Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.
Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?
Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 — Ketika Nada Menjadi Sunyi
Waktu bergulir cepat, seperti napas yang ditahan terlalu lama lalu dilepaskan sekaligus, tanpa jeda untuk bersiap.
Di belakang panggung, dunia bergerak dengan irama yang tidak pernah benar-benar sinkron. Lampu-lampu sorot berpendar, sebagian menyala terlalu terang, sebagian lain berkedip menunggu aba-aba. Kabel-kabel berseliweran di lantai, dilangkahi dengan hati-hati oleh panitia dan mahasiswa yang membantu persiapan penutupan. Suara mereka saling memanggil nama, bertanya, memberi instruksi, bercampur menjadi satu dengung yang menekan pelipis.
Hinami mondar-mandir dengan headset menggantung di leher, clipboard di tangan. Wajahnya tegang, tapi matanya tajam dan terjaga. Ia memastikan urutan tampil, mengecek ulang daftar lagu, memastikan semua properti aman, memastikan Silent Echo siap naik tanpa kendala. Sesekali ia berhenti, menoleh ke panggung, menghitung detik di kepalanya.
Ia tahu, penutupan bukan sekadar penampilan.
Itu klimaks.
Jam digital di sisi panggung menyala jelas.
21.00.
Waktu penutupan Festival Halloween Universitas Aozora.
Lampu panggung belum dinyalakan sepenuhnya. Dari balik gelap, hanya siluet seluruh personel Silent Echo yang terlihat. Kostum Halloween mereka tidak berlebihan, tidak mencolok, tapi menyatu dengan tema malam. Kain gelap dengan aksen berkilau memantulkan cahaya tipis. Riasan sederhana memberi kesan dramatis tanpa menghilangkan identitas mereka.
Mei berlutut di depan keyboard, memastikan kabel tidak longgar. Haruto mengencangkan strap bassnya, menariknya dua kali untuk memastikan kuat. Yukito memutar stik drum di antara jari-jarinya, kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan saat mencoba menenangkan pikirannya. Ren berdiri sedikit menjauh dari yang lain, menatap panggung kosong dengan rahang mengeras, seperti seseorang yang bersiap menghadapi sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Dan di tengah mereka, Airi berdiri.
Ia sudah tersenyum.
Ia sudah menarik napas.
Ia sudah mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia bisa.
Namun sejak kejadian sore itu, sejak kata-kata yang tidak ia minta tapi harus ia terima, ada jarak yang tidak terlihat tapi terasa jelas. Airi tidak berani menatap Yukito langsung. Setiap kali mata mereka hampir bertemu, ia mengalihkan pandangan. Bukan karena marah. Bukan karena jijik. Lebih karena bingung. Karena ada sesuatu yang belum siap ia pahami, apalagi ia jawab.
Yukito menyadarinya.
Dan seperti janjinya, ia tidak menuntut apa pun.
Ia tidak mendekat. Tidak bertanya. Tidak memaksa Airi menatapnya. Ia hanya berdiri di tempatnya, siap menjaga tempo, siap menyesuaikan ritme jika Airi goyah.
Hinami menghampiri mereka, mengangkat ibu jari.
“Siap. Ingat, kita tutup dengan tiga lagu.”
Lampu panggung meredup sepenuhnya.
Sorak penonton menguat, menggulung seperti ombak yang menunggu pecah.
—
Lagu pertama mengalir lancar.
Begitu lampu menyala, Airi melangkah ke depan dengan langkah yang terukur. Suaranya keluar stabil, tidak bergetar, tidak terburu-buru. Ia bernyanyi dengan kontrol penuh, menatap penonton sekilas lalu mengalihkan pandangan ke titik-titik lampu di kejauhan. Seolah ia bernyanyi pada cahaya, bukan pada manusia.
Instrumen rapi. Ritme terjaga.
Tepuk tangan datang tepat saat lagu berakhir.
Airi menghembuskan napas lega, sedikit lebih panjang dari yang ia sadari.
Lagu kedua dimulai.
Awalnya, semuanya masih baik-baik saja. Airi masuk di bait awal dengan presisi. Namun di tengah lagu, ada jeda kecil. Sangat singkat. Setengah detik yang mungkin tidak disadari penonton, tapi cukup terasa bagi mereka yang berada di atas panggung.
Airi terdiam.
Yukito refleks memperhalus ketukan, memperlambat sepersekian detik. Haruto menoleh cepat ke arahnya. Ren mengangkat alis, bersiap jika harus menutup celah.
Airi menarik napas dan melanjutkan.
Lagu selesai. Tepuk tangan kembali bergema, bahkan lebih meriah.
Namun Airi tahu.
Ada sesuatu yang retak di dalam dirinya.
Lagu ketiga dimulai.
Lampu berubah. Lebih gelap. Lebih dalam. Warna ungu dan biru bertabrakan di udara. Lagu ini seharusnya menjadi puncak. Lagu yang paling Airi kuasai. Lagu yang selalu ia nyanyikan tanpa berpikir.
Di bait pertama, suaranya masih ada.
Di bait kedua, dadanya mulai terasa sempit, seolah udara di sekelilingnya menipis.
Dan di pertengahan lagu, kata-kata itu kembali.
Perasaanmu selalu jujur.
Aku bisa jadi tempat tenang itu.
Nada di kepalanya mulai kacau.
Di kejauhan, di balik kerumunan penonton, Takahashi Shun berdiri. Ia tidak berada di barisan depan. Tidak mencari perhatian. Ia berdiri sedikit ke belakang, di antara bayangan dan cahaya. Saat Airi menoleh tanpa sadar, mata mereka bertemu.
Takahashi tersenyum.
Senyum yang tenang. Terlalu tenang.
Seolah berkata, tidak apa-apa. Aku di sini.
Dada Airi runtuh.
Ia berhenti bernyanyi.
Musik masih bergema. Drum, bass, keyboard terus berjalan. Tapi vokal menghilang. Ruang kosong itu terasa lebih bising daripada suara apa pun.
Airi menatap mikrofon di tangannya, seperti menatap benda asing yang tiba-tiba tidak ia kenali. Jari-jarinya melemah.
Mikrofon itu jatuh.
Bunyi logam menghantam lantai panggung terdengar jelas, memotong musik dan sorak penonton.
Hening.
Airi mundur selangkah. Dua langkah. Tubuhnya gemetar. Dunia di sekelilingnya terasa terlalu besar, terlalu terang, terlalu keras. Ia berbalik dan berlari.
Hinami bereaksi seketika. Ia naik ke depan panggung, mengambil mikrofon cadangan.
“Maaf semuanya,” katanya cepat tapi tegas. “Ada kendala teknis. Mohon beri kami waktu.”
Mei dan Haruto menunduk, meminta maaf dengan bahasa tubuh. Yukito menghentikan permainannya, menatap ke arah Airi yang sudah menghilang di balik panggung. Ren melompat turun, hendak mengejar, tapi Hinami menahan lengannya.
“Ren, tunggu,” bisiknya. “Kita cari bareng.”
Di balik kerumunan, Takahashi menyaksikan semuanya tanpa ekspresi terkejut.
Ia hanya bergumam pelan, hampir seperti desahan.
“Inilah saatnya.”
Langkahnya santai. Tidak tergesa. Ia memikirkan kemungkinan tempat Airi bersembunyi. Tempat yang sepi. Tempat aman. Tempat yang membuatnya merasa kecil dan tidak perlu menjelaskan apa pun.
—
Airi berlari tanpa arah.
Lorong-lorong kampus terasa panjang dan berputar. Suara festival semakin jauh, seperti ditelan dinding. Napasnya tersengal. Dadanya sakit. Pandangannya buram.
Ia berhenti di depan klinik kampus. Pintu setengah terbuka.
Tanpa berpikir, ia masuk.
Lampu putih menyilaukan. Seorang sensei jaga menoleh kaget.
“Airi? Kamu kenapa?”
Airi tidak menjawab. Ia duduk di ranjang, tubuhnya meringkuk. Sensei itu memeriksa sekilas, memberinya obat penenang ringan dan segelas air.
“Istirahat dulu,” katanya lembut. “Saya tutup sebentar, ya.”
Pintu tertutup.
Airi sendirian.
Beberapa menit berlalu. Detik terasa panjang.
Pintu terbuka lagi.
“Airi.”
Suara itu.
Takahashi berdiri di ambang pintu. Ia menutup pintu pelan, lalu mendekat.
“Di sini kau rupanya,” katanya lembut.
Airi menatapnya. Dadanya naik turun. Tanpa sadar, ia berdiri dan memeluk Takahashi. Pelukan itu tiba-tiba, seperti refleks seseorang yang tenggelam dan menemukan sesuatu untuk dipegang.
Takahashi sempat terkejut. Lalu tangannya terangkat, membalas pelukan itu dengan gerakan pelan, terukur.
“Tenang,” katanya. “Aku di sini.”
Airi menangis. Kata-kata tumpah tanpa ia susun. Tentang suara di kepalanya. Tentang kebimbangan. Tentang bagaimana kata-kata siang itu tidak mau pergi.
Takahashi mendengarkan.
Lalu ia berbicara.
“Airi,” katanya, nadanya rendah dan pasti. “Kondisimu ini bukan salahmu. Dunia terlalu keras buat orang sepeka kamu.”
Tangannya mengusap punggung Airi perlahan.
“Teman-temanmu mencintaimu, tapi mereka juga membawa kecemasan mereka sendiri. Kamu menyerap semuanya.”
Airi mengangguk dalam pelukan itu.
“Aku ingin menjagamu,” lanjut Takahashi. “Aku menyayangimu apa adanya. Aku tidak butuh kamu jadi sempurna.”
Kata-kata itu masuk pelan. Hangat. Membungkus kebingungan Airi seperti selimut yang terlalu nyaman untuk dilepas.
Di kepalanya, satu pikiran mulai tumbuh.
Mungkin sensei ini pahlawannya.
Mungkin selama ini ia salah menilai.
Di luar, festival masih berlangsung.
Dan di dalam klinik kampus, nada terakhir malam itu telah berubah menjadi sunyi yang berbahaya.