NovelToon NovelToon
Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.

Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.

Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Suara rekaman dari alat persegi kecil di atas meja itu laksana riak ombak yang mengikis habis sisa-siga keteguhan batin Hani. Suara Hendra Baskara terdengar jelas, parau dan penuh dengan nada tunduk yang tidak pernah ia perlihatkan sebelumnya.

Namun, suara lawan bicaranya, suara pria yang memberikan perintah dingin untuk merekayasa serangan maut dan mengatur aliran dana itu adalah sebuah hantaman yang membuat seluruh sendi lutut Hani terasa lolos.

Bukan Narendra. Bukan pula Reza. Suara itu adalah milik pria yang selama ini berdiri kokoh di balik bayang-bayang kejayaan industri tekstil dan investasi terbesar yang menyokong keluarga Adiguna.

"Surya... Adiguna," bisik Hani, suaranya nyaris tenggelam dalam kesunyian malam yang mencekam.

Pria misterius di hadapannya terkekeh pelan. Suara kekehannya terdengar halus, namun sarat akan ancaman yang tersembunyi dengan rapi.

Ia mengulurkan tangannya yang bersarung tangan hitam, menekan tombol stop pada alat perekam kecil tersebut, menghentikan suara bising digital yang baru saja meruntuhkan separuh kewarasan Hani.

"Tepat sekali, Ibu Kepala Divisi," ucap pria itu, nadanya terdengar sangat santai, seolah-olah ia tidak baru saja menyusup ke gedung dengan tingkat keamanan tertinggi di kawasan bisnis ini.

"Surya Adiguna tidak akan pernah membiarkan Narendra atau Reza Baskara mengambil alih kendali penuh atas proyek-proyek masa depan. Delapan tahun lalu, ayahmu menolak untuk menjadi jembatan pencucian dana miliknya. Dan minggu depan, di malam penganugerahan, Narendra berencana membuka tabir hitam itu di depan umum untuk membersihkan nama baik ayahmu sekaligus menyingkirkan Surya dari dewan komisaris."

Pria itu condong ke depan, membiarkan bias cahaya bulan menyinari separuh rahangnya yang kokoh dari balik bayangan topi.

"Tapi, Surya selalu selangkah lebih maju. Dokumen palsu yang dibawa si tua Tedi sore tadi? Itu hanya umpan lambat untuk membuatmu paranoid dan menciptakan jarak antara kamu dan Reza. Jika kamu dan Reza pecah, fokus Reza akan teralih, dan saat itulah... pisau yang sesungguhnya akan bergerak."

Hani mencengkeram tepi meja kerjanya dengan erat, menahan tubuhnya yang kian lemas. "Siapa kamu sebenarnya? Apa maumu dariku?"

"Sebut saja aku sebagai penonton yang tidak ingin pertunjukan ini berakhir terlalu cepat," jawab pria itu diplomatis. Ia mendorong alat perekam kecil itu lebih dekat ke arah Hani.

"Bawa ini. Ini adalah bukti asli yang dicari-cari oleh Reza selama berminggu-minggu ini. Bukti yang hampir membuatnya mati di gang depan rumahmu."

Orang misterius itu melangkah mundur, kembali menyatu dengan kegelapan lorong yang pekat. "Gunakan rekaman ini untuk menyelamatkan Reza, atau tetap diam dan biarkan malam penganugerahan minggu depan menjadi panggung berdarah bagi pewaris tunggal Baskara Group. Pilihan ada di tanganmu, Hani. Waktumu tidak banyak."

Tanpa suara desisan sedikit pun, siluet tinggi itu berbalik dan menghilang di balik pintu kaca yang terbuka lebar, meninggalkan aroma parfum maskulin yang pekat dan kesunyian yang kembali mencekam.

Beberapa detik kemudian, lampu di dalam ruangan dan koridor lantai lima mendadak menyala kembali serentak. Pendingin ruangan kembali bergemuruh pelan, seolah-olah teror kegelapan beberapa menit lalu hanyalah sebuah mimpi buruk yang lewat.

Hani tidak membuang waktu lagi. Dengan air mata yang masih mengering di pipinya dan dada yang sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat, ia menyambar alat perekam itu, memasukkannya ke dalam tas, dan berlari sekencang mungkin menuju lift. Ia harus menemui Reza. Ia harus menjelaskan semuanya, bersujud memohon maaf atas tuduhan kejinya sore tadi, dan memberikan bukti ini sebelum segalanya terlambat.

Lift membawanya naik menuju lantai paling atas, area privat yang menjadi ruang kerja sekaligus ruang istirahat pribadi sang Direktur Utama.

Ketika pintu lift berdenting terbuka di lantai teratas, suasana di sana sudah sangat sepi. Sebagian besar staf sekretariat sudah pulang. Hani melangkah cepat menuju pintu ganda jati besar yang menuju ke ruangan kerja Reza. Pintu itu sedikit terbuka, membiarkan seberkas cahaya lampu kuning hangat keluar dari celahnya.

Hani baru saja hendak mendorong pintu tersebut ketika langkah kakinya mendadak terhenti. Dari dalam ruangan, terdengar suara percakapan dengan nada yang sangat serius.

"Kamu terlalu gegabah, Reza! Luka jahitan di punggungmu bahkan belum kering sepenuhnya, dan kamu sudah nekat memprovokasi Surya Adiguna di pertemuan tertutup tadi siang?!" itu adalah suara Narendra Baskara, terdengar sangat panik dan dipenuhi kekhawatiran seorang ayah.

"Aku tidak punya pilihan lain, Pah," jawab Reza, suaranya terdengar parau, letih, namun memiliki ketegasan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.

"Surya sudah mulai menggerakkan pion-pionnya di lantai lima untuk menakut-nakuti Hani. Dia mengirim orang untuk mengawasi rumah Hani. Aku tidak akan membiarkan seujung kuku pun dari Hani terluka lagi karena keserakahan pria tua itu."

Hani membekap mulutnya di balik dinding pintu. Air matanya kembali merebak bebas. Reza... pria itu tahu semuanya. Dia tahu Surya sedang mengancamnya, dan dia sengaja menanggung semua tekanan itu sendirian agar Hani tetap aman. Penyesalan karena telah menuduh Reza sore tadi kini terasa laksana duri yang mengoyak hati Hani tanpa ampun.

"Tapi Hani menuduhmu sore ini, Reza! Papah mendengar dari Siska kalau dia berteriak kepadamu tentang keterlibatan keluarga kita!" seru Narendra lagi, suaranya meninggi.

"Perempuan itu sudah terhasut oleh dokumen palsu yang disebarkan pihak Surya!"

Hening sejenak di dalam ruangan, sebelum suara Reza kembali terdengar, kali ini dengan nada yang begitu lembut namun sarat akan rasa perih yang teramat dalam.

"Biarkan saja, Pah. Jika dengan membenciku dan mencurigai keluarga kita membuat Hani menjadi lebih waspada dan menjauh dari pusaran konflik ini, maka biarlah dia membenciku. Setidaknya, jika dia berada jauh dariku, Surya tidak akan menjadikannya target utama lagi. Aku... aku rela menjadi penjahat di matanya, asalkan dia tetap hidup."

Dada Hani terasa seperti dihantam oleh gada besi yang sangat besar. Pertahanan batinnya runtuh sepenuhnya. Pria yang ia tuduh telah bersandiwara menggunakan nyawanya sendiri, ternyata justru rela membiarkan dirinya dibenci dan dianggap sebagai musuh, demi memastikan keselamatan hidup Hani.

Hani tidak bisa bertahan lebih lama lagi dalam persembunyiannya. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia mendorong pintu ganda jati itu hingga terbuka lebar.

Brak.

Narendra dan Reza seketika menoleh ke arah pintu dengan wajah terkejut. Reza, yang sedang duduk di balik meja kerjanya dengan kemeja yang sudah kusut, langsung bangkit berdiri begitu melihat sosok Hani yang berdiri di ambang pintu dengan wajah yang sembap dan air mata yang mengalir deras.

"Hani...?" bisik Reza, matanya membelalak kecil.

Hani melangkah masuk, mengabaikan keberadaan Narendra di ruangan itu. Ia berjalan lurus ke arah Reza, mengeluarkan alat perekam suara mini dari dalam tasnya dengan tangan yang bergetar, lalu meletakkannya di atas meja kerja pria itu.

"Maaf... Maafkan saya, Pak Reza..." tangis Hani pecah seketika, tubuhnya melorot lemas hingga ia berlutut di samping meja kerja Reza, menyembunyikan wajahnya di atas lipatan tangannya yang bertumpu pada lutut pria itu.

"Saya bodoh... saya membiarkan Tedi menghasut saya... Saya menuduh Anda yang sudah menyerahkan nyawa untuk saya..."

Reza tertegun selama beberapa detik, sebelum akhirnya dengan cepat berlutut di depan Hani, meraih kedua bahu wanita itu dengan kehangatan yang sangat protektif. "Hani, bangun. Jangan seperti ini. Apa yang terjadi? Dokumen apa yang kamu maksud?"

Hani mendongak dengan wajah yang basah, menatap mata hitam milik Reza yang selalu menjadi pelindungnya. "Alat perekam itu... di dalamnya ada bukti asli suara Surya Adiguna. Seseorang berbaju hitam memberikannya kepada saya di lantai lima saat lampu padam tadi. Surya... Surya berencana mencelakai Anda di malam penganugerahan minggu depan, Pak Reza!"

Reza dan Narendra seketika menegang. Reza meraih alat perekam itu, berniat menekan tombol play untuk memeriksa kebenarannya.

Namun, sebelum jemari Reza sempat menyentuh tombol tersebut, seluruh layar monitor komputer di ruang kerja Reza, televisi dinding besar yang menampilkan berita bisnis, hingga tablet di atas meja mendadak menyala secara otomatis secara bersamaan, memancarkan pendar cahaya biru yang terang di dalam ruangan.

Di semua layar elektronik tersebut, sebuah siaran langsung video terenkripsi mendadak muncul.

Video itu menampilkan visual sebuah ruangan bawah tanah yang gelap dan pengap. Di tengah ruangan, terikat pada sebuah kursi kayu dengan rantai besi yang tebal, adalah sosok Sarah, sahabat karib Hani dengan mulut yang disumpal kain dan wajah yang penuh dengan lebam kebiruan akibat hantaman benda tumpul.

Di belakang kursi Sarah, berdiri seorang pria bertopeng yang memegang sebuah ponsel dengan penghitung waktu mundur digital yang menyala merah, menunjukkan waktu tepat 60:00 menit.

Sebuah suara distorsi digital yang berat dan parau keluar dari pengeras suara monitor, memenuhi ruang kerja Reza dengan getaran yang mengerikan.

"Selamat malam, Reza Baskara dan Hani Adisa. Bukti yang ada di tangan kalian sangat menarik, bukan? Mari kita buat kesepakatan kecil. Serahkan seluruh draf asli Proyek-X dan alat perekam itu ke dermaga pelabuhan tua dalam waktu enam puluh menit... atau malam penganugerahan minggu depan akan kita majukan menjadi malam ini, dimulai dengan kematian wanita di layar ini."

1
Bu Dewi
up lagi kak😍😍😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!