Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 — WAJAH ASLI YANG MULAI TERLIHAT
Hampir jam tiga pagi saat kami akhirnya keluar dari kantor.
Hujan sudah berhenti.
Tapi udara dingin masih terasa menusuk.
Leon pulang lebih dulu untuk mengecek ulang backup data yang masih tersisa.
Aku dan Arkan berdiri di parkiran basement yang hampir kosong.
Tidak ada yang bicara.
Terlalu banyak yang terjadi dalam satu malam.
Aku menyandarkan tubuh ke mobil.
Menatap lampu neon putih di langit-langit basement.
Pusing.
Lelah.
Dan yang paling buruk—
aku mulai meragukan semua orang lagi.
“Kamu harus istirahat.”
Suara Arkan memecah sunyi.
Aku tertawa kecil.
“Kamu juga.”
Dia berjalan mendekat.
Tidak terlalu dekat kali ini.
Seolah mulai hati-hati padaku.
Dan anehnya…
itu justru terasa lebih menyakitkan.
“Aku tahu kamu masih curiga sama aku.”
Aku menatapnya sebentar.
Lalu mengalihkan pandangan.
“Aku bahkan curiga sama diriku sendiri sekarang.”
Sunyi.
Beberapa detik kemudian—
Arkan membuka pintu mobil.
“Ayo. Aku antar kamu.”
Aku hampir menolak.
Tapi jujur saja…
aku terlalu lelah untuk berdebat.
Perjalanan pulang terasa sunyi.
Radio mati.
Tidak ada percakapan.
Hanya suara mesin mobil dan pikiranku yang semakin berisik.
Aku melirik Arkan diam-diam.
Wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya.
Rahangnya tegang.
Tangannya menggenggam setir terlalu kuat.
Dan untuk pertama kalinya—
aku sadar sesuatu.
Pria ini juga hancur.
Bedanya—
dia lebih pandai menyembunyikannya.
“Kamu belum tidur sejak kemarin ya?”
Pertanyaanku keluar begitu saja.
Dia melirik sekilas.
“Kamu juga.”
“Aku tanya duluan.”
Sudut bibirnya sedikit naik.
Tipis sekali.
“Hampir dua hari.”
Aku menghela napas kecil.
“Gila.”
“Katanya orang yang nyebut orang lain gila biasanya lebih gila.”
Aku mendengus kecil.
Dan anehnya…
suasana di mobil sedikit mencair.
Tapi hanya sebentar.
Karena ponsel Arkan tiba-tiba berbunyi.
Dia langsung melihat layar.
Dan ekspresinya berubah.
Tegang.
“Kenapa?” tanyaku cepat.
Dia tidak langsung menjawab.
“Arkan.”
“Aku harus ke rumah ibuku.”
Dadaku langsung terasa tidak nyaman.
“Sekarang?”
Dia mengangguk.
“Dia minta ketemu.”
Sunyi.
Instingku langsung mengatakan ini buruk.
Sangat buruk.
“Jangan datang sendiri.”
Arkan melirikku.
Sedikit kaget mungkin karena aku langsung mengatakan itu.
“Aku bisa urus.”
Aku langsung menggeleng.
“Dia terlalu tenang akhir-akhir ini.”
Dan orang yang terlalu tenang di tengah perang…
biasanya sedang memegang sesuatu.
Arkan diam beberapa detik.
Lalu—
“Kalau aku tidak datang, dia akan curiga.”
Aku menggigit bibir pelan.
Sial.
Dia benar.
“Aku ikut.”
“Tidak.”
Jawabannya cepat.
“Aku tidak tanya.”
Tatapan kami bertemu.
Tegang.
“Aku tidak mau kamu dekat-dekat dia sekarang.”
Aku langsung tertawa kecil.
“Lucu.”
Aku menyilangkan tangan.
“Padahal dulu kamu sendiri yang menyeretku masuk ke keluarga gilamu.”
Dia memejamkan mata sebentar.
Seolah menahan emosi.
“Itu sebabnya sekarang aku tahu betapa bahayanya dia.”
Kalimat itu membuatku diam sesaat.
Karena nada suara Arkan berubah.
Bukan marah.
Bukan kesal.
Takut.
Dan aku belum pernah mendengar dia terdengar seperti itu sebelumnya.
Mobil akhirnya berhenti di depan apartemen hotel tempatku menginap sementara.
Aku tidak langsung turun.
“Kalau ada sesuatu…”
Aku menatapnya serius.
“…telepon aku.”
Arkan menatapku beberapa detik.
Lama.
Lalu mengangguk pelan.
“Oke.”
Aku membuka pintu mobil.
Tapi sebelum keluar—
suaranya menghentikanku.
“Alena.”
Aku menoleh.
Dan untuk beberapa detik—
dia hanya menatapku.
Seolah ingin mengatakan sesuatu.
Banyak hal.
Tapi akhirnya yang keluar hanya—
“Hati-hati.”
Dadaku terasa aneh lagi.
Aku buru-buru turun sebelum perasaanku berubah kacau.
Dan sepanjang perjalanan menuju kamar—
aku terus mencoba mengabaikan satu kenyataan yang makin jelas.
Aku masih peduli padanya.
Sial.
Aku baru membuka pintu kamar saat sesuatu terasa aneh.
Lampu kamar mati.
Padahal tadi sebelum pergi aku yakin menyalakannya.
Instingku langsung aktif.
Aku berhenti bergerak.
Diam.
Mendengarkan.
Sunyi.
Terlalu sunyi.
Tanganku perlahan masuk ke dalam tas.
Mengambil alat kecil pertahanan yang biasa kubawa.
Lalu—
aku masuk perlahan.
Klik.
Lampu menyala.
Dan napasku langsung tertahan.
Seseorang duduk di sofa kamar hotelku.
Wanita.
Elegan.
Tenang.
Dan tersenyum tipis ke arahku.
Ibunya Arkan.
“Akhirnya kita bisa bicara tanpa gangguan.”
Aku langsung mengeras.
“Masuk tanpa izin sekarang jadi hobimu?”
Dia tertawa kecil.
Santai.
“Kamu selalu tajam.”
Aku tidak bergerak lebih dekat.
“Apa maumu?”
Tatapannya mengamatiku perlahan.
Seolah sedang menilai sesuatu.
“Aku cuma penasaran.”
Dia menyilangkan kaki.
“Bagaimana rasanya mengetahui pria yang mulai kamu cintai…”
Senyumnya melebar tipis.
“…ikut menghancurkan hidupmu?”
Jantungku langsung menegang.
Aku membenci fakta bahwa kalimat itu menusuk tepat sasaran.
“Aku tidak datang buat main psikologis.”
Kataku dingin.
“Kalau begitu bagus.”
Dia berdiri perlahan.
“Karena aku juga tidak datang buat itu.”
Tatapannya berubah.
Lebih dingin sekarang.
“Kamu terlalu dekat dengan sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.”
Aku tertawa kecil.
“Dan kamu mulai takut?”
Untuk pertama kalinya—
senyumnya menghilang sedikit.
Menarik.
“Ayahmu membuat kesalahan besar dulu.”
Dadaku langsung berdebar.
“Apa maksudmu?”
Dia berjalan mendekat.
Pelan.
“Dia mulai percaya pada orang yang salah.”
Aku menatapnya tajam.
“Orang itu kamu?”
Wanita itu tersenyum lagi.
Tapi kali ini…
senyumnya terasa menyeramkan.
“Tidak.”
Sunyi.
Lalu—
“Orang itu…”
Dia menatap lurus mataku.
“…adalah ayah Arkan.”