Di bawah rindangnya pohon randu angker di sudut kampung, seorang pemuda bernama Langit tumbuh dewasa tanpa mengenal siapa orang tua kandungnya. Setiap senja, ia merenung di sana, merasa namanya seluas langit namun tak punya pijakan. Ia tak tahu, takdirnya sudah "terjerat" sejak hari ia ditemukan sebagai bayi di bawah pohon keramat itu oleh Nenek Wati.
Sembilan belas tahun kemudian, rahasia kelam masa lalu mulai terkuak, menyeret Langit pada sebuah pencarian identitas yang tak hanya mengancam hidupnya, tapi juga menguji perasaannya. Ketika ia dihadapkan pada sosok Intan, wanita yang sudah "terjerat" pernikahan namun begitu "layak diperjuangkan", akankah Langit mampu melepaskan diri dari belenggu masa lalu dan menemukan tempat sejatinya? Atau justru semakin dalam "terjerat" dalam takdir yang tak pernah ia minta?
Ikuti perjalanan Langit menemukan jati diri, cinta, dan rahasia yang terkubur di dalam novel TERJERAT.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 23: PERTEMUAN DI TEPI SUNGAI
Pardi langsung mengangguk-angguk penuh semangat, matanya berbinar jahat.
"AYO! Kita ke gudang sekarang!"
Uno, sang ketua preman, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu.
'Dasar manusia gila nafsu. Giliran istrinya dilihatin orang lain, emosinya meletus kayak Gunung Merapi. Tapi giliran dirinya sendiri yang main belakang, seenaknya aja,' gerutu Uno dalam hati.
Sesampainya di dalam gudang yang remang-remang, mata Pardi menjelajah mencari sosok yang dijanjikan Ucok.
Namun saat matanya tertuju pada satu sosok wanita yang duduk memeluk lutut di sudut ruangan, tubuhnya kaku. Matanya terbelalak tak percaya.
Itu adalah Santi. Wanita yang dulu pernah menjadi incaran terbesarnya. Dulu, Pardi sudah berusaha mati-matian menggoda dan mendekatinya, tapi wanita itu menolak mentah-mentah dengan alasan setia pada suaminya. Pardi gagal total saat itu.
Dan sekarang... wanita yang dulu angkuh dan suci itu ada di hadapannya, dalam keadaan tak berdaya di dalam sarang para preman!
"UCOK...!" seru Pardi pelan tapi tegas, jari telunjuknya menunjuk tepat ke arah Santi. "AKU INGIN WANITA ITU!"
"Itu Santi kan? Wanita beranak satu yang sok suci dan munafik itu? Hahaha... Dulu susah banget aku dekatin, sok jual mahal banget. Ternyata sekarang jatuh juga ke tangan kita!"
Di sudut ruangan, Santi benar-benar syok. Matanya terbelalak luas, tubuhnya gemetar ketakutan luar biasa saat ditunjuk oleh lelaki itu. Napasnya tercekat, jantungnya berdegup kencang bak mau copot.
Namun, saat wajah lelaki itu semakin jelas terlihat olehnya... pikirannya berubah drastis.
'Tunggu... ini kan Mas Pardi? Lelaki yang dulu pernah ngejar-ngejar aku dan berusaha menggoda aku waktu aku masih punya suami!'
Rasa takut itu perlahan berganti menjadi secercah harapan besar. Sebuah rencana licik terbentuk cepat di kepalanya.
'Ini kesempatanku! Kalau aku sama dia, mungkin dia bakal bawa aku keluar dari tempat neraka ini. Aku bisa kabur lewat lelaki ini...'
Dalam hati dia bertekad bulat, meski terasa memalukan dan pahit.
'Walau harus tidur dengannya... walau harus melayani nafsunya... aku rela! Asal aku bisa selamat dan keluar dari sini hidup-hidup!'
Santi menundukkan wajahnya, menyembunyikan ekspresinya, siap memainkan peran sebagai wanita lemah yang pasrah untuk menjebak sang lelaki.
###############
PERTEMUAN LANGIT DAN YUSUF.
Hujan gerimis masih menyisakan basah di bumi, menyelimuti desa dengan suasana hening. Langit berdiri di bawah pohon beringin tua, mengenakan jaket hitam yang membuatnya nyaris menyatu dengan kegelapan malam.
Dari kejauhan, suara mesin mobil terdengar mendekat dan berhenti perlahan di balik semak belukar. Pintu terbuka, keluar seorang pria tinggi tegap berjas rapi—Yusuf.
Ia mengangkat kerudung jasnya agar tidak basah, lalu berjalan mendekati sosok yang sudah ia tunggu.
"Sudah lama tidak berdiri di tempat seperti ini ya Langit," ucap Yusuf pelan.
Langit menoleh, sedikit terkejut lalu tersenyum tipis.
"Kamu datang cepat sekali Kang."
"Ayo duduk dulu di situ yang kering."
Mereka duduk bersandar pada batang pohon besar, menatap arus sungai yang mengalir tenang.
"Kamu masih ingat kan waktu kita pertama kali bekerja sama merawat tanah kakekmu?" tanya Yusuf sambil menyentuh tanah basah.
"Bagaimana mungkin aku lupa," jawab Langit. "Waktu itu kamu selalu bilang, 'tanah itu seperti manusia—kalau kamu merawatnya dengan baik, dia akan memberikan yang terbaik untukmu.' Kata-katamu itu yang membuat aku yakin kamu pasti sukses besar."
Yusuf tersenyum lalu mengeluarkan kotak kayu kecil dari tasnya.
"Ini semua karena kamu Langit. Tanah, uang, dan kepercayaan yang kamu berikan. Tanpa itu, aku mungkin masih jadi orang kecil yang tak punya arah."
"Aku hanya memberi kesempatan, Kang. Kamulah yang bekerja keras meraihnya," sahut Langit. Wajahnya berubah serius. "Sekarang... giliran aku yang butuh bantuanmu."
"Aku siap membantu, walaupun nyawa menjadi taruhannya," jawab Yusuf tanpa ragu sedetik pun.
#PETA STRATEGI
Langit menggelar selembar kertas berisi sketsa peta kampung dan sekitarnya di atas batu besar yang datar.
"Lihat ini Kang. Titik merah adalah markas Pardi dan preman-preman itu. Titik biru rumah Jaji. Dan area hijau adalah tanah perkebunan teh target mereka."
Langit mulai menjelaskan semua intelijen yang ia dapat dari Abah Haruman.
"Surat klaim tanah itu palsu. Itu cuma tipuan Jaji. Tapi di balik itu, mereka sebenarnya mencari sesuatu yang tersembunyi di bawah tanah itu—entah harta atau apa, masih harus diselidiki. Dan mereka bukan orang sembarangan, mereka agen dari kekuatan besar."
"Kang, yang perlu kamu tahu, Nenek Wati dan anak kembar yang diasuh Intan adalah kunci utama. Mereka adalah jalan buat aku menemukan jati diriku yang sebenarnya."
"Abah Haruman bilang, aku harus tetap di belakang layar. Kamu yang jadi tangan kananku bergerak di depan. Kita lihat dulu seberapa jauh keluarga besar mereka ikut campur."
Yusuf mengangguk cerdas, mencerna setiap strategi.
"Jadi apa perintah pertamaku Tuan?"
"Pertama," jari telunjuk Langit menunjuk tajam. "Malam ini juga intai markas Pardi. Aku dapat info, mereka rencana mau habisi aku hari Minggu di saung sungai. Sedangkan hari Minggu aku sudah ada janji bertemu Sri (Istri Pardi) dan adiknya Dewi."
"Kedua, kita butuh bukti kuat soal surat palsu itu. Sri dan Dewi mungkin bisa bantu, tapi kamu yang temui mereka dulu. Jerat mereka dengan cara yang benar supaya mau bekerja sama."
"Ketiga soal keamanan," sela Yusuf cepat. "Sebaiknya Nenek dan Teh Intan jangan dipindahkan, biarkan tetap di rumah. Aku punya orang-orang ahli bela diri yang siap jadi pengawal bayangan. Mereka akan jaga 24 jam tanpa terlihat."
Langit tersenyum lebar, puas.
"Ide bagus Kang! Persis seperti yang aku pikirkan."
Yusuf pun mengeluarkan peralatan canggih dari tasnya—kamera mata-mata mini, alat komunikasi aman, dan dokumen hukum.
"Siap semua. Tinggal eksekusi."
#PERJANJIAN SEHIDUP SEMATI
Langit mulai memerah di ufuk timur, menandakan fajar segera datang. Hujan sudah reda, menyisakan kabut tipis di atas permukaan air.
"Kamu tahu kan Kang," ucap Langit lembut. "Dulu saat aku bantu kamu, aku cuma ingin lihat kamu bahagia. Nggak pernah nyangka bakal sehebat ini dan balik bantuin aku di saat sulit."
Yusuf menepuk bahu sahabatnya erat.
"Kamu selamatkan hidupku Langit. Bukan cuma fisik, tapi juga masa depanku. Sekarang giliran aku. Hidup matiku ada di tanganmu."
Mereka berdiri berhadapan, saling tatap penuh tekad.
"Kita tidak akan sakiti orang tak bersalah," tegas Langit. "Tapi bagi mereka yang main kotor... biar mereka rasakan balasannya."
"Siap Komandan!" jawab Yusuf mantap.
Yusuf pun pamit masuk ke mobilnya dan melaju perlahan menghilang di tikungan jalan desa.
#PASUKAN BAYANGAN
Setelah kepergian Yusuf, suasana kembali hening. Namun Langit tidak langsung beranjak. Ia menatap lurus ke arah pepohonan yang gelap.
"Kalian semua... sudah saatnya menunjukkan diri."
CATATAN PEMBACA:
SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!
SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.
JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!
SALAM DARI ANAK KAMPUNG,
ARIS.
Bersambung.