Davika Ovwua Mwohan adalah siswi kelas 3 SMA yang tidak hanya berpenampilan memikat layaknya boneka hidup dengan tubuh *gitar spanyol* yang seksi, tetapi juga memiliki kepribadian paling random dan kocak di antara teman-temannya. Di balik tingkah ajaibnya, Clara adalah koki andalan rumah yang jago menyulap segala jenis masakan mulai dari jajanan pasar hingga kuliner barat menjadi hidangan favorit keluarga, teman, hingga tetangga.
Keseharian Clara dipenuhi dinamika hubungan persaudaraan yang seru dan penuh warna. Ia terlibat hubungan ala "Tom and Jerry" dengan kakak pertamanya, Mas Gara, pria cuek dan berotot yang selalu bersedia menjadi ATM berjalan demi menuruti hobi makan dan tingkah acak Clara. Sementara itu, Mbak Nara, kakak keduanya yang cantik dan manis, turut melengkapi kehangatan dan keseruan lika-liku kehidupan masa muda Clara di dalam keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menit-Menit Kritis Menjelang Bel
Suasana di depan gerbang SMA Negeri Jakarta Selatan pagi itu tampak riuh rendah oleh deru mesin kendaraan dan derap langkah terburu-buru para siswa. Di sudut pilar pagar beton, seorang gadis remaja bermata sipit dengan seragam putih-abu-abu yang pas di tubuhnya sedang berdiri dengan gelisah. Ia adalah Cici, sahabat karib Davika sejak kelas satu.
Cici berulang kali melirik jam tangan digitalnya yang sudah menunjukkan pukul 06.57 WIB. Tinggal tiga menit lagi sebelum Pak Satpam tangguh berkumis tebal menarik gerbang besi itu rapat-rapat.
"Duh, Davik! Lu di mana sih?! Ini semester akhir kelas dua, kalau lu telat lagi, draf poin pelanggaran lu bisa bikin kita gagal masuk jajaran elite olimpiade teknik!" gerutu Cici sembari menatap tajam ke arah tikungan jalan raya.
Dari arah kejauhan, alih-alih deru motor sport dua silinder yang biasa membelah jalanan, sebuah mobil SUV mewah berdesain *Monochrome Minimalist* dengan mesin tangguh melaju dengan kecepatan konstan namun taktis. Di dalam kabin mobil beraroma kayu cendana itu, Gus Zayyad duduk di balik kemudi dengan setelan kemeja formal dan rahang tegas khas CEO hulu.
Nara sengaja meminta suaminya untuk mengantar Davika hari ini agar sang adik bungsu tidak melakukan balapan liar dengan motornya pasca-subuh yang kacau kemarin. Di kursi penumpang samping kemudi, Davika duduk dengan santai sembari memeluk botol minum tabung berukuran satu liter miliknya. Seragam putih SMA-nya tampak bersih, kontras dengan oversized hoodie hitam yang sengaja ia ikat di pinggang.
"Gus kaku, bisa naikkan sedikit output torsinya? Draf perhitungan waktu Davik menunjukkan sisa 120 detik sebelum gerbang dikunci oleh protokol keamanan sekolah," ucap Davika ceriwis, tetap menggunakan istilah taktis militer meski statusnya hari ini adalah siswi SMA.
Zayyad tidak menyahut, namun kaki kanannya menekan sedikit pedal gas hingga SUV mewah itu melesat mulus memotong jalur lambat.
Tepat saat mobil tinggal berjarak lima puluh meter dari gerbang sekolah dan sedang melintasi sebuah gang kecil di sisi kiri—
*Ngeeeng!*
Tanpa aba-aba, lampu sein kiri menyala namun motor matik yang dikendarai oleh seorang ibu-ibu berdaster justru melesat memotong jalan ke arah kanan tanpa menengok sama sekali ke arah arus lalu lintas.
"Gus! Awas! Objek tak terduga di sektor kiri!" pekik Davika lantang.
Insting taktis Gus Zayyad yang biasa menghadapi sabotase kontainer di pelabuhan langsung aktif dalam hitungan milidetik. Mata hitam kelamnya menajam. Alih-alih membanting setir yang bisa membahayakan pejalan kaki di trotoar, Zayyad memilih keputusan ekstrem: kaki kanannya langsung menginjak pedal rem dalam-dalam hingga titik maksimal (*hard braking*).
*Creeeeek!*
Sistem pengereman pintar mobil mewah itu berbunyi mencicit keras. Tubuh kekar Zayyad tertahan oleh *seatbelt*, sementara tubuh padat berisi Davika terdorong hebat ke depan sebelum akhirnya terhempas kembali ke sandaran kursi.
Sialnya, karena guncangan radikal tersebut, tutup botol minum satu liter yang sedang dipegang Davika terlepas. Air putih jernih di dalamnya langsung tumpah menyembur, membasahi seluruh bagian depan seragam putih polos milik gadis remaja itu.
Mobil akhirnya berhenti total, hanya berjarak beberapa sentimeter dari spakbor belakang motor si ibu-ibu yang dengan santainya melenggang pergi tanpa rasa bersalah.
Zayyad mengembuskan napas baritonnya yang sempat tertahan. "Davika, kamu tidak apa-apa—"
Kalimat Zayyad mendadak terputus di tenggorokan. Sang CEO hulu seketika mematung kaku bagai disengat arus listrik bertegangan tinggi. Mata hitam kelamnya yang biasa memancarkan otoritas dingin tak sengaja menatap ke arah kursi samping.
Kain seragam putih polos SMA milik Davika yang tipis kini telah basah kuyup melekat pada kulitnya. Akibat efek air tersebut, draf siluet tubuh Davika tercetak dengan sangat jelas. Di balik statusnya yang masih kelas 2 SMA, pertumbuhan fisik adik bungsu keluarga Mwohan ini memang luar biasa masif—menampilkan aset dada yang sangat jumbo, padat, dan montok, jauh melampaui ukuran remaja seusianya. Pemandangan kontras antara wajah dewasanya yang polos dan pertumbuhan fisiknya yang ekstrem benar-benar terpampang nyata di depan mata Zayyad.
Refleks sebagai seorang putra mahkota pesantren yang menjunjung tinggi muruah langsung membuat jakun Zayyad naik turun dengan ritme cepat. Wajah tampannya yang berstruktur tegas khas *oppa* Korea seketika berubah merah padam dalam sekejap.
Zayyad langsung memalingkan wajahnya 180 derajat ke arah kaca kanan, memejamkan mata rapat-rapat sembari merapalkan istigfar di dalam hati dengan kecepatan tingkat dewa. Dada bidangnya berdegup liar karena ujian visual yang begitu mendadak ini.
"Davika... cepat pakai jilbab atau jaketmu. Seragammu... basah," perintah Zayyad dengan suara bariton yang terdengar sangat kaku, serak, dan bergetar menahan canggung yang luar biasa masif.
Davika yang dasarnya super *random* dan polos tingkat antariksa justru menunduk melihat dadanya sendiri tanpa rasa bersalah. "Yah... draf estetika hari pertama sekolah hancur deh. Airnya malah bikin basah sektor vital."
Dengan santai tanpa beban, Davika melepas ikatan *oversized hoodie* hitam di pinggangnya lalu memakainya untuk menutupi bagian depannya yang jumbo dan basah tersebut.
"Dah aman, Gus kaku! Makasih tumpangannya, Davik masuk markas sekolah dulu! Jangan lupa minum madu dari Beijing nanti siang!" seru Davika ceriwis sembari membuka pintu mobil dan melompat turun, berlari kencang menuju Cici tepat satu menit sebelum gerbang besi ditutup rapat oleh satpam.
Di dalam mobil, Gus Zayyad bersandar lemas pada kemudi sembari memijat pangkal hidungnya yang mancung. Kulit wajahnya masih sepanas kompor. Mengadapi musuh bersenjata di dermaga Shanghai rasanya tidak ada apa-apanya dibandingkan ujian iman menghadapi kepolosan tak berdosa dari adik iparnya yang super jumbo itu pagi ini.
selalu bilangnya kitab😄😄😄