuhi kepuasan. "Ini adalah mata uang dasar di Alam Spiritual. Kepadatan hawa murninya tidak bisa dibandingkan dengan sampah dari alam fana. Satu butir kecil ini mengandung energi yang cukup untuk membuat pendekar Lautan Qi alam bawah meledak jika tidak diserap dengan hati-hati."
Shen Yuan mengambil sebutir, meletakkannya di telapak tangan, dan memutar Sutra Penelan Surga secara perlahan.
Cshhh...
Kristal kecil itu menguap menjadi kabut perak kebiruan, masuk melalui pori-pori kulit Shen Yuan. Seketika, sensasi dingin dan sejuk menyapu jalur nadinya, sebelum akhirnya meledak menjadi lautan energi yang sangat murni di dalam Dantian-nya. Inti Emas Iblisnya berputar gembira, menyerap energi itu tanpa menyisakan satu ampas pun.
"Kualitas energi yang luar biasa," gumam Shen Yuan pelan. Ia menyarungkan kembali Kantong Qiankun di pinggangnya, lalu menatap kedua penambang itu dengan pandangan sedingin es.
"Di mana kita sekarang? Dan apa itu Paviliun Tembaga Merah?" tanya Shen Yuan datar.
Penambang kedua, yang bertubuh sedikit lebih gemuk, buru-buru menjawab, takut membuat sang sosok mengerikan marah. "S-Senior! Kita sedang berada di pinggiran Hutan Perak Kematian, di ujung selatan Wilayah Besi Berdarah! Paviliun Tembaga Merah adalah kubu menengah yang menguasai tambang-tambang di sekitar hutan ini. Kami hanyalah penambang rendahan yang bertugas mencari bijih tembaga merah untuk dilebur menjadi senjata pusaka!"
Shen Yuan menyipitkan matanya. "Hutan Perak Kematian... Jika kalian hanyalah kubu menengah, kekuatan macam apa yang menguasai seluruh wilayah ini?"
Kedua penambang itu saling berpandangan dengan kebingungan. Di mata mereka, pemuda di hadapannya ini memiliki kekuatan tempur yang luar biasa ganas, namun ia tampaknya tidak tahu apa-apa tentang tata letak wilayah. Apakah ia seorang jenius yang baru keluar dari pengasingan panjang?
"T-Tentu saja Istana Pedang Besi yang menguasai wilayah ini, Senior! Mereka tunduk langsung pada salah satu dari Tiga Pilar Langit di Benua Selatan Alam Spiritual ini..." pria tirus itu menelan ludah sebelum menyebutkan nama raksasa sesungguhnya, "...Kuil Dewa Perak."
Mendengar nama Kuil Dewa Perak, sepasang mata hitam pekat Shen Yuan seketika menyala dengan kilatan merah darah. Hawa membunuh yang sangat purba dan dingin meledak dari tubuhnya, membekukan embun di dedaunan perak di sekitar mereka.
Kedua penambang itu terkesiap, nyaris pingsan tertimpa tekanan niat membunuh tersebut.
"Kuil Dewa Perak..." bisik Shen Yuan, senyum iblis perlahan terukir di wajahnya. "Jadi mereka adalah penguasa benua ini? Sempurna. Aku tidak perlu membuang waktu untuk melintasi samudra mencari sarang anjing-anjing itu."
Shen Yuan menurunkan tekanan auranya, menatap kembali kedua penambang yang kini bersujud di tanah.
"Senior," pria tirus itu memberanikan diri, matanya memancarkan sedikit kelicikan yang disembunyikan di balik ketakutannya. "Jika Senior baru saja keluar dari pengasingan dan membutuhkan tempat istirahat serta peta wilayah... pos tambang kami berada tidak jauh dari sini, hanya berjarak sepuluh li ke arah timur. Pengawas kami sangat menyukai ahli-ahli kuat seperti Anda. Beliau pasti akan memberikan sambutan dan keterangan yang Anda butuhkan."
"Bocah, dua tikus ini sedang mencoba menggiringmu ke dalam jebakan," tawa Leluhur Darah bergema. "Mereka melihatmu membunuh siluman Inti Emas dengan tangan kosong, tapi mereka pikir pengawas mereka bisa membereskanmu. Di Alam Spiritual, tipu muslihat adalah makanan sehari-hari."
"Aku tahu," jawab Shen Yuan dalam batinnya. "Dan aku kebetulan butuh sebuah peta serta markas sementara."
"Tunjukkan jalannya," perintah Shen Yuan dengan nada dingin.
Kedua penambang itu buru-buru bangkit, wajah mereka memancarkan kelegaan yang tertahan. Mereka memimpin jalan, membelah semak-semak perak yang tajam. Di sepanjang perjalanan, Shen Yuan terus menyesuaikan diri dengan tekanan berat bumi dan kepadatan hawa murni Alam Spiritual. Ia menyadari bahwa di sini, Langkah Bayangan Hantu akan memakan tenaga dua kali lipat lebih besar dibandingkan di alam fana.
Hanya dalam waktu sebatang dupa, aroma belerang dan darah mulai tercium di udara.
Di ujung pepohonan perak, sebuah pos pertahanan yang dikelilingi oleh tembok batu merah setinggi lima tombak mulai terlihat. Di atas tembok, puluhan penjaga bersenjata busur silang berjaga dengan ketat. Hawa murni mereka semua berada di Ranah Pengumpulan Lautan Qi! Di alam fana, ini adalah pasukan leluhur; di sini, mereka hanyalah pion.
Begitu kedua penambang itu tiba di depan gerbang kayu berlapis besi, mereka langsung berteriak histeris.
"Buka gerbang! Tolong! Kami diserang!" teriak si pria tirus.
Gerbang besi perlahan berderit terbuka. Belasan penjaga menyambut mereka. Namun, alih-alih masuk, pria tirus itu langsung berbalik, menunjuk lurus ke arah Shen Yuan yang berdiri tenang di belakang mereka.
"Pengawas Ma! Tangkap pemuda itu! Dia adalah buronan dari hutan yang menggunakan ilmu iblis! Dia memiliki banyak Batu Roh Spiritual di dalam Kantong Qiankun-nya!" teriak pria tirus itu, memperlihatkan taring liciknya.
Mereka tahu Shen Yuan kuat, tetapi pos tambang ini dijaga oleh Pengawas Ma, seorang ahli tangguh di Ranah Pembentukan Inti Emas! Di pikiran mereka, pemuda pengelana ini pasti akan dilumatkan menjadi bubur daging.
Dari atas tembok benteng, sesosok pria kekar berkepala plontos dengan bekas luka bakar di sekujur wajahnya melompat turun. Tubuhnya menghantam tanah layaknya bintang jatuh, menciptakan kawah kecil. Hawa murni Inti Emas Tahap Akhir meledak dari tubuhnya, panas dan menyesakkan.
Pengawas Ma menatap Shen Yuan dari atas ke bawah, mendengus melihat jubah hitam kusam pemuda itu.
"Kau menipu penambangku dan mencoba merampok pos kami?" Pengawas Ma menyeringai buas, mencabut sebilah pedang besar yang memancarkan pendaran api merah. "Di Hutan Perak Kematian, mereka yang tidak memiliki lambang kubu adalah mangsa yang sah. Potong kaki dan tangannya!"
Belasan penjaga Lautan Qi menerjang maju bagaikan kawanan anjing liar, senjata pusaka mereka berkilat di bawah cahaya dua bulan sabit.
Shen Yuan berdiri diam. Matanya yang gelap memancarkan rasa bosan.
"Bahkan di alam atas, kebodohan semut tetaplah sama," keluh Shen Yuan pelan.
Ia tidak repot-repot mencabut Pecahan Gigi Naga. Saat belasan pedang fana dari penjaga Lautan Qi itu hendak menebasnya, Shen Yuan hanya melepaskan tekanan Inti Emas Iblisnya yang telah mencapai batas Puncak!
Bummmmm!
Hawa murni merah kehitaman meledak laksana badai topan. Ini bukanlah hawa murni biasa; ini adalah energi yang telah disempurnakan oleh Kesengsaraan Langit dan penelanan mutlak!
"Aaarrrghhh!"
Belasan penjaga itu bahkan tidak sempat menyentuh jubah Shen Yuan. Mereka terpental ke belakang, tulang rusuk dan dada mereka hancur berantakan hanya karena membentur perisai hawa murni sang Iblis. Tubuh mereka menghantam tembok batu merah dan langsung tewas seketika!
Kedua penambang yang tadi menjebaknya jatuh terduduk, air kencing mengalir membasahi celana mereka. Kengerian yang membekukan jiwa menguasai kewarasan mereka.
Melihat pasukannya disapu bersih dalam satu tarikan napas tanpa musuh menggerakkan tangannya, wajah Pengawas Ma seketika memucat. Ia akhirnya menyadari bahwa aura pemuda ini sangat tidak normal! Ini bukan Inti Emas biasa! Ini adalah Puncak Inti Emas yang sanggup meremukkan gunung!
"Jurus Api Tembaga Merah! Tebasan Pembelah Gunung!"
Pengawas Ma tidak berani meremehkan Shen Yuan lagi. Ia membakar intisari darahnya, menyalurkan seluruh kekuatannya ke pedang besarnya, dan menebas dengan kekuatan pamungkas yang sanggup meratakan bukit. Bilah api raksasa melesat menyongsong Shen Yuan.
"Menelan energi dari alam fana membuatku muak," Shen Yuan mengangkat tangan kanannya. "Mari kita rasakan bagaimana rasa energi dari alam spiritual."
Sutra Penelan Surga, Putaran Mutlak!
Pusaran raksasa hitam legam meledak dari telapak tangan Shen Yuan. Rahang iblis itu terbuka, dan dengan kerakusan yang tidak masuk akal, ia menelan seluruh bilah api merah dari Pengawas Ma tanpa menyisakan setitik pun percikan api!
Cshhhhhh!
"A-Apa yang terjadi pada hawa murniku?!" Pengawas Ma menjerit, matanya melotot saat menyadari pedang pusakanya kehilangan seluruh kekuatannya.
Langkah Bayangan Hantu!
Shen Yuan melesat menembus jarak di antara mereka dalam sekejap mata. Sebelum Pengawas Ma sempat menarik kembali pedangnya, tangan kiri Shen Yuan yang memancarkan kilau emas gelap telah mencengkeram tenggorokan pria kekar tersebut, mengangkatnya ke udara.
"Di alam mana pun aku berdiri," bisik Shen Yuan sedingin es, "kau tetaplah mangsa."
Tapak Penghancur Nadi!
Hawa murni iblis meledak dari telapak tangan Shen Yuan, langsung menembus masuk ke dalam Dantian Pengawas Ma.
"Tidaaaaaak—!"
Pusaran penelanan diaktifkan sepenuhnya. Esensi darah, vitalitas, dan hawa murni Inti Emas Tahap Akhir milik Pengawas Ma disedot dengan buas. Kekuatan dari alam spiritual benar-benar berbeda; energi yang mengalir ke dalam tubuh Shen Yuan seratus kali lipat lebih murni dan menantang untuk dicerna dibandingkan energi dari alam fana.
Inti Emas Iblis di dalam perut Shen Yuan berputar ganas, menggiling hawa murni tersebut, menstabilkan fondasi kultivasinya di alam yang baru ini.
Dalam sepuluh tarikan napas, tubuh kekar Pengawas Ma mengering menjadi kerangka berlapis kulit layu. Shen Yuan menjatuhkan mayat itu ke tanah, lalu mengarahkan tatapannya ke arah dua penambang yang kini bersujud membenturkan dahi mereka hingga berdarah.
"A-Ampuni kami, Tuan! A-Ampuni anjing buta ini!" ratap mereka dengan keputusasaan mutlak.
"Bukakan pintu gerbangnya," perintah Shen Yuan dengan nada yang tidak menerima bantahan. "Pos tambang ini sekarang adalah milikku."
Malam itu, di pinggiran Hutan Perak Kematian, sebuah pos tambang dari Paviliun Tembaga Merah jatuh tanpa suara. Sang Iblis Penelan Surga telah resmi menancapkan cakar pertamanya di tanah Alam Spiritual, dan perburuan terhadap para dewa palsu akhirnya dimulai.