Livia Alessandra adalah tunangan yang sempurna, namun bagi Axel Killian, Livia hanyalah tameng untuk mendapatkan warisan kakeknya. Setiap kali Livia membutuhkan Axel, laki-laki itu selalu menghilang demi Elena. Alasan Axel selalu sama, yaitu Elena fisiknya lemah karena sakit.
Hingga pada akhirnya Livia memilih pergi dan menghilang dari Axel setelah puncaknya ia ditinggal Axel saat fitting baju pengantin. Dan saat itu Livia sudah tahu tentang hubungan Axel dan Elena dibelakangnya. Ternyata Elena bukan sahabat perempuan Axel, tapi mantan pacarnya.
Diambang kehancuran hati, semesta tidak membiarkan Livia jatuh. Ia diselamatkan oleh Morenzo, pemimpin mafia brutal yang diam-diam telah mengamatinya dengan obsesi gila sejak lama.
Livia kini bangkit kembali bukan sebagai pengemis cinta. Saat Axel mulai memohon kesempatan kedua karena sadar Elena hanyalah parasit, Livia hanya tersenyum dingin dibalik pelukan posesif Morenzo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keadaan Livia Dan Juga Axel
Morenzo menyerahkan sebuah kunci berkarat dan membisikkan satu lokasi yaitu gudang tua Sektor Tujuh.
"Carilah dengan bekal ini. Gunakan pikiranmu, jangan gunakan rasa panik," ucap Morenzo.
Livia menerimanya. "Terima kasih, Tuan. Saya akan mengingatnya."
"Dan jangan gunakan cara yang bertele-tele," tambah Morenzo lagi. " Seperti halnya kau ingin mematikan rokok yang menggunakan air. Gunakan langkah yang cepat, injak saja."
Livia mengangguk patuh meski dalam hati ia sempat tertegun. Rupanya saat ini ia diminta menjadi pelayan hanya agar bisa memperhatikan cara kerja Livia di lingkungan ini.
Setelah mendapat izin dari Morenzo, Livia melangkah keluar ruangan. Otaknya mulai berputar, menimbang-nimbang langkah awal apa yang harus ia ambil dengan clue kunci kecil dan juga gudang Sektor Tujuh.
"Nyonya, makan malam sudah siap," Lucia datang menghampiri.
Livia mengiyakan lalu beranjak menuju meja makan. Ada rasa getir yang menggelitik hatinya. Lucu sekali, baru saja ia menghabiskan waktu bersama suaminya, namun setiap waktu makan baik sarapan, siang, maupun malam, ia selalu berakhir sendirian di meja panjang itu. Livia sudah terbiasa, atau lebih tepatnya, dipaksa terbiasa.
Selesai makan, rutinitas lama kembali hadir. Sebuah butiran obat disodorkan ke hadapannya. Livia memandangi obat itu dengan saksama. Sebelum meminumnya, kalimat Morenzo kembali terngiang, gunakan pikiranmu, jangan gunakan rasa panik.
Ia mencoba menerapkan logika itu untuk menganalisa, Apakah ini obat, atau justru racun?
Livia menenggak butiran itu, lalu terdiam sejenak untuk merasakan reaksinya. Sudah cukup lama ia mengonsumsi butiran ini, namun ia masih bernapas lega hingga detik ini. Tidak ada rasa sakit, tidak ada keluhan fisik. Justru sebaliknya, setiap pagi ia bangun dengan tubuh yang terasa segar. Berat badannya yang dulu terlalu kurus pun kini mulai naik menuju angka ideal.
Ini bukan racun, bisa jadi ini hanya vitamin biasa.
Namun sebuah pertanyaan tetap menggantung di benaknya: kenapa vitamin ini tidak diberikan sejak awal ia masuk ke rumah ini? Livia menggeleng pelan, berusaha mengusir rasa penasaran itu. Ia tidak ingin terlalu ambil pusing soal obat, karena saat ini, pikirannya sudah penuh dengan urusan yang jauh lebih besar.
*****
Axel berdiri di depan pintu apartemen Elena. Begitu pintu terbuka, ia disambut dengan pelukan hangat dan aroma parfum yang menyengat. Elena memeluknya seolah Axel adalah pahlawan yang baru pulang dari medan perang.
"Akhirnya kau datang juga padaku, Axel," bisik Elena manja sambil menuntunnya masuk. Ia melayani Axel dengan sangat penuh perhatian, seolah lupa akan kejadian memalukan yang ia ciptakan di malam perayaan ulang tahun Killian Grup yang bernatakan.
Axel hanya membalas dengan senyuman kecil yang sulit diartikan. Mereka duduk di ruang tengah yang mewah. Elena menuangkan wine dalam gelas Axel dengan gerakan gemulai. Axel menerima dan menenggaknya dalam sekali teguk.
Dalam hatinya Elena bersorak. Ia heran kenapa Axel tiba-tiba datang setelah ratusan kali panggilannya diabaikan. Nomornya bahkan diblokir, dan Elena mengganggunya dengan nomor baru. Elena pikir ini adalah kesempatan emas untuk berbaikan, karena jujur saja, tabungannya mulai menipis sejak Axel menghentikan uang bulanannya.
"Kau tahu, Axel... apartemen ini terasa sangat sepi tanpamu," Elena mulai melancarkan aksinya. Ia duduk mendekat, menyandarkan kepalanya di bahu Axel sambil memainkan kancing kemeja pria itu.
"Maafkan aku atas pengakuan yang tidak aku pikir panjang dampaknya. Aku sudah mengklarifikasi di semua sosial media bahwa akulah yang berbohong."
Axel terdiam.
"Ah iya, malam itu bahkan kita semua dikejutkan oleh kenyataan bahwa Livia sudah menikah dan menjadi Nyonya seorang Morenzo. Kita tahu sendiri siapa pemilik nama itu. Perkataan ku tempo hari benar kan, Livia telah berubah dan ada sosok penunjang dibelakangnya melihat penampilan wanita itu. Bahkan dia pernah membeli perhiasan satu toko."
Axel masih terdiam bagai orang yang sedang sariawan.
"Livia sudah bahagia dengan caranya sendiri, meninggalkan mu demi sang penguasa. Aku tidak butuh kemewahan, aku hanya butuh dirimu. Kenapa kita tidak meresmikan saja hubungan kita? Nikahi aku, Axel. Aku berjanji akan menjadi istri yang paling mengerti dirimu dibanding wanita mana pun."
Axel tetap diam, hanya menyimak dengan senyum getir yang terus menghiasi bibirnya.
Melihat Axel tak kunjung merespons ajakannya, Elena mulai mengalihkan pembicaraan ke hal yang lebih sensitif.
"Oh ya, aku dengar hari ini ada rapat pengumuman warisan keluargamu. Bagaimana? Apakah semuanya lancar?"
Axel meletakkan gelas kosongnya ke meja dengan gerakan malas. Barulah dia ingin menjawab ocehan Elena sedari tadi yang terdengar seperti kentut di telinga Axel.
"Sesuai dengan dugaanku. Aku didepak dari keluarga. Dan asal kau tahu, semua warisan jatuh ke tangan pria yang bahkan tidak punya hubungan darah dengan Kakek. Namanya Theo. Aku tidak tahu siapa dia."
Seketika tubuh Elena menegang. Ia sempat berpikir sama seperti Livia, bahwa ancaman warisan itu hanyalah gertakan agar Axel mau menikahi Livia. Namun kenyataannya di luar dugaan. Kakek Dom benar-benar memberikan harta yang ia kumpulkan seumur hidup kepada orang asing ketimbang cucunya sendiri.
Elena syok. Belum sempat ia mencerna berita itu, Axel kembali bicara.
"Karena aku tidak punya tempat tinggal lagi, mulai saat ini aku akan tinggal di sini. Masih ada dua kamar, kan?"
Raut wajah Elena berubah seketika. "Menginap? Tapi Axel... apa kata orang nanti jika kau tinggal di sini? Kita kan bukan pasangan resmi."
"Tapi kita teman, kan?" sahut Axel datar.
"Iya, sih, teman. Tapi kan... tapi..." Elena mulai terbata-bata. Pikirannya kalut. Axel tanpa warisan berarti Axel tanpa uang.
Lalu, sebuah kekhawatiran melintas di kepala Elena. "Axel, lalu bagaimana dengan apartemen ini? Maksudku... apartemen yang kau beli untukku ini, apakah ini termasuk dalam aset yang disita?"
"Iya, benar. Dan mumpung belum disita, aku akan memanfaatkannya dengan baik. Seharusnya aku tinggal di sini pun tidak perlu minta persetujuanmu, karena secara hukum ini masih atas namaku," jawab Axel santai. Ia lalu menoleh, "Aku lapar. Buatkan aku makan. Dan kalau boleh, aku pinjam uangmu sedikit untuk pegangan hari ini."
Mendengar kata pinjam uang, topeng keanggunan Elena pecah berkeping-keping. Perangai aslinya keluar. Ia berdiri dan menjauh dari Axel seolah pria itu membawa wabah penyakit.
"Pinjam uang? Kau bercanda?" Elena tertawa sinis. "Jadi kau ke sini karena kau sudah jadi gembel? Axel, lihat dirimu! Kau pikir aku mau menampung pria pengangguran yang bahkan tidak bisa menghidupi dirinya sendiri?"
Bodo amat, Axel sudah miskin dan dia tidak akan mempunyai uang untuk memperkarakan ku.
Axel mendongak menatap Elena. "Jadi ini wajah aslimu?"
"Jangan sok suci!" bentak Elena. "Aku tidak mau tahu! Keluar dari sini! Aku tidak mau dikaitkan dengan orang miskin sepertimu!"
Axel tertawa pelan, tawa yang penuh luka. "Benar-benar menjijikkan. Padahal kau sampai rela membuat drama kehamilan palsu agar aku tetap bersamamu. Bahkan darah di sprai tu... itu hanya sirup yang kau semprot, kan? Kau menipuku dengan cara serendah itu hanya untuk hartaku?"
"Kalau iya, kenapa?! Setidaknya saat itu kau masih berguna karena punya uang! Sekarang? Kau tidak lebih dari sampah!"
Tepat saat pertengkaran mereka memuncak, pintu apartemen digedor dengan keras. Beberapa pria berseragam masuk dengan surat resmi di tangan mereka.
"Maaf, apartemen ini telah resmi disita oleh pihak keluarga Dom. Harap segera tinggalkan ruangan dalam sepuluh menit."
Elena mematung. Wajahnya pucat pasi saat melihat para petugas mulai menempelkan segel di beberapa sisi.
Axel berdiri, merapikan kemejanya sambil menatap Elena yang kini terduduk lemas di lantai. Bodoh sekali diriku telah membanggakan wanita ini. Lihatlah Axel, dia sekarang bahkan jijik padamu karena kau miskin, batin Axel pahit.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Axel melangkah keluar meninggalkan Elena yang menjerit histeris saat tas-tas bermerek miliknya ikut didata oleh petugas penyitaan.
Mati kau, Elena. Lihat saja sumpah seorang pengangguran ini. Akan terjadi apa padamu.
Bersambung.