"Mbak Rani!" Tyas langsung memeluk kakaknya erat.
"Wah, adik Mbak sudah besar sekarang, ya. Makin cantik," puji Rani tulus, mengusap kepala adiknya. Rani kemudian beralih ke suaminya yang berdiri di ambang pintu. "Mas, ini Tyas."
Tyas beralih menyalimi tangan Angga. "Halo, Mas Angga. Mohon bantuannya ya selama Tyas kuliah di sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hitung mundur waktu
Drrt... Drrt...
Suara getaran kencang disertai nada dering khas dari ponsel Angga yang tergeletak di atas meja makan seketika memutus obrolan intim mereka. Angga melirik layarnya, dan nama 'Rani' tertera jelas di sana lengkap dengan ikon panggilan video.
Mendengar nama kakaknya disebut, Tyas langsung didera kepanikan spontan. Ia melirik ke bawah, menatap piyama satin maroon pendek sepaha dengan potongan dada agak rendah yang masih melekat di tubuhnya. Jika Mbak Rani melihatnya sarapan bersama Angga dengan pakaian seberani ini di pagi hari, kecurigaan pasti akan langsung timbul.
Tanpa menunggu aba-aba dari Angga, Tyas segera bangkit dari kursinya dengan gerakan cepat yang nyaris tanpa suara. Sembari membawa gelasnya, ia setengah berlari menyelinap masuk ke dalam kamar mandi dapur dan menutup pintunya rapat-rapat, bersembunyi di balik dinding keramik yang dingin.
Angga menarik napas dalam-dalam, mengatur ekspresi wajahnya agar kembali tampak biasa dan tenang, lalu menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan video istrinya.
"Pagi, Mas!" wajah Rani muncul di layar, latar belakangnya menunjukkan suasana kamar hotel tempatnya menginap. Rambutnya sudah rapi, menandakan ia bersiap untuk jadwal kerja hari itu. "Maaf ya pagi-pagi sudah telepon. Kamu lagi sarapan?"
"Pagi, Ran. Iya, ini baru mau habiskan nasi goreng," jawab Angga dengan nada suara sewajar mungkin, mengarahkan kamera ponselnya hanya terfokus pada wajahnya sendiri dan sebagian meja makan yang kosong. "Kamu sendiri sudah sarapan di hotel?"
"Sudah tadi jam tujuh, Mas. Oh ya, Tyas mana? Sudah bangun belum anaknya? Kemarin sore dia sempat bilang perutnya agak kram, makanya aku kepikiran terus dari semalam," tanya Rani, matanya menyipit mencoba mengintip sekilas suasana dapur di belakang Angga.
"Tyas sudah bangun kok, tadi baru saja masuk ke kamar mandi untuk mandi," bohong Angga dengan sangat lancar, matanya sempat melirik sekilas ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat di sudut dapur. "Anaknya sudah baikan sepertinya. Tadi malam setelah makan ayam goreng langsung tidur nyenyak."
"Syukurlah kalau begitu. Tolong sampaikan ke dia ya Mas, jangan lupa minum vitamin yang aku taruh di meja riasnya. Dan... kamu jangan lupa kunci pintu rumah kalau mau berangkat kerja nanti," pesan Rani penuh perhatian.
"Iya, Ran, pasti. Kamu juga hati-hati di sana, fokus saja sama kerjamu," sahut Angga dengan senyuman hangat yang biasa ia berikan pada istrinya.
Di balik pintu kamar mandi, Tyas berdiri mematung sembari menahan napas, mendengarkan setiap bait percakapan antara suami dan kakak kandungnya itu. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena takut pada Satya, melainkan karena sensasi menegangkan dari kebohongan besar yang kini mulai ia susun bersama Angga di bawah satu atap yang sama.
"Iya, Ran. Kamu hati-hati ya kerjanya. Nanti lusa jam 10 pagi Mas sudah bersiap di bandara buat jemput kamu," jawab Angga dengan nada suara yang terdengar sangat meyakinkan dan penuh perhatian.
"Oke, Mas. Sampai ketemu lusa ya. Dadah, love you." Rani melambaikan tangannya ke kamera sebelum akhirnya memutus panggilan video tersebut. Layar ponsel Angga kembali menggelap, menyisakan kesunyian yang mendadak terasa begitu pekat di area dapur.
Mendengar obrolan itu sudah berakhir, pintu kamar mandi perlahan terbuka. Tyas melangkah keluar dengan sangat pelan, memastikan bahwa layar ponsel kakak iparnya memang sudah benar-benar mati. Wajahnya tampak sedikit tegang setelah mendengar informasi barusan.
"Mbak Rani pulang lusa, Mas?" tanya Tyas memastikan, suaranya agak berbisik sembari berjalan kembali mendekati meja makan. Rambut pendek sebahunya sedikit bergoyang seiring langkah kakinya yang ragu.
Angga meletakkan ponselnya ke atas meja, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Matanya menatap Tyas lekat-lekat, menghitung sisa waktu yang mereka miliki. "Iya. Hari Kamis jam 10 pagi Mas harus menjemputnya di bandara. Artinya, kita hanya punya waktu kurang dari empat puluh delapan jam dari sekarang."
Tyas terdiam, mencerna situasi. Sisa waktu 2 hari terasa begitu singkat namun juga menegangkan. Itu berarti rencana mereka untuk menyingkirkan Satya harus diselesaikan dengan cepat dan rapi sebelum Mbak Rani menginjakkan kakinya kembali di rumah ini.
"Berarti hari ini kita harus buat Satya benar-benar terpancing, Tyas," lanjut Angga dengan suara rendah yang sarat akan rencana. "Kamu masuklah ke kamar, ganti bajumu. Setelah itu, pantau terus ponselmu. Kalau dia mulai mengirim pesan penuh emosi karena sikap cuekmu tadi, langsung beritahu Mas."
Tyas mengangguk patuh. Keberadaan Mbak Rani yang akan segera kembali justru memacu adrenalin di dalam dirinya. "Baik, Mas. Aku ganti baju sekarang," ucapnya seraya berbalik menuju kamar, bersiap menghadapi babak selanjutnya dari skenario terlarang yang mereka mainkan bersama.