NovelToon NovelToon
Ramadan'S Promise

Ramadan'S Promise

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:21.9k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

Dilarang memplagiat karya!


"Dia memilih kakakku..." --Hawa--

"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--

Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.

Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 21 Hidayah

Happy reading

Pagi ini ada pemandangan yang sedikit berbeda di dapur kediaman Abimanyu. Bukan hanya Hawa yang telaten membantu Bi Ijah menyiapkan sarapan, melainkan Hanum pun turut serta terjun ke dapur.

Hanum memaksa jemarinya yang halus untuk mengupas bawang putih dan bawang merah. Sensasi panas dan getir dari getah bawang sempat terasa menyiksa kulitnya yang sensitif. Namun, berkat dorongan semangat dari Hawa serta keinginan yang menguat untuk belajar memasak demi Damar, ia mencoba mengabaikan siksaan kecil itu.

"Bi, bawang putih dan merahnya segini sudah cukup?" tanya Hanum sembari memperlihatkan mangkuk porselen berisi dua jenis bawang yang telah bersih dikupasnya.

Bi Ijah mengecilkan kompor, lalu menoleh. Matanya berbinar melihat antusiasme calon pengantin itu. "Sudah lebih dari cukup, Non Hanum. Wah, kalau begini caranya, Mas Damar pasti bakal betah makan di rumah terus nanti."

Hanum tersenyum malu-malu mendengarnya. Ada rona bahagia yang menjalar di pipinya saat membayangkan masa depan bersama Damar, laki-laki yang berhasil masuk ke dalam relung rasa.

Hawa yang sedang memotong ketimun di samping Hanum, ikut mengulas senyum tulus. Tidak ada lagi sesak yang menghimpit, tidak ada lagi rasa iri yang tersisa.

Ia benar-benar sudah legawa. Baginya, kebahagiaan Hanum adalah prioritasnya sekarang. Ia ingin menjadi saksi sekaligus pendukung utama bagi perjalanan baru sang kakak.

"Semangat, Kak. Sedikit lagi pasti mahir," bisik Hawa lembut, menyentuh pundak Hanum dengan penuh kasih. "Damar itu orangnya nggak ribet. Masakan apa pun yang dibuat dengan cinta, pasti dia suka."

Hanum menoleh, menatap adiknya dengan binar haru. "Makasih ya, Dek. Tanpa kamu, Kakak mungkin nggak akan punya keberanian buat pegang pisau begini."

Hawa mengangguk, lalu mengejapkan mata. Tangannya kembali lincah merajang lalapan, seirama dengan hatinya yang kini terasa jauh lebih ringan.

Ia tulus membantu Hanum mempersiapkan diri menjadi istri terbaik untuk Damar, meski itu berarti... ia harus benar-benar mengubur kepingan masa lalu mereka dalam-dalam.

Janu dan Gistara duduk berbaur dengan kedua putri mereka begitu deretan menu sarapan telah tersaji di atas meja. Aroma nasi goreng hangat, telur mata sapi, dan ayam goreng ungkep memenuhi ruangan, mengundang selera.

Seperti biasa, mereka menikmati hidangan yang tersuguh tanpa banyak kata--sebuah tradisi keheningan yang lazim di meja makan kediaman Abimanyu.

Janu sempat tertegun, sendoknya tertahan di udara saat tatapannya jatuh pada putri bungsunya. Penampilan Hawa pagi ini benar-benar berbeda. Rambut panjang yang biasanya dikuncir kuda atau dibiarkan tergerai, kini telah terbalut rapi oleh pasmina berwarna peach yang lembut. Warna itu membuat wajah Hawa tampak lebih cerah dan teduh.

"Hawa... kamu?" Janu menggantung kalimatnya, matanya menatap lekat ke arah pasmina yang dikenakan putrinya. Ada binar keheranan sekaligus kekaguman yang tak bisa ia sembunyikan.

Hawa hanya menunduk sedikit, menyunggingkan senyum tulus yang menenangkan. "Iya, Yah. Hawa sedang belajar menutup aurat. Mohon doanya ya, Yah," jawabnya lembut, namun sarat akan kemantapan hati.

Gistara yang duduk di samping Janu hanya melirik sekilas, lantas kembali menyesap tehnya. Ia memilih bungkam, seolah-olah penampilan baru Hawa pagi ini hanyalah angin lalu yang tak perlu ia komentari lagi setelah perdebatan panas kemarin.

"Hawa, kamu semakin cantik jika berpenampilan seperti ini. Pertahankan, jangan buka-lepas," tutur Janu bijak.

Kalimat sederhana itu sukses membuat Hawa dan Gistara menatapnya dengan raut heran yang serupa. Hawa sungguh tidak menyangka ayahnya akan memberikan dukungan sehangat itu, tanpa ada nada menghakimi sedikit pun seperti yang dilakukan bundanya kemarin. Di mata Janu, perubahan Hawa adalah sebuah kebanggaan, bukan hal yang perlu dipermasalahkan.

Namun, keteduhan itu seketika koyak oleh suara yang datang dari sisi meja sebelah.

"Bunda yakin, Hawa tidak akan istikamah memakainya. Karena niatnya bukan benar-benar tumbuh dari dalam hati, melainkan hanya karena terpengaruh pelayan itu," Gistara menyahut.

Suaranya rendah dan terdengar begitu tenang, namun kata-katanya teramat tajam hingga terasa menghujam tepat di ulu hati Hawa.

Gistara tetap pada pendiriannya; baginya, selembar kain di kepala Hawa hanyalah aksesori pembangkangan yang dipicu oleh laki-laki yang dianggapnya tak sederajat.

Hawa terdiam, genggaman sendoknya sedikit mengeras. Ia ingin membela diri, namun tatapan teduh ayahnya seolah memintanya untuk tetap bersabar.

Seusai menandaskan sarapannya, Janu kembali menatap Hawa. Ia menelisik wajah sang putri yang kini tampak lebih teduh dan bercahaya, tanpa gurat sendu yang beberapa hari ini sempat ia dapati.

"Hawa, jika boleh Ayah tahu, apa motivasimu menutup aurat?" Janu membuka suara. Nada bicaranya rendah dan tenang, jauh dari kesan mengintimidasi.

"Hawa... ingin belajar menjadi hamba yang taat pada perintah Allah, Yah. Berusaha memantaskan diri sebelum Allah menunjukkan jodoh yang sebenar-benarnya untuk Hawa," jawab Hawa penuh keyakinan.

Janu mengangguk-angguk pelan, atensinya tak beralih sedikit pun. "Jika memang demikian, kenapa Bunda mengatakan penampilanmu ini karena pengaruh seseorang? Kalau benar, siapa dia?"

Hawa sedikit menunduk, jemarinya saling meremas di pangkuan. Rasa takut kembali menyelinap saat ia hendak memberi jawaban jujur.

"Dia... Rama, Yah. Mahasiswa fakultas humaniora yang bekerja sambilan di Warung Merapi sebagai waiter." Hawa menjeda sejenak, lalu perlahan mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap sang ayah. "Rama yang telah menunjukkan Hawa jalan cahaya. Dia menyadarkan Hawa mengenai kuasa Allah dan kewajiban yang harus dipatuhi oleh seorang hamba."

Hening turun sejenak, membiarkan Janu menelaah setiap kata yang mengalir dari bibir putrinya.

"Apa dia fasih membaca Al-Qur'an?" tanya Janu lagi.

"Sangat fasih, Yah," jawab Hawa tanpa keraguan sedikit pun.

"Panggil dia ke rumah!"

Hawa mengerutkan dahi. Begitu pula Gistara dan Hanum yang sedari tadi menyimak dalam diam. Ketiganya melayangkan tatapan penuh tanya yang menuntut penjelasan.

"Untuk apa, Yah?" suara Hawa nyaris menyerupai bisikan, terselip nada waswas di sana.

"Ayah ingin belajar mengaji darinya. Sudah setua ini, Ayah hanya bisa membaca Iqro'. Ayah belum paham tajwid apalagi hukum bacaan."

"Kita bisa memanggil Ustaz, Yah. Kenapa harus dia?" sela Gistara, tak setuju.

Janu mengalihkan atensi sepenuhnya pada sang istri. "Bun, pemuda itu berhasil menunjukkan jalan cahaya pada putri kita. Jika dia fasih membaca Al-Qur'an, itu menunjukkan kedalaman ilmu agama yang ia punya."

"Tapi, Yah--"

"Sudah ya, Bun. Ayah sedang tidak ingin berdebat. Ayah ingin menemukan ketenangan hidup, mempersiapkan bekal sebelum Allah memanggil kita 'pulang'."

Gistara menatap lekat manik mata Janu yang nampak menyendu. Seakan ada sesuatu yang tengah disembunyikan di balik sikap tenang suaminya itu. "Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Ayah bicara begitu?" cecarnya.

Janu meraup udara dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan untuk mengusir sesak yang bercokol di dada.

"Kemarin, sewaktu pulang dari kantor, Ayah menyaksikan tabrakan beruntun. Banyak korban bersimbah darah dan meninggal di tempat. Kejadian mengerikan itu terjadi tepat di depan mata Ayah..." Janu menghela napas, mengumpulkan kekuatan. "Dari sana Ayah tersadar bahwa maut bisa menjemput kapan saja. Sungguh, Ayah takut. Ayah belum siap jika kemalangan itu menimpa Ayah atau keluarga kita."

Suara Janu merendah, sepasang matanya mengembun, mewakili kecemasan yang sejak kemarin ia simpan rapat-rapat.

Gistara bergeming. Pun Hawa, Hanum, dan Bi Ijah yang tak sengaja mendengar dari balik dinding.

Ruang makan itu seketika diliputi keheningan yang merayap, hanya menyisakan suara embusan napas yang terdengar berat dan saling bersahutan.

🍁🍁🍁

Bersambung

1
Haura Az Zahra
ditambah komedi tambah seru ceritanya thor
Najwa Aini
Aku bacanya telat banget..maaf ya..
aku vote deh..
Najwa Aini
Baarokallaahuu
Najwa Aini
eh pecah banget candaanmu Rama
Najwa Aini
Aku kok turut bahagia ya
Najwa Aini
Nahhh begitu non Hawa...Ambil sisi positifnya ya
Najwa Aini
Rama. aku udah lama pingin alphard..eh kamu udah punya duluan tanpa pamit
muthia
mertua idaman
Ayuwidia: Bener banget, Kak 😊
total 1 replies
muthia
ulat bulu mulai beraksi
Najwa Aini
Nah kann..Rama kalau udah mode kayak gini aku langsung terbayang dia pakai jubah dan surban...ala² ustadz milenial gitu...atau pakai kupluk juga boleh..ala² ustadz tenar
Ayuwidia: Wkkk, dia sukanya pake kemeja atau pake atasan Koko putih, Kak. Kaya' Ustadz Denis Liem 😄
total 1 replies
Najwa Aini
Ini akal²an si autor si Dzaki atau si Rama gak diikutkan. padahal itu momen yg ditunggu
Ayuwidia: Tau aja
total 1 replies
Mila Mulitasari
lah udah termasuk obsesi ga si tu thor maksa banget heran, namanya ulat dimana aja bisa merayap, moga aja rama cepat membasmi ulat2 gatal, maaf thor esmosi saya kalau masalah ulat🤭
Ayuwidia: hiyaaa, Kak 😆
total 3 replies
Mila Mulitasari
pliss jgn ada orang ke 3 baru aja mereka melangkah bersama masa udah ada ulat nangka
Ayuwidia: Justru untuk menguji kesungguhan cinta dan kesetiaan seorang Dzaki Ramadan Bagaskara, Kak 😉
total 1 replies
muthia
Alhamdulillah🙏
Mila Mulitasari
alhamdulillah otw menuju qobiltu ini😍
Ayuwidia: Insyaallah, semoga ya, Kak 🥰
total 1 replies
Ririn Rira
Nungguin reaksi Damar lagi nih 🤭
Ayuwidia: Hiyaaa 😄
total 1 replies
Ririn Rira
Akhirnya restu sudah di kantongi, Rama dan Hawa kebalikan dari Jehan dan Sebria🥰
Ririn Rira: Iya kak mohon maaf lahir batin juga ya
total 2 replies
Ririn Rira
Ada aja cobaan nya semoga Hawa nggak parah
Ririn Rira
Sedalam itu makna dari nama seorang Rama
Ririn Rira
Nggak sabar pengen tau gimana reaksi mama nya Hawa kalau tau Rama itu siapa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!