Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.
Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.
Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.
Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.
Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Bagaimana Doni ... kamu dapat kebobrokan anak bungsunya Zainal Buana?" tanya Gopal di balik telepon.
Suara di seberang menyahut. "Dapat, Bang. Rekamannya aku kasih ke Abang atau langsung ke Bos besar?"
"Ke aku aja. Nanti aku yang akan menyerahkannya ke Tuan Bira," jawab Gopal.
"Siap, Bang."
Panggilan itu diputus oleh Gopal. "Bukti-bukti kebejatan itu berdatangan. Tugas besar ini sebentar lagi akan usai. Dan setelah semuanya usai ... aku akan mewujudkan niatku untuk melangsungkan pernikahan dengan Nova," gumam Gopal sambil tersenyum kecil. Kemudian lelaki itu menghidupkan mobil untuk menemui adiknya, Doni.
______
Pagi itu, kabut tipis masih menggantung rendah di atas hamparan perkebunan Cisaat. Embun menempel di ujung daun teh, berkilau seperti serpihan kaca saat cahaya matahari mulai menembus celah pepohonan.
Udara terasa bersih, dingin, dan menenangkan ... seolah alam sedang berusaha menenangkan luka yang tak kasatmata.
Freya melangkah perlahan di antara jalan setapak tanah merah. Ia mengenakan jaket tipis berwarna krem, rambutnya tergerai sederhana, sebagian tertutup topi lebar.
Dari kejauhan, tak ada yang akan mengira bahwa perempuan itu pernah menjadi korban tragedi paling kelam di desa ini. Tak ada yang tahu bahwa di balik wajah barunya, tersimpan luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh.
Ia menghirup udara dalam-dalam. Aroma tanah basah dan dedaunan basah menyusup ke paru-parunya. Sejenak, ia memejamkan mata.
Dulu ... ia sering berjalan seperti ini bersama ibunya. Tertawa kecil, saling berbagi cerita sepele.
Ibunya selalu berkata, "Hidup itu seperti kebun, Galuh. Kalau kamu rawat dengan sabar, ia akan tumbuh indah."
Namun semua itu kini hanya kenangan.
Senyum tipis yang sempat terukir di wajahnya perlahan memudar.
Ingatannya meluncur ke masa sebelum semuanya hancur ... sebelum tragedi itu. Sebelum tubuhnya dinodai oleh tangan keji Lingga Buana. Sebelum rumah kayu kecil mereka dilalap api dalam satu malam kelam. Sebelum jeritan ibunya membelah udara, dan sebelum adiknya ... pergi untuk selamanya.
Dada Freya terasa sesak. Ia berhenti melangkah, menatap hamparan hijau di depannya, tapi yang ia lihat bukan lagi perkebunan. Yang terbayang justru kobaran api, jerit histeris, dan bau asap yang menyesakkan. Tangannya mengepal tanpa sadar. "Aku masih hidup ... tapi sebagian diriku mati di hari itu," bisiknya lirih.
Pikirannya melayang pada satu keinginan yang sejak kemarin terus menghantui ... mengunjungi makam orang tuanya. Ia tahu letaknya, tak jauh dari ujung desa. Hanya beberapa ratus meter dari sini. Tapi kakinya terasa berat melangkah ke arah sana.
Ia takut.
Bukan pada makam itu, melainkan pada manusia-manusia di sekitarnya.
Penduduk desa Cisaat, ia takut mereka curiga. Apalagi dengan wajah baru ini, Freya harus menjaga identitasnya demi keberhasilan rencana balas dendamnya pada keluarga Zainal Buana dan orang-orang yang dulu menghina dan menyepelekannya.
Terlalu banyak mata yang mengawasi. Terlalu banyak pertanyaan yang bisa membuka luka lama. "Jangan sekarang," gumamnya pelan. "Sabar Freya. Nanti ... kalau waktunya, kamu bisa pergi mengunjungi makam Ibu dan Bapak."
Ia kembali melangkah, mencoba menenangkan dirinya. Namun baru beberapa meter berjalan, suara klakson motor memecah keheningan.
Freya refleks menoleh. Sebuah motor trail berhenti tak jauh darinya. Pengendaranya menurunkan standar, lalu membuka helm. Wajah itu ... wajah yang dulu sangat ia kenal. Wajah yang pernah ia cintai dengan polos dan sepenuh hati.
Safwan Haidar.
Jantung Freya berdegup lebih cepat, namun ekspresinya tetap tenang. Operasi plastik yang dijalaninya beberapa bulan ke belakang benar-benar mengubah garis wajahnya. Hidungnya kini lebih tegas, rahangnya lebih halus, sorot matanya berbeda. Hampir mustahil Safwan mengenalinya sebagai Galuh.
Safwan menatapnya sekilas, lalu tersenyum ramah, sama sekali tanpa tanda pengenalan. "Pagi, Teh Freya," sapanya santai. "Lagi jalan-jalan, ya?"
Freya mengangguk kecil, membalas senyum itu dengan sopan. "Iya, A. Udara di sini enak sekali. Aa pacarnya Pitaloka kan?"
Safwan tertawa kecil. "Hehe, iya. Kok Teteh pagi-pagi sudah ke sini? Jam berapa dari kota?"
Freya melempar senyum kecil. "Saya menginap di rumah Pak Zainal, A. Makanya pagi-pagi sudah jalan-jalan keliling perkebunan. Selama pembangunan resort, saya akan tinggal di sini, tepatnya di rumah sunyi milik Pak Zainal dan Bu Lastri," jawab Freya tenang. Suaranya lembut, terkontrol.
"Oh, pantesan. Itu bagus, Teh. Jadi gampang untuk berkoordinasi dengan para pekerja dan Pak Zainal sendiri ya?" ucap Safwan sambil menyandarkan tubuhnya ke motor.
Freya mengangguk pelan. "Iya. Tujuannya memang seperti itu, A. Kalau harus bolak-balik dari kota ke sini, rasanya menguras tenaga sekali. Capek."
"Iya, Teh. Bukan hanya menguras tenaga, tapi pikiran juga ya, Teh?"
"Betul." Freya mengangguk. "Kalau boleh tahu, A Safwan masih mahasiswa atau sudah jadi sarjana?"
Safwan menjawab cepat. "Bulan depan saya wisuda, Teh. Insya Allah jadi insinyur pertanian."
"Wah, keren. Jarang-jarang loh ada anak muda yang ngambil jurusan pertanian. Banyaknya mengambil jurusan hukum, bisnis, komunikasi dan kedokteran," ucap Freya antusias. Itu bukan ekspresi yang dibuat-buat, melainkan alami. Guna menahan segala gejolak yang tiba-tiba bergemuruh di dada. Lelaki di depannya ini dulu sering ia bayangkan menjadi suaminya. Menjadi ayah dari anak-anaknya.
Mereka terlibat obrolan ringan. Tentang cuaca, tentang kondisi perkebunan, tentang potensi wisata Cisaat dan tentang hubungannya dengan Pitaloka. Safwan bicara dengan gaya santai, ramah, dan ironisnya masih sama seperti dulu.
Freya hanya tersenyum, memainkan perannya dengan sempurna. Dalam hati, ia mengamati tiap gerak-gerik lelaki itu. Ia ingin tahu ... apakah Safwan masih mengingat dirinya?
Namun ternyata tidak sama sekali.
Saat itulah sebuah suara lain menyela.
"Wah, seru banget nih ngobrolnya." Nada itu dingin, menyiratkan ketidaksukaan yang jelas.
Freya dan Safwan menoleh bersamaan.
Tak jauh dari tempat mereka, Lingga Buana berdiri, langkahnya lebar dan sorot matanya tajam. Tubuhnya tegap, rahangnya mengeras. Tatapannya tertuju langsung pada Freya, lalu beralih ke Safwan dengan sinis.
"A Lingga," sapa Safwan agak canggung.
"Hm." Lingga berdehem pendek. "Kapan kamu pulang dari kota? Kenapa nggak jemput Pita? Biasanya kan kalian suka pulang bareng meski beda kampus?"
Safwan tersenyum canggung. "Kemarin, A. Aku sudah menghubungi Pita dan berniat mengajaknya pulang ... tapi dia bilang lagi banyak tugas. Begitu A. Makanya aku pulang sendiri."
"Ooh ... kalau begitu ... selagi kamu dan adikku berjauhan ... jagalah pandangan dan hatimu." Lingga menyeringai tipis. Ucapan itu mengandung sindiran tajam. Udara di antara mereka mendadak menegang.
Freya menahan senyum di bibirnya.
Inilah yang ia tunggu. Ia bisa melihat jelas bagaimana otot di rahang Safwan menegang, bagaimana sorot matanya berubah defensif.
"Maksud A Lingga apa ya?"
Lingga melangkah lebih dekat, menatap Freya sekilas sebelum kembali menatap Safwan. "Nggak apa-apa. Cuma ngingetin aja. Kamu kan sudah punya Pitaloka. Jadi, jangan terlalu dekat dengan perempuan lain."
Safwan cepat-cepat menggeleng. "A Lingga jangan salah paham dulu. Aku dan Teh Freya cuma ngob--"
"Ngobrol kok sambil senyum-senyum terpesona gitu?" potong Lingga ketus.
Safwan menegang, kedua tangannya terkepal. Kentara sekali jika lelaki itu tersinggung, namun tak berani melawan karena Lingga adalah anak anggota dewan. "Saya ulangi sekali lagi, A. Saya dan Teh Freya hanya membicarakan tentang perkebunan. Tidak ada obrolan yang aneh-aneh. Saya permisi dulu. Mari Teh ... A Lingga." Safwan berbalik, dan naik ke atas motornya, lalu melajukan motor itu menjauh dari Freya dan Lingga.
Melihat ketegangan kecil itu, Freya menahan tawa di dalam hatinya. Persis seperti yang ia rencanakan. Sedikit gesekan, sedikit cemburu, sedikit api. Ia ingin keluarga Buana mulai sedikit demi sedikit berkonflik dengan warga desa. Di mulai dari Lingga dan Safwan yang adalah anak kepala desa di Cisaat.
Retakan kecil ini akan ia perluas perlahan. Kecemburuan, prasangka, dan konflik ... semuanya akan tumbuh subur, seperti tanaman liar di tanah subur Cisaat. "Permainan baru saja dimulai," batinnya puas.