Seorang gadis cantik bernama Anggi yang menjadi korban perceraian orangtuanya karena ayahnya selingkuh dengan sahabat ibunya sendiri. Kejadian itu pun dialami oleh Anggi sendiri.
Anggi memiliki sahabat dari kecil bernama Nia. Bahkan dia sudah dianggap Nia saudara sendiri bukan lagi seperti sahabat. Nia mengkhianati Anggi dan mengambil kekasih Anggi.
Bagaimana kisah selanjutnya yuk baca cerita selengkapnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenca04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Nia pulang ke rumahnya sambil cemberut karena dia masih saja kesel dengan Anggie dan teman-temannya. Mereka membicarakan tentang kedekatan Zian dan Anggie.
Rasti sang ibu melihat Nia yang seperti itu bertanya-tanya.
"Kakak, kamu kenapa kok cemberut kayak gitu?" Nia yang sedang duduk di sofa ruang tamu dengan masih menggunakan seragam langsung melihat ke arah ibunya sambil menangis. Rasti yang khawatir dengan anaknya langsung memeluknya.
"Anak Mama kenapa kok pulang-pulang nangis ada apa?"
"Aku kesel sama Anggie Ma."
"Memangnya Anggie kenapa? Dia nyakitin kamu? Kalau gitu Mama harus bikin perhitungan sama dia," Rasti langsung beranjak dari tempat duduknya namun Nia mencegahnya.
"Tunggu Ma."
"Apa lagi? Mama gak akan biarin dia nyakitin kamu setelah dulu dia mutusin persahabatan kamu dan sekarang dia nyakitin kamu lagi."
"Anggie memang nyakitin aku Ma, tapi sekarang dia udah merebut Kak Zian dari aku."
"Apa?! Anggie merebut Zian dari kamu?" Nia mengangguk pelan.
"Mama gak akan biarin kamu di sakiti lagi apalagi dia udah berani merebut Zian. Ini gak bisa dibiarkan. Mama harus pergi ke sana."
Rasti mengambil kunci mobilnya dan bersiap pergi ke rumah Anggun. Nia dengan senyum sinis nya merasa menang kalau dia akan segera mendapatkan Zian.
Di rumah Anggun memang kebetulan tidak ada di rumah. Ia sedang pergi bertemu dengan temannya. Anggie yang di rumah hanya sendiri setelah pulang sekolah tadi diantar Zian. Ia tidak mampir karena harus latihan basket untuk turnamen antar sekolah besok.
Anggie yang di temanin Mbok Siti duduk sambil nonton TV di rumahnya tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Biar aku Mbok yang buka."
Anggie pun bergegas membuka pintu namun saat pintu di buka Anggie betapa terkejutnya saat dihadapkan dengan Rasti.
Plak
satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Anggie. Anggie yang kaget mendapatkan perlakuan seperti itu langsung memegang pipinya yang terasa panas.
"Maksud Tante apa tiba-tiba nampar aku?"
Plak
Kali ini Rasti menampar pipi sebelah kiri Anggie.
"Ini untuk peringatan kamu supaya kamu gak coba-coba buat deketin Zian. Kamu tahu kan kalau Zian itu sudah dijodohkan sama Nia. Kalau kamu coba-coba buat deketin Zian lagi aku gak akan bikin yang lebih dari itu," Rasti pun kembali pergi.
Mbok Siti yang penasaran dengan tamu yang datang ia pun pergi ke depan ingin melihat Anggie membuka pintu tapi lama gak balik lagi. Tapi pemandangan yang terkesan menyakiti Anggie terlihat jelas oleh Mbok Siti.
Mbok Siti langsung berlari menghampiri Anggie. Ia langsung memeluk Anggie dan seketika itu Anggie pingsan.
"Astaghfirullah, Mbak. Bangun Mbak."
Mbok Siti dengan sekuat tenaga memapah Anggie hingga di sofa. Anggie di rebahan di sofa. Mbok Siti langsung mengambil minyak angin untuk mencoba menyadarkan Anggie. Selang beberapa menit Anggie pun sadar.
"Alhamdulillah, Mbak sudah sadar," Mbok Siti bersyukur saat melihat Anggie siuman.
"Mbak gak kenapa-kenapa? Pipi Mbak bengkak, Mbok bantu kompres pake air hangat ya. Mbak juga istirahat aja di kamar yuk Mbok bantu."
Anggie dibantu asisten rumah tangganya masuk ke kamarnya untuk istirahat. Mbok Siti pun membawa air hangat dan handuk kecil untuk mengompres pipi Anggie.
Anggie meringis kesakitan saat si Mbok mulai mengompres.
"Maaf Mbak," Anggie hanya diam.
"Sekarang Mbak istirahat aja ya. Nanti kalau butuh apa-apa panggil Mbok aja ya. Mbok di luar," mbok Siti pun beranjak dari tempat duduknya tapi Anggie mencekal tangan Mbok Siti lalu menggeleng pelan.
"Mbak mau ditemenin sama Mbok di sini?" Anggie mengangguk hingga si Mbok pun menemaninya tidur di ranjang.
Mbok Siti merasa kasian melihat Anggie yang seperti itu. Mbok Siti memang tahu sedikit tentang trauma yang pernah Anggie derita dulu karena waktu itu ia yang kerja membantu Anggun di rumah saat kondisi Anggie sama seperti sekarang.
"Apa mungkin trauma Mbak Anggie kembali kambuh? Aku harus segera kasih tahu Ibu."
Setelah Anggie tertidur Mbok Siti langsung turun dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Anggun.
Anggun yang sedang bertemu dengan teman-temannya cukup kaget saat melihat layar ponselnya dan Mbok Siti yang memanggil.
"Assalamualaikum Mbok ada apa?"
"Waalaikumsalam, Bu. Mbak Anggie," ucap Mbok Siti sambil bergetar.
"Anggie kenapa Mbok?"
"Trauma mbak Anggie sepertinya kambuh lagi Bu."
"Saya pulang sekarang pastikan mbok temenin Anggie sampai saya datang."
Anggun langsung bergegas pulang saat mendengar kabar anaknya kembali trauma.
"Mau kemana Gun?" tanya Intan.
"Anggie sakit jadi harus segera pulang."
"Anggie sakit apa?"
"Gak tahu makanya aku mau pulang dulu."
"Hati-hati di jalan ya, nanti kabari kita aja kalau ada apa-apa."
sesampainya di rumah Anggun langsung masuk ke kamar Anggie. Anggun melihat Anggie tertidur sambil di usap pelan punggungnya oleh Mbok Siti.
Anggun melihat kondisi Anggie seperti ini tak kuasa menahan air matanya menetes. Pasti ada penyebab yang memacu kembali kambuhnya trauma Anggie.
Mbok Siti yang melihat Anggun datang langsung turun dari ranjang.
"Apa yang terjadi Mbok?"
"Tadi Mbok lihat Mbak Anggie di tampar sama ibu-ibu tapi Mbok gak tahu siapa dia. Mungkin Ibu bisa lihat di cctv siapa tahu kenal. Mbak Anggie di tampar dua kali Bu. Sampai bengkak wajahnya," Mbok Siti menunjukkan pipi Anggie yang memang masih terlihat bengkak walaupun mbok Siti sudah mengompres dan memberikan salep.
Anggun langsung menghubungi Angkasa dan minta di cek cctv saat tadi siang karena memang yang memegang kendali cctv adalah Angkasa.
"Assalamualaikum Bun, ada apa?"
"Waalaikumsalam, Bang. Bunda bisa minta cek cctv tadi siang gak?"
"Memangnya ada apa Bun?"
"Adek sepertinya kembali kambuh traumanya," lirih Anggun.
Angkasa langsung melihat rekaman cctv apa yang terjadi tadi siang dan membuat adiknya kembali trauma. Angkasa mengepalkan tangannya saat melihat perlakuan Rasti kepada adiknya yang begitu kejam hingga menampar Anggie dua kali.
"Bun sekarang bawa adek ke rumah sakit aja karena adek pasti akan demam nanti malam. Masalah yang terjadi tadi siang biar Abang yang tanganin bunda cukup jaga adek saja."
"Memangnya siapa wanita yang sudah menampar Anggie?"
"Tante Rasti. Dia yang sudah menampar adek dua kali. Ini biar jadi urusan Abang. Sekarang bunda bawa adek ke rumah sakit aja supaya adek bisa kembali pulih."
setelah menutup panggilan dari Angkasa, Anggun kembali ke kamar Anggie dan benar saja Anggie demam. Mbok Siti dengan sigap mengompres dahi Anggie.
"Adek demam ya Mbok?"
"Iya Bu. Mbak Anggie demam."
"Kita bawa ke rumah sakit aja Mbok. Tolong siapin bajunya Anggie aja buat di bawa ke rumah sakit."
Mbok Siti langsung memasukkan baju yang akan di bawa ke rumah sakit.
Kini mereka pun sudah ada di rumah sakit. Dokter Abimanyu atau biasa di panggil dokter Abi. Ia dokter yang biasa menangani Anggie.
Dokter Abi yang sudah stand by di rumah Sakit karena sebelumnya ia ditelpon terlebih dahulu oleh Anggun.
Anggie yang sekarang sedang ditangani dokter Abi dan diharuskan untuk melakukan fisioterapi kembali.
"Apa pemicu trauma Anggie masih sama? Karena saya melihat dari gejalanya sama seperti dulu waktu pertama Anggie dibawa ke sini."
Anggun mengangguk pelan. "Saya lihat dari cctv memang orang yang sama seperti beberapa tahun yang lalu."
"Semoga saja trauma Anggie kali ini tidak seburuk yang beberapa tahun lalu."
Anggun sangat berharap kalau Anggie bisa kembali sembuh seperti dulu.