dr. Nayla Azzura percaya satu hal bahwa cinta tidak pernah benar-benar tinggal.
Menjadi salah satu saksi pernikahan orangtuanya yang hancur sejak usianya masih kecil, membuat Nayla tumbuh menjadi perempuan yang dingin, mandiri, dan sulit mempercayai siapapun. Baginya, memiliki pasangan hanya pandai memberi harapan sebelum akhirnya meninggalkan.
Sampai akhirnya sebuah tragedi kecelakaan kerja mempertemukan Nayla dengan Arsen Mahardika, pengusaha muda yang keras kepala, hangat dan yang paling mengganggu adalah usianya tiga tahun lebih muda dari Nayla.
Awalnya Nayla mengganggap semua hanya lelucon biasa, tapi bagaimana mungkin jika lelaki yang usianya lebih muda tapi pandai bicara tentang sebuah keseriusan?.
Namun Arsen berbeda, iya tidak datang membawa janji besar justru ia datang dengan sejuta kesabaran. Saat Nayla menjauh, menunggu saat Nayla merasa takut, dan membuktikan bahwa tidak semua rumah berakhir hancur.
Karena terkadang... Lelaki yang lebih muda justru lebih tahu cara men
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Bayang-Bayang Yang Tidak Pergi
Setelah kejadian pagi tadi kini perasaan Arini semakin gelisah, malam ini setelah bertahun-tahun menjalani kehidupannya yang normal Arini merasa sulit untuk memejamkan kedua bola matanya padahal waktu sudah semakin larut.
Arini berbaring diatas tempat tidur dengan tatapan mengarah ke langit-langit kamar, matanya masih terbuka lebar dengan pikirannya yang sangat penuh.
Ia berbaring di atas ranjang. Semua terjadi karena satu pertemuan yang tidak pernah ia rencanakan sebelumnya, pertemuan dengan mantan suaminya Ayah Nayla.
Di sampingnya sang suami sudah tertidur dengan tenang, dikamar sebelah sang putri juga telah terlelap sejak satu jam yang lalu membuat suasana rumah itu kini terasa sunyi tenang, hangat, dan nyaman. Rumah yang selama ini ia bangun, rumah yang selama ini ia pilih namun entah kenapa malam ini semuanya terasa lebih berbeda.
Setelah sekian lama menjalani hidup baru sesuai dengan pilihannya, kini masa lalu itu datang tanpa permisi mengetuk pintunya.
" Dia menunggu satu kata..."
" Satu kata maaf..."
Kalimat itu kini kembali terngiang ditelinganya, membuat Arini memejamkan matanya berharap suara itu hilang. Namun kenyataannya tidak sesuai harapan, suara itu masih terus berputar bahkan semakin jelas.
Jantung Arini kini berdebar pelan, ia membalikkan tubuhnya untuk mencari posisi nyaman agar bisa beristirahat dengan tenang namun gagal. Kalimat itu kembali terdengar bahkan ada kalimat lain yang jauh lebih menyakitkan.
" Aku harap anakmu tidak pernah merasakan apa yang dirasakan oleh Nayla..."
Arini langsung membuka matanya, dadanya kini terasa sesak. Perlahan ia bangkit dari tempat tidurnya lalu berjalan menuju ruang keluarga, lampu kecil di sudut ruangan masih menyala namun pikirannya tetap kacau.
Arini duduk sendirian dengan kedua tangannya kini menggenggam secangkir teh hangat, dan ternyata kini teh itu sudah dingin sebelum sempat ia minum. Pikirannya yang melayang sangat jauh, kembali ke masa yang selama ini berusaha ia lupakan.
Sosok seorang anak perempuan kecil yang selalu berlari menyambutnya pulang, yang selalu memeluk kakinya dengan teriakan yang menggemaskan.
" Horrreeee.... ibu pulang....."
Mata Arini perlahan terpejam dan tanpa sadar wajah Nayla kecil kini muncul dalam ingatannya, sangat jelas seolah baru terjadi kemarin.
" Apa Ibu suka dengan pita yang Nayla buat?"
Suara kecil itu kembali terdengar dalam ingatannya, Arini langsung menggenggam cangkir teh lebih erat. Dan kini ia sadar dirinya tengah mengingat kembali hal-hal kecil yang selama ini dengan sengaja ia kubur.
" Apa Ibu nanti datang ke acara sekolah Nayla?"
" Ibu masak apa hari ini?"
" Apa Ibu sayang Nayla?"
Bbbrraaakkk....
Arini meletakkan cangkir itu sedikit lebih keras, seolah ingin menghentikan semua suara yang kini tengah berputar dalam pikirannya. Namun ternyata tidak bisa, karena suara-suara itu berasal dari dirinya sendiri. Dari masa lalu yang tidak pernah benar-benar bisa pergi.
" M.. Ma.. Mas..." suara seorang laki-laki membuat Arini tersadar menoleh, dan terlihat kini suaminya tengah berdiri di ambang pintu .
" Kamu kenapa belum tidur? Kenapa disini?" wajah sang suami terlihat khawatir, dengan masih mengenakan pakaian tidur.
" Aku belum ngantuk, Mas." Arini tersenyum tipis.
Kini sang suami duduk disampingnya, memperhatikan wajah Arini dengan tatapan dalam. Setelah bertahun-tahun hidup bersama, ia tahu ketika ada semua yang menggangu pikiran wanita itu.
" Apa kejadian tadi membuat kamu merasa tidak tenang?" tanya sang suami pelan.
Arini tidak langsung menjawab namun diamnya sudah cukup menjadi jawaban.
Arini menundukkan kepalanya dan untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara, sampai akhirnya helaan nafas suami Arini terdengar dalam.
" Aku tahu kalau hari ini pasti akan terjadi, cepat atau lambat. Aku yang bersalah disini karena masa lalu kita yang terjadi..." ucap sang suami membuat Arini menoleh terkejut.
" Karena kehadiran aku, kamu meninggalkan keluarga pertamamu... Meninggalkan seorang anak perempuan dan.... Wajar jika mereka marah" ucap laki-laki itu perlahan.
Arini tidak mampu menatap wajah suaminya, wanita itu terdiam mengingat kembali pertemuan siang tadi dimana tatapan mantan suaminya ada senyuman pahit dan luka yang masih terlihat jelas di wajahnya.
" Dia tidak marah, Mas" suara Arini nyaris seperti bisikan.
" Lalu?"
" Dia hanya terlihat sangat sedih" jawab Arini pelan.
Dan entah kenapa ucapan kalimat itu membuat dada Arini semakin sesak, karena memang benar Ayah Nayla sama sekali tidak marah, tidak ada hinaan, tidak ada nada tinggi, tidak mempernalukannya. Tapi justru itulah yang membuat semuanya terasa jauh lebih berat.
" Kadang memang kesedihan itu lebih sulit dihadapi dari pada sebuah amarah" suami Arini mengangguk pelan.
Arini langsung terdiam karena untuk pertama kalinya asa seseorang yang mengucapkan apa yang sebenarnya ia rasakan saat ini.
Malam semakin larut namun kantuk masih tak kunjung datang, sampai akhirnya sang suami kembali bertanya.
" Apa kamu pernah mencari tahu tentang Nayla?"
" Tidak, Mas" Arini membeku beberapa detik lalu menggelengkan kepalanya.
" Loh, kenapa?" pertanyaan sederhana namun membuat jawabannya sangat rumit.
Selama ini Arini selalu berpikir bahwa hidup harus terus berjalan, bahwa keputusan yang telah diambil tidak bisa diubah lagi. Melihat kebelakang hanya akan membuat semuanya terasa lebih sulit, namun malam ini untuk pertama kalinya Arini bertanya pada dirinya sendiri.
" Apakah itu alasan yang sebenarnya? Atau hanya cara agar aku menghindari perasaan bersalah?"
" Aku tidak tahu..." jawabannya jujur membuat sang suami memilih untuk tidak memaksa atau menghakimi.
Suami Arini hanya duduk disana menemani sang istri, sementara dikamar sebelah putri mereka masih tidur dengan lelap memeluk boneka kesayangannya dengan perasaan tenang, aman, dan dicintai.
" Aku harap anakmu tidak pernah merasakan apa yang Nayla rasakan"
Kalimat mantan suaminya kembali terngiang, Arini langsung menutup matanya dengan membayangkan sesuatu yang selama ini tidak pernah berani ia bayangkan sebelumnya.
" Bagaimana jika suatu hari dirinya meninggalkan anaknya?"
" Bagaimana jika putrinya tumbuh tanpa kehadiran dirinya?"
" Bagaimana jika putrinya hari bertanya: Apa mama tidak sayang padaku?"
Air mata pertama akhirnya jatuh dengan pelan tanpa suara, hanya satu tetes namun cukup membuat Arini sadar bahwa ada bagian dari masa lalu yang selama ini memang belum ia selesaikan.
🌟
Di tempat lain Nayla kini tertidur dengan tenang, tanpa tahu jika malam ini seseorang yang pernah meninggalkannya sedang memikirkan dirinya.
Setelah sekian lama meskipun belum ada penyesalan dan belum ada permintaan maaf, belum ada keberanian untuk memperbaiki apapun.
Retakan pertama akhirnya muncul kecil bahkan hampir tidak terlihat, namun cukup untuk membuat tembok yang dibangun selama puluhan tahun akhirnya mulai berguncang.