NovelToon NovelToon
Aku Bukan Wanita Simpanan

Aku Bukan Wanita Simpanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa1999

Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Sisi Berulah Lagi

"Hah, bagaimana caramu bisa membantuku? Apa kamu punya uang? Kamu hanyalah seorang pelayan di rumah Aluna."

Kalimat Adrian terdengar sangat merendahkan. Sisi, yang memang membenci status sosialnya sebagai pelayan, merasa kata-kata itu seperti pisau yang menusuk tepat di hatinya. Namun, demi kelancaran rencana balas dendamnya, ia terpaksa mengertakkan gigi dan menelan bulat-bulat penghinaan tersebut.

Sisi berusaha tetap bersikap acuh tak acuh. Ia menyahut sambil menyunggingkan senyum tipis, "Meskipun aku hanya seorang pelayan dan tidak punya uang, aku adalah orang yang posisinya paling dekat dengan Tuan Muda Gavin dan Aluna. Apa kamu tidak ingin tahu segala hal tentang Aluna? Kamu benar-benar mencintainya, atau sebenarnya hanya sedang membohongi dirimu sendiri?"

Mata Adrian berkedip sekilas, menunjukkan kegelisahan.

"Gavin terlalu kaya dan berkuasa. Aku... aku tidak mampu menyinggung perasaannya," ujar Adrian setelah terdiam cukup lama.

Bagi Adrian, fakta bahwa dirinya dipecat dari tempat kursus Cendekia hingga diusir secara paksa keluar dari Jakarta sepenuhnya karena ulah Gavin. Meskipun egonya sebagai pria menolak untuk mengakuinya, tindakan intimidasi dari anak buah Gavin beberapa hari lalu benar-benar telah menciutkan nyalinya.

"Hah, kupikir pria yang disukai Aluna itu istimewa. Ternyata dia hanya seorang pengecut," cibir Sisi dalam hati. Setelah menatap Adrian dengan pandangan menilai, Sisi kembali membujuk dengan nada suara yang manis.

"Tuan Gavin memang memerintahkan pengawal untuk mengawasi Aluna. Aluna sendiri sebenarnya ingin lepas, tetapi dia tidak bisa melakukannya sendiri. Di situlah kamu harus mengambil inisiatif. Pikirkan baik-baik, selama kamu berani bertindak, Aluna pasti rela mempertaruhkan segalanya untuk ikut bersamamu. Ditambah lagi, semua perhiasan mewah yang diberikan Tuan Gavin kepadanya sudah lebih dari cukup untuk modal hidup kalian berdua tanpa beban seumur hidup."

Sisi menahan napas sejenak, mengunci pandangannya pada setiap perubahan ekspresi wajah Adrian. Benar saja, saat mendengar kalimat terakhir mengenai perhiasan mewah, alis Adrian bergerak sedikit dan sebuah kilat keserakahan melintas cepat di kedalaman matanya.

Pada momen itulah Sisi akhirnya mengetahui watak asli Adrian yang sebenarnya: penakut, lemah, namun juga serakah. Di balik penampilannya yang rapi sebagai instruktur musik, pria ini ternyata hanya ingin memanfaatkan Aluna demi mendapatkan keuntungan materi.

Sisi merasa sangat puas hingga ingin bersorak. "Jangan khawatir, aku pasti akan membantumu," bisik Sisi dengan nada provokatif. Adrian sempat berpura-pura ragu selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk setuju.

Sore harinya, setelah menggunakan berbagai alasan dan manipulasi cerita, Sisi akhirnya berhasil membuat Gavin melunak dan mengizinkannya kembali bekerja untuk menjaga Aluna di rumah sakit.

Di area taman belakang rumah sakit, Sisi tampak mendorong kursi roda yang membawa Aluna menyusuri jalan setapak yang teduh demi menghirup udara segar. Sisa memar di pipi Sisi akibat tamparan Aluna tempo hari masih terlihat jelas. Keduanya sama-sama tahu dari mana luka tersebut berasal, namun mereka memilih untuk saling diam.

Aluna hanya melirik Sisi dengan pandangan acuh tak acuh. Di sisi lain, melihat kulit wajah Aluna yang tetap terlihat bersih dan mulus meski baru saja pingsan akibat syok, rasa iri di hati Sisi kembali bergejolak.

Atas dasar apa Aluna menerima seluruh perhatian dan kasih sayang dari Tuan Gavin, sementara dirinya yang bekerja keras justru harus menerima hukuman fisik yang kejam? Sisi menolak untuk menerima takdir ini.

Sisi mendongak dan melirik ke arah sudut taman seberang. Adrian sudah duduk stand-by di sana sesuai dengan instruksinya. Sisi menyunggingkan senyum sinis dalam hati. "Aluna, aku ingin melihat bagaimana Tuan Muda Gavin akan memperlakukanmu jika dia memergokimu bersama pria ini lagi."

Karena terlalu asyik dengan pikirannya sendiri, Sisi tidak memperhatikan permukaan jalan hingga roda kursi roda tersebut menyenggol sebuah kerikil besar dan bergoyang tidak stabil.

Aluna refleks menoleh ke belakang untuk memeriksa situasi, dan pada saat itulah ia menangkap basah tatapan penuh kelicikan di mata Sisi. Jantung Aluna berdegup kencang.

Dengan nada suara yang tegas dan tidak senang, Aluna langsung bertanya blak-blakan,

"Sisi, rencana busuk apa lagi yang sedang kamu lakukan sekarang?"

Sisi sempat tersentak kaget karena kedoknya tertangkap. Namun, ia segera memaksakan senyum lebar dan melambaikan tangannya seolah tidak bersalah. "Hehe, Nona Aluna Anda pasti sedang bercanda. Saya tidak punya niat buruk apa pun, Anda hanya salah paham. Oh, iya, tiba-tiba perut saya terasa agak sakit, saya ingin ke toilet sebentar."

Sisi bersiap membalikkan tubuhnya untuk pergi. Namun, ia tidak menyangka bahwa Aluna sudah meningkatkan kewaspadaannya.

Tepat saat Sisi berbalik, Aluna langsung bergerak cepat mencengkeram pergelangan tangan pelayan itu dengan sangat kuat.

"Jangan pergi! Katakan dengan jujur, apa kamu sedang mencoba menjebakku lagi?" tuntut Aluna.

Kali ini, intuisi Aluna terasa sangat kuat. Ia sangat yakin bahwa gerak-gerik Sisi menyimpan niat jahat. Belajar dari pengalaman pahit saat dijebak dengan rekaman video tanpa suara kemarin, Aluna menolak melepaskan cengkeramannya apa pun yang terjadi.

Sisi mulai merasa tidak sabar. matanya menatap tajam ke arah Aluna, berusaha menyembunyikan rasa jengkelnya. "Nona Aluna, cengkeraman Anda menyakitkan. Saya benar-benar tidak merencanakan apa pun. Anda mungkin hanya kurang istirahat sehingga mengalami kebingungan mental."

Sisi berpura-pura merasa tersinggung, sementara tangannya diam-diam berusaha keras untuk melepaskan diri dari pegangan Aluna.

Di tengah aksi saling tahan tersebut, Adrian yang bersembunyi di balik semak-semak menyadari bahwa momen yang disepakati telah tiba. Ia segera melangkah keluar dari sudut taman dan berjalan menghampiri mereka.

Langkah kaki Adrian terhenti tepat di hadapan kursi roda Aluna. "Aluna!"

"Kamu... bagaimana bisa kamu ada di sini?!"

Aluna langsung panik melihat kehadiran Adrian. Karena terlalu terkejut, genggaman tangannya pada pergelangan tangan Sisi otomatis terlepas.

Sisi mendengus pelan sambil memijat pergelangan tangannya yang memerah, lalu melangkah mundur untuk menonton pertunjukan di hadapannya.

Adrian melangkah maju, lalu mengulurkan tangannya secara impulsif untuk menyentuh pipi Aluna. Aluna sempat terpaku selama satu detik dengan pandangan kosong karena tidak menyangka Adrian senekat ini. Namun, akal sehatnya segera kembali. Aluna langsung menepis tangan Adrian dengan kasar dan mendorong tubuh pria itu menjauh. "Pergi dari sini sekarang juga!" bentak Aluna dengan suara bergetar panik.

"Aluna, tolong dengarkan aku dulu..." pangkas Adrian mencoba memohon.

"Kalian berdua sedang apa?!"

Sebuah suara berat yang penuh dengan amarah yang meluap tiba-tiba terdengar bersama angin sore dari arah belakang mereka. Aluna langsung bergidik ngeri. Gavin ada di sana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!