NovelToon NovelToon
Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:907
Nilai: 5
Nama Author: Ulfah_muna

Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perilisan foto karakter

Ruangan backstage yang tadi riuh mendadak melambat.

Bukan benar-benar sunyi.

Tapi seperti semua orang tanpa sadar berhenti sejenak.

Mireya melangkah keluar dari ruang kostum.

Langkahnya pelan.

Tenang.

Gaun hitam keunguan itu jatuh lembut mengikuti gerak tubuhnya.

Rambutnya ditata setengah terurai, dihiasi rantai perak tipis yang berkilau saat terkena cahaya lampu studio.

Namun yang paling membuat semua orang terdiam— adalah ekspresinya.

Ia tidak tampil dengan wajah dingin.

Tidak pula dengan senyum angkuh.

Mireya justru mengangkat sudut bibirnya menjadi senyum yang lebar dan indah.

Senyum yang begitu memikat.

Begitu cantik.

Sampai siapa pun yang melihat akan mengira wanita ini baik-baik saja.

Padahal justru di balik senyum itulah seluruh kegelisahan Aurelia disembunyikan.

Mata yang tenang.

Bibir yang tersenyum.

Namun ada kesedihan tipis yang seolah tidak bisa dijelaskan.

Tepat seperti karakter itu.

Seolah Mireya tidak sedang berdandan menjadi Aurelia— melainkan Aurelia sendiri yang baru saja melangkah keluar dari halaman novel.

Beberapa staf sampai saling pandang.

“Eh…”

“Dia langsung masuk karakter…”

Salah satu makeup artist bahkan memegang dada.

“Merinding aku…”

Karena ini bukan sekadar kostum.

Mireya langsung membawa jiwanya.

Bahkan cara ia berdiri saja sudah berbeda.

Satu tangan menyentuh lengan jubahnya dengan gerakan lembut.

Tatapan matanya seperti sedang memandang seseorang yang jauh di masa depan.

Penulis novel yang sejak tadi berdiri di dekat monitor sampai terdiam.

Lalu perlahan tersenyum puas.

Sutradara yang melihat dari sisi lain ikut mengangguk.

“Bagus.”

Senyumnya semakin lebar.

“Aku suka.”

Ia bertepuk tangan sekali untuk menarik perhatian tim.

“Oke semuanya!”

Suara tegasnya langsung membuat seluruh studio kembali hidup.

“Mulai sesi foto!”

“Poster grup dulu!”

“Setelah itu foto karakter masing-masing!”

Suasana kembali heboh.

Staf-staf bergerak cepat.

Lampu studio dinyalakan.

Latar kerajaan kultivasi mulai dipasang.

Para pemeran lain dipanggil satu per satu.

Di tengah keramaian itu, Mireya berdiri di posisi Aurelia.

Sedikit di belakang.

Namun sorotannya justru terasa kuat.

Eirian Vale yang memerankan Kaizar berdiri di tengah.

Aura rookie top star-nya memang luar biasa.

Tampan.

Tenang.

Karismatik.

Namun bahkan beberapa fotografer tetap sempat berbisik.

“Selir ke-11 itu…”

“Kenapa malah paling ngena ya?”

Dan di sudut ruangan lain—

seseorang sedang menggertakkan gigi.

Luna.

Kostum dayang berwarna biru muda membungkus tubuhnya.

Tidak jelek.

Bahkan cukup cantik.

Perannya juga lumayan sering masuk frame.

Namun sejak Mireya keluar dengan kostum Aurelia—

semua perhatian beralih.

Tidak ada yang menoleh padanya.

Tidak ada yang memuji.

Tidak ada yang membahas dayang.

Semua orang hanya bicara tentang Mireya.

Tentang bagaimana seorang artis yang dulu ada di bawahnya…

sekarang berdiri di tengah sorotan.

Luna meremas ujung lengan kostumnya.

Matanya menggelap.

 “Kenapa…”

Dulu, Mireya selalu berada di belakang.

Dulu, dia yang lebih bersinar.

Dulu, dia yang selalu menang.

Lalu kenapa sekarang…

semua orang justru melihat perempuan itu?

Tatapannya jatuh pada Mireya yang sedang tersenyum di depan kamera.

Rasa kesal di dadanya berubah jadi sesuatu yang lebih tajam.

Iri.

Tidak terima.

Dan dari situlah bibit konflik mulai tumbuh.

...****************...

Malam itu, tepat saat langit ibu kota berubah gelap dan lampu-lampu kota menyala penuh, tim promosi drama bergerak cepat.

Studio belum lama selesai beres-beres.

Namun ruang editing sudah terang benderang.

Layar-layar hologram menampilkan hasil foto yang baru saja diambil siang tadi.

Tim editor bekerja nyaris tanpa berhenti.

Efek cahaya.

Tone warna.

Detail kostum.

Kilau mata.

Semua dipoles dengan sangat hati-hati.

Karena malam ini juga—

poster resmi harus naik.

Tepat pukul delapan malam.

Akun resmi perusahaan hiburan dan akun resmi drama mengunggah poster utama.

Caption-nya singkat tapi langsung meledak.

>ANAK EMAS DEWA MENJADI IBLIS BATU<

Official Cast Reveal

#KaizarRenath #AureliaVeyna #EirianVale #DramaFantasi2026 #SelirKe11

Dalam hitungan menit, tagar itu langsung naik.

Trending.

Satu.

Dua.

Tiga.

Lalu meledak ke puncak.

Di penthouse, Mireya yang baru selesai mandi langsung membuka ponselnya.

Notifikasi tak berhenti masuk.

ting ting ting ting

Ia menatap layar.

Poster grup lebih dulu muncul.

Kaizar berdiri di tengah dengan jubah hitam emas.

Di sekelilingnya para selir utama.

Lalu slide berikutnya—

poster karakter individual.

Saat layar bergeser ke fotonya sendiri, jantung Mireya langsung berdegup.

Aurelia berdiri sedikit menyamping.

Senyumnya lebar.

Cantik.

Hampir terlalu cantik.

Namun matanya… tetap menyimpan kesedihan yang tidak bisa disembunyikan.

Tatapan itu seperti seseorang yang sudah melihat akhir cerita tapi memilih tetap tersenyum.

Bahkan Mireya sendiri sampai menatapnya beberapa detik.

“Mereka dapet banget…”

Dan di luar sana— internet mulai heboh.

Komentar pertama datang bertubi-tubi.

[“WANITA INI CANTIK BANGET?”]

[“Lah? Kukira selir ke-11 bakal jelek atau muka licik.”]

[“Ini malah cantik dan elegan banget.”]

[“Kenapa auranya sedih ya…”]

Mireya membaca satu demi satu.

Lalu komentar lain muncul.

> “Eh ini Mireya bukan sih?”

> “OHH IYA! Yang pernah viral itu loh guys!”

> “Pantesan mukanya familiar!”

> “Tunggu… iya ya, dulu dia sempet sering muncul.”

Komentar itu langsung dibanjiri like.

1.2k likes 4.8k likes 9.9k likes lalu melonjak jadi 99+

Komentar paling atas mulai ramai.

> “Ohh iya pantes mukanya gak asing… tapi kenapa ya dia sempet redup?”

Balasan langsung berdatangan.

> “Kayaknya dulu agency-nya jelek deh”

> “Pernah ada drama sama artis lain bukan?”

> “Aku inget dia lumayan cantik dan aktingnya oke”

> “Sayang banget sempet ilang”

Sosmed itu terus memanjang.

Banyak yang mulai mengingat kembali nama Mireya.

Nama yang dulu pernah viral.

Nama yang kemudian tenggelam.

Dan malam ini…

nama itu naik lagi.

Namun yang paling membuat fandom heboh justru komentar dari pembaca yang tidak mengikuti novel.

> “BTW aku gak baca novelnya.”

> “Apa bener seburuk itu selir ke-11?”

> “Kok aku lihat dia malah kasihan ya?”

> “Matanya sedih banget…”

Komentar itu langsung ramai.

Like-nya naik cepat.

Puluhan.

Ratusan.

Ribuan.

Karena untuk pertama kalinya—

publik mulai mempertanyakan citra karakter Aurelia.

Bukan membencinya.

Tapi penasaran.

Di kamar, Mireya membaca komentar itu sambil memeluk ponselnya.

Dadanya terasa hangat.

Bukan karena semua orang langsung menyukainya.

Tapi karena— mereka mulai melihat apa yang ia lihat.

Seseorang yang tidak benar-benar jahat.

Seseorang yang hanya terlalu banyak menyimpan sesuatu sendirian.

Seseorang yang terlihat kuat karena tidak pernah diberi ruang untuk runtuh.

Di ruang kerja penthouse, Zevran yang baru pulang membaca trending topic di terminal pribadinya.

Sudut bibirnya terangkat tipis.

> “Bagus.”

Ia tahu ini baru awal.

Kalau baru poster saja sudah membuat publik bertanya— maka saat drama tayang…

ledakannya akan jauh lebih besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!