NovelToon NovelToon
TUKAR JODOH (SUAMIKU KAYA)

TUKAR JODOH (SUAMIKU KAYA)

Status: tamat
Genre:CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:104.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_va

Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.

Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.

Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.

Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.



Simak cerita selengkapnya 🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

"Kenapa ada bunga-bunga kayak gini?" keluh Dewa yang ingin beristirahat seusai mandi dan berganti pakaian.

Dewa menarik selimut tebal itu, kelopak -kelopak bunga mawar terpental ke lantai.

Gita hanya bisa memandangi kelakuan Dewa yang tidak sesuai ekspektasi. Berharap ada malam romantis di malam pengantin sebagai istri dan suami sah.

"Tidurlah, besok pagi kita pindah ke rumahku," kata Dewa, membuka kausnya lalu berbaring di balik selimut. Tidur miring membelakangi Gita yang masih berdiri di sisi tempat tidur.

Di antara kekesalannya yang memuncak, Gita masih saja memikirkan foto untuk diunggah esok hari. Gita memotret Dewa yang tidur miring.

"Git...." Dewa membalikkan badan.

"Tolong jaga sikapmu, karena kamu istriku. Tolong juga jangan asal posting-posting. Kalau ingin posting, posting yang bermanfaat."

"Iya, aku tahu. Aku tahu batasannya, Mas," sahut Gita agak sewot. Lantas membuka jubah tidurnya, membiarkan tali bahu lingerie melorot turun. Sehingga bongkahan payudara terlihat hampir keseluruhan. Gita juga memiliki kulit putih seperti Nara, hanya bentuk tubuh yang beda.

Gita sangat bangga mempunyai tubuh yang molek. Lelaki mana yang tidak tergiur dua buah dada yang bulat besar? Dewa jatuh dalam pelukannya karena hal itu. Ah, kecuali Rama yang tidak tertarik. Mendadak Gita ingat mantan pacarnya itu.

"Mas, beneran nggak mau....?" Gita naik ke tempat tidur.

"Aku lelah."

"Aku yang kerja, deh." Tangan Gita mengusap milik Dewa yang masih tersembunyi di balik celana.

"Terserah..."

Gita tersenyum centil. Kedua tangannya menarik turun boxer dan celana panjang Dewa. Lalu berusaha membangunkan naga kecil itu. Karena tidak ada respons, Gita berhenti mengulum. Dewa malah tidur nyenyak sehingga miliknya tidak bereaksi.

"Dasar suami nggak peka," omel Gita, kemudian berbaring di sebelah Dewa yang mulai mendengkur halus.

Keesokan paginya, Gita sengaja memesan sarapan yang diantar ke kamar. Lagi-lagi hanya untuk kebutuhan unggahan di media sosial.

"Mas, foto bentar di balkon ya? Sekali saja," bujuk Gita.

"Iya, buruan." Dewa berjalan ke balkon kecil.

Gita meletakkan ponsel di tripod kecil, di atas meja yang mengarah ke arah balkon. Buru-buru dia berdiri di sebelah Dewa, memeluk pinggang suaminya.

"Sudah, kan? Ayo berkemas, kita pulang dulu ke rumah orang tuaku. Ambil kunci rumah," kata Dewa.

"Iya!" Gita menyahut kasar.

Dewa menunggu Gita yang sedang berkemas, mengepak pakaiannya dan skincare. Sambil menunggu, Dewa kepo dengan isi akun Nara.

Nara memosting empat foto di bioskop, foto kebersamaan dengan keluarga. Hatinya memanas karena foto di slide akhir. Nara dan Rama saling menatap sementara tangan Nara memeluk lengan Rama.

"Katanya disuruh cepat-cepat malah main hape," tegur Gita.

"Tolong bawakan koperku."

Dewa mengantongi ponselnya, meraih koper kecil itu. Keduanya keluar kamar bersamaan.

Sekitar pukul sebelas siang, mereka sampai di kediaman Harmi. Gita terpaksa ikut turun dari mobil, walaupun malas.

"Wah, masak apa, Bu?" tanya Dewa.

"Gulai daging sapi. Makan siang dulu," kata Harmi.

Keluarga Dewa cukup kaya karena Ganjar punya usaha laundry kiloan dan koin. Selain itu, Harmi punya warisan tanah.

"Gita, ayo makan sini," suruh Harmi.

"Iya, Ma." Gita terpaksa sekali harus makan. Duduk di kursi meja makan tanpa disuruh.

"Loh, buatkan suamimu minum. Kok malah duduk, Git ...." tegur Harmi galak.

"Nara dulu kalau ke sini, kalau pas makan pasti ngambilkan minum atau membuatkan kopi buat Dewa."

Gita menahan amarah karena dibandingkan dengan Nara. Dewa hanya diam saja.

"Mau minum apa, Mas Dewa?"

"Air putih dingin...." jawab Dewa.

Hari pertama sebagai istri sah harusnya penuh kebahagiaan, kan? Gita pun beranjak dari kursi, mengambilkan segelas air putih dingin untuk suaminya.

...****************...

Pagi menunjukkan waktu pukul enam. Udara terasa sejuk dan segar.

Nara berlari di belakang Rama, mereka berolahraga bersama. Jalanan masih lengang karena hari Minggu. Rama melambatkan larinya, menunggu istrinya yang masih di belakang.

"Masih kuat?" tanya Rama, karena Nara belum terbiasa olahraga lari.

Satu jam sebelum olahraga, Rama menyuruh Nara makan buah pisang dan cukup minum air putih. Juga melakukan pemanasan. Nara menggeleng, napasnya terdengar berat. Peluh membasahi kening, pelipis, dan leher. Kaus putih yang dikenakan juga basah sehingga mencetak sport bra hitam.

"Kita jalan dulu." Rama memberikan waktu bagi Nara untuk menarik napas dalam-dalam. Lalu memandangi celana pendek hitam. Rama pikir kependekan padahal dia yang membelikan. Termasuk kaus, seharusnya tidak memilih warna putih. Tetapi, secara keseluruhan penampilan Nara sangat menarik.

Pasangan suami-istri itu jalan bersisian. Berpapasan dengan sekelompok lelaki bersepeda. Lalu ibu-ibu cetar yang hanya fomo berolahraga, tapi terlihat menyenangkan dan ceria.

"Aku kalau udah tua apakah punya geng atau grup seperti mereka?" gurau Nara.

"Nggak apa-apa, tergantung kamunya. Kalau nyaman dan suka kenapa tidak?" sahut Rama.

Nara mengangguk. "Mungkin bersama Intan dan Ajeng."

Ketika melewati alun-alun, banyak sekali pedagang makanan. Kebanyakan yang beli orang-orang yang selesai olahraga.

"Lontong sayur kayaknya enak," gumam N.ara.

"Sarapan di rumah saja. Percuma ngos-ngosan terus makan lontong," tukas Rama.

Nara tergelak. "Kalau besok boleh ya Mas?"

"Nggak tahu," canda Rama.

Rama lebih suka memasak sendiri. Kadang-kadang saja beli matang atau pesan antar. Masih makan gorengan tapi tidak tiap hari.

Sesampainya di rumah, Rama merebus telur dan memanggang roti gandum yang dioles alpukat dan sedikit madu.

Nara yang belum terbiasa sarapan itu agak-agak mengernyit. Kadang suaminya hanya sarapan salad sayur. Mana kenyang?

"Kalau di rumah Mas Rama sarapannya juga ala-ala barat ya?" Nara melepas kaus. Hanya memakai sport bra.

"Nggak, Sayang. Oma kadang sarapan nasi kuning, siang nasi liwet, malam nasi goreng. Bumbunya yang lebih diperhatikan. Misal garamnya dibatasi," jelas Rama meletakkan piring berisi roti panggang dan telur rebus.

"Aku jadi ingat, kami kalau piknik, ibu bikin arem-arem dan masak telur rebus untuk bekal," ucap Nara. "Simpel dan mengenyangkan."

"Cobalah."

"Alpukat enaknya dibuat jus dikasih susu kental manis cokelat," celetuk Nara. Ternyata roti panggangnya lumayan enak. Bisa diterima lidah.

Satu jam kemudian, Rama berangkat ngojek. Dia belum diterima kerja. Kadang berpikiran mungkin papanya masih mengawasi.

Sedangkan Nara membawa keranjang kotak berisi pakaian ke ruang depan. Nara memasang meja setrika rendah supaya bisa duduk. Baru saja mencolokkan kabel setrika dan duduk, terdengar pintu diketuk.

"Paket."

"Jam segini sudah ada kang paket." Nara segera berdiri dan membuka pintu.

Nara memandangi paket yang diterima ada tiga semua atas namanya. Tetapi tidak merasa memesan.

Paket itu tidak langsung dibuka, Nara mengecek aplikasi oranye dulu. Ternyata barang-barang di keranjangnya sudah di-check out. Keseluruhan ada enam.

"Pasti Mas Rama," ucap Nara lirih.

Nara mengirim pesan untuk memastikan. Sedetik kemudian ada pesan masuk, tapi bukan balasan dari suaminya.

[Nara, ini mama Sekar. Salam kenal. Kita belum berkenalan langsung. Mama ingin bertemu dengan orang tuamu. Bisa minta nomor hape mamamu?]

1
A.R
kayak pernah baca deh di aplikasi sebelah,apa author yg sama yhh
Komsiyah Komsiyah
Rama kok berubah ubah namanya jadi Panji
Shiro Oni Weapon Master
baru mampir
Teh Yen
aku udh otw Thor 😁 seru critanya
Teh Yen
trim kasih othor 🙏🤗 sukses.trus ke depannya yah
Teh Yen
yaah udh tamat aj itu anknya Radit blom brojol.thor.cwok.apa.cewek.tuh hehe 😁
Teh Yen
Alhamdulillah Nina udh Hamil.yah
Teh Yen
c Gita mah engg ada kapoknya masa iya satpam apartemen jg d embat yah astagfirullah
Teh Yen
itu pasti.c Gita wah mukanya.hancur.dong eng cantik lagi kena pecahan kaca mobil yah iih ngeri
Teh Yen
sabar yah Nina baru jg nikah berpa.minggu hehe usah aj terus Nina
Teh Yen
lah.mobilnya d curi orang git ,, padahal itu harta terakhir kamu yg paling mewah yah sayang sekali 🥺
Teh Yen
Nina biasa kerja keras skrng jd istri seorang.ceo malah bingung kagak ngapa"in yah Nina 🤭
Teh Yen
haha engg pa pa mas Rama biar membulat bersama kan adil 🤭🤭
Uthie
Baca sedikit cerita nya aja pasti gak kalah bagus dehhh sama yg sekarang sy baca 👍👍👍😘😘😘😘🤩
Uthie: 😘😘😘😘😘😘
total 2 replies
Uthie
Terimakasih atas karyanya yg senang banget bacanya 👍👍👍🤩🤩🤩

Aslii lohhhh.. ini sedari awal mampir langsung maraton dan gak pindah ke lain hati dulu, sampai pada akhir cerita ini 👍👍👍🤩🤩🤩🤩🤩🤗🤗
Tri Wahyuni: 😍😍😍😍😍
total 1 replies
Uthie
Yaaa....udahan 🤩🤩🤩🤩
Uthie
senang nya 👍👍👍
Uthie
nyebelin cowok banci macam si Andre yg adem ayem sama selingkuhan nya dan gak inget sama anak yg dulu dia buat pada mendiang istrinya 😡😡
Uthie
sukkkkaaa BANGETTT 👍👍👍
Uthie
😂😂😂😂😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!